LOGIN"Halo, Perawan Tua!" "Betah banget jadi perawan tua. Nggak ada niat untuk nikah, Bu Naima?" Bukan sekali dua kali Naima mendengar kalimat serupa dari Gala, jadi telinganya sudah cukup kebal meski tak jarang hatinya sedih. "Buruan nikah, Bu. Jangan terlalu pemilih. Ntar lama-lama 'itunya' berubah jadi asam kandis, lho. Hitam dan berkerut. Hahahaha." PLAK! Kesabaran Naima habis. Dia tidak bisa mentolerir lagi perkataan yang melecehkannya, walaupun kata-kata itu keluar dari mulut seorang Gala, lelaki yang sudah dia kenal cukup lama. Namun, takdir seolah mempermainkannya. Satu minggu kemudian Naima dikejutkan dengan kedatangan Gala yang ingin mempersunting dirinya sebagai istri. Naima ingin menolak, tetapi tak berdaya karena kedua orang tuanya sudah menerima lamaran itu dengan suka cita. Apa yang harus Naima lakukan? Apakah Gala benar-benar mencintainya? Atau adakah alasan lain yang membuat Gala tiba-tiba mengakui cintanya pada Naima?
View MoreTerbongkarnya Pengkhianatan Suami dan Mertua
Part 1 :Suami dan Mertua di Dokter Kandungan"Mas Fadil?" Fiona yang pagi itu hendak kontrol memeriksakan rahimnya usai operasi kista beberapa waktu lalu, terkejut mendapati suami dan mertuanya keluar dari ruang dokter kandungan bersama seorang wanita yang tengah hamil besar. Napas terhenti sesaat menyaksikan kejadian itu. Pasalnya, wanita itu jelas bukan bagian dari keluarga mereka. Fadil anak bungsu dari dua bersaudara. Sementara, kakaknya adalah seorang lelaki. Lantas siapa perempuan ini?Fadil dan kedua orangtuanya pun tak kalah terkejut melihat kedatangan Fiona. Ia sempat tertegun sesaat sampai kemudian Fiona menegurnya."Mas? Ngapain kamu di sini? Bukannya tadi kamu bilang banyak urusan di perkebunan? Lalu, siapa wanita ini?" cecar Fiona dengan suara bergetar. Ada ketakutan yang menjalar di hati. Namun, ia tak ingin berburuk sangka sebelum mendapat jawaban dan segera menepis prasangka buruknya."Dia-" Fadil bingung dan tak bisa menjawab. Tak menyangka istrinya akan datang ke dokter yang sama. Padahal dokter kandungan itu, bukan langganan Fiona selama ini.Sementara itu, Bu Fatma--ibu Fadil--mengajak wanita itu menjauh. "Ayo, kita tunggu di luar saja." Baru saja mereka hendak menjauh, dengan cepat Fiona menghadang mereka."Tunggu, Bu! Aku butuh penjelasan. Siapa dia? Kenapa kalian dan Mas Fadil mengantar wanita ini?" tanyanya yang kali ini berusaha mengumpulkan keberanian dengan menatap Bu Fatma yang justru memalingkan wajah.Namun sebaliknya, Pak Hamzah justru berusaha meredakan amarah Fiona yang semakin tak terbendung. "Tenang lah, Fi! Kita bicarakan di rumah saja. Ayo!" ajaknya dengan menggandeng Fiona pergi. Tapi Fiona justru semakin meradang dan menghempas tangan ayah mertuanya."Apa? Tenang, Pak? Bagaimana saya bisa tenang melihat suami dan mertua saya keluar dari ruang dokter kandungan dengan wanita asing yang tengah hamil ini? Bagaimana?" teriaknya yang sontak mengundang perhatian para pengunjung rumah sakit hari itu. Namun Fiona tak peduli dan kembali menghampiri Fadil yang masih bungkam."Jelaskan! Siapa dia? Hah?" cecar Fiona pada suaminya yang masih bungkam. Bisa-bisanya lelaki itu pergi dengan wanita lain. Sementara istrinya masih dalam proses pemulihan pasca operasi."Mas Fadil!" teriak Fiona sekali lagi yang tak membuat Fadil buka suara. "Oke. Kalau kamu gak mau jawab, aku akan tanya langsung pada wanita itu."Baru saja Fiona hendak berbalik menghampiri wanita itu, tiba-tiba Fadil menjawab dengan suara lirih. "Dia orang yang kucinta. Wanita yang telah mengandung anakku.""Apa? Orang yang kamu cinta? Lalu, aku siapa?"Fiona berbalik tak percaya. Hal yang sudah diduga, namun tak ingin dia percayai. Kini, benar-benar terucap langsung dari mulut sang suami. Hati hancur dibuatnya. Tatapannya kini semakin menajam, menampakkan kebencian pada lelaki yang sudah berikrar akan menjaganya sampai mati. Namun, baru tiga tahun pernikahan berjalan, dia sudah berkhianat."Bangga sekali kamu mengakui selingkuhanmu ini di depanku, hah?" teriak Fiona dengan mengguncang tubuh suaminya yang membuat Fatma dan Hamzah terkejut."Fiona! Hentikan! Apa kamu nggak malu dilihat banyak orang?" bisik Hamzah dengan suara penuh penekanan."Malu? Bukan saya yang seharusnya malu, Pak. Tapi kalian." Fiona benar-benar tak gentar menatap kedua orang yang telah dianggap sebagai pengganti orangtuanya yang sudah meninggal. Namun, apa ini? Yang terjadi justru membuat hatinya terluka. Semua ini seperti pisau yang sengaja mereka tusukkan di tubuh Fiona dari belakang."Untuk apa kami malu? Justru kamu lah yang harusnya malu. Kamu wanita muslimah yang berpendidikan tinggi. Haruskah berteriak karena masalah sepele di depan banyak orang?" tekan Hamzah sekali lagi. Pelan, namun mampu membuat hati Fiona semakin ngilu mendengarnya."Sepele, Pak? Anak Bapak selingkuh hingga menghamili wanita lain dan Bapak bilang ini cuma sepele? Lagi pula, untuk apa Bapak mempedulikan pendidikan saya? Itu tak penting untuk saat ini.""Cukup, Fi! Fadil dan Marta sudah menikah kemarin secara agama. Kamu tak perlu mempermalukannya seperti itu." Kali ini Fatma turut bicara. Beberapa kalimat yang kembali menghancurkan hati Fiona."Apa? Sudah menikah?" Fiona terhenyak. Hampir saja ia terjatuh karena tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya sendiri. Tapi dengan cepat Fadil menangkapnya."Fi!"Fiona menoleh dan menatap tajam pada lelaki yang dulu ia puja kehadirannya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia merasa cintanya telah salah memilih. Lelaki yang dianggapnya baik ternyata mampu berkhianat hanya kurang dari lima tahun hidup bersama."Lepasin! Sudah berapa bulan usia kandungannya?" tanyanya dengan pandangan kosong tanpa menatap salah satu dari mereka."Empat bulan.""Sebesar itu?" Fiona menatap perut Marta dan wajah Fadil secara bergantian. Lalu menggeleng tak percaya. "Aku nggak percaya." Tanpa pikir panjang, Fiona menyeret Marta kembali masuk ke dalam ruang dokter kandungan."Maaf Mbak harus antri dulu," ujar salah satu perawat berusaha menghadang langkahnya."Saya mau ketemu Dokter Nia sebentar, bilang saya Fiona," pinta Fiona pada perawat itu yang langsung disambut baik oleh dokter kandungan tersebut."Masuk, Fi! Loh, ini kan?" Nia sempat tertegun melihat Marta, Fadil, Hamzah dan Fatma kembali masuk."Katakan, Ni! Apa benar usia kandungannya empat bulan? Kenapa bisa sebesar ini?" cecar Fiona yang masih berapi-api."Maaf, Fi! Kita gak bisa membocorkan rekam medis pasien pada orang lain," ujarnya yang membuat Hamzah, Fadil dan Fatma lega. Wajah mereka nampak gugup melihat kemarahan Fiona."Orang lain?" Fiona tersenyum getir. Airmata yang tadinya tumpah karena pengkhianatan, malah berubah menjadi tawa. Ya, ia kini tengah menertawai dirinya sendiri yang terlihat bodoh. Sangat bodoh hingga membiarkan suami dan mertua mengolok-oloknya hanya demi membela wanita yang tak tau dari mana asalnya itu. Dokter Nia sempat tertegun sesaat melihat reaksi Fiona yang dengan cepat berubah. Begitu pula dengan Marta, Fadil, Fatma dan Hamzah. Dokter Nia pun beranjak, lalu memeluk sahabatnya itu. "Fi, are you OK? Ceritakan pelan-pelan! Kenapa kamu ingin tau rekam medis pasienku ini?"Seolah mendapat ketenangan setelah beberapa menit lalu amarah membuncah, tangis Fiona kembali pecah di pelukan sahabatnya. "Dia hamil anak suamiku, Ni," terangnya kali ini yang membuat sang dokter yang sekaligus temannya itu terkejut dan sontak melepas pelukan."Apa? Anak suamimu?"🍁🍁🍁Bentakan diiringi tatapan nyalang menyambut kedatangan Naima di rumah masa kecilnya itu. Asmita berkacak pinggang, menghalangi langkah Naima yang hendak memasuki rumah."Ma, bisa izinkan aku masuk dulu? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama dan juga Papa."Asmita menggeleng. "Mahesa sedang ke luar kota. Sebentar lagi saya juga harus pergi arisan."Naima melirik penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya, tertera angka 17.15 di sana. Arisan apa yang diadakan sore menjelang malam? Naima menghela napas panjang, dia tahu Asmita berbohong karena tidak ingin dirinya berlama-lama di rumah itu."Hanya sebentar, Ma."Asmita berdecak kesal. "Sebenarnya kamu itu mau bicarain apa sih? Harus sekarang juga? Merepotkan!" Dia masuk, lalu duduk di kursi tamu. "Buruan sini, ngapain buang-buang waktu dengan bengong di situ?"Mengabaikan sikap jutek ibu angkatnya itu, Naima pun menyusul masuk, lalu duduk berhadapan dengan Asmita."Begini, Ma. Aku cuma mau kasih tau kalau mulai hari ini aku keluar dari
"Aku paling benci dengan orang yang menggunakan kekerasan, apalagi jika itu dilakukan di perusahaan ku!" Sena menatap tajam pada Gala yang wajahnya seketika memucat. Bagaimana Gala tak akan pucat jika dirinya tertangkap basah oleh sang direktur perusahaan tempat ia mencari nafkah. Gala jadi khawatir dengan apa yang Sena pikirkan tentang dirinya. Susah payah dia membangun citra positif sebagai karyawan baik selama ini, bisa hancur jika Sena sampai berpikir dirinya adalah pria bar-bar yang melakukan kekerasan pada perempuan."I-ini ti-tidak seperti yang Bapak pikirkan kok, Pak," jawab Gala dengan suara terbata. "Saya hanya sedang berusaha untuk ... mendisiplinkan istri saya." Sena menatap Naima, beberapa saat mengernyitkan kening karena merasa mengenali Naima. 'Oh, iya. Dia karyawan toko Mama yang waktu itu,' gumam Sena di dalam hati. Jawaban Gala membuat Sena ingin segera menarik diri, tetapi ia kembali teringat pada momen di saat mobilnya menyenggol Naima waktu itu. Bagaimana lusuh
"Mas Gala!"Gala yang sedang terlena dengan permainan lidah itu pun spontan melepaskan pagutannya. Raut wajahnya berubah saat melihat Naima berdiri hanya terpaut beberapa langkah darinya."Ngapain kamu di sini?" sergah Gala penuh amarah."Siapa wanita ini, Sayang?" tanya Sandra sambil bergelayut manja di lengan Gala."Bukan siapa-siapa. Kamu tunggu di mobil, ya, biar aku bicara dulu dengannya." Suara Gala terdengar sangat lembut di telinga Naima. Naima menggigit bibir, hatinya perih melihat perbedaan sikap Gala terhadap wanita yang Naima yakini merupakan pacar sang suami. Tanpa sadar Naima keterusan memandangi Sandra yang berjalan menjauh, sehingga ia terkejut sekali ketika tiba-tiba Gala menarik tangannya, menyeret Naima menjauh."Cepat katakan ... kenapa kamu sampai berada di sini?" tanya Gala dengan mata membesar."Aku ada urusan pekerjaan di sini. Mumpung masih jam makan siang, aku mau mengajak kamu makan bareng, eh ... nggak tahunya kamu udah kenyang makan yang lain," sindir Nai
Pukul lima pagi, alarm ponsel Naima berdering. Ia segera mematikan alarm itu agar Gala tidak terganggu. Beringsut turun dari ranjang, Naima pun memulai rutinitasnya seperti biasa."Kamu mau bikin apa, Nai?" tanya Madina saat melihat Naima membuka kulkas."Nasi goreng, Mbak."Madina berdecak kecewa. Reaksinya selalu begitu setiap kali Naima memasak nasi goreng dan mie goreng. Katanya terlalu berminyak, ia lebih suka makan sandwich atau roti dengan selai kacang."Emangnya nggak ada roti?""Roti habis, Mbak. Saya lupa beli kemarin."Madina mendengus kesal. "Tugas kamu itu cuma belanja lho, Nai! Bukannya mencari uang. Tugas sepele aja nggak bisa. Nggak becus amat sih jadi orang."Naima menghela napas panjang, tetapi tidak membalas perkataan Madina. Wanita itu selalu punya perbendaharaan kata yang banyak untuk memojokkan dirinya. "Ada apa sih, ribut-ribut?" Gilang ke luar dari kamar, langsung duduk di samping istrinya."Ini, Mas. Naima. Dia udah tahu aku nggak suka makanan yang berminyak
Naima menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, setelah itu pergi ke toko Qishan Furniture. Tidak ingin menarik perhatian, sesampai di toko ia langsung menghubungi Maharani. Maharani yang memahami situasi Naima, menunjuk asistennya untuk menjemput Naima di showroom, langsung membawa Naima ke ruangan
"Malam ini juga, di depan kedua orang tuamu dan keluargaku ...." Gala menjeda kalimatnya beberapa saat.'Kamu aku talak!'Ingin sekali Gala mengatakan itu di depan wajah Naima, tetapi sebuah ide tiba-tiba terbersit di kepalanya. Sebuah ide yang ia yakini akan menguntungkan dirinya dan juga keluarganya
"Pa!" sahut Naima dengan tatapan terluka. "Papa juga tidak percaya kalau aku masih suci?" Naima berharap kedua orang tua angkatnya itu bisa membela harga dirinya yang sedang diinjak-injak oleh suami dan keluarganya.Alih-alih bersimpati Mahesa justru mendengus kesal. "Bagaimana Papa bisa percaya kala
Gala tampak terkejut. Beberapa saat mulutnya terbuka tanpa suara. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan mengetahui rahasia itu. Jujur Naima sangat menikmati momen ini. Sayangnya, ia tidak bisa berlama-lama menikmati ekspresi kaget Gala karena beberapa saat kemudian ia justru mendengar suara ben


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore