تسجيل الدخولSera duduk tegak di sofa seberang Rendra, sementara Angga kini berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan sikap sempurna. Namun, setegak apa pun ayahnya berdiri, Sera tetap bisa merasakan ketegangan di ruangan itu.
Rendra duduk bersandar pada sofa di belakangnya. Kemeja hitam dengan lengan tergulung sampai siku itu membuatnya terlihat lebih membumi daripada sosok di televisi, tetapi justru karena itu, kehadirannya terasa semakin berat.
“Sudah berapa lama?” tanya Rendra tiba-tiba.
Sera sempat mengerjap, tidak langsung mengerti.
Rendra menatapnya lurus. “Sejak terakhir kali aku melihatmu.”
Jantung Sera kembali berdetak tidak teratur.
Ia menunduk sedikit, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kurang lebih delapan tahun, Tuan.”
“Delapan tahun,” ulang Rendra pelan, seolah menimbang angka itu dalam benaknya.
Lalu ia terdiam.
Sunyi merambat beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Sera tidak tahu apakah ia harus menjawab, meminta izin, atau tetap diam.
Akhirnya, Rendra membuka suara lagi.
“Kamu sehat?”
Pertanyaan itu sederhana.
Nyaris terlalu sederhana. Namun justru karena itu, Sera tidak siap.
Ia sempat mendongak, lalu buru-buru menurunkan pandangannya lagi. “Saya baik, Tuan.”
Rendra mengamatinya sejenak. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang, tetap dalam, tetap sulit dibaca.
“Kamu terlihat lebih kurus.”
Sera menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuan. “Mungkin karena jadwal koas saya cukup padat.”
“Kamu masih memilih jalan ini.”
Itu bukan pertanyaan.
Lebih terdengar seperti sebuah penilaian, atau mungkin pengakuan diam-diam bahwa Rendra mengingat sesuatu yang orang lain tidak tahu.
Sera menarik napas pendek. “Ini pilihan saya, Tuan.”
Untuk sesaat, sudut bibir Rendra bergerak tipis. Bukan senyum. Hanya perubahan kecil yang begitu singkat hingga nyaris tak terlihat.
“Dulu juga begitu,” ucapnya rendah.
Angga tetap diam di tempatnya, tetapi Sera tahu ayahnya pasti mendengar perubahan halus dalam nada itu.
Sera sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Ia tidak pernah membayangkan pertemuan mereka setelah bertahun-tahun akan berlangsung seperti ini, di ruangan VVIP rumah sakit, di bawah tatapan seorang pria yang kini menjadi presiden terpilih Iraya, namun masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat masa lalu terasa terlalu dekat.
Rendra menurunkan pandangan ke map di atas meja, lalu menutupnya pelan.
“Aku tidak menyangka akan menemukanmu di Narita.”
Sera mengangkat mata sedikit.
Rendra melanjutkan, nadanya datar, tetapi ada sesuatu di dalam kalimat itu yang membuat dada Sera menegang.
“Padahal kita tinggal di lingkungan yang sama selama bertahun-tahun.”
Kalimat itu terucap begitu saja.
Namun cukup untuk membuat Sera merasa seolah ada sesuatu yang sedang disentuh, sesuatu yang selama ini sengaja ia biarkan terkubur.
Sera membasahi bibirnya yang mendadak kering. “Setelah Anda berangkat ke luar negeri... saya juga lebih sering sibuk dengan sekolah, Tuan. Setelah itu kuliah. Saya jarang berada di mansion utama.”
“Jarang,” ulang Rendra pelan. Ia menatap Sera lagi, tapi tatapan itu terlalu tenang.
“Ayahmu masih mengantar ayahku setiap pagi selama bertahun-tahun,” lanjutnya. “Kamu pasti tahu banyak hal tentang rumah itu.”
Sera terdiam.
Ia memang tahu. Ia tumbuh di lingkungan itu. Tahu kapan lampu perpustakaan utama biasanya mati, tahu halaman belakang mansion akan paling sepi menjelang sore, tahu suara langkah siapa yang biasa melewati paviliun kecil tempat ia tinggal bersama keluarganya.
Namun justru karena tahu terlalu banyak, ia juga belajar untuk menjaga jarak.
“Saya hanya tahu bagian saya, Tuan,” jawabnya akhirnya pelan.
Rendra tidak segera merespons.
Angga menundukkan kepala sedikit, lalu angkat bicara dengan hati-hati. “Tuan Muda... jika ada hal yang ingin dibicarakan, saya dan Sera siap mendengarkan.”
Rendra memindahkan pandangan kepada Angga. Ia mengangguk kecil, lalu kembali menatap Sera.
“Ada.”
Satu kata itu cukup membuat ruangan terasa kembali menegang.
“Tapi bukan di sini.”
Sera tanpa sadar menegakkan punggungnya.
“Malam ini,” lanjut Rendra, “kalian berdua datang ke mansion utama.”
Kalimat itu terdengar tenang, namun tidak memberi ruang penolakan untuk Sera dan Angga.
Sera menatapnya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat lagi. “Malam ini, Tuan?”
“Iya. Ada hal yang perlu kubicarakan denganmu dan Pak Angga.” Suaranya tetap rendah. “Dan itu tidak bisa dibicarakan di rumah sakit.”
Angga langsung menunduk hormat. “Baik, Tuan Muda. Saya akan mengantar Sera ke mansion malam ini.”
Rendra hanya memberi anggukan tipis.
Sera menundukkan kepala, menatap kosong kedua tangannya yang saling meremat di pangkuan. Sera ingin bertanya pada Rendra, tentang pembicaraan apa, kenapa sekarang, kenapa harus Sera. Namun, semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya.
Di hadapan pria ini, setelah sekian tahun, Sera kembali merasakan hal yang dulu paling ia benci dari dirinya sendiri. Ia tidak pernah bisa berpikir jernih saat Rendra menatapnya seperti itu.
“Kalau begitu, kalian bisa pergi sekarang,” ujar Rendra akhirnya.
Sera tersentak sedikit. Ia tidak menyangka pertemuan ini akan berakhir secepat itu.
Namun Angga sudah lebih dulu membungkuk. “Permisi, Tuan Muda.”
Sera akhirnya ikut berdiri. Lututnya sempat terasa ringan saat bangkit dari sofa, tetapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak. Ia menunduk singkat. “Permisi, Tuan.”
Sera berbalik mengikuti ayahnya menuju pintu.
Namun, tepat ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu, suara Rendra terdengar lagi dari belakang.
“Sera.”
Sera berhenti, menoleh pada Rendra.
Tatapan Rendra lurus padanya. “Jangan terlambat.”
Tidak ada ancaman dalam nadanya. Tetapi entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih menekan daripada perintah siapa pun hari ini.
Sera menelan ludah. “Baik, Tuan.” Lalu ia keluar bersama Angga.
Pintu tertutup pelan di belakang mereka.
Dan untuk beberapa detik setelah Sera pergi, Rendra tidak bergerak sama sekali.
Ruangan itu kembali sunyi.
Evan, yang sejak tadi menunggu di luar, masuk setelah mengetuk singkat. Ia menutup pintu, lalu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.
“Bapak ingin kendaraan disiapkan sekarang?” tanyanya.
Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.
Baru beberapa detik kemudian, ia bangkit dari duduknya.
“Ya. Kita kembali ke Istana lebih dulu.”
Ia baru melangkah dua langkah ketika gerakannya mendadak terhenti.
Sakit itu datang begitu saja.
Seolah ada sesuatu yang menghantam dari dalam tulang rusuknya, lalu menjalar ke dada dan pangkal leher dalam satu tarikan napas yang menusuk.
Rendra mengeraskan rahangnya.
Tangannya refleks menekan punggung sofa.
“Bapak?” Evan langsung maju satu langkah.
Rendra mengangkat satu tangan, menghentikannya.
“Aku tidak apa-apa.” Namun suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Napasnya tertahan sepersekian detik. Ujung jarinya mencengkeram permukaan sofa yang empuk begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat. Di pelipisnya, denyut halus mulai tampak. Wajahnya tetap tenang, tetapi Evan sudah cukup lama berada di sisinya untuk tahu itu pertanda buruk.
Karena ini bukan pertama kali.
Dan bukan yang paling ringan.
“Ini yang keenam, Bapak,” ujar Evan hati-hati.
Rendra memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi.
“Aku tahu.”
Evan berdiri kaku. “Dokter pribadi sudah menyarankan pemeriksaan menyeluruh sejak kecelakaan ketiga. Setelah kejadian di tangga selatan minggu lalu, saya rasa—”
“Cukup.”
Satu kata itu memotong Evan telak.
Rendra melepaskan tangannya dari sofa dan memaksa tubuhnya tegak kembali. Hanya gerakan kecil di bahunya yang menunjukkan bahwa nyeri itu belum benar-benar pergi.
Ruangan kembali hening.
Evan menatap tuannya dengan campuran khawatir dan ragu yang jarang ia tunjukkan.
“Bapak...” kali ini suaranya lebih pelan, “mungkin sudah waktunya Bapak berhenti menganggap semua ini kebetulan.”
Tatapan Rendra berubah dingin.
“Aku tidak membutuhkan khotbah sejarah darimu sekarang.”
“Saya juga berharap semua ini hanya kebetulan,” jawab Evan tetap sopan. “Tapi dalam dua bulan, sudah enam kali. Mobil rem mendadak blong, lampu gantung jatuh, insiden di tangga selatan, lalu pagi tadi—”
“Evan.”
Nada suara Rendra tidak naik. Tetapi cukup untuk membuat ruangan membeku.
Evan langsung menunduk. “Maaf, Bapak.”
Rendra berjalan perlahan ke arah jendela besar. Dari lantai paling atas itu, kota Iraya terlihat luas di bawah langit sore yang mulai meredup. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya keemasan terakhir, sementara lalu lintas di kejauhan tampak bergerak seperti urat nadi sebuah negara yang percaya negaranya akan baik-baik saja selama pemimpinnya masih berdiri tegak.
Ironis.
Rendra menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.
Presiden terpilih Iraya.
Lajang.
Baru dua bulan.
Enam kali kejadian.
Jari-jarinya menegang pelan di sisi tubuhnya.
Ia menghargai sejarah negerinya. Ia menghormati kisah-kisah lama, ritual-ritual tua, dan semua yang diwariskan Iraya dari generasi ke generasi. Namun ia menolak tunduk pada sesuatu hanya karena rakyatnya memilih untuk takut.
Setidaknya... dulu begitu.
Kini, nyeri yang barusan mencengkeram dadanya masih meninggalkan sisa panas yang mengganggu di balik tulang rusuknya.
Di belakangnya, Evan tetap menunggu dalam diam.
Setelah beberapa saat, Rendra akhirnya berkata, suaranya kembali stabil.
“Pastikan malam ini tidak ada gangguan. Dan jangan biarkan siapa pun tahu Sera dan ayahnya datang ke mansion utama.”
Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan
Di luar pondok, suara tangisan bayi yang kencang dan melengking mendadak memecah heningnya udara hutan.Bara yang berdiri di bawah pengawalan ketat langsung menoleh cepat ke arah pintu pondok. Matanya seketika berkaca-kaca, dadanya naik turun tajam menahan gejolak rasa haru dan gelisah yang membuncah.Di dekatnya, Rendra berdiri tegap dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana, memandang pimpinan pemberontak itu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi."Apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak memberimu izin melihat anakmu?" cetus Rendra pelan, namun sarat akan penekanan.Bara seketika memutar kepalanya, menatap Rendra dengan pendar mata kaget yang tak tertutupi. "Presiden ternyata memang sangat kejam," desis Bara seraya mengetatkan rahangnya.Rendra terkekeh tipis, menyunggingkan senyum miring yang tajam."Mana yang lebih kejam, aku atau kamu?" tanya Rendra menatap lurus mata Bara. "Bahkan saat anakmu lahir, kamu ditangkap karena menjadi pemberontak. Ideologi apa yang kamu
Rendra langsung menolak senjata di tangannya sedikit melonggar, matanya bergeser cepat menatap ke arah sumber suara. Kedua matanya melebar sewaktu menangkap sosok Sera yang berdiri di dekat ranjang. Napas Rendra tertahan, ada rasa lega yang amat sangat membuncah di dadanya, walau matanya seketika tertuju pada luka dengan bercak darah kering di kening istrinya. Tanpa memberi celah, Naka bergerak amat cepat dari samping. Ia memelintir lengan Bara ke belakang punggung lalu menekan pria itu kasar hingga berlutut menghantam lantai kayu. Naka menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan sindiran. "Ternyata gembong pemberontak yang ditakuti ini bisa dilumpuhkan semudah ini," gumam Naka dingin, makin menekankan lututnya ke punggung Bara. Rendra tidak memedulikan Naka lagi. Ia menurunkan senjatanya begitu saja dan menghambur maju, menarik tubuh Sera ke dalam pelukan yang teramat erat. Rendra membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera, bahunya bergetar hebat. Air mata pria itu menetes basah
Cengkraman jari-jari Bara di pergelangan tangannya terasa amat menyakitkan. Tanpa memberi ruang untuk membantah, Bara menyeret langkah Sera yang tersungkur-sungkur mengikuti pacuan kakinya yang cepat.Sera terpaksa setengah berlari menyeberangi pelataran tanah yang becek hingga mereka tiba di ambang pintu sebuah pondok.Begitu melangkah melewati tirai kain yang terkulai, pendengaran Sera langsung dihantam oleh jeritan melengking. Di atas ranjang bambu yang dilapisi kain lusuh, seorang wanita berguling ke kiri dan ke kanan, meremas perut besarnya dengan wajah mandi peluh.Melihat kondisi itu, naluri Sera sebagai dokter seketika mengambil alih rasa takutnya. Ia membebaskan tangannya dari cekaman Bara lalu berlari mendekati ranjang."Tolong... sakit sekali..." ratap wanita itu dengan napas putus-putus.Sera memeriksa wajah pucat wanita itu, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi barang-barang kayu seadanya. Panik mendadak menyerang Sera. Ia berbalik cepat menatap Bara
Sera duduk menyendiri di sudut lantai kayu pondok yang dingin. Di hadapannya, sebuah piring Seng berisi porsi nasi dan lauk kering tergeletak begitu saja.Sera sama sekali tidak menyentuhnya. Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya. Bagaimana jika makanan itu dibubuhi racun?Ia memalingkan wajah, memilih memaku pandangan ke arah celah sempit di dinding kayu. Cahaya siang menembus garis-garis tipis, menimpa matanya yang perlahan berkaca-kaca. Bulir air mata menetes basah, mengalir melewati pipinya yang kotor.“Bagaimana keadaan Mas Rendra?”Bayangan saat rentetan tembakan meletus dan mobil yang meledak kembali berputar di kepalanya. Dada Sera bergemuruh kencang. Ia mencekeram kuat pinggiran pakaiannya, didera ketakutan membayangkan Rendra terluka atau—bahkan lebih buruk dari itu.Sementara itu di luar pondok, Bara berdiri membelakangi beberapa anak buahnya yang duduk melingkar di atas akar-akar pohon besar. Senjata laras panjang mereka tampak disandarkan pada tiang kayu."Bang, apa s
Denyut tajam di kening menyentak Sera dari kegelapan. Ia mengerjabkan mata berulang kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan remang cahaya yang menerobos dari celah-celah dinding kayu. Bau tanah basah dan kayu lapuk menyengat hidungnya. Sera mencoba duduk, tetapi rasa pening hebat memaksa kepala bagian depannya berdenyut parah. Tangannya terangkat, menyentuh keningnya yang lengket dan perih.Sera menyadari keningnya Lengket oleh darah segar. "Pondok?" Jantung Sera berdegup kencang sewaktu menyadari tempat itu bukan rumah sakit atau posko militer. Rasa takut merayap cepat, membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Ingatannya berputar keras, mengingat guncangan ledakan, lereng licin yang longsor, lalu kegelapan total saat tubuhnya menghantam dasar jurang. Suara pintu kayu tiba-tiba berderit. Pintu depan terdorong kasar. Cahaya siang menusuk masuk, menampilkan siluet tinggi seorang pria yang mengangkut senjata laras panjang di bahunya. Pria itu melangkah masuk, menyisa







