MasukBocah Ontang Anting memandang Angon Luwak dengan kening berkerut, walau heran bin penasaran, tapi Bocah Ontang Anting tak ingin memaksa lebih jauh.
"Oh ya. Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”
"Jadi pertanyaanmu belum habis. Selagi aku bermurah hati dan mau bersikap seadanya katakan saja apa pertanyaanmu.” Kata pemuda itu tak sabar.
"Hh, begini. Tadi ketika menyerang Ratu Lintah kau juga kulihat menggunakan ilmu pukulan sakti Badai Es. Pukulan itu yang me
Kemudian dari balik cahaya muncul kabut putih tebal menebarkan bau aneh seperti aroma setanggi namun juga bercampur bau busuk. Bersamaan dengan itu dikejauhan terdengar pula suara lolongan anjing. Ki Lara mengusap wajah dan tengkuknya yang semakin dingin.Orang tua ini juga menahan nafas ketika melihat dari balik kepulan kabut dan cahaya putih muncul satu sosok bertubuh tinggi bertelanjang dada berambut panjang riap-riapan berwajah angker dipenuhi cairan putih.Tanpa bicara apa-apa.Sosok berpenampilan selayaknya mayat hidup ini melangkah sejauh tujuh tombak dari cahaya empat persegi tempat dimana dia munculkan diri. Ki Lara tercekat.Dia mengusap keningnya tiga kali. Gerakan mengusap kening yang dilakukan si kakek membuat nyala pelita keramat yang bertengger di atas kepalanya makin bertambah terang.Dengan bantuan cahaya pelita yang membesar kini Ki Lara secara leluasa dapat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sekujur tubuhnya putih pucat dengan
Si kakek renta berwajah macam tengkorak berkulit merah yang terrnyata memang bernana Ki Lara Saru Saru juru kunci makam para raja istana kuno di pulau Rakata diam tercekat. Dia yang semula siap melepaskan pukulan sakti ke arah cahaya yang disekelilingi ribuan lebah berterbangan. Dengan perlahan turunkan kedua tangannya. Dengan sorot mata seakan tidak percaya dia memandang ke arah cahaya menyilaukan dimana suara yang dia dengar berasal."Seperti yang kuduga! Ternyata benar pangeran mesum itu muncul sekaligus bangkit dari kematiannya. Aku mengenali suara itu. Tapi mengapa dia kembali dalam selubung cahaya? Mengapa tidak dalam peti mati Batu Kumala." pikir Ki Lara."Apa yang kau pikirkan Ki Lara? Kau sedang merasani diriku. Kau hendak mencari tahu, kau dunia ini bersama peti mati jahanam yang telah memendamku di dasar laut Krakatau?"Lagi-lagi terdengar suara bentakan keras dari balik cahaya putih berkilau. Ki Lara Saru Saru menyeringai. Dadanya yang kurus kering t
Disaat ketiga pelita memasuki hitungan ketiga mengelilingi pusaran air yang seolah mendidih itu. Dari kedalaman laut mendadak muncul cahaya putih terang. Cahaya yang muncul menyambar ganas ke arah pelita Keramat dari Alam Arwah.Byar!Wuus! Wuus!Mendapat serangan ganas dari cahaya yang mencuat dari kedalaman laut yang bergolak. Dua pelita tak sempat selamatkan diri. Keduanya hancur menjadi kepingan disertai ledakan dahsyat dan suara jerit aneh yang menyayat"Celaka! Dua pelita gaib sahabatku...!"Orang tua ini keluarkan seruan kaget.Tubuhnya tergetar hebat.Hancurnya pelita ternyata berpengaruh bagi jiwa orang tua ini. Tidak ingin pelita satunya lagi ikut hancur dihantam cahaya putih aneh. Orang tua ini segera hentakan tangan ke arah pelita yang membubung tinggi meninggalkan laut.Lalu menarik tangannya ke belakang.Satu kekuatan luar biasa besar yang bersumber dari tangan orang tua itu menyedot sang pelita yang melaya
"Astaga! Pelita Kaki Nyawa meledak. Ini sebuah pertanda buruk. Segala mimpi buruk bagi setiap pemuda gagah dan para gadis perawan bakal menjadi kenyataan. Badai, ombak menggila dan angin yang mengamuk?! Keparat jahanam! Ternyata sumpah seribu tahun yang lalu itu nampaknya sekarang benar-benar hendak terwujud menjadi sebuah kenyataan. Tapi aku tidak peduli, aku harus mencegah sebelum kiamat benar-benar muncul di rimba persilatan!"Sambil berucap demikian di dalam gelap dimana tak dapat terlihat apa-apa si orang tua rangkapkan kedua tangan yang terkembang di depan dada. Seiring dengan menyatunya dua telapak tangan di dadanya dia keluarkan ucapan."Tiga Pelita Keramat Penunjuk Terang Dalam Kegelapan. Aku memanggil kalian untuk membantuku!" Berkata begitu orang tua ini memutar tubuh, telapak tangan segera direntang, lalu diangkat tinggi kemudian sepuluh jemari tangan berlawanan arah bergerak melambai ke langit.Diatas ketinggian dalam kegelapan diwarnai suara mender
MALAM Sabtu Kliwon Seribu tahun setelah runtuhnya istana Dewa Ruci. Pulau Rakata tempat dimana istana suci itu dulunya berdiri diselimuti kabut tebal. Keindahan pulau dengan latar belakang gunung Krakatau yang menakjubkan lenyap ditelan kegelapan.Angin menderu.Langit gelap tanpa bintang dan rembulan. Ombak bergulung-gulung menyapu pedataran di pantai sepanjang selat Sunda.Di tengah suasana laut yang seolah murka. Disebelah Selatan gunung Krakatau yang menjulang tinggi diatas permukaan laut.Dalam kegelapan tiba-tiba saja muncul kerlip cahaya. Seperti kunang-kunang cahaya bergerak cepat menuju ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni.Nelayan setempat menyebut pulau itu dengan nama Pulau Karang Hantu. Tidak berselang lama cahaya merah redup yang ternyata berasal dari sebuah pelita itu bergerak melambat sesampainya di tepi pantai.Ternyata ada seorang kakek renta bertubuh kurus kering seperti Jerangkong yang menyeberangi lautan dengan menjunjun
Pendekar Sinting balikkan badan, dia menatap ke arah adipati Seta Kurana yang baru saja bangkit berdiri. Sang adipati menyeka mulutnya yang berlumur darah. Dia juga diam-diam mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam di dada. Tapi akibat dua rusuk yang patah menusuk paru-paru upaya penyembuhan itu tidak banyak berguna."Adipati, kau masih punya kesempatan untuk bertobat. Serahkan cambuk itu." Kata Angon Luwak.Adipati menyeringai. "Aku lebih suka kau yang menyerahkan nyawa kepadaku! Hiaa....." Teriak adipati dengan suara lantang.Teriakan itu disusul dengan serangan ganas yang mengandalkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi berkat jurus Dewa Sinting Kegirangan. Semua serangan yang dilakukan adipati hanya mengenai tempat kosong.Sadar semua serangan ganas yang dilakukannya tak mengenai sasaran. Bahkan lawan dengan mudah dapat meloloskan diri. Geram bercampur penasaran Adipati segera merangsak maju.Cambuk yang terg
Setelah peristiwa itu, Truna tak bertemu dengan Jonggrang kembali. Pagi harinya, ketika hujan reda dan matahari menyapa, Truna mencoba kembali ke tempat teirakhir. Jonggrang sudah tak ada lagi di sana. Timbul penyesalan dalam diri Truna. Menyesal harus pergi meninggalkan Jonggrang, kakak sepergur
Wukh! Dash!Benturan hebat terjadi di udara siang yang semakin bersinar garang. Antara ujung jari-jemari orang bercaping dengan tinju Angon Luwak."Aih!"Pekikan mencelat dari kerongkongan orang bertopeng. Pekikan asli yang tak lagi dibuat-buat. Tak lagi disamarkan demikian r
"Katakan pada gurumu, Dongdongka, bahwa urusan lama antara aku dengannya belum lagi tuntas. Kau sebagai muridnya, akan menerima pula ganjaran atas kesalahan yang telah dibuat gurumu terhadapku!"Meski berpantang untuk membiarkan rasa takut tumbuh dalam dirinya, tak urung Angon Luwak merind
Bersebelahan dengan alun-alun, tepatnya di sebelah Selatan, berdiri keraton. Tembok dan gapura keraton terlihat megah dan kokoh. Dua orang prajurit selalu tampak berjaga di kedua sisi gapura.Di sebelah barat alun-alun, berdiri satu bangunan megah, tempat penduduk muslim melaksanakan salat







