LOGINLiontin di dadanya bergetar.
Bukan getaran biasa. Bukan getaran yang disebabkan oleh angin atau gerakan tubuhnya yang jatuh. Getaran ini berasal dari dalam liontin itu sendiri, seolah sesuatu yang selama ini tertidur di dalamnya tiba-tiba terbangun oleh teriakan Lin Xuan.
Cahaya putih keperakan menyembur dari liontin itu, begitu terang hingga menembus kabut di sekitarnya. Lin Xuan memandang dengan mata terbelalak saat liontin itu perlahan kehilangan bentuk padatnya, melebur menjadi cahaya murni yang kemudian meresap masuk ke dalam dadanya.
Liontin itu menghilang.
Cahaya keperakan itu menyebar ke seluruh tubuhnya, memenuhi setiap pembuluh darahnya, setiap sel tubuhnya, setiap sudut keberadaannya. Rasa panas dari Buah Dewa yang masih mengalir di dalam tubuhnya bertemu dengan cahaya keperakan dari liontin, dan keduanya berpadu, saling memperkuat, menciptakan energi yang belum pernah dirasakan oleh Lin Xuan seumur hidupnya.
Dan energi itu membentuk perisai.
Saat tubuhnya akhirnya menghantam dasar jurang, benturan yang seharusnya meremukkan setiap tulang di tubuhnya ternyata ditahan oleh lapisan cahaya keperakan yang menyelubunginya. Rasa sakit tetap ada, menyebar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya seperti gelombang yang menghantam pantai. Tapi tulang-tulangnya tidak patah. Organ-organnya tidak hancur. Dia masih hidup.
Lin Xuan terbaring di dasar jurang, menatap cahaya redup yang menerobos kabut jauh di atas sana. Tubuhnya sakit. Seluruh tubuhnya terasa seperti habis digilas oleh batu raksasa. Tapi dia bernapas. Jantungnya berdetak. Dia masih hidup.
Butuh beberapa menit sebelum dia bisa menggerakkan tubuhnya. Perlahan, dengan gerakan yang menyakitkan, dia memaksakan dirinya duduk. Tangannya langsung meraba dadanya, mencari liontin yang selama ini selalu ada di sana.
Jari-jarinya hanya menemukan kulit dan kain.
Liontin itu benar-benar sudah menghilang.
Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru. Sensasi aneh di dalam dadanya, seperti denyutan kedua di samping detak jantungnya. Hangat dan berdenyut dengan ritme yang stabil.
Lin Xuan memejamkan matanya dan mengarahkan kesadarannya ke dalam tubuhnya sendiri, menggunakan teknik introspeksi dasar yang dipelajarinya bertahun-tahun lalu tapi tidak pernah menghasilkan apapun.
Kali ini, hasilnya berbeda.
Di dalam ruang kesadarannya, dia melihat sesuatu.
Pembuluh darah spiritualnya, yang selama ini selalu tertutup rapat seperti pintu gerbang besi yang tidak bisa ditembus, kini berdenyut dengan cahaya samar. Dan di tengah-tengah jalur pembuluh darah utamanya, dia melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas.
Sebuah teratai hitam.
Teratai itu melayang di pusat pembuluh darah spiritualnya, kelopak-kelopaknya yang gelap segelap malam tanpa bintang terbuka sempurna, dan dari setiap kelopaknya mengalir energi gelap yang menyumbat seluruh jalur spiritual di tubuhnya. Itulah penyebab dari semua penderitaannya selama ini. Bukan karena dia tidak memiliki bakat. Bukan karena tubuhnya cacat. Tapi karena teratai hitam ini telah menghalangi jalur spiritualnya sejak entah kapan, membuatnya tidak bisa menyerap tenaga spiritual apapun dari dunia luar.
'Jadi ini... ini yang selama ini menghalangiku?'
Tapi pemandangan itu belum selesai. Karena saat dia memandang teratai hitam itu dengan campuran kemarahan dan keputusasaan, sebuah kilatan cahaya keperakan muncul di hadapan teratai itu.
Sebilah pedang kecil.
Pedang itu bersinar dengan cahaya yang sama persis dengan cahaya liontin yang tadi meresap ke dalam tubuhnya. Ukurannya tidak lebih dari sejengkal, tapi aura yang memancar darinya begitu tajam, begitu murni, hingga teratai hitam itu bergetar ketakutan saat pedang kecil itu mendekat.
Lin Xuan memahami segalanya dalam sekejap.
'Liontin ayah... bukan liontin biasa. Ini adalah pedang kecil ini. Selama ini, pedang ini tersembunyi di dalam liontin itu, menunggu saat yang tepat.'
Pedang kecil itu bergerak. Tanpa suara, tanpa keraguan, bilah mungilnya melesat menembus pusat teratai hitam. Teratai itu mengejang, kelopak-kelopaknya mengerut, dan energi gelap yang selama ini menyumbat pembuluh darah spiritual Lin Xuan terpecah seperti kaca yang dihantam palu.
Pedang kecil itu membelah teratai hitam menjadi dua.
Dan saat teratai itu hancur, sesuatu yang selama ini terkunci di dalam tubuh Lin Xuan akhirnya terbebas. Pembuluh darah spiritualnya terbuka. Tenaga spiritual dari dunia luar langsung mengalir masuk seperti air yang menerobos bendungan yang pecah, membanjiri setiap jalur yang selama ini kering dan kosong.
Lin Xuan membuka matanya.
Dunia terlihat berbeda. Bukan secara visual, matahari masih sama, kabut masih sama, batu-batu di sekitarnya masih sama. Tapi dia bisa merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Energi. Tenaga spiritual yang mengalir di udara, di tanah, di setiap tetes embun yang menempel di lumut. Dunia ini penuh dengan energi spiritual, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Xuan bisa merasakannya.
Dia sudah menembus ke alam kondensasi roh.
Dari alam pemurnian tubuh yang tidak memiliki tenaga spiritual sama sekali, langsung ke alam kondensasi roh. Lompatan yang seharusnya membutuhkan waktu bertahun-tahun terjadi dalam hitungan menit.
Tawa kecil lolos dari bibir Lin Xuan. Pelan pada awalnya, lalu semakin keras hingga menggema di dasar jurang. Bukan tawa gila. Bukan tawa seorang yang kehilangan akalnya. Tapi tawa lega seorang pemuda yang selama bertahun-tahun terjebak dalam kegelapan dan akhirnya melihat setitik cahaya.
"Aku berhasil," bisiknya, dan suaranya bergetar. "Akhirnya... aku berhasil."
Air matanya jatuh tanpa dia sadari. Dia tidak peduli. Tidak ada siapapun di dasar jurang ini untuk melihatnya menangis. Untuk pertama kalinya, kesendirian itu terasa seperti berkah.
Setelah air matanya mengering, Lin Xuan bangkit dan mulai berlatih. Dia mengambil sebatang ranting yang cukup kokoh dan mulai mengayunkannya seperti pedang. Gerakan-gerakan yang selama ini hanya berupa gerakan kosong tanpa tenaga kini terasa berbeda. Setiap ayunan diperkuat oleh tenaga spiritual yang mengalir melalui lengannya, mempercepat gerakannya, mempertajam kontrolnya.
Ilmu pedang yang selama ini dia kuasai hanya dalam bentuk pengetahuan kini menjadi hidup di tangannya. Setiap teknik yang pernah dia lihat dan dia pahami kini bisa dia jalankan dengan tenaga spiritual yang sesungguhnya. Dan dengan kemampuan pemahamannya yang luar biasa, dia menguasai setiap teknik dengan kecepatan yang menakjubkan.
Satu hari berlalu. Lin Xuan hampir tidak berhenti berlatih kecuali untuk menarik napas dan membiarkan tenaga spiritualnya memulihkan diri. Dan di penghujung hari itu, saat cahaya merah senja meresap ke dasar jurang melalui celah-celah kabut di atas, dia merasakan hambatan yang familiar.
Dinding pembatas antara alam kondensasi roh tingkat pertama dan tingkat kedua.
Tapi kali ini, tidak ada teratai hitam yang menghalanginya. Tidak ada penghalang misterius. Hanya dinding tipis yang butuh sedikit dorongan untuk ditembus.
Lin Xuan menutup matanya, mengumpulkan tenaga spiritualnya, dan mendorongnya menembus dinding itu.
Alam kondensasi roh tingkat kedua.
Dia membuka matanya dan merasakan tenaga spiritual di tubuhnya berlipat ganda. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Kemudian senyum itu perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius. Lebih keras. Lebih penuh tekad.
'Rumah.'
Pikiran itu muncul tiba-tiba, seperti kilat yang menyambar di langit cerah. Rumahnya. Tempat dia dibuang dan diusir karena dianggap terlalu lemah. Karena dia tidak bisa menembus alam spiritual. Karena dia adalah aib yang memalukan bagi keluarganya.
Tapi sekarang dia bisa.
'Aku ingin kembali ke sana. Tapi untuk kembali, aku harus lebih kuat dari ini. Jauh lebih kuat.'
Dia memandang ke atas, ke dinding tebing yang menjulang tinggi menuju mulut jurang di mana beberapa jam lalu dia melompat ke bawah dengan niat menyerah pada kematian. Sekarang dia harus naik kembali. Dan bukan hanya itu, dia harus kembali ke Sekte Xuantian.
Tapi bukan sebagai budak pedang.
'Beberapa hari lagi ada ujian penerimaan murid sekte luar,' pikirnya, mengingat pengumuman yang ditempelkan di papan informasi sekte minggu lalu. 'Kalau aku bisa lulus ujian itu, aku akan menjadi murid sekte luar. Dan dari sana... kalau perlu, aku akan naik menjadi murid sekte dalam.'
Matanya menyipit dengan tekad yang belum pernah ada di sana sebelumnya.
'Zhang Bin, kau pikir kau sudah membunuhku hari ini. Biarkan kau terus berpikir seperti itu. Tapi suatu hari nanti, aku akan berdiri di hadapanmu. Dan saat itu tiba, kau akan menyesal karena tidak memastikan sendiri mayatku di dasar jurang ini.'
Lin Xuan mengambil napas dalam-dalam, membiarkan tenaga spiritual mengalir ke seluruh tubuhnya, dan mulai memanjat dinding tebing menuju dunia di atas sana. Menuju Sekte Xuantian. Menuju ujian yang akan mengubah segalanya.
Menuju kehidupan baru.
Hari itu, Lin Xuan kembali membawa monyet putih salju dan naga merah tua itu keluar.Kota Liusha saat itu sangat ramai. Pejalan kaki memadati jalanan, dan berbagai arena bela diri dipenuhi sorak sorai, bersinar terang, dan sangat mengesankan.Saat ini, Turnamen Seni Bela Diri Aliansi telah dimulai, dengan berbagai arena yang berfungsi sebagai tempat kompetisi untuk babak eliminasi.Seorang anak ajaib seperti Lin Xuan tentu saja tidak perlu berpartisipasi dalam babak penyaringan awal; dia hanya perlu menunggu untuk berpartisipasi di babak final.Namun, karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan, Lin Xuan memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat-lihat.Kemudian dia membeli tiket dan memasuki arena pertarungan keluarga Nangong.Tempat itu ramai dengan suara bising, lautan manusia, massa yang padat dan gelap.Lin Xuan duduk di barisan paling belakang dan memandang ke arah arena.Para praktisi seni bela diri di Arena Seni Bela Diri Nangong sangat terampil, sehingga mereka hanya perlu
Setelah memperoleh sejumlah besar Batu Yuan Yang, dan setelah beberapa hari berlatih, kekuatannya telah pulih ke Alam Yang Mulia setengah langkah.Meskipun tidak sebaik sebelumnya, saya sudah mampu melakukan beberapa teknik rahasia.Selain itu, mengingat kecepatannya saat ini, dia yakin bisa lolos dari cengkeraman Yang Mulia, jadi setelah menahan diri selama berhari-hari, dia akhirnya bisa berbicara di depan semua orang."Ular yang bisa bicara! Ini adalah iblis ular!" Para pendekar bela diri di sekitarnya terkejut; mereka belum pernah melihat makhluk cerdas spiritual seperti itu sebelumnya."Sialan, kau iblis ular, seluruh keluargamu adalah iblis ular!"Naga merah tua itu tampak tidak senang dan marah.Black Cliff sangat terkejut. Dia tidak lagi peduli dengan ular yang bisa bicara itu, karena dari ucapan pihak lain, Lin Xuan tampaknya mengetahui identitas pemuda bermata satu itu.Namun, meskipun begitu, dia masih berani bertindak, yang menunjukkan bahwa Lin Xuan sama sekali tidak meng
Lin Xuan dan Nangong Sheng sedang mengamati dari tengah kerumunan ketika tiba-tiba ia merasakan niat membunuh yang sangat kuat mengalir ke arahnya.Dia sedikit mengerutkan kening, menoleh untuk melihat, dan langsung menyipitkan matanya.Dia melihat seorang pemuda berjubah warna-warni berjalan cepat ke arahnya, dengan Blackwood Cliff dan yang lainnya di belakangnya.Meskipun dia tidak mengenali pemuda itu, Lin Xuan sangat familiar dengan pakaiannya; itu adalah pakaian Istana Burung Ilahi.Aku tidak pernah menyangka orang-orang dari Istana Burung Ilahi akan datang! Aku tidak tahu apakah mereka datang untuk kompetisi atau untuk menangkapnya.Lin Xuan merasa bingung dan diam-diam menjadi waspada.Namun, dia sama sekali tidak takut. Begitu dia memadatkan roh pedang sejati, dia sama sekali tidak takut pada murid-murid Istana Burung Ilahi.Kini setelah memiliki roh pedang sejati, Lin Xuan berani menantang bahkan para Yang Mulia, apalagi para seniman bela diri generasi muda ini.Oleh karena i
Kemunculan Lin Xuan menimbulkan sensasi di antara kerumunan; banyak yang terkejut, tetapi juga dipenuhi rasa ingin tahu yang besar.Mereka ingin mengetahui tingkat apa yang telah dicapai Lin Xuan dan apakah dia telah memadatkan roh bela diri sejati.Namun, tak seorang pun berani mencoba, kecuali mereka sangat berbakat; jika tidak, mereka sama sekali tidak mampu melakukannya.Lin Xuan mengabaikan orang-orang itu dan berjalan menuju Arena Paviliun Naga Suci dengan ekspresi santai."Saudara Xuan, kau di sini!" Nangong Sheng sangat gembira melihat Lin Xuan.Kemudian, Ma Rulong juga keluar, dan keduanya menarik Lin Xuan ke halaman belakang."Bagaimana hasilnya? Apakah kau sudah berhasil menembus?" tanya Ma Rulong dengan cemas."Mm." Lin Xuan mengangguk, setelah baru saja menembus puncak Alam Roh.engah!Nangong Sheng meludah seteguk teh spiritual: "Siapa yang bertanya tentang itu? Maksudku roh bela diri, roh bela diri!"Lin Xuan tersenyum dan menyentuh hidungnya: "Coba tebak?""Hei bro, ja
Rencana mereka hampir terwujud, tetapi sekarang ada seseorang yang berani menghalangi mereka? Dan orang itu adalah seorang cendekiawan yang tidak dikenal!Dia sangat marah, jadi dia tidak menahan diri sama sekali saat menyerang.Serangan telapak tangan itu sangat dahsyat, melepaskan kekuatan luar biasa dari seorang Yang Mulia; gerakan ini pasti bisa menghancurkan sebagian besar kota.Kekosongan itu bergetar dan berderak, saat sinar cahaya yang tak terhitung jumlahnya menyembur keluar, seperti galaksi yang meraung, bergegas menuju cendekiawan paruh baya itu.Cendekiawan paruh baya itu memegang buku di tangan kanannya, tatapannya dingin tertuju pada kejauhan di depannya."Kau pikir kau pantas menggunakan teknik telapak tangan? Di mataku, kau hanyalah sampah!"Cendekiawan paruh baya itu menatap ke depan, ekspresinya penuh dengan rasa jij disdain.Dia berdiri dengan angkuh, mendengus dingin, dan dengan cepat mengayunkan telapak tangan kirinya.Sebuah kekuatan luar biasa dahsyat muncul dar
"Apa?"Sang Yang Mulia dari Benteng Blackwood menjadi sangat murung saat melihat pemandangan ini.Dia memutuskan bahwa setelah menghancurkan formasi tersebut, dia pasti akan menyiksa orang yang membuatnya sampai mati.Meskipun pria yang memiliki bekas luka itu sangat berhati-hati dalam tindakannya, dia tetap menarik perhatian orang-orang yang tertarik, setidaknya Nangong Sheng dan Ma Rulong mengawasinya dengan cermat."Aku sudah meminta bantuan keluargaku, tapi mereka belum juga datang! Bagaimana denganmu?" tanya Nangong Sheng dengan cemas.“Saya juga telah mengirim pesan kepada leluhur kita, dan saya pikir dia akan segera tiba.”Baik Ma Rulong maupun Nangong Sheng mengundang para ahli dari keluarga mereka untuk datang dan membantu.Mereka tahu bahwa malam ini sangat penting bagi Lin Xuan. Jika berhasil, Lin Xuan akan berubah menjadi naga dalam satu gerakan dan menjadi seorang ahli kekuatan sejati!Kemungkinan besar pasukan musuh di Benteng Blackwood sama sekali tidak menginginkan has
"Tidak perlu terburu-buru. Jika dia benar-benar seorang mata-mata, dia akan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya ketika aura naga sejati muncul."Sang Yang Mulia Teratai Biru bagaikan seorang pemburu berpengalaman, menunggu mangsanya memasuki sangkar.Pada saat ini, bentrokan di arena di bawah
Hua Fei dan yang lainnya ketakutan, wajah mereka pucat pasi.:/Di arena, Song Que mencibir dengan nada menghina: "Dasar idiot."Namun, senyumnya membeku sesaat kemudian.Saat langit yang dipenuhi kilat biru dengan cepat menghilang, harimau petir itu pun dengan cepat lenyap.Cahaya perak di tubuh Li
Lei Zhen terlalu cepat; dia hanya bisa mendeteksi jejak kilat.Jelas, ini belum cukup baginya untuk memahami hakikat guntur.Namun, ia percaya bahwa selama ia mampu melawan murid-murid Sekte Petir, ia akan segera dapat memadatkan Niat Petir.Dengan mengingat hal itu, dia untuk sementara mengesampin
Sebagai contoh, keluarga Xie memiliki seorang bintang yang sedang naik daun yang kemampuan berpedangnya tak tertandingi dalam kecepatannya.Bahkan setelah sepuluh pertandingan, tidak ada yang bisa melihat dengan jelas bagaimana dia menghunus pedangnya.Di pihak Lei Zong, juga terdapat seorang murid







