LOGINJakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain."Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."Salwa mengangguk kaku. Langkahnya
Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan
Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng
Kemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan
Gerbang asrama Paspampres yang biasanya tampak kokoh dan berwibawa, siang itu terasa seperti tembok penjara di mata Salwa. Ia duduk di kursi kayu panjang di pos keamanan, di bawah tatapan waspada namun sopan dari para petugas jaga. Perutnya masih melilit hebat, kombinasi antara nyeri datang bulan dan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia mengabaikan tawaran segelas air dari petugas, tenggorokannya terlalu kering bahkan untuk sekadar menelan ludah.Waktu seolah melambat. Setiap menit yang berlalu di bawah denting jam dinding pos jaga terasa seperti siksaan. Di kepalanya, kalimat ayahnya terus berputar seperti kaset rusak: “Dia sudah memberiku uang, dia sudah menyuruhku menjauh!”Sekitar empat puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari balik gedung utama. Galang Baraka berjalan dengan langkah tegap, masih mengenakan seragam taktis yang gagah. Ia tampak sedang berbincang dengan seorang perwira lain, sesekali mengangguk tegas. Dari kejauhan, Galang sudah m
Siang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas."Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih
Sore itu, langit Jakarta tampak semerah darah, seolah merefleksikan insiden yang baru saja terjadi di pusat kota. Di dalam ruang observasi markas Paspampres, suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Galang Baraka berdiri tegap, tubuhnya masih mengenakan kemeja taktis yang kini ternoda bercak mera
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.
Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di te
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja







