Beranda / Romansa / Pelukan Panas Tukang Kebun / Bab 50 Rencana Rahasia

Share

Bab 50 Rencana Rahasia

Penulis: Lukalama
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 01:08:19

Ibukota Arkapa.

Di sebuah restoran privat paling eksklusif di jantung ibu kota, udara terasa dingin dan penuh tekanan. Lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya ke meja makan berlapis linen putih. Namun kemewahan itu sama sekali tidak mampu meredakan kegugupan Arnold dan Brenda.

Keduanya duduk tegak, hampir terlalu tegak, seakan takut salah bergerak. Napas mereka tertahan ketika menatap dua sosok yang duduk di seberang meja.

Di sana hadir Yudistira Raden—kepala keluar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 185 Akhir yang Bahagia

    Kriettt ... Suara derit engsel pintu kayu yang tua itu memecah kesunyian malam di tengah perkebunan. Dengan hati-hati, Bella mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu, meraba dinding bilik kayu yang kasar untuk mencari saklar lampu gantung. Begitu jarinya menemukan tombol plastik kecil dan menekannya, pijar lampu kuning hangat langsung menerangi seluruh isi ruangan yang sempit itu. Bella mengerjap, lalu terperanjat hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Di sudut ruangan, tepat di atas ranjang kayu kecil berbalut tikar pandan, sosok pria tengah duduk dengan sangat santai. Juna melipat kedua tangannya di dada, mengenakan kaus polos hitam dan celana bahan kasual. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan, tapi sukses membuat perut Bella mendadak mulas. "Sudah puas bermain-main sendiri, istri nakal?" suara bariton Juna mengalun rendah, memecah keheningan malam dengan nada penuh intimidasi terselubung. Bella

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 184 Rencana Besar Bella

    "Membangun rumah? Di sini, di desa?" tanya Brenda tak percaya, matanya membelalak lebar. "Bella, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu, seorang direktur perusahaan besar dan istri dari CEO The Raden Group, mau tinggal di desa kecil seperti ini?" "Bella serius, Bu," jawab Bella mantap, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. "Kemarin malam, Uttari menangis sejadi-jadinya. Dia bilang kalau orang tuanya tidak punya waktu untuk mereka. Bella sadar, selama ini kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dunia luar sampai mengabaikan kebahagiaan anak-anak yang sesungguhnya." Arnold terdiam, menatap putrinya dengan pandangan penuh bangga sekaligus haru. Pria paruh baya itu mengelus jenggot tipisnya, lalu tersenyum tipis. "Suamimu, Juna ... apakah dia tahu rencana sebesar ini? Kamu tahu sendiri suamimu itu punya andil besar di perusahaan dan sangat terikat dengan ritme kehidupan dikota besar." Bella mendengus pelan, mengingat perdebatan sengit mereka semalam sebelum ia nekat kab

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 183 Kembali Lagi ke Desa Wirata

    "Masuki aku, Sayang ... sekarang!" rintih Bella dengan suara serak yang sangat menggoda. Sembari mengucapkan kalimat itu, Bella dengan berani menarik kedua lututnya ke atas, membuka lebar-lebar paha dan liang hangatnya yang masih berkedut sensitif. Juna tidak perlu diminta dua kali. Pria itu menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol akibat gairah yang sudah berada di ubun-ubun. Dengan satu gerakan posesif, Juna memosisikan dirinya di antara kedua paha istrinya, mengarahkan tongkat kebanggaannya yang sudah mengeras maksimal tepat di bibir liang yang menganga pasrah. Jlesss... Tanpa ragu dan dalam satu hentakan yang dalam, Juna langsung memasukkan seluruh miliknya, menghujam hingga ke dasar rahim Bella. Penyusupan yang begitu mendadak dan padat itu seketika menyumbat jalan keluar cairan di dalam sana. Akibatnya, cairan percintaan yang tadinya mengalir deras langsung muncrat ke sekeliling sprei. "AAAHHH!" jerit Bella tertahan, matanya terbelalak sesaat seb

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 182 Cekcok Ringan

    "Apa? Pindah ke desa?!" pekik Juna, nada suaranya meninggi setengah oktaf karena terkejut. Juna yang sedang berbaring sambil santai diatas ranjang, menegakkan duduknya. Ia menatap sang istri seolah Bella baru saja menyarankan mereka untuk pindah ke planet Mars. "Iya. Aku serius," jawab Bella dengan suara mantap, meski sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. "Aku berencana memboyong Danendra dan Uttari tinggal di desa untuk sementara waktu. Kasihan Uttari ...," Juna mendengus tidak percaya, menatap tajam ke arah istrinya. "Desa mana maksudmu, Bella? Wirata? Kamu mau bawa anak-anak ninggalin Arkapa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Perusahaan logistik global sedang ekspansi besar-besaran, posisiku sebagai CEO dan posisimu sebagai Direktur Rantai Pasok dibutuhkan di kantor pusat!" "Kantor pusat, kantor pusat terus!" potong Bella, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut terpancing. Ia bangkit dari tepian ranjang, berdiri tegak menghadapi suaminya. "Asal kamu

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 181 Dongeng Sebelum Tidur

    Sore mulai bergeser menuju malam ketika mobil yang membawa Bella akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Raden. Rumah besar itu masih sama seperti biasanya. Megah, tenang, dan terlalu luas untuk disebut sekadar rumah. Begitu Bella turun dari mobil, ia langsung menyerahkan tasnya kepada seorang pelayan yang sudah siap siaga menunggu di depan pintu. Ia baru saja melangkah beberapa meter ketika suara tangisan terdengar dari dalam rumah. “Mamaaa!” Dari arah ruang keluarga, seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya dengan rambut ikal yang tergerai berantakan. Rambut itu sangat mirip dengan rambut Bella ketika masih kecil. “Uttari?” Bella langsung berjongkok melebarkan tangan, menyambut pelukan hangat dari anak keduanya itu. Isak tangis kecil langsung meredam begitu wajah basah Uttari menelusup ke ceruk leher sang ibu. ​"Ada apa, sayang? Kenapa nangis hmm?" tanya Bella lembut, mengusap punggung kecil putrinya dengan penuh kasih sayang. ​Belum sempat Uttari menjawab,

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 180 Nyonya Raden

    Deru halus mesin Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang tujuh paling eksklusif di jantung ibu kota. Seorang petugas valet segera berlari menghampiri dan membukakan pintu, menyambut kedatangan salah satu wanita paling berpengaruh di lingkaran bisnis Jakarta."Selamat datang, nyonya Raden," ucap sopan penuh hormat, seorang petugas."Selamat pagi, Nyonya Besar. Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut Anda kembali di hotel ini," ucap sang General Manager membungkuk hormat, memberikan gestur mempersilakan dengan tangan terbuka.Bella turun dengan gaya anggun. Gaun tweed pastel rancangan Chanel membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara kacamata hitam besar bertabur permata menutupi sebagian wajahnya yang dipoles tanpa cela. Bella mengangguk, senyum penuh wibawa terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto Jimmy Choo berketukan anggun di atas lantai marmer putih bersih, meninggalkan jejak aura kekuasaan yang membuat setiap p

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 3 Teman Nakal Bella

    Di sebuah pondok kecil di tengah sawah, Juleha dan Arul sedang duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam, tubuh mereka beradu hangat di bawah sinar matahari siang.Tak berselang lama, bibir mereka bertemu dalam ciuman panjang, diselingi desahan yang membuat milik Arul terasa tegang.Aroma

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 2 Tolong Pecat Dia

    “Tidak bisa! Urusan pemecatan, ayah yang mengatur.” kata Arnold dengan tegas.“Tapi, Ayah—” Bella melangkah maju, menahan emosi."Tidak! Pokoknya tidak boleh!"“Apa Ayah tidak lihat, berapa pohon yang sudah dibuat botak oleh si Junaidi? Cara kerjanya berantakan. Menanam padi saja tidak presisi. Ben

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 1 Tukang Kebun Baru

    “Astaga, Juna!” suara Bella melengking, memecah sunyi perkebunan. “Kenapa semua dahan kamu potong? Kerjamu itu tinggal memetik jeruknya, bukan membuat pohonnya botak begini!”Pria yang bernama Juna itu berhenti bekerja, menoleh dengan wajah nyaris tanpa rasa bersalah.“Maaf, Bu Bella.”“Nona!” Bell

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 7 Gejolak yang Salah

    Setan apa yang membuatku mengatakan itu?Junaidi mengumpat dalam hati.Ia hanya ingin melihat pipi Bella memerah—sekilas saja, tanda bahwa gadis itu tak selalu sedingin nada bicaranya. Sialnya, yang ia dapat justru tatapan melotot penuh amarah.Bella pantas marah. Pria macam apa yang berani melonta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status