FAZER LOGINDi tanah yang jaraknya lebih dari seratus langkah itu, dibangun pula rumah-rumah kecil yang merupakan pemukiman para anak buah Nyai Lembah Asmara. Juga dibangun tempat-tempat khusus untuk berlatih ilmu.
Di sana dipersiapkan sepasukan prajurit wanita yang kelak akan menjadi benteng utama dari negeri yang ingin didirikan oleh Nyai Lembah Asmara. Mereka adalah kaum wanita yang tangguh dan terpilih. Cantik dan menggiurkan, adalah syarat utama untuk menjadi anak buah Nyai Lembah Asmara.
Traang...!Batu itu menghantam mata kapak yang lebar dan masih membekas merah karena darah. Hening segera tercipta setelah kejadian itu.Kejap berikutnya Ladang Bangkai mulai bicara. "Wasiat lisan dari Maha Guru Teja Biru sebelum beliau wafat mengatakan, bahwa akulah orang yang pantas menyandang gelar Maha Guru dalam perguruan kita. Dengan begitu maka aku berhak mengawini Ratu Jiwandani.""Wasiat palsu!" ucap Demit Lanang bernada tajam. "Maha Guru Teja Biru tidak pernah keluarkan wasiat lisan seperti itu kepada siapa pun. Tapi dalam peraturan yang tertulis pada Kitab Serat Merah, yang berisi peraturan bagi anggota Perguruan Darah Surga, bahwa orang yang berhak menyandang gelar Maha Guru adalah orang pertama yang menjadi murid Perguruan Darah Surga. Sedangkan orang pertama yang masuk dalam Perguruan Darah Surga adalah aku! Mengapa kau berani merencanakan penobatan gelar Maha Guru untuk dirimu sendiri, Ladang Bangkai! Itu sama saja kau ingin mati di tanganku!"
Ladang Bangkai pun berhenti dari gerakannya, ia masih memasang kuda-kuda walau mulutnya lepaskan tawa yang lantang, seakan melecehkan jurus lawan tadi."Ha, ha, ha, ha...! Permainan seperti itu ternyata masih menjadi andalan bagimu, Demit Lanang! Murahan sekali!"Dengan masih bersikap dingin, Demit Lanang berkata, "Apakah kau mempunyai permainan yang tidak murahan! Jika memang kau memilikinya, tolong tunjukkan kepadaku dan aku akan menilainya juga, Ladang Bangkai!""O, jadi kau ingin menjajal kekuatanku? Baik, kurasa kau akan menyesal sesampainya di neraka nanti. Heaaahhh...!"Ladang Bangkai melompat dalam satu gerakan seperti bayangan berkelebat. Kapak lebarnya dihantamkan bagai ingin membelah kepala Demit Lanang.Wuukkk...Laapp...! Demit Lanang hilang, kapak itu menghantam tanah bekas tempat berdirinya si Demit Lanang.Jrruubb ..!Dan begitu Ladang Bangkai menengok ke kiri, ternyata Demit Lanang ada di sebelah kirinya dengan
Orang yang bicara memakai pakaian serba hitam dengan kepala berambut pendek botak depannya. Tubuhnya kekar walau tak gemuk. Matanya besar, bundar, dengan bibir tebal dan codet di pipi kanannya, ia pun mempunyai pancaran sinar mata yang cukup tajam, dengan tepian mata sedikit merah menandakan keganasan jiwanya. Sebilah kapak lebar bergagang panjang mirip tombak tergenggam di tangan kanan.Mata kapak yang lebar dan putih mengkilat itu masih berlumur darah, menandakan habis dipakai untuk membunuh lawannya. Bahkan darah itu masih menetes membasahi rumput yang ada di bawahnya, ia berusia empat puluh lima tahun, berarti lebih muda lima tahun dari si Demit Lanang.Setelah bungkam beberapa saat, Demit Lanang pun mulai perdengarkan suaranya yang bulat dan besar, menyeramkan. "Apakah kau sudah siap untuk mati, Ladang Bangkai!""Setelah membelah tubuhmu, aku baru siap mati, Demit Lanang!""Baik," ucap Demit Lanang dengan suaranya yung besar dan menggetarkan hati law
Baraka hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala ketika mereka pergi meninggalkannya. Namun setelah itu ia menjadi tertegun dan berkata dalam batinnya sendiri."Benarkah ada jurus yang mampu melenyapkan orang sedesa? Siapa pemiiik jurus 'Bintara Jingga' itu?"Sambil melangkah pikiran Baraka tertuju pada jurus 'Bintara Jingga', ia menjadi penasaran dan ingin tahu seperti apa kedahsyatan jurus itu."Atau jangan-jangan hanya dongeng belaka?" duga hati Baraka dengan sangsi. "Sayang sekali tadi aku lupa menanyakan nama desanya Paman Bagus Sepasar itu. Seharusnya aku datang ke desa itu dan melihat keadaannya, benarkah orang sedesa lenyap semua atau yang dimaksud 'lenyap' adalah pergi mengungsi ke tempat lain?"Pendekar Kera Sakti ingin kembali mengejar Bagus Sepasar dan Mario Kere, tapi langkahnya terhenti oleh sekelebat bayangan yang melintas di sela-sela pohon sebelah barat. Baraka menjadi curiga dengan orang yang berkelebat cepat itu. "Sepertinya orang itu
"Mengapa kau melemparkan kayu itu padaku!""Karena ternyata kaulah yang memiliki jurus 'Bintara Jingga' itu!""Apa maksudmu?" sela Baraka. "Mengapa kau bersikap memusuhi orang yang mempunyai jurus 'Bintara Jingga'? Apa salahnya?""Orang ituiah yang membuat penduduk desaku menjadi lenyap dan desa menjadi sepi bagaikan kuburan. Hanya aku yang masih hidup, sendirian! Aku kesepian seperti anak yatim piatu, maka aku pun dendam kepada pemilik jurus 'Bintara Jingga' itu!"Dahi Baraka berkerut mendengar penjelasan yang disertai dengan luapan kejengkelan. Matanya pandangi orang yang berpakaian biru, sementara orang yang tergantung segera berkata kepada orang berpakaian biru, "Hei, aku baru ingin memiliki jurus itu. Bukan sudah memiliki. Dengan bertapa gantung seperti ini, kata orang kita bisa memiliki jurus 'Bintara Jingga'. Tapi nyatanya baru akan mendapatkan jurus itu saja sudah sesak napas dan dada menjadi bengkak begini! Maka dari itu, kubatalkan sajalah berta
ENTAH siapa orangnya yang memasang jerat di hutan itu. Mungkin seorang pemburu rusa yang ingin menangkap binatang buruannya dengan cara memasang jerat di tanah. Jerat itu dihubungkan dengan pucuk dahan pohon tinggi yang lentur dan bisa dilengkungkan ke bawah. Jika kaki rusa masuk ke dalam lingkaran tambang dan menyamparnya, maka kaki rusa itu akan langsung terjerat tambang itu. Jika tambang tersentak, maka penyangga ujung dahan yang melengkung itu akan bergeser dan dahan itu akan naik ke atas. Lalu rusa yang terjerat akan tergantung kakinya.Namun agaknya sang rusa sudah hafal dengan polah tingkah para pemburu. Sang rusa tidak mau melewati bagian bawah pohon tersebut. Yang melewati pohon itu adalah seorang lelaki agak pendek bertubuh kurus, rambut pendek, usianya sekitar empat puluh tahun, ia mengenakan pakaian serba hijau seperti daun berjalan. Wajahnya bulat dengan kumis tipis di bawah hidung. Kumis itu yang membuat wajahnya menjadi lucu.Ketika ia berlari melewati p
MENYUSURI sungai bening merupakan salah satu dari beberapa kegemaran Baraka. Pendekar Kera Sakti sangat menyukai dengan kebeningan, terlebih kebeningan yang mengandung ketenangan. Karena jiwanya senantiasa merindukan sebentuk kehidupan yang tenang, damai, dan menyegarkan di antara sesama. Tetapi
"Kutitiskan ilmu ini kepadamu, Tulang Neraka! Karena kulihat kau sangat berkemauan keras untuk memilikinya. Jika kau mempelajarinya, tak akan berhasil sebelum mencapai seribu hari. Tetapi, batinmu terbaca olehku, betapa ingin kau memiliki ilmu 'Kidung Mantera Gaib', karenanya kutitiskan kepadamu
Wrettt...! Dan tiba-tiba lengan si baju kuning berdarah. Lengan itu koyak tertebas pedang si jubah hijau"Hmm...! Tak seimbang!" kata Pendekar Kera Sakti dalam hati. "Bisa mampus itu si baju kuning! Jubah hijau bukan lawannya...! Dan... dan... oh, hampir aku lupa! Aku harus cepat-cepat mem
"Sial! Aku tidak punya senjata apa-apa!" gerutu Tulang Neraka di dalam hatinya."Hmm... mereka bertiga, masing-masing memegang senjata! Aku harus bisa merebut senjata yang berbaju putih itu. Kurasa pedangnya itu cukup lumayan untuk menebas lehernya sendiri! Tapi, siapa mereka sebenarnya?"







