LOGINAluna menatap wanita itu dengan datar seolah pemandangan tersebut sudah biasa dilihatnya. Ia lalu memusatkan perhatiannya lagi pada penjual yang sedang membuat pesanannya. Sedangkan Nindi yang berbicara begitu enteng main memutar tubuhnya dan menuju ke arah mobil Arkan yang terparkir.
Dan Arkan menjadi dilema. Di satu sisi ada Nindi yang mengajaknya pulang. Cindy sedang sakit. Anak itu harus meminum obat dan cepat beristirahat.Sementara di sisinya ada Aluna. Istrinya yang sAluna hanya diam di tempatnya. Dua tangan anaknya ia genggam dengan kuat.Fiona mendekat dan memberi pelukan. Wanita ini menangis di bahu Aluna."Kamu kemari, nak?" Fiona melepaskan diri dan menatap wajah mantan menantunya."Iya. Ayah anak-anak bilang kalau mama sakit kemarin. Jadi aku sekalian mampir kemari.""Arkan yang bilang?" Oh.. Fiona senang sekali mendengarnya."I-iya. Mama sakit apa?""Darah tinggi mama kuat. Mari, sayang. Masuk dulu." Fiona lalu tersenyum pada si kembar. Tapi dia takut untuk mendekat.Tatapan tajam Abi serta ingatan Fiona mengenai Ditha yang kecelakaan membekas di pikirannya."Maaf, kami tidak bisa mampir. Kami mau pergi lagi.""Sebentar saja, nak. Kita sudah lama tidak bertemu." Ujar Fiona penuh harap.Aluna lalu memperhatikan kedua anaknya. Ditha nampak biasa saja. Kecuali Abi yang bersikap waspada."Baiklah. Hanya sebentar."Aluna menurunkan egony
Aluna langsung menepuk jidatnya. Dasar! Anak sekecil ini sudah diajari berbohong. Apalagi ini Ditha, si keriting cerewet keturunan Fiona.Tanpa rasa berdosa, Ditha mendorong ponsel itu ke Aluna. Dengan berat hati, Aluna membalik ponsel tersebut sehingga terlihatlah wajah mantan suaminya, Arkan.["Oh.. Aluna. Maaf, aku mengganggumu."] Ujar Arkan tak enak hati setelah melihat wajah masam Aluna di layar ponselnya."Nggak, mas. Aku baru selesai sholat tadi." Jawab Aluna memberi alasan. Pas sekali dia memang masih memakai mukena.["Oh.. begitu. Tadi Ditha menelponku, rupanya dia sudah pintar memainkan ponsel."]Aluna melipat bibir. Bukan Ditha yang pintar memainkan ponsel melainkan ibunya yang mencari alasan untuk menghubungi ayahnya."Aku dengar dari Mira kalau mas sakit tadi siang. Apa itu betul?" Arkan berdeham . ["Iya. Biasa. Sakit maagku kambuh. Jadi aku ke IGD tadi."]"Kamu nggak makan obat?"["Makan.
Tiga bulan kemudian...****"Aku ingin merayakan hari jadi warung makan ayam ini yang ke tujuh tahun." Ujar Langit mengawali morning meeting hari ini. "Sebelumnya tidak ada perayaan karena aku sibuk membuka cabang warung makan kita. Tapi tahun ini aku ingin melakukan syukuran kecil-kecilan untuk berkembangnya warung makan ini."Dipatahkan tapi tidak tumbang. Itulah perumpamaan usaha milik Langit ini. Dalam tujuh tahun usaha, seringkali pesaing bisnis hendak merobohkan usaha milik Langit. Bukannya mundur, warung ini terus mengkoreksi dan berbenah diri. Mereka selalu memberikan yang terbaik dan mempertahankan cita rasanya."Rencananya syukuran akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tepat di hari minggu malam. Kalian boleh mengajak pasangan atau keluarga yang lainnya." Sambung Langit lagi."Untuk menunya gimana, mas? Masa kita makan ayam geprek sendiri?" Tanya Endang yang menimbulkan gelak tawa.Langit terkekeh. "Jangan khawat
Secara bergantian Aamir dan Mawar memberikan sambutan. Rose gold. Kini hadir dalam wajah baru. Keduanya meyakinkan bahwa produk mereka telah lahir dengan citra yang lebih kuat. Sekaan menepis dugaan miring di masa lalu.Para pencari pemberita mengangkat kameranya. Memotret dua owner yang masih muda itu untuk menjadi headline beberapa media. Tak ketinggalan, wajah cantik Aluna juga ikut diambil. Dia adalah icon kecantikan syarii masa kini.Selesai acara, para tamu undangan diminta untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan. Termasuk Aluna yang ikut ke meja VIP dan duduk disana."Langit!" Aluna melambaikan tangan agar pria itu mendekat.Penampilan Langit.. ngngng lumayan. Biasanya pria itu suka memakai kemeja warna warni. Namun hari ini, dia memakai kemeja berwarna abu.Mendengar namanya dipanggil, Langit mendekat dan ikut duduk di kursi."Aku nggak ngelihat kamu daritadi." Ucap Aluna."Aku baru datang." Langit
Pagi sekali, Mira sudah datang untuk mengasuh. Padahal hanya hari Sabtu jatah hari liburnya. Namun kali ini Aluna meminta tolong lagi karena ia harus menghadiri grand opening rose gold.Tepat pukul setengah delapan, Mawar sudah menjemput Aluna dengan mobilnya. Sesampainya disana, sudah banyan rekan dan juga wartawan yang berkumpul. Begitu juga dengan keluarga besar Mawar yang ikut datang dalam acara launching hari ini."Aku gugup sekali hari ini.." seru Mawar saat Aamir mendekatinya."Semuanya akan baik-baik saja." Aamir lalu melirik wanita yang memakai gamis merah muda di sisi Mawar. "Hai, Aluna.""Hai, mas Aamir." Sapa Aluna balik."Mana kekasihmu?""Kekasihku?" Alis Aluna sampai terangkat. Siapa maksudnya?"Itu.. Langit.""Oh.." Aluna melipat bibir. Dia juga tak tahu dimana pria itu. "Mungkin sedang bersiap datang. Pagi ini aku belum bertukar pesan dengannya.""Begitu rupanya. Mumpung dia belum tiba,
"Lama-lama kamu seperti pelangi, Langit.""Dasar!" Langit mencebik.Tak hanya Aluna yang tertawa tapi juga Fani. Penampilan Langit berubah total. Dia yang hanya dulu memakai pakaian serba hitam kini dengan kemeja warna warni. Kemarin dengan warna putih dan kuning, hari ini menggunakan warna biru langit.Sungguh tampak bersinar cerah di tubuh pria yang atletis itu."Wanita mana yang membuat kamu bersinar lagi?" Goda Aluna."Apa sih, kamu?!" Langit sampai menahan tawanya."Jangan berbohong, Langit. Kita sudah pernah menikah, sudah pernah jatuh cinta. Aku tahu kamu sedang menarik perhatian wanita lain.""Astaga, kamu ini!" Langit tertawa. "Rasanya nggak salah untuk jatuh cinta lagi, kan? Sudah tiga tahun aku menduda.""Syukurlah.. jadi siapa perempuan itu?""Ada. Kamu kenal siapa wanita itu." Sahut Langit tersenyum penuh arti."Aku mengenalnya?" Aluna sampai mengkerut sendiri. Semalam Sinar mengat
["Gimana hasil periksanya?"] Terdengar suara penasaran dari sebrang sana."Begitulah. Disuruh sabar sama dokternya." Sahut Fiona malas.["Nggak terjadi sesuatu ya sama Aluna?"] Suara itu seperti mengharapkan sesuatu.Fiona menghela nafas mendengar pertanyaan adiknya.
Keahlian Fiona adalah menyindir menantunya. Hal kesukaannya adalah menindas Aluna. Tak heran jika dia berani menghina menantunya sendiri di depan banyak orang.Adel yang merasa situasi menjadi canggung lantas mencairkan suasana kembali dengan mengajaknya makan siang bersama.Set
Bermacam-macam perhiasan terhampar di depan mata Aluna. Bukan sekedar bualan belaka, Arkan benar-benar mengajak istrinya ke toko perhiasan pagi ini.Namun saat sampai disana, nyali Aluna menciut. Ia langsung memundurkan diri."Kayaknya nggak usah beli perhiasan, mas." Ujar Aluna
"Memang susah ya kalau punya menantu dari kampung! Udah tahu suaminya sibuk kerja tapi masih aja di ganggu!" Fiona mendelik tak suka pada menantunya.Mendengar itu, Aluna yang tadi tertunduk berani mengangkat wajah."Sakit lambung mas Arkan tadi kumat, ma. Jadi aku berikan obat







