LOGINRyan membuka pintu kamarnya dan langsung berhadapan dengan Adel yang sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat kerja.
Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi, blazer dan rok pensil membalut tubuhnya dengan sempurna.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Adel tampak sedikit canggung, matanya menghindari tatapan Ryan, dan ada semburat merah tipis di pipi
Sorot mata Ryan meredup. "Betul. Orang ini bisa menciptakan monster-monster buruk rupa dari korbannya. Aku sendiri bahkan sudah membunuh tiga di antaranya tadi, dan ketiganya sekuat Ranah Creation.""Tuan Muda, saat ini di dalam alam rahasia, semua kultivator kuat yang percaya pada kekuatan mereka pasti sedang berlomba menuju pilar cahaya hitam itu untuk merebut harta," ucap Roxanne. "Kita harus segera ke sana dan bekerja sama dengan mereka untuk membunuh iblis ini sebelum semuanya terlambat."Pada saat itu, bahkan Zane yang biasanya santai dan haus pertarungan pun akhirnya sadar betapa gawatnya keadaan yang mereka hadapi.Dia langsung berkata pada Ryan, "Saudara Ryan, sepertinya pertarungan kita terpaksa ditunda ke lain hari. Mari naik ke kapal terbang dulu dan menuju puncak itu bersama-sama secepatnya."Ryan mengangguk tanpa ragu, dan dalam sekejap sosoknya sudah berdiri tegak di atas kapal terbang."Saudara Ryan, tolong alirkan energi spiritualmu ke dalam kapal ini supaya kecepatan
Pada saat itu, seorang wanita bertubuh sintal melayang turun dari kapal terbang dengan gerakan ringan dan mendarat tanpa suara di samping Zane. Dialah Roxanne Carr.Ia menatap Ryan lekat-lekat dan langsung bertanya, "Orang yang kau maksud itu, apa dia memang sedang memburu para peserta di alam rahasia ini?"Ryan melirik wanita itu sekilas, lalu mengangguk pelan. "Bukan sekadar memburu. Orang ini sepertinya punya teknik aneh yang membuatnya bisa melahap kultivator lain, lalu menyerap habis kultivasi dan garis darah mereka.""Saat ini dia sudah menyentuh puncak Ranah Creation. Kalau dia terus melahap kultivator di alam rahasia ini sampai naik ke Ranah Star Sealed, akibatnya sungguh tak terbayangkan."Mendengar itu, raut wajah Zane berubah serius.Bahkan bagi dirinya yang gemar bertarung, menghadapi orang yang sanggup melahap kultivasi lawan pasti akan sangat merepotkan. Kekuatan musuh itu terus bertambah setiap kali ia m
Tanpa menunggu jawaban Ryan, Zane Starfeld melompat turun dari kapal terbangnya dan langsung melayangkan satu pukulan ke arah pemuda di hadapannya.Begitu kepalannya bergerak, sesosok bayangan samar seorang pria raksasa muncul di belakangnya. Saat bayangan itu menampakkan diri sepenuhnya, dunia di sekeliling Zane seakan ikut berguncang olehnya.Udara meledak hebat di sekitar kepalan itu. Tekanan dahsyat menyebar ke segala arah, membuat pepohonan di bawah mereka tunduk merunduk seperti ditiup badai topan.Sesaat itu, segala hal di sekitar seolah lenyap dari pandangan, dan yang tersisa hanyalah satu kepalan. Kepalan yang sanggup meremukkan dunia. Itulah kepalan Zane Starfeld yang tersohor.Ryan terdiam sejenak, alisnya berkerut tipis.'Orang ini menyerangku begitu saja tanpa basa-basi sedikit pun? Benar-benar manusia gila.'Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah keluarha ternama di Benua Valorisi
Ryan lalu mengalihkan perhatiannya ke kotak yang tersimpan di dalam Kuburan Pedang. Kotak itu bergetar hebat di dalam sana, seakan bereaksi terhadap pilar cahaya hitam di kejauhan, seperti dua benda yang saling memanggil. Tampaknya Mordane Lethe tidak hanya meninggalkan kotak ini, tapi juga menyimpan sesuatu yang lain di alam rahasia ini. Ryan ingin bertanya pada Mata Iblis soal kotak itu, tapi entitas itu sudah kembali tertidur. Lagi pula, di dalam gua tadi Mata Iblis sempat mengambil alih tubuhnya untuk menggali rahasia masa lalu, dan itu menguras lebih banyak kekuatannya hingga ia jatuh terlelap kembali. Untuk sekarang, Ryan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. 'Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.' Tidak ada gunanya menunggu Mata Iblis terbangun, sebab tak ada yang tahu kapan ia akan pulih. Pada saat itu, Xavier menangkap aura harta karun yang menguar dari dalam cahaya hitam. Seolah ada sebuah pusaka rahasia yang sebentar lagi akan terlepas dari segelnya dan t
Ryan mengangguk, sorot matanya berubah serius. Tampaknya hal terpenting sekarang bukan lagi soal mengumpulkan token giok ungu milik peserta lain, melainkan memusnahkan tuntas kultivator aneh pelahap manusia itu sebelum terlambat. Kalau dibiarkan terus memangsa peserta sampai mencapai Ranah Star Sealed, akibatnya sungguh tak terbayangkan. Bahkan Ryan sendiri tak yakin sanggup membunuhnya bila sudah sampai ke titik itu, dan kalau itu benar terjadi, seluruh peserta kompetisi akan menghadapi malapetaka. Lebih buruk lagi, makin lama orang itu dibiarkan, makin banyak kultivator muda berbakat yang akan jadi santapannya. Setiap nyawa yang ia telan langsung berubah menjadi tambahan kekuatan baginya, dan lingkaran itu hanya akan terus membesar selama tak ada yang menghentikannya. Ini bukan sekadar ancaman bagi Ryan seorang, melainkan bagi semua orang yang terjebak di alam rahasia ini. "Di mana kau bertarung melawan orang itu?" tanya Ryan pada Xavier. Xavier mengerutkan kening dalam-dal
Monster itu tahu betul dirinya tak mungkin lolos hidup. Justru karena itu, ia malah tertawa dingin. "Bocah kurang ajar. Kau tahu makhluk macam apa yang baru saja kau buat murka?" "Kalau kau berani membunuh kami bertiga, kau akan menanggung amarah Tuan yang tak akan pernah reda sampai kapan pun!" "Ada faksi-faksi di dunia ini yang sama sekali tak sanggup kau lawan, dan Tuan adalah salah satunya!" "Orang yang kau maksud itu Lucas Ravenclaw, bukan?" Ryan mengangkat sebelah alis, sengaja memancing. Begitu nama Lucas Ravenclaw disebut, mata monster itu langsung menyala merah darah. Tubuhnya bergetar penuh gairah, seakan nama itu adalah sesuatu yang suci baginya. Lalu, gelombang energi yang luar biasa besar meledak dari dalam tubuhnya. Monster itu memilih meledakkan dirinya sendiri, demi memastikan tak ada satu rahasia pun yang bocor. Ryan langsung melompat mundur. Pada saat yang sama, Energi Gao dan energi iblisnya membungkus seluruh tubuhnya rapat-rapat, menahan hempasan leda
Ekspresi lelaki tua dan Larry Brave berubah drastis menyaksikan rekaman tersebut. Gunung Langit Biru selalu mengurus urusan internal mereka sendiri. Biasanya hanya beberapa orang yang turun gunung, tapi kali ini ada puluhan orang sekaligus!Yang lebih mengkhawatirkan,
Dalam sekejap, situasi pertarungan berubah drastis. Ketua Sekte Sam yang tadinya begitu percaya diri kini terpojok dalam situasi putus asa. Para penonton menyaksikan dengan mata terbelalak tak percaya–bagaimana mungkin Ryan yang tadi nyaris mati justru membalikkan keadaan dengan begitu mudah? "
Nona muda dari Keluarga Jirk melirik Ryan dan menghela napas dalam-dalam. Detik berikutnya, dia pergi. Saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu dan melihat. Bagaimanapun, jika tindakannya merugikan kepentingan Keluarga Jirk, dia tidak akan bisa memikul tanggung jawab.
Begitu mendengar penolakan itu, tatapan Ryan langsung berubah dingin. Tanpa ragu dia melangkah maju dan menampar wajah Calvin Robert dengan keras. PLAK! Suara tamparan itu begitu nyaring hingga bergema di ruangan. Kekuatan Ryan yang dahsyat membuat Calvin Robert langsung memuntahkan darah segar.






