LOGIN"Aku harus ganti pakaian perang. Sasaran utamaku adalah ke kaki Bukit Kayangan. Karena kudengar Baraka itu berasal dari puncak Bukit Kayangan. Dan.. o, ya.. sebaiknya aku pakai pakaian yang belahan dadanya agak lebar, ah! Siapa tahu pemuda itu benar-benar tampan dan menawan seperti omongan orang-orang dan pengaduan si Janda Keramat beberapa waktu yang lalu. Ah, tapi... dia tertarik dengan tubuhku nggak, ya? Kalau dilihat di kaca seperti saat ini sih, tubuhku sangat indah tanpa selembar kain b
"Aaahgg...!" Pawang Kera memekik keras sekali dengan tubuh melengkung ke depan, kemudian rubuh tak bernyawa. Dewa Beruk semakin buas, murkanya dilepaskan tiada batas. Pada waktu itu, rombongan Pendekar Kera Sakti tiba di tempat tersebut. Namun mereka tidak segera bertindak karena perlu mempelajari keadaan setempat.Tiba-tiba Tua Bangka berseru dengan mata melebar dan wajah menegang,"Cucuku...! Cawan...! Cawan Pamujan! Oooh... itu dia cucuku! Cawan Pamujaaan...!"Seorang gadis yang kedua tangannya diikat ke belakang berseru memanggil Tua Bangka."Kakeeek...!"Gadis berpakaian hijau muda dengan rambut di konde dua itu segera berlari menerobos hiruk-pikuknya pertarungan. Gadis cantik berwajah imut-imut itu membuat pandangan mata Pendekar Kera Sakti terpana beberapa saat. Tua Bangka segera berlari tertatih-tatih menyambut kedatangan cucunya. Baraka dan Tembang Selayang menjadi cemas.“Tua Bangka, jangan mendekati pertarungan! Tua Bangka,
Jawaban Ki Punjul membuat mata Tembang Selayang menatapnya tak berkedip. Tua Bangka ikut-ikutan memandang Ki Punjul dengan hasrat mendengarkan cerita seru. Ki Punjul menjelaskan kembali apa yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri."Ada dua prajurit yang lari kemari, masuk ke dalam kedai ini. Tapi mereka segera dilempar keluar oleh Guci Kopong, lalu di sana mereka disambut oleh Dewa Beruk yang bersenjata kapak dari emas. Kedua prajurit itu akhirnya hangus dan menjadi arang tak berbentuk lagi. Mengerikan sekali untuk dikenang. Senjatanya sangat ganas, kurasa orang kadipaten akan dibantai habis oleh Dewa Beruk yang murka itu."Semakin jelas sekarang, bahwa pusaka Kapak Kubur memang ada di tangan Dewa Beruk. Cerita tersebut membuat Baraka dan Tembang Selayang tertegun beberapa saat. Tua Bangka ikut-ikutan termenung, bagaikan sedang membayangkan kengerian dari pertarungan tersebut."Sekarang ke mana perginya Dewa Beruk, Ki?" tanya Tembang Selayang."Mereka
"Ooh... Baraka, lihat itu!" seru Tua Bangka sambil merapatkan diri pada Baraka. Apa yang dituding Tua Bangka menjadi pusat perhatian mereka. Tiga sosok mayat terkapar dalam keadaan mengerikan, yang satu tercabik-cabik, satunya lagi terbakar hangus menjadi arang, dan yang satunya lagi terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Diperkirakan potongan itu berjumlah tiga puluh tiga bagian."Semakin jelas, seseorang telah menggunakan pusaka Kapak Kubur dalam waktu belum terlalu lama dari kedatangan kita ini, Tembang Selayang.""Ya, aku pun berpendapat demikian. Tapi siapa mereka ini?"Tua Bangka tiba-tiba berkata, "Tombak mereka ada di bawah batu itu.""Oh benar. Mereka bersenjata tombak dan... dilihat dari jenis hiasan benang bawah mata tombak itu, sepertinya mereka para prajurit sebuah negeri," gumam Tembang Selayang."Benar. Aku ingat tombak ini merupakan ciri tombak prajurit Kadipaten Balungan!" ujar Tembang Selayang dengan wajah tegang. "Aku masih ha
"Lalu, apa maksud Empu Tapak Rengat sebenarnya?" pikir Pendekar Kera Sakti dalam renungannya. "Ada di pihak mana sebenarnya Empu Tapak Rengat itu?"Tembang Selayang tak enak hati melihat Baraka termenung, ia yakin yang direnungkan adalah ayahnya, ia yakin Baraka bercuriga buruk kepada ayahnya. Sedangkan ia sendiri juga punya pertanyaan yang membingungkan tentang ayahnya itu. Akhirnya Tembang Selayang berkata kepada Baraka. "Sebaiknya kau urus dulu orang tua ini. Biarkan aku datang sendiri ke Perguruan Monyet Sakti untuk merebut Kapak Kubur itu.""Jangan gegabah dulu. Persoalannya agak meleset dari perkiraan kita. Ternyata ayahmu tidak diculik oleh sang Adipati."Tembang Selayang diam, seakan mengakui bahwa ayahnya memang tidak diculik oleh orang utusan sang Adipati. Tapi ia tidak mempunyai keputusan apa pun karena dicekam oleh kebimbangan bertindak.Pendekar Kera Sakti berkata lagi, sementara Tua Bangka hanya menjadi pendengar yang sesekali memandang jauh
Pendekar Kera Sakti berpikiran begitu karena ia khawatir akan keselamatan Tembang Selayang; si cantik berdada sekal itu. Dalam bayangan Baraka, jika memang kapak pusaka itu ada di tangan Dewa Beruk, maka Dewa Beruk akan menggunakannya untuk melawan siapa saja yang ingin merampas kapak pusaka tersebut. Dan keyakinan Baraka mengatakan, bahwa Tembang Selayang akan celaka jika berhadapan dengan lawan yang bersenjata kapak pusaka itu.Tanpa banyak berunding lagi mereka segera berkelebat menuju lereng gunung tersebut yang menghadap ke arah barat."Cari jalan terdekat agar sebelum petang tiba kita sudah sampai di perguruan itu!" kata Baraka kepada Tembang Selayang.Namun mendadak langkah mereka terhenti karena Baraka terpekik melihat ke arah lembah sebelah kanannya.“Tunggu...! Siapa itu yang terkapar di sana!"Tembang Selayang kerutkan dahi menatap ke arah lembah.-o0o-Orang yang terkapar itu kenakan pakaian abu-abu, rambutnya putih,
Pendekar Kera Sakti manggut-manggut dan tampak senang sekali mendengar keterangan tersebut. Tembang Selayang diam memandangi ayahnya dengan rasa kagum terhadap kapak pusaka itu."Karena ukurannya tak seberapa besar, dan tangkainya dari logam kosong, maka kapak pusaka itu sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tetapi jika ditebaskan dari atas ke bawah, maka dalam jarak sejauh dua puluh tombak pun masih bisa keluarkan sinar merah menyerang lawan. Orang yang terkena sinar merah itu akan terpotong menjadi tiga puluh tiga bagian.""Hebat sekali!" gumam Baraka semakin yakin lagi dengan keterangan Tembang Selayang saat di perjalanan kemarin."Jika kapak ditebaskan dari kiri ke kanan, akan keluarkan sinar biru yang dapat membuat lawan mati hangus menjadi arang dalam sekejap. Jika ditebaskan dari kanan ke kiri, akan keluarkan sinar hijau yang membuat lawan mati dalam keadaan tercabik-cabik mengerikan. Jika lawan hanya tergores oleh salah satu mata kapak, maka lukan
"Pendekar Kera Sakti, kenapa kalian ada di sini? Tidak tahukah kalian bahwa baru saja ada kejadian maha dahsyat?"Baraka berbisik kepada Dewa Racun, "Hadapilah dia, aku tak bisa bicara padanya! Dendam lamaku membakar seluruh darahku, Dewa Racun!""Jangan begitu! Bukankah... bukankah..
"Rupanya kau memang sengaja ingin adu ilmu kesaktian denganku, Bocah Kadal!""Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku siap jika kau inginkan!""Kau tidak terkejut sedikit pun melihat aku bangkit lagi!""Itu permainan anak kecil! Tetanggaku punya anak, dan anaknya juga bisa bangkit
"Ibu Ratu," kata Pangeran Berdarah dengan sopan, "Saya mohon Ibu Ratu tidak menaruh curiga kepada tiga teman saya itu, mereka adalah Jalak Putih, si Latah Lidah dan Penghulu Petir. Mereka yang akan membantu saya dalam mengejar larinya Tapak Baja. Pusaka milik Guru saya telah dicuri oleh Tapak Baj
"Sial! Dia mengetahui keadaanku!" geram Cempaka Ungu dalam hatinya. Karena rasa malu, maka tanpa bicara apa-apa lagi, ia segera sentakkan kaki dan kembali menerjang ke arah lawannya."Hiaaat...!"Wugggh...! Wugggh...!Dua sosok perempuan itu saling terjang kembali di udara. Peda







