MasukJoko melirik dua wanita itu. Dua perhiasan emas lalu memberikannya kepada mereka.
"Ini buat kalian. Tapi ingat, apa yang terjadi sini, jangan sampai kalian sebarkan!" ucap Joko dengan nada tegas. "B-bang... g-gak perlu! Tenang saja... kita gak akan kasih tahu siapapun kok!" ucap salah satu wanita itu dengan ekspresi ketakutan. Joko tetap memberikan emas itu dengan paksa. "Sudah terima saja! Kalian pasti butuh ini. Sekarang Juragan Rusdi sudah gakDi sebuah ruangan mewah, terlihat pria muda berambut putih dan berparas cukup tampan sedang duduk. Di bawahnya, terlihat seorang wanita seksi sedang berlutut dan tangan wanita itu sibuk memainkan batang pria itu. "Ahhh... masukkan ke dalam mulutmu!" ucap pria itu dengan ekspresi menikmati. Wanita itu memasukkan batang pria itu ke dalam mulutnya dan mengulumnya. "Ahh... bagus! Jalang, kulumanmu memang sangat nikmat!" ucap pria itu dengan ekspresi sangat menikmati. Saat sedang enak-enaknya, ponsel yang tergeletak di meja samping berdering tanda ada penelepon. Pria itu meraih ponselnya, tanpa melihat siapa yang menelepon ~ dia menjawab telepon itu. "Tuan... Tuan Muda, gagal kita gagal!" terdengar suara lesu seorang pria di telepon. Pria itu menghentikan wanita yang sedang mengulumnya. Ekspresinya berubah menjadi serius. "Apa, apa yang gagal?" tanya pria itu dengan suara keras. "Kita gak berhasil menangkap Nona Nadya. Dia punya pengawal yang kuat! Kita semua di kalahkan pengawaln
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Kota. Nadya memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu di sebuah restoran. Joko masih tertidur pulas."Nona, kita mau makan dulu?" tanya Sonya."Bungkus makanan saja. Kita makan nanti saja kalau Joko sudah bangun. Kasihan, dia nyenyak banget," balas Nadya."Jadi kita mau langsung ke lokasi tambang? Di sana gak ada penginapan lho," ucap Sonya."Kalau kita menginap di sini, takutnya ada musuh yang datang. Joko masih kelelahan sekarang. Kita jalan terus saja, nanti tidur di mobil juga gak masalah," balas Nadya.Sonya mengangguk setuju. Kemudian, dia turun dari mobil dan pergi masuk ke restoran itu. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa beberapa kotak makanan."Aku beli 6 porsi. Sekalian buat makan malam kita. Takutnya di sana gak ada yang jual makan," ucap Sonya sambil menyalakan mobil.Nadya mengangguk. "Nanti mampir dulu ke supermarket. Beli beberapa makanan ringan!" ucapnya.Sonya mengangguk, lalu dia melanjutkan mobil itu.===Matahari pe
Joko mengeratkan semuanya tenaganya yang tersisa untuk menghindari serangan itu. Dia sedikit mundur dan menarik tubuhnya ke samping. Pada akhirnya di berhasil menghindari serangan itu. "Bajingan tua! Kau berani sekali menyerang diam-diam!" teriak Joko dengan ekspresi marah. Dia menerjang pria tua itu dengan ganas. Pria tua itu pun menyerang Joko dengan belati tajam itu. Joko menangkap tangan pria tua itu, lalu menendang perutnya dengan keras. Pria tua itu terpental beberapa meter dan belati itu pun terjatuh. Joko berlari, lalu meraih belati itu. Setelah itu, dia menerjang pria tua itu. Melihat itu, wajah pria tua itu sepucat kertas, dia buru-buru bangkit ~ ingin melarikan diri. Namun Joko tak membiarkan itu terjadi, dia meraih leher belakang pria tua itu."Kau... mau apa kau?" teriak pria tua itu dengan panik.Sorot mata Joko dingin dan setajam belati yang di pegangnya. Dia membalikkan tubuh pria tua jadi menghadapnya. "Bajingan tua, kalau aku telat menghindar, aku pasti tertusuk
Tangan Joko terkepal, lalu tinjauan keras yang menggunakan setengah dari kekuatannya dia layangkan.Pria itu tak kenal takut! Dia terlihat ingin menghadapi serangan Joko secara langsung. Saat tinju itu tiba, dia menggunakan tinjunya untuk menahan tinju Joko.Kedua tinju beradu dengan keras. Detik berikutnya, wajah pria itu menjadi pucat saat merasakan rasa sakit yang teramat sakit dari tangannya.KRAKK!Suara patah tulang terdengar jelas di udara. Suara teriakan bergema di ikut terlemparnya tubuh lawan Joko ke belakang. Semua orang kembali di kejutkan saat melihat itu. "Bagaimana, bagaimana mungkin! Dia jelas pendekar beladiri tingkat menengah! Kenapa bisa di kalahkan sampai patah tulang sama bocah sialan itu?" teriak salah satu pria.Pria paruh baya menatap Joko dengan serius. "Dia gak sederhana! Sebaiknya, kita serang dia sama-sama, selesaikan dengan cepat!" ucapnya.Semua pria itu mengangguk setuju. Tanpa banyak bicara, mereka semua menerjang Joko.Nadya dan Sonya yang melihat itu
Seperti yang di perkirakan Joko, saat memasuki kawasan yang lebih sepi, para musuh itu sudah menunggu. Terlihat, dua mobil sedan hitam dengan merek yang sama, terparkir di tengah jalan. Melihat itu, Nadya dan Sonya tentu saja sangat panik. Namun Joko, tampak tenang seperti biasanya. "Jo, mereka pasti banyak! Kamu putar balik mobilnya, kabur saja!" ucap Nadya buru-buru. "Hehe, percuma Nona. Mobil yang ngekor di belakang, pasti mencegah kita!" balas Joko sambil terkekeh. "Kamu masih bisa ketawa yah. Kita dalam bahaya Jo!" ucap Nadya sambil memukul pelan pundak Joko. Joko merasa sangat lucu, saat melihat ekspresi panik wanita yang sangat cantik itu. "Nonaku yang cantik, kamu lebih cantik kalau lagi panik!" goda Joko. "Jo... Joko! Kamu serius dong!" bentak Nadya. "Jo, jangan bercanda lagi," ucap Sonya dari belakang. Wanita genit itu, merasa sangat takut sekali sekarang. Ekspresi Joko menjadi serius. "Tenang, kalian pasti aman! Kita gak bisa kabur, aku akan melawan mereka semua!"
Joko memasang ekspresi murung. Dia menghela nafas, lalu berkata. "Huh... pria brengsek ini sungguh gak beruntung. Wanita cantik di samping, ternyata menolak begitu saja."Sonya mengelus dada Joko dengan tangannya. "Kamu tenang saja, kalau Nona gak mau, masih ada aku kok. Aku bisa mempertimbangkannya," ucapnya dengan nada menggoda.Nadya refleks menoleh ke arah Sonya. "Sonya, kamu!" bentaknya dengan wajah emosi."Kenapa Nona? Kok bentak aku sih? Aku kan gak salah apa-apa," ucap Sonya berpura-pura sedih."Cepat kembali ke tempat duduk! Jangan ganggu Joko yang lagi nyetir, bahaya tau!" ucap Nadya dengan suara dalam."Oke... oke. Aku kembali! Jangan marah-marah dong," balas Sonya sambil mengedipkan matanya. Dia menarik tangannya, lalu duduk dengan benar. Senyuman tipis yang tampak menggoda, terus tersungging di bibir wanita itu.Setelah menegur Sonya, Nadya merasa hatinya kacau. Dia memalingkan wajahnya, lalu menggigit bibirnya untuk
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal







