LOGINJessica terdiam dan jantung Adrian seakan berhenti berdetak. Tadi dia bertanya begitu saja tanpa berpikir. Kata-kata itu meluncur halus dan Adrian seakan sudah tau jawabannya.
Tapi kini, keheningan di sisi Jessica membuat Adrian yang tadi rebahan di tempat tidur segera duduk dengan cemas.“Jess…”“Untuk celana dan kaos nanti aku cuci, aku mau siap- siap kerja dulu ya.” Jessica akhirnya berkata setelah beberapa saat.Telepon dimatikan begitu saja tanpa jaJessica melirik ke arah sahabatnya.“Ugh… itu,-” Tenggorokan Louise tercekat lalu wanita itu menunduk kalah.“Maaf, itu memang salah saya,” erangnya dengan penuh penyesalan.“Tapi mereka salah juga Dok, saya kan memang ditunjuk dari pusat. Saya difitnah, jadi Louise hanya mengatakan kenyataannya.” Jessica segera membela sahabatnya.“Saya cuma tanya, bukan menuduh atau mau membela, saya mau kejadiannya gimana?” tanya Dokter Poppy sambil menatap mereka berdua. Louise mendesah pelan.“Dari awalnya Dokter Rita dan Dokter Cassey saling bergosip, mereka mengatakan kalau Jessica menggunakan koneksi untuk
Bertemu dengan wanita yang menjadi sumber masalah dari awal ini membuat Adrian muak duluan. Edo terus mengatur terjadinya kencan agar mereka tidak terlihat kaku.Miranda jelas tak mau kehilangan kesempatan, wanita benar- benar bermanja-manja sambil memainkan rambutnya. Tertawanya terlalu dibuat-buat, bulu mata palsunya seperti mau lepas dan parfumnya membuat Adrian pusing.Dulu Adrian bisa melakukannya dengan tenang, tapi kini dalam otaknya selalu ada ada nada sumbang yang mencela apapun yang Miranda lakukan.“Kak Adrian, tolong bukain, kukuku panjang jadi nggak bisa buka,” ucap Miranda sambil menyodorkan botol minuman kaleng pada Adrian. Pria itu segera mengambil kaleng minuman soda itu dari tangan Miranda dan membukanya. “Makanya ngapain pake kuku begituan,” omel Adrian sambil menarik pin pembuka.“Iih kak Adrian nggak ngerti mode, ini tuh kuku Le Cuppey, bahannya ringan dan ada pelembabnya untuk kuku kita loh modelnya lucu-lucu lagi, yang ini ada blueberry-nya! Coba Liat!” ucap Mi
“Aku janji setelah film ini selesai, aku akan melaporkannya pada polisi. Kalau film ini sukses, aku bisa bayar semua ke agensi, lalu kita akan tangkap orang vrengsek itu!” Adrian menatap Jessica.“Kamu nggak apa-apa kan tunggu sebentar, syuting akan segera dimulai kok, karena takut musim gugur keburu selesai.” Pria itu melanjutkan sambil menahan dirinya untuk tidak memeluk Jessica.“Nggak apa-apa, aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak usah ganti juga nggak apa-apa,” jawab wanita itu pelan.“Itu tanggung jawab. Aku akan bertanggung jawab, kalau kamu nggak berhubungan dengan aku, apartemen kamu akan aman, dan kamu nggak usah nginep di rumah sakit kan?” ucap Adrian kesal “bersama Joe,” lanjutnya dalam hati.“Aku nggak bersama Joe,” lanjut Jessica walau Adrian tak bertanya. Pria itu menatapnya dengan tidak percaya, seketika Jessica menyesal.“Aku nggak bersama wanita- yang kemarin ada di berita, itu semua,-”“Kamu nggak usah jelasin kok,” ucap Jessica sambil menggigit bibir. Adrian menatapnya
Ruang audisi sungguh hening, mereka terlalu terpengaruh dengan yang Adrian lakukan, sehingga kameramen pun lupa untuk mematikan rekaman. “Cut!” Ucapan Bob mengagetkan semua orang yang masih terpaku pada Adrian. Kameramen cepat- cepat mematikan rekaman sambil mengusap rambutnya. Bob maju dan mendekati Adrian yang masih terpaku memeluk bantal. Dunianya seakan sudah berakhir saat itu. Elenanya pergi dibawa cahaya oranye sore yang sebentar berubah menjadi hitam. Adrian tersentak saat Bob menyentuh pundaknya. “Adrian… ““Huh?” Bayangan oranye dan dingin karena kaki yang basah mulai menghilang dan wajah khawatir Bob mulai terlihat. “Aku nggak ngerti konsep dokter Ken dalam benakmu, tapi aku mau tahu. Berikan aku kejutan, aku serahkan konsep misterius ini ke kamu, Adrian!” ucap Bob dengan penuh kebanggaan di wajahnya. Adrian baru menyadari kalau yang dipeluknya adalah bantal dan dia berada di ruangan audisi. Pria itu dengan kasar segera menepis air matanya lalu mengambil napas panjan
Walau merasa diperlakukan dengan tidak adil, Adrian menekan sesak di dadanya dan segera membuka script ke bagian yang tadi Robert alias Bob minta. Harga dirinya tak ada saat ini. Banyak yang bergatung pada dirinya, seperti yang Edo katakan tadi.Dengan sekejap Adrian membaca apa yang terjadi pada scene itu. Awalnya huruf di naskah terlihat jelas, namun semakin fokus Adrian membaca, semakin kabur huruf di kertas itu. Tiap bait dan susunan kata seakan menari-nari. Pikiran Adrian melayang ke apartemen Jessica yang dipenuhi asap.Adrian terlalu lelah karena dari pagi tidak ada jeda bagi dirinya untuk mengambil napas. Pria itu mengusap matanya dan memaksa dirinya untuk membaca. Karena terlalu fokus, Adrian bahkan tak sadar kalau Bob sudah kembali ke meja penata gaya. Keempat penata gaya yang lain menatapnya dengan tidak sabar.
Adrian masuk dengan kepala pusing, bukan karena tadi baru saja terjatuh ke lantai van, tapi mengingat-ingat tokoh Ken yang akan dia perankan itu. Karena sebenarnya tokoh itu dibuat untuk dirinya sendiri oleh pembuat skrip cerita, sehingga perawakan dan segala sesuatu tentang dokter Ken sangat mirip dengan aslinya Adrian. Tapi ada yang berbeda, apa ya? Pikiran Adrian tiba-tiba kosong, dan tak berguna. Dengan kesal pria itu masuk ke lorong menuju ruang audisi. Walau dengan pakaian berantakan, masih berbau asap karena kebakaran, Adrian menatap para saingannya yang ikut beraudisi dadakan ini. Mereka semua jelas mengenalnya. Dari sorot mata mereka, semua tampak kaget, jelas memang mereka mengharapkan Adrian tak akan bisa datang untuk audisi, karena kejadian tadi pagi. “Hai… Adrian,” sapa Mario yang tersenyum kaku sambil menyodorkan tangannya. “Hei,” gumam Adrian memberikan tangannya asal sambil menahan amarah karena pria di hadapannya terlihat luar biasa tampan. Terus terang melihatn
"Pacar Adrian?" tanya Jessica bingung sambil menatap Adrian. "Kenapa, apakah harus...?" tanya dokter itu lagi kali ini sambil menggeleng, hati Adrian sedikit kesal karena Jessica menolak. "Sepertinya dalam kasus seperti ini, pers tidak akan melepaskan Anda sampai ada kejelasan antara hubungan and
Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. "Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda
"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuj
"HAH! Kamu mau cerita apa?" tanya Jessica dengan tatapan tidak rela acaranya akan Adrian rusak. Pria itu memandang dokter mungil di hadapannya. Sebenarnya wanita itu cukup cantik, matanya besar bewarna biru laut dengan bulu mata lentik. Hidungnya tinggi tapi mungil sama seperti bibirnya. Sayang,







