Share

BAB 72.

Penulis: brownies coklat
last update Tanggal publikasi: 2026-07-13 18:22:22

“Olivia!”

Gadis yang dipanggil namanya mendongak, dia baru saja selesai menata bukunya ke dalam laci meja. “Kenapa, Sarah?"

Sarah sampai di depan mejanya setelah berlarian dari luar, nafasnya memburu dan menatap wajah Olivia dengan kesal. “Lo putus sama Kafka?”

Olivia menganggukkan kepala. “Iya, sudah lumayan lama.”

Sarah tiba-tiba menggebrak meja Olivia dengan gerakan kasar, membuat seisi kelas menoleh ke arah meja Olivia. “Berita lo putus rame banget di base sekolah, gue pikir bohong. Ternya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 118.

    “Lo masih suka sama Kafka?”Olivia mendongak, dia sedang menulis di papan tulis nama-nama kelompok untuk camping on the ground lusa. Mendapati Karina yang sedang berdiri di depan pintu kelasnya, gadis itu berkacak pinggang, menatapnya sinis sekali. “Maksud lo?”“Nggak usah pura-pura nggak tau.” Karina maju satu langkah mendekati Olivia, dia melempar buku catatan milik Olivia. Buku yang beberapa hari lalu dia berikan pada Kafka.“Kok ada sama lo?” Olivia meletakkan spidol dan ponselnya di meja guru. Dia sengaja menulis di papan tulis tepat sebelum kelas masuk, agar wali kelasnya mudah memberikan informasi nanti. “Kafka yang ngasih ke lo? Atau … lo yang ngambil?”Karina tersenyum sinis. “Ngapain gue ambil? Nggak berguna.”Olivia menunduk, memungut buku catatan miliknya. Membukanya di setiap halaman, buku itu sudah penuh dengan bercak coklat, seperti tumpahan kopi atau susu. Semakin Olivia membuka ke halaman akhir, semakin banyak coretan abstrak yang digambar. “Ini ulah Kafka?”Karina me

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 117.

    Suasana koridor kelas XI terasa lebih hidup, puluhan siswa berbondong-bondong menuju mading yang mana berisi pengumuman kegiatan menjelang kenaikan kelas. Camping on the ground. Acara yang setiap tahun dilaksanakan wajib balik kelas 11.Sarah dan Olivia tidak ikut berdesakan di depan mading. Mereka lebih memilih berdiri di pinggir tangga, menunggu Panji yang sedang ke ruang serba guna untuk memfotokopi surat persetujuan kepada orang tua."Rame banget deh, kayak nggak bakalan ada pengumuman aja. Mending duduk diem di tangga sini dari pada desek-desekan." Ujar Sarah santai, gadis itu menyandar pada tiang pegangan tangga sambil memakan kacang rebus yang dia beli di kantin. “Makanya … mending nunggu si Panji aja ngasih pengumuman.” Tambah Olivia. Dia juga sedang membuka ponsel, berselancar di website resmi sekolahnya. Sejak pengumuman tadi pagi di website resmi sekolahnya tentang camping on the ground, semua orang langsung heboh berdatangan ke mading untuk melihat kelompok mereka.Satu

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 116.

    “Guys, gue punya hot news … gila gila ini bakalan booming sih.”Suara Sarah mendominasi di meja ketiga orang yang sedang makan bakso di warung bakso langganan Olivia. Olivia yang merekomendasikannya."Apa sih? Paling juga berita soal meja tadi abis lo bersihin terus gue dudukin, lo mau cerita ke Oliv soal itu kan?” cebik Panji. Dia bahkan sudah menebak saat Sarah belum mulai bercerita, gadis itu apa saja di ceritakan pada Olivia. Sampai kucingnya masuk selokan pun diceritakan. Heran.Sarah menggebrak meja mereka, menimbulkan suara brakk yang nyaring. Membuat beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka."Si Sarah nih berisik banget, anggun dikit kayak Oliv gitu.” tambah Panji.Sarah menaikkan tangannya, menunjuk wajah Panji. “Diem, sebelum gue siram lo pake kuah bakso gue yang penuh cabe ini.” Panji dan Olivia ikut melirik mangkok bakso milik Sarah yang warnanya super merah, bahkan itu bisa disebut kuah cabe. "Apa, Sarah?” Olivia mengalihkan pandangannya, menatap Sarah yang sudah ant

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 115.

    Base camp yang sudah beralih fungsi menjadi tempat bermain pingpong itu sudah dipenuhi oleh beberapa anggota the syndicate, setelah pulang sekolah, mereka sengaja berkumpul di sana. Mengobrol atau sekedar menghilangkan penat.Meja pingpong sudah dipakai bermain oleh Rio dan Haykal, dengan Hendra sebagai wasit. Kehebohan mereka membuat suasana menjadi riuh, sorakan penonton dari pinggir meja dan juga suara peluit milik Hendra.“Naikin itu bola, jangan di bawah meja. Lo main pingpong, bukan main badminton kocak!” teriak Rio yang sedari tadi sebal dengan Haykal, dia sudah memperingatkan berkali-kali untuk bola di atas. Tapi, Haykal tetap ingin bermain dengan bola dari bawah meja. “Berisik!” balas Haykal tak kalah kencang.“Buruan astaga …, capek ini gue pose doang, lo nggak mukul tuh bola pingpong. Haykal goblok, main pingpong aja nggak ngerti,” Rio menaikan satu tangannya ke atas. “Wasit, ganti pemain. Haykal noob, gue nggak bisa main sama dia. Switch.” Rio melangkah menuju Haykal, men

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 114.

    “Kamu pikir semua masalah selesai hanya karena menggunakan nama the syndicate. Geng milikmu sudah bubar, Kafka.”Suara wali kelas Kafka melengking di koridor, tepatnya di depan pintu kelas. Kafka masih diam saja, menunduk, tidak membantah seperti biasa. Nama The Syndicate sudah cukup untuk membuat semua pembelaannya akan terdengar sia-sia. “Jangan kamu pikir karena kamu adalah anak pemilik Yayasan jadi kamu bisa seenaknya. Ibu punya aturan di kelas, Kafka. Dan kamu tau itu,” suara wali kelasnya semakin tinggi. Mengundang tatapan penasaran dari beberapa orang yang lewat di koridor. Bel istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu, jadi wajar koridor ramai orang berlalu-lalang. “Kamu mengancam Olivia di depan kelas hanya karena dia menolak satu kelompok denganmu!”Ini sangat tidak wajar bagi seorang Kafka, dimarahi di jam yang salah dan ditonton oleh puluhan pasang mata, hanya karena kesalahan kecil. “Apa yang kamu dapat dari memaksa seseorang? Harga diri? Kepuasan? Kamu pikir orang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   BAB 113.

    “Sarah, lo tadi dibantu sama Kafka ya? Sekelas heboh banget,”Panji yang baru saja kembali dari ruang OSIS menghampiri Sarah yang sedang merapikan meja, gadis itu kebagian piket mengelap meja hari ini. Sarah mendongak. “Dipaksa sama Haykal, lagian tuh cowok nginjek buku tulis punya Karina. Apa nggak ngamuk tuh entar nenek lampir?” desis Sarah dengan suara pelan sekali, wajahnya celingukan ke arah belakang, jaga-jaga siapa tau Karina mendengar suaranya.“Ya … tetap aja, gue kira dia bakalan cuek sama lo. Secara kan, Kafka deketnya sama Olivia, mana mau dia bantuin orang lain selain Olivia.” tambah Panji, cowok itu sudah duduk di atas meja milik Sarah.Sarah melihat Panji duduk diatas meja yang baru saja dibersihkan langsung memukul lengan cowok itu kencang. “Panji! Ini baru selesai gue lap, Ihh!” Sarah mendorong tubuh Panji agar turun dari mejanya.“Aduh, Sori. Lupa banget, lap lagi aja.” jawab Panji santai. “Enteng banget tuh mulut ngomong, lo lah! Lo yang duduk, lihat tuh ada bekas p

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 4.

    Sejak dua hari lalu, Olivia memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Ia berusaha menghindari semua hal yang berkaitan dengan Kafka. Setidaknya, dua hari ini pikirannya benar-benar teralihkan meski rasa sesak di dadanya belum sepenuhnya hilang.Mamanya menyadari ada yang tidak beres dengan Olivia sejak

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 5.

    Hari pertama Olivia kembali ke sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri. Belum sampai di pintu kelas, tatapan sinis dan bisik-bisik dari murid lain sudah menyambutnya. Olivia berusaha menunduk, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar mencekal lengannya.Semua orang di korido

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 3.

    Taman belakang sekolah SMA Budi Karya sudah sangat lama tidak dirawat, terlihat dari kursi yang sudah mulai rusak, beberapa pot bunga yang pecah dan tanaman yang sudah layu. Udara sore ini juga tidak terlalu panas, matahari sudah mulai turun. Olivia duduk sendirian di salah satu kursi panjang yang

  • Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!   Bab 2.

    “Gue curiga deh sama lo, Liv.” Olivia yang merasa dituduh langsung memutar bola mata malas.“Kenapa?” ujarnya menatap Sarah. Hari pertama sudah dianggap curiga. Bagaimana besok besoknya?Sarah bergeser, berbicara pelan. “Soal Kafka narik tangan lo, itu lagi jadi bahasan di sekolah.”Gerakan tangan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status