Masuk"Aku tahu gadis itu melihatku ketika aku terlibat perkelahian dengan Golok Terbang dan anak buahnya. Sekarang dia pergi kemana? Aku yakin dia bukan gadis biasa. Kemunculannya punya tujuan tertentu"
Dia berpikir sejenak Lalu ingat dengan bapak pemilik kedai. Angon Luwak lalu melangkah kebagian dapur. Dia melihat pintu belakang yang terbuka, langkahnya jadi terhenti saat melihat ada sesosok tubuh tergeletak tak jauh di depan tungku perapian. Sosok tubuh itu dalam keadaan menelungkup.
Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan. Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri."Giri Soradana aku bernama Purudana. Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta. Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan. Lalu kami menjemput nyawa mereka!" Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin.Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan. Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa."Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?" Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri.Kuruseta yang berdiri di be
"Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"Si kakek gelengkan kepala.Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati. Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu. Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya.Satu-satunya yang dia tahu. Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh."Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya?"Dia menghela nafas. Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya. Si kakek tercekat. Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata
Kembali dari perjalanan di Kuto Gede, Giri Soradana kakek berusia hampir tujuh puluh tahun ini merasa gelisah. Entah mengapa dia ingin cepat-cepat sampai di padepokannya yang berada di Parang Tritis.Sejak mendengar kabar terjadinya pembunuhan-pembunuhan aneh yang menimpa beberapa tumenggung dan keluarganya di wilayah kadipaten Blora. Kakek berpakaian serba biru berambut putih panjang digelung ini memutuskan mempersingkat kunjungannya.Tidak heran baru sepekan berada di rumah kerabatnya, Giri Soradana memutuskan kembali ke Padepokan Alas Langit.Bulan empat hari bersinar indah di ketinggian sana. Saat itu Giri Soradana telah memasuki sebuah desa bernama Muncang. Dari desa yang sunyi itu Parang Tritis sudah tidak begitu jauh lagi. Tanpa menoleh si kakek terus memacu kudanya. Sesekali dia berpapasan dengan penduduk setempat. Para penduduk desa yang ramah yang mengenal kakek ini ada yang memintanya untuk singgah. Tapi Giri Soradana tidak menghiraukan.Tidak
Melihat serangan berbahaya yang datang dari arah depan dan belakangnya. Si Mata Bara keluarkan suara berdengus. Sekali menghentakkan kakinya tubuh laki-laki ini melambung ke atas.Pada saat tubuh melesat, dia memutar tubuh lalu kepalkan kedua tangan menyongsong serangan senjata kepala pengawal dan pasukannya.Wuss!Dari kedua tangan Mata Bara menderu hawa panas luar biasa, menjalari setiap orang yang berada di sekelilingnya. Hingga membuat lima orang pengawal tersapu roboh. Dua diantaranya terpelanting dengan perut tertancap senjatanya sendiri.Sementara itu Pati Jaladara yang lebih berpengalaman bertindak cepat. Begitu hawa panas menderu melabrak tubuhnya, pedang pendek yang dipergunakan untuk menyerang segera diputar membentuk perisai pertahanan yang kokoh.Benturan keras antara pedang dengan pukulan tak dapat dihindari lagi. Ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Debu pasir dan bunga api bermuncratan di udara.Pati Jaladara terlempar.
Sementara kepala pengawal ini terlempar sejauh tiga tombak dengan tubuh dikobari api. Sambil menahan rasa sakit luar biasa akibat Jilatan api yang membakar pakaiannya. Pati Jaladara berguling-guling selamatkan diri. Dia selamat begitu api padam. Namun keadaannya sangat menyedihkan. Selain sekujur tubuh dipenuhi luka. Seluruh badannya menghitam seperti kayu bakar.Bersusah payah dengan dibantu para pengawal yang lain Pati Jaladara bangkit berdiri. Setelah berdiri tegak dia berteriak."Sebagian pengawal lindungi tumenggung dan keluarganya!" Seru laki-laki itu. Para pengawal segera berpencar, berbagi tugas. Sebagian berlarian ke arah datangnya serangan. Sebagian lagi bergerak melindungi majikannya."Aku tak butuh perlindungan. Cari jahanam yang telah membunuh istri dan mencederai putriku!" Teriak Dadung Kusuma dalam sedih dan kemarahannya.Dia sendiri segera bangkit, lalu meninggalkan jenazah istrinya. Kemudian dia melangkah lebar menuju pintu gerbang yang m
Senopati sendiri hanya baru berhasil menyerap kabar bahwa para pembunuh itu berasal dari lembah bangkai. Hal ini diperkuat dengan pengakuan si Mata Bara yang telah membunuh para kerabat juga istri dan dua putri sang adipati.Seperti sama telah diketahui. Senopati sempat melakukan pengejaran terhadap sang pembunuh. Namun dia gagal meringkus si Mata Bara, bahkan senopati kena dihajar hingga wajahnya biru lebam sedangkan tulang hidungnya patah.Apa yang menimpa para sahabat sesama tumenggung tentu saja didengar oleh tumenggung Dadung Kusuma. Dia sendiri belum mengetahui mengapa pembunuh haus darah tiba-tiba muncul di wilayah yang masih berada dalam kekuasaan adipati Seta Kurana.Namun demi mengingat masa lalunya yang kelabu. Dan demi cintanya pada keluarga, tumenggung Dadung Kusuma pun memilih menyelamatkan anak istrinya.Malam menjelang hari ke tujuh setelah peristiwa pembunuhan demi pembunuhan terjadi. Dia memutuskan untuk mengungsikan anak istrinya ke kal
Sesuatu berupa cairan pekat menebar bau aneh, seperti bau tembakau tapi bercampur bau pesing. Sosok bayangan yang berkelebat diatas tubuh si kakek tertawa-tawa, sementara si kakek keluarkan suara bersin-bersin dan suara seperti orang yang mau muntah. Sosok yang mengguyurkan cairan aneh dengan bau
Bocah Ontang Anting terkesima, mukanya yang polos pucat pasi. Dia mendekap mulut dan hidung. Tapi ketika sadar begitu banyak lubang yang lain dalam tubuhnya dia menjadi bingung."Mana yang mau kudekap, lubang mana yang paling utama harus kulindungi mengingat banyak lubang ditubuhku!" Memba
Berbarengan dengan teriakannya itu si bocah tiba-tiba lakukan gerakan tak terduga. Tubuh si kakek melambung. Tangan terjulur ke arah batok kepala Ratu Lintah siap menjebol bagian ubun-ubun dan membongkar isinya.Si nenek yang selalu menganggap remeh kakek kerdil ini sempat dibuat terkesiap
"Temukan siapapun bangsatnya yang telah membunuh sahabatku Elang Mata Juling. Begitu kau dapatkan seret dia kemari, mengerti!" Kata si kakek.Seolah mempunyai nyawa, telinga, pikiran dan hati. Anak panah ini bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah tiga kali berturut-turut. Panah pun kemudian







