تسجيل الدخولhola Geng jangan lupa komen dan like ya mamacih 🤗
Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan
Di luar pondok, suara tangisan bayi yang kencang dan melengking mendadak memecah heningnya udara hutan.Bara yang berdiri di bawah pengawalan ketat langsung menoleh cepat ke arah pintu pondok. Matanya seketika berkaca-kaca, dadanya naik turun tajam menahan gejolak rasa haru dan gelisah yang membuncah.Di dekatnya, Rendra berdiri tegap dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana, memandang pimpinan pemberontak itu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi."Apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak memberimu izin melihat anakmu?" cetus Rendra pelan, namun sarat akan penekanan.Bara seketika memutar kepalanya, menatap Rendra dengan pendar mata kaget yang tak tertutupi. "Presiden ternyata memang sangat kejam," desis Bara seraya mengetatkan rahangnya.Rendra terkekeh tipis, menyunggingkan senyum miring yang tajam."Mana yang lebih kejam, aku atau kamu?" tanya Rendra menatap lurus mata Bara. "Bahkan saat anakmu lahir, kamu ditangkap karena menjadi pemberontak. Ideologi apa yang kamu
Rendra langsung menolak senjata di tangannya sedikit melonggar, matanya bergeser cepat menatap ke arah sumber suara. Kedua matanya melebar sewaktu menangkap sosok Sera yang berdiri di dekat ranjang. Napas Rendra tertahan, ada rasa lega yang amat sangat membuncah di dadanya, walau matanya seketika tertuju pada luka dengan bercak darah kering di kening istrinya. Tanpa memberi celah, Naka bergerak amat cepat dari samping. Ia memelintir lengan Bara ke belakang punggung lalu menekan pria itu kasar hingga berlutut menghantam lantai kayu. Naka menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan sindiran. "Ternyata gembong pemberontak yang ditakuti ini bisa dilumpuhkan semudah ini," gumam Naka dingin, makin menekankan lututnya ke punggung Bara. Rendra tidak memedulikan Naka lagi. Ia menurunkan senjatanya begitu saja dan menghambur maju, menarik tubuh Sera ke dalam pelukan yang teramat erat. Rendra membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera, bahunya bergetar hebat. Air mata pria itu menetes basah
Cengkraman jari-jari Bara di pergelangan tangannya terasa amat menyakitkan. Tanpa memberi ruang untuk membantah, Bara menyeret langkah Sera yang tersungkur-sungkur mengikuti pacuan kakinya yang cepat.Sera terpaksa setengah berlari menyeberangi pelataran tanah yang becek hingga mereka tiba di ambang pintu sebuah pondok.Begitu melangkah melewati tirai kain yang terkulai, pendengaran Sera langsung dihantam oleh jeritan melengking. Di atas ranjang bambu yang dilapisi kain lusuh, seorang wanita berguling ke kiri dan ke kanan, meremas perut besarnya dengan wajah mandi peluh.Melihat kondisi itu, naluri Sera sebagai dokter seketika mengambil alih rasa takutnya. Ia membebaskan tangannya dari cekaman Bara lalu berlari mendekati ranjang."Tolong... sakit sekali..." ratap wanita itu dengan napas putus-putus.Sera memeriksa wajah pucat wanita itu, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi barang-barang kayu seadanya. Panik mendadak menyerang Sera. Ia berbalik cepat menatap Bara
Sera duduk menyendiri di sudut lantai kayu pondok yang dingin. Di hadapannya, sebuah piring Seng berisi porsi nasi dan lauk kering tergeletak begitu saja.Sera sama sekali tidak menyentuhnya. Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya. Bagaimana jika makanan itu dibubuhi racun?Ia memalingkan wajah, memilih memaku pandangan ke arah celah sempit di dinding kayu. Cahaya siang menembus garis-garis tipis, menimpa matanya yang perlahan berkaca-kaca. Bulir air mata menetes basah, mengalir melewati pipinya yang kotor.“Bagaimana keadaan Mas Rendra?”Bayangan saat rentetan tembakan meletus dan mobil yang meledak kembali berputar di kepalanya. Dada Sera bergemuruh kencang. Ia mencekeram kuat pinggiran pakaiannya, didera ketakutan membayangkan Rendra terluka atau—bahkan lebih buruk dari itu.Sementara itu di luar pondok, Bara berdiri membelakangi beberapa anak buahnya yang duduk melingkar di atas akar-akar pohon besar. Senjata laras panjang mereka tampak disandarkan pada tiang kayu."Bang, apa s
Denyut tajam di kening menyentak Sera dari kegelapan. Ia mengerjabkan mata berulang kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan remang cahaya yang menerobos dari celah-celah dinding kayu. Bau tanah basah dan kayu lapuk menyengat hidungnya. Sera mencoba duduk, tetapi rasa pening hebat memaksa kepala bagian depannya berdenyut parah. Tangannya terangkat, menyentuh keningnya yang lengket dan perih.Sera menyadari keningnya Lengket oleh darah segar. "Pondok?" Jantung Sera berdegup kencang sewaktu menyadari tempat itu bukan rumah sakit atau posko militer. Rasa takut merayap cepat, membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Ingatannya berputar keras, mengingat guncangan ledakan, lereng licin yang longsor, lalu kegelapan total saat tubuhnya menghantam dasar jurang. Suara pintu kayu tiba-tiba berderit. Pintu depan terdorong kasar. Cahaya siang menusuk masuk, menampilkan siluet tinggi seorang pria yang mengangkut senjata laras panjang di bahunya. Pria itu melangkah masuk, menyisa







