LOGINKetika menginjakkan kakinya di depan pintu kedai pemuda lugu berwajah tampan namun suka bertingkah seperti layaknya orang sinting ini julurkan kepala melongok ke dalam. Kedai itu dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang menikmati hidangan dan minuman berbau aneh tapi harum.
Wajah pemuda ini berubah jadi cerah sumringah. Ia tersenyum, perutnya berasa keroncongan setelah hidungnya mengendus aroma makanan lezat. Rasa lapar membuat pemuda ini segera mengambil tempat duduk berada di sudut
"Ah, kurang ajar," Maki senopati.Secepat kilat dia coba jatuhkan diri. Tapi gerakan yang dilakukannya itu kalah cepat dengan sambaran lima cahaya yang berasal dari serangan si nenek."Akh.."Senopati keluarkan suara seperti tercekik. Mata mendelik, keris dalam genggaman terpental. Lima bagian tubuhnya berlubang besar dan menyemburkan darah kehitaman begitu lima cahaya maut menembusnya. Seakan tidak percaya dengan kenyataan yang dia alami.Senopati itu hanya bisa belalakkan mata."Kk... kau..." Katanya terputus-putus.Senopati tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena mulut yang dibuka lebih banyak menyemburkan darah. Tubuhnya lalu bergetar. Perlahan dia jatuh ambruk tak berkutik. Senopati meregang nyawa dengan mata melotot penasaran.Harimau Setan tersenyum dingin. Tanpa menghiraukan senopati dan keris yang tercampak di sebelah tubuhnya. Nenek itu kemudian melompat ke atas punggung kuda putih milik senopati."Sekarang aku yang
Gagak Panangkaran mendengus nafasnya memburu, wajah merah padam sedangkan sepasang mata tampak merah dilamun amarah. Dengan tangan terkepal gigi bergemeletukan dia membentak. "Perempuan terkutuk. Kaulah yang menjadi pangkal sebab dari semua kegilaanku. Kau habisi anak buahku dengan cara sekeji itu. Apakah kau pikir aku akan memberi ampun?!" Geram senopati meledak-ledak.Harimau Setan tersenyum dingin. Dengan sinis dia menjawab. "Siapa yang hendak minta ampun pada manusia keparat kaki tangan pencuri. Kau dan adipatimu itu sama saja. Tidak ada nilainya dimataku. Dan aku tidak punya waktu melayanimu lebih lama senopati. Lihat serangan!!" Teriak si nenek.Begitu si nenek berteriak, Gagak Panangkaran langsung dongakkan kepala menatap ke depan. Senopati ini tercengang saat melihat sosok si nenek mendadak raib, sementara dari arah depan senopati melihat sedikitnya tiga larik cahaya berbentuk kipas berwarna merah, biru dan hitam menderu menebar ke arahnya."Jahanam! ilm
Tak ayal lagi bahu, perut dan punggung Harimau Setan terkena satu bacokan dan dua tusukan. Darah terlihat menyembur dari tiga luka ditubuhnya. Sementara mata si nenek membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya."Kk..kalian...kalian ternyata sangat hebat..." Ucap nenek itu dengan tubuh terhuyung.Menyangka lawan dapat dilukai oleh perajuritnya. Senopati Gagak Panangkaran tertawa sinis "Hanya seperti itukah ilmu kesaktian yang kau miliki? Jika menghadapi anak buahku saja kau sudah tidak berdaya bagaimana kau bisa melawanku. Konon pula kau mau mengambil kembali senjatamu dari tangan adipati. Kau bisa menjadi potongan daging tak berbentuk.Ha ha ha!""Hi hi hi! Senopati lihat kemari pentang matamu lebar-lebar," Kata si nenek.Senopati katobkan mulut, dia menatap ke arah lawan. Dilihatnya Harimau Setan mengusap lukanya di tiga bagian. Luka itu lenyap seketika tak meninggalkan bekas terkecuali bagian pakaian yang robek di tiga bagian."Gil
"Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau. Pantas kuda kita jadi gelisah." Ujar salah seorang perajurit."Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!" Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai.Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga. "Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan." Batin laki-laki itu.Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar."Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha."Melihat senopati tertawa terbahak-bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan."Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?""Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?""Kalau benar memangnya a
Berkat kegigihannya kehilangan tangan kiri bagi si nenek tidak menjadi halangan. Puluhan tahun dia melatih lengan baju kirinya menjadi senjata yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari sebilah pedang. Kini si nenek menatap jauh ke arah kejauhan. Sayup-sayup dia mendengar suara kuda dipacu cepat menuju ke arahnya.Dia merasa heran, dan juga curiga."Ada serombongan orang berkuda datang kemari. Matahari baru saja terbit. Siapa mereka?" Pikir Harimau Setan.Sekilas orang tua ini menoleh. Dia menatap ke arah sebatang pohon menjulang tinggi. Penasaran ingin mengetahui siapa gerangan adanya para penunggang kuda tersebut. Tanpa membuang waktu Harimau Setan segera berkelebat ke arah pohon, lalu jejakkan kaki dan bersembunyi di balik kerimbunan cabang dan dedaunan.Dari atas ketinggian pohon orang tua Itu memusatkan perhatian ke arah suara iring-iringan rombongan berkuda.Kening si nenek berkerut tajam ketika melihat belasan laki-laki bersenjata berbagai je
"Perlu kiranya kau ketahui, untuk mencapai sesuatu dalam hidupku. cara dan selalu banyak jalan. Untuk mendapatkan yang besar, raih dulu yang kecil. Jalan hidup memang sangat kelam, penuh darah dan kekejian. Aku tak menyesal jika manusia sisa penghuni Lembah Bangkai itu kini datang menuntut balas. Yang aku sesalkan mengapa di antara mereka ada yang selamat.""Apapun yang telah gusti lakukan bersama para sahabat yang lain, saya selalu berada di pihak gusti""Aku sangat senang mendengarnya. Bersikap setialah padaku sampai akhir hayat. Dengan begitu kau bisa hidup enak tanpa menemui banyak kesulitan. Ada pun tentang senjata Cambuk Sakti Naga intan, aku tak akan pernah menyerahkan senjata itu pada Harimau Setan. Senjata itu sekarang sudah menjadi milikku.""Bagaimana Jika Harimau Setan dan pengikutnya yang liar itu datang kemari?" Tanya senopati.Suasananya tenang namun menyimpan rasa kekhawatiran. Adipati menyeringai."Kau takut?" Tanya adipati sambil
Lagi-lagi Angon Luwak cengar-cengir lugu. Dalam hati, Angon Luwak merasa tak pantas mendapat pujian dari orang besar dan mulia seperti Raden Patah yang sudah berusia cukup lanjut. Kalau mengingat bagaimana masa-masa muda gemilang pendiri Kerajaan Demak itu yang sering didengarnya dari cerita-ceri
Setelah peristiwa itu, Truna tak bertemu dengan Jonggrang kembali. Pagi harinya, ketika hujan reda dan matahari menyapa, Truna mencoba kembali ke tempat teirakhir. Jonggrang sudah tak ada lagi di sana. Timbul penyesalan dalam diri Truna. Menyesal harus pergi meninggalkan Jonggrang, kakak sepergur
Mata si tua digenangi garis bening. Keharu biruan Dongdongka dibuyarkan oleh teriakan cempreng memekakkan telinga."Dongdongkaaaa!"Dedengkot Sinting berbalik. Seorang nenek peyot jelek sudah berdiri dilepi sungai dengan sikap permusuhan."Kau?! Apa maumu menemuiku, Jonggrang
Wukh! Dash!Benturan hebat terjadi di udara siang yang semakin bersinar garang. Antara ujung jari-jemari orang bercaping dengan tinju Angon Luwak."Aih!"Pekikan mencelat dari kerongkongan orang bertopeng. Pekikan asli yang tak lagi dibuat-buat. Tak lagi disamarkan demikian r







