تسجيل الدخولSonya datang membawa tiga gelas jus jeruk. Dia mendengar semua yang di katakan Joko. "Nona, kamu jangan ingkar janji lho," ucapnya sambil menatap Nadya dengan tatapan menggoda. Hati Nadya bergejolak. Dia menggigit bibirnya dengan wajah yang sedikit menunduk. Joko menarik tubuh Nadya, sampai tubuh wanita itu meletakkan di tubuhnya. "Gimana, mau menepati janji, atau mau mengingkari?" Nadya mengepalkan tinjunya. Dia menatap Joko dengan tatapan tajam. "Kamu berani?" "Hei, tentu saja aku berani! Lagi pula, kamu sudah setuju sebelumnya!" balas Joko dengan nada main-main. Telapak tangannya yang berada di pinggang Nadya, perlahan naik ke atas. Tatapan Nadya semakin tajam. Wajah cantiknya itu semakin memerah. Tak ada ucapan keluar dari mulut wanita itu dan tak ada tindakan untuk menjauhi Joko. Sonya menyaksikan dari sisi dengan penuh minat. Matanya terus mengikuti arah pergerakan tangan Joko. Hanya beberapa nafas, Joko sudah berhasil menyentuh area sisi semangka Nadya. "D
Tiga orang pria turun dari mobil sedan hitam itu. Mereka melangkah menghampiri Joko. Pria yang memimpin mereka tampak sudah tua dan keriput. Joko tampak sangat santai, meski aura yang keluarkan pria tua itu terasa sangat mengancam. "Pendekar beladiri tingkat tinggi. Lumayan," gumam Joko di hatinya. "Bocah, berikan Nona Nadya dan Nona Sonya! Kalau tidak, kau gak akan selamat!" ucap pria tua itu dengan nada tenang. "Cepat serahkan! Kalau gak ingin mati!" teriak pria yang tampak babak belur. Pria itu adalah salah satu pria yang di hajar Joko kemarin. "Serahkan? Hehe, apa menurut kalian aku ini pria yang gampang menyerah?" tanya Joko dengan nada main-main. Kemudian, matanya menatap lekat pria tua itu. "Hei pria tua, kau sudah sangat tua, apa kau yakin bisa mengalahkanku?" tanyanya dengan nada ekspresi mengejek. Wajah pria itu menjadi sangat dingin. "Anak muda sekarang, suka sekali meremehkan orang. Bocah, ingatlah, di atas langit masih ada langit!" ucapnya. "Biar gak di san
Di sepanjang jalan, Nadya tampak lebih pendiam. Meski dia duduk di depan, dia tak berinteraksi sama sekali dengan Joko. Mungkin saja wanita itu masih kesal dengan kenyataan ~ Joko punya banyak teman ranjang. "Jagoanku, kamu ke ibu kota masih lama kah?" tanya Sonya. "Gak tahu. Yah perkiraan beberapa minggu lagi," balas Joko. "Kamu mau apa sih tinggal di ibu kota, kasih tahu aku dong! Aku penasaran nih," ucap Sonya. "Ini urusan keluargaku sih. Aku sebenarnya gak enak kasih tahunya," balas Joko. "Oh gitu yah, ya sudah gak apa-apa," ucap Sonya dengan wajah sedikit meredup. Joko terdiam. "Apa aku coba tanya mereka tentang teman kakek itu? Siapa tahu saja mereka kenal! Mereka kan dari kalangan atas. Menurut catatan ~ teman kakek juga dari kalangan atas," gumam Joko di dalam hati. Setelah mengambil keputusan, Joko pun akhirnya menanyakan kepada kedua wanita itu. "Kalian ada yang kenal sama pria bernama Suryo gak?" Nadya dan Sonya mengerutkan kening. "Nama Suryo itu banyak! Apa kamu
Nadya menatap Joko. "Aku harus lihat dulu isi dalam batu mu ini! Kalau sudah di lihat semua aku akan kasih harga yang pas!""Kalau gitu, sini aku kupas semua kulitnya," ucap Joko dengan penuh semangat."Tuan, biarkan saya saja! Mengupas semuanya butuh keahlian, kalau salah sedikit saja pasti akan banyak giok yang terbuang," ucap pria tua itu."Baiklah. Makasih yah!" balas Joko."Tuan, tapi aku boleh tidak setelah aku kupas, aku mau foto ketiga batu giok itu," ucap pria tua itu dengan ekspresi malu-malu."Oh boleh saja, silakan saja!" balas Joko dengan santai."Saya gak akan gratisan. Soalnya nya fotonya nanti buat di jadikan promosi tambangku. Sebagai imbalannya, Tuan boleh ambil batu mentah manapun yang tuan mau!" ucap pria tua itu dengan penuh semangat.Joko melirik semua batu mentah. Meski ada beberapa yang terlihat oleh matanya mengeluarkan energi, tapi tidak ada satu pun yang mengeluarkan energi sepekat batu miliknya."Gak perlu! Kalau mau foto silakan saja. Aku sudah puas banget
Mata gerinda mulai mengenai kulit batu itu, suara gesekan yang keras tercipta. Lapisan sedikit lapisan mulai terpotong. Namun, tidak terlihat ada tanda-tanda batu giok. "Jagoanku, sudah pasti itu cuma batu biasa," ucap Sonya dengan nada menggoda. "Mungkin kurang dalam!" ucap Joko, lalu dia memotongnya lebih dalam lagi. Nadya dan Sonya menggeleng-gelengkan kepala mereka, begitu pula dengan pria tua itu. Pada saat lapisan yang lebih dalam berhasil di belah, warna ungu yang sangat jelas terlihat. Sontak, mata Nadya, Sonya, dan pria tua itu membelalak lebar. "Hei, di dalamnya ternyata warna ungu," ucap Joko dengan polosnya. Nadya dengan cepat merebut batu itu dari Joko. Dia menatap batu itu dari jarak yang sangat dekat. "Giok... ternyata ada giok nya!" teriak Nadya. Joko bangkit, ekspresinya tampak bingung. "Giok, emangnya batu ungu itu giok?" tanyanya sambil menggaruk tengkuk lehernya. "I-ini benar-benar giok! Giok ungu jenis es! Giok langka! Sangat transparan, gak ada sedikit p
Tak lama kemudian, mereka sampai di gudang yang cukup besar. Di dalamnya, terlihat banyak sekali bongkahan batu dengan berbagai ukuran. "Tuan, silakan pilih saja!" ucap pria tua itu. Joko melirik Nadya. "Pilihlah!" Nadya mengangguk. Kemudian, dia dan Sonya mulai memilih batu. "Semoga saja mereka gak mengosongkan gudangku. Kalau tidak, aku benar-benar akan rugi!" ucap pria tua itu sambil terus melap keringat di dahinya. Joko menatap banyak bongkahan batu itu. Saat dia menatap lebih lekat ~ dia melihat ada beberapa batu yang memancarkan energi. Ada energi yang berwarna hijau, ada yang berwarna ungu, bahkan ada yang warna warni. Namun, energi yang terpancar itu berbeda-beda, ada yang tebal ada yang juga yang tipis. Karena penasaran, Joko mengambil bongkahan yang memancarkan warna hijau paling tebal, warna ungu paling tebal, dan juga bongkahan yang memancarkan energi tiga warna. "Tuan Muda, ini cuma bahan kualitas rendah. Di dalamnya pasti gak ada giok," ucap pria tua itu menging
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me







