LOGINEnam bulan telah berlalu sejak perjalanan kami ke desa Pak Darmo untuk mengantarkan kepergian Mbak Dyah. Namun, kembali ke kehidupan normal ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Trauma tidak hilang hanya dalam semalam.Pada bulan pertama setelah kami pindah, sisa-sisa ketakutan itu masih sering menghampiri. Aku masih sering terbangun tengah malam dengan napas tersengal, secara refleks menatap ke arah plafon kamar kos baruku, takut melihat wajah hancur itu merangkak di sana. Andi sempat mengalami paranoia ringan; ia akan melompat kaget hanya karena mendengar suara ranting pohon bergesekan dengan jendela. Sementara Mira, ia butuh pendampingan psikologis dan spiritual yang cukup intens karena tubuh dan pikirannya pernah diambil alih secara paksa.Namun, waktu dan persahabatan terbukti menjadi obat yang paling ampuh. Kami berlima saling menguatkan. Jika salah satu dari kami merasa cemas, kamar kos kami selalu terbuka untuk dijadikan tempat berkumpul dadakan. Perlahan ta
Sebulan berlalu sejak kami menutup pintu rumah kontrakan itu untuk yang terakhir kalinya. Kehidupan kami sebagai mahasiswa kembali berjalan normal. Ujian semester yang sempat terbengkalai akhirnya bisa kami kejar, dan mimpi-mimpi buruk yang dulu selalu menghantui tidurku perlahan memudar, digantikan oleh malam-malam yang tenang.Hingga suatu sore, saat aku sedang mengerjakan tugas di kamar kos, ponselku bergetar. Sebuah pesan Wawa masuk dari nomor yang tidak asing. Pak Darmo."Assalamualaikum, Mbak Nara. Alhamdulillah, urusan dari kepolisian dan rumah sakit sudah selesai. Jenazah adik saya, Dyah, sore ini sudah bisa kami bawa pulang dan akan dimakamkan di desa. Kalau Mbak Nara dan teman-teman ada waktu, kami sangat berharap kalian bisa hadir."Aku terdiam menatap layar ponsel. Rasa hangat seketika menjalar di dadaku. Tanpa membuang waktu, aku langsung meneruskan pesan itu ke grup obrolan kami berlima.Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sampai Heru membalas, "Gue rental mobil se
Satu minggu telah berlalu sejak kepindahan kami dari rumah kontrakan neraka itu. Kehidupan perlahan kembali menemukan ritme normalnya. Kami tidak lagi menyewa satu rumah utuh. Uang sewa yang dikembalikan oleh Pak Slamet dan tambahan dari warga kami gunakan untuk menyewa kamar kos yang lebih aman dan dekat dengan kampus.Aku, Ranti, dan Mira menyewa kamar bersebelahan di sebuah kos putri yang terang, ramai, dan memiliki penjaga kos 24 jam. Sementara Heru dan Andi menyewa kos putra yang jaraknya hanya beda satu blok dari tempat kami.Sinar matahari sore menembus jendela kamarku dengan leluasa. Tidak ada lagi bayangan gelap di sudut ruangan. Tidak ada bau kemenyan, apalagi bau anyir bangkai. Yang ada hanya aroma pewangi pakaian dan harum masakan ibu kos dari lantai bawah."Ra, lo mau ikut ke kantin kampus nggak?" Ranti menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, kantung matanya yang dulu hitam kini sudah menghilang. "Heru nge-chat nih, katanya d
Proses pemeriksaan di kantor polisi memakan waktu hampir seharian penuh. Kami berlima dimintai keterangan secara terpisah di ruangan yang berbeda. Aku menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bau busuk, penemuan bungkusan tanah kuburan, rambut di ubin, hingga akhirnya kami menemukan kerangka itu. Tentu saja, aku menceritakannya dari sudut pandang logika dan apa yang kami temukan secara fisik, tanpa perlu mendebat polisi soal urusan gaib.Menjelang magrib, kami akhirnya diizinkan berkumpul di ruang tunggu. Bau kopi instan dan suara ketikan keyboard mendominasi ruangan. Andi tertidur di kursi panjang dengan mulut setengah terbuka, sementara Heru sibuk memijat pelipisnya.Tak lama kemudian, pintu kaca ruang tunggu terbuka. Pak Yanto, detektif yang memeriksa kami, masuk bersama seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak sangat lelah dan familier."Pak Darmo?" panggilku pelan, langsung berdiri dari kursi.Pria itu menoleh. Matanya merah dan berkaca-kaca. Pak Yanto mempersilakan Pak
Suara sirine mobil pemadam kebakaran dan polisi memecah kerumunan warga. Dua mobil patroli dan satu truk damkar berhenti tepat di depan pagar rumah Pak Burhan. Warga yang tadinya berkerumun langsung mundur, memberi jalan."Minggir, minggir! Biar petugas masuk!" teriak salah satu polisi.Karena pagar besi terkunci dari dalam, beberapa petugas damkar terpaksa menjebol gemboknya dengan alat pemotong baja. Brak! Pagar terbuka. Mereka merangsek masuk, menyemprotkan air ke arah jendela lantai dua. Anehnya, begitu semburan air itu menyentuh asap pekat, asapnya langsung menguap tanpa menyisakan bara api atau tembok yang hangus. Hanya bau anyir seperti daging terbakar yang tersisa di udara.Brak!Polisi mendobrak pintu utama. Beberapa menit kemudian, dua petugas keluar sambil menyeret tubuh seseorang.Itu Pak Burhan.Aku hampir tidak mengenali sosoknya. Pria tua yang biasanya tampil congkak itu kini tampak sangat mengenaskan. Baju jubahnya compang-camping. Kulit wajahnya penuh luka cakar
Suara bariton yang menggelegar dari depan rumah itu seakan merobek udara pekat di dalam dapur. Sosok wanita berwajah hancur di depanku mendadak kaku. Kepalanya berputar patah-patah menoleh ke arah ruang tengah, diiringi bunyi gemertak tulang yang membuat perutku mual.Langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Dari balik sisa-sisa pintu dapur yang hancur, muncul Pak Ustaz dengan peci putih dan serban yang melingkar di leher.Di belakangnya, Pak Slamet mengekor dengan wajah pucat pasi sambil memegang jeriken air."Mundur semua!" teriak Pak Ustaz.Tanpa membuang sedetik pun, beliau merogoh saku gamisnya, mengeluarkan segenggam garam krosok yang sudah didoakan, dan melemparkannya tepat ke wajah sosok mengerikan itu.Cessss!Sosok itu menjerit melengking. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan perpaduan antara lolongan binatang dan gesekan besi berkarat. Kulit wajahnya yang hancur tampak melepuh dan mengeluarkan asap kelabu. Ia terhuyung mundur, menjauhi kami."Nara! Bakar buh
"Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung
Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang
Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang p
“Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ik