Mag-log inHati kecil Baraka mengatakan, bahwa itu tak mungkin. Hyun Jelita selalu menjaga kesucian mahkotanya, sehingga ia mendapat julukan sebagai Gusti Ratu Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. Dia masih gadis, dan kegadisannya itu akan dipersembahkan kepada orang yang paling dicintainya, yaitu Pendekar Kera Sakti.
Dewa Racun berseru kegirangan ketika bertemu dengan kapal terdepan yang dipimpin oleh seorang perempuan cantik berpakaian biru sisik emas. Perempuan itu adalah si Cakar Jatayu. Jika Dew
"Salju Kelana, sudah berapa hari ini aku mencarimu, dan ternyata kutemukan kau di sini!""Untuk apa kau mencariku! Nada bicaramu menandakan kemarahan yang besar. Jelaskan persoalannya supaya kita tidak sailng bunuh secara sia-sia.""Tidak ada pembunuh yang sia-sia bagiku, karena aku mencarimu untuk menuntut balas atas kematian ibuku.""Hahh...!" Pendekar Kera Sakti terperangah kaget.Salju Kelana hanya kerutkan dahi dan diam beberapa saat. Perempuan bertongkat itu merasa heran mendengar kabar tersebut, terlihat dari raut mukanya yang langsung berkerut dahi dan membungkam mulutnya."Siapa yang membunuh ibumu?" Baraka ingin mengulang jawaban tersebut. Karena dalam hatinya merasa ragu jika Anggani menuduh Salju Kelana sebagai pembunuh ibu Anggani; Tabib Getar Hati."Siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan tamu terakhir yang datang kepada ibu dan meminta tolong untuk disembuhkan dari kebutaannya! Dialah orangnya yang membunuh ibuku, Baraka! Kala
Pendekar Kera Sakti merasa dilecehkan oleh kata-kata Salju Kelana, namun ia menerimanya dengan lapang dada. Ia sendiri heran, mengapa kebutaan Salju Kelana belum sembuh juga. Mungkinkah racun yang membutakan mata Salju Kelana itu tidak bisa ditangkal? Lalu dengan apa cara memulihkan penglihatan Salju Kelana itu? Keadaan seperti itu sangat diperhatikan oleh Pendekar Kera Sakti, membuat hati Baraka sangat prihatin dan sedih. Karena saat ia memandang Salju Kelana dalam kebutaan, ia seperti memandang kekasihnya; Hyun Jelita dalam kebutaan juga. Secara tidak sadar Baraka merasa ikut bertanggung jawab memulihkan keadaan Salju Kelana.Padahal jika Salju Kelana tidak mirip dengan Hyun Jelita mungkin Baraka tak begitu merasa menderita melihat sang gadis berjalan meraba-raba dengan tongkatnya."Sebenarnya kau ingin pergi ke mana, Salju Kelana?" tanya Baraka sambil memandangi gadis itu tiada habis. Kemiripannya yang seperti Hyun Jelita digunakan oleh Pendekar Kera Sakti untuk mel
Dengan memiringkan kepala menyimak suara orang bertato itu, Salju Kelana dapat mengenali orang tersebut, sehingga ia pun segera sunggingkan senyum sinis dan berkata ketus, "Masih belum jera menemuiku, Calo Mayat!""Sebelum kau mati dan mayatmu berhasil kujual, aku tidak akan jera menemuimu, Salju Kelana!"Pendekar Kera Sakti hanya membatin, "Orang wajah angker itu bernama Calo Mayat. Hmmm... lucu juga namanya. Pantas sekali kalau dia menjadi makelar mayat, karena wajahnya tak jauh berbeda dengan kuburan keramat!"Calo Mayat berkata dengan nada tak bersahabat. "Sekalipun kau sudah punya pengawal ingusan macam pemuda itu, aku tetap bernafsu untuk menjual mayatmu! Karena mayat perempuan cantik semacam kau akan laku mahal dan sangat menguntungkan. Ha, ha, ha, ha...!""Barangkali saat ini kau yang akan menjual mayatmu sendiri, Orang Sesat!"Gertakan itu ditertawakan oleh si Calo Mayat."Percuma kau menggertakku, Salju Kelana. Nyaliku tak akan ber
"Tapi kenapa kau tampak lebih muda dari Kelana Cinta? Mestinya kau yang menjadi adik Kelana Cinta.""Aku punya ilmu awet muda," kata Salju Kelana."Usiaku sebenarnya sudah tiga puluh tahun. Tiga tahun lebih tua dari Kelana Cinta.""Pantas daya pikatmu sangat kuat," sambil Baraka tersenyum-senyum. Ia pandangi wajah itu sepuas-puasnya, "Mumpung dia belum bisa melihat," pikirnya."Apakah... apakah aku punya daya pikat untukmu, Pendekar Kera Sakti?" Salju Kelana menampakkan wajah berseri-seri."Aku tak sanggup menjawabnya, karena itu rahasia hatiku. Sebaiknya kita obati dirimu sekarang, supaya Racun Hitam segera sirna dan kau bisa melihat dengan terang kembali. Kebetulan aku membawa sebotol wedang, sisa dari warung kemarin. Apa kau bisa minum wedang?”“Bisa sedikit”Pendekar Kera Sakti segera membantu menenggakkan wedang ke mulut Salju Kelana setelah merendamkan sebentar Suling Naga Krishna-nya. Gadis itu meneguknya lebi
"Sudah buta, masih saja ngotot, ngaku tidak buta!" gumam hati Baraka. "Barangkali dia merasa malu kalau dikatakan gadis buta. Hmmm... sebaiknya tidak kusinggung-singgung lagi tentang kebutaannya itu."Kemudian dengan suaranya yang lembut, pemuda dari lembah kera itu berkata kepada gadis berjubah putih, "Boleh kutahu namamu, Nona? Dan dari mana asalmu, ke mana arah tujuanmu?""Kalau bertanya jangan borongan, aku bingung menjawabnya, Tuan," jawab si gadis dengan nada suara sudah tidak marah lagi."Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja namaku: Baraka.""Ooh...! Benarkah kau yang bernama Baraka, si Pendekar Kera Sakti itu!" si gadis tampak terperangah girang."Betul, aku Pendekar Kera Sakti yang bernama Baraka.""Ah, bohong! Coba kulihat wajahmu...," gadis itu maju selangkah, tangannya meraba-raba wajah Baraka dengan tersenyum-senyum, dadanya juga diraba, lengannya sampai tangan diraba pula. Baraka diam saja dan sangat memakluminya."Kala
LANGKAH pemuda tampan berompi keemasan tak berlengan itu terhenti seketika. Kakinya yang dibungkus celana keemasan lusuh itu segera mengarah ke balik pohon, ia bersembunyi di sana. Pemuda berambut panjang lurus sebatas pundak tanpa ikat kepala itu tak lain adalah, murid Setan Bodong. Bernama Baraka dan bergelar Pendekar Kera Sakti. Apa yang membuat Baraka hentikan langkah dan ambil tempat sembunyi? O, rupanya ada seorang gadis sedang menuju ke arahnya. Dari kejauhan saja gadis itu sudah tampak cantik, apalagi dari dekat. Tentu lebih cantik lagi."Aku ingin kenal dengannya. Wajahnya mirip dengan calon istriku yang menjadi penguasa di Puri Gerbang Kayangan," pikir Baraka.Ia bergeser sedikit untuk merapatkan diri dari persembunyian. Dalam hati sang Pendekar Kera Sakti masih membatin, "Dia benar-benar mirip Hyun Jelita, calon istriku itu. Bibirnya ranum, hidungnya mancung, potongan rambutnya yang disanggul naik itu juga mirip sanggulan rambut kekasihku. Bentuk badannya ya
"Tentu saja aku bukan anak nelayan tua itu! Dia dan istrinya sudah begitu uzur. Bagaimana mungkin mereka punya anak seusia ku! Usiaku baru tujuh belas tahun! Kau harus tahu itu!""Eh! Kalau begitu, kenapa Kakaroto dan istrinya menyebut mu sebagai putri mereka. Apakah kau putri angkat mereka
"Hmmm.... Pemuda lugu itu tahu kalau aku membawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' karena diberi tahu oleh Ratu Perut Bumi. Sungguh aku tak menduga. Kiranya, Ratu Perut Bumi benar-benar memiliki mata siluman yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa...," pikir
"Mereka Empat Iblis Gundul, Sastrawan Berbudi, dan Pendeta Tasbih Terbang," beri tahu Iblis Perenggut Roh yang juga telah menghentikan kelebatan tubuhnya. "Aku sudah tahu!" sentak Iblis Pencabut Jiwa. Mengelam paras Iblis Perenggut Roh mendengar ucapan kasar kakak seperguruannya itu. Namun, dia t
"Sokalanang sialan!" umpat gadis bersenjata pedang yang dipanggil Kemuning."Mengingat begitu banyak kejahatan yang telah kau perbuat, enak betul kalau kau menyuruhku pergi. Kau seorang perampok hina! Justru kepalamulah yang harus kupenggal!"Kemuning menunjuk hidung Sokalanang dengan







