MasukBangkit dari liang lahat setelah dikhianati dan dibunuh secara keji, jiwa seorang pendekar tingkat Dewa merasuk kedalam raga Pewaris Miliarder Dewangkara Atmaja, untuk memulai misi pembalasan dendam yang kejam terhadap para penghianat di dunia modern. Cahaya putih jatuh dari langit ke sebuah kuburan baru yang ada di dalam hutan saat malam gelap di guyur hujan badai. Sesosok tubuh tanpa nyawa yang sudah mati selama tujuh hari terlihat dipenuhi luka berdarah dan mulai membusuk, terlihat menggeliat ketika cahaya putih laksana petir itu memasuki tubuhnya. Sebuah keajaiban terjadi, mayat yang tubuhnya penuh lobang bekas tusukan pisau perlahan membuka matanya yang berkilau tajam laksana intan yang menerangi kegelapan. Blar…! Suara gemuruh terdengar ketika mayat itu mendorongkan kedua tangannya keatas, tanah berhamburan seakan ada ledakan ranjau dari dalam tanah. Mayat itu segera meloncat keluar, selayaknya tubuh manusia normal. Ya, pemilik tubuh ini adalah tuan muda dari keluarga Atmaja yang bernama Dewangkara Atmaja. Sebelumnya dia diculik saat mengikuti acara perpisahan kelulusan SMA, di sebuah gunung di Jawa Barat. Dewangkara Atmaja pewaris tunggal perusahaan Atmaja Corporation hidup lagi dengan jiwa yang berbeda. Tapi satu hal yang pasti, dia akan mencari orang yang membuat pemilik tubuh asli Dewangkara harus mati secara mengenaskan. Seorang Dewa dari dimensi lain masuk kedalam tubuhnya dan membuat Dewangkara yang sudah mati hidup kembali dengan kekuatan yang sangat hebat.
Lihat lebih banyakBab 1. BANGKIT DARI KUBUR
Blar…!!! Kilat menyambar, membelah langit malam di atas Gunung Salak. Suara guruh yang menyusul terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Hujan badai turun tanpa ampun, menghantam pepohonan dan menyapu permukaan tanah lereng gunung yang curam. Di area datar dekat puncak, sisa-sisa perkemahan terlihat menyedihkan. Tenda-tenda yang sobek, botol plastik kosong, dan sisa kayu bakar basah berserakan, merusak kesakralan hutan yang biasanya hening. Tujuh hari telah berlalu sejak rombongan siswa dari sebuah sekolah swasta elite asal Jakarta mendirikan tenda di sana. Tujuh hari pula pencarian besar-besaran dilakukan. Tim SAR gabungan, polisi, dan tentara telah menyisir setiap jengkal tanah, menembus semak berduri dan jurang terjal. Sepatu laras panjang mereka telah meninggalkan ribuan jejak di atas lumpur, namun hasilnya nihil. Dewangkara Atmaja, pewaris generasi ketiga dari keluarga konglomerat Atmaja, hilang tanpa jejak. Malam ini, pencarian resmi dihentikan. Keluarga konglomerat itu telah mengerahkan seluruh sumber daya, menyewa pelacak profesional dan anjing pemburu, namun alam seolah telah menelan pemuda itu hidup-hidup. Kini, hanya beberapa petugas jaga yang tersisa di pos-pos bawah, berlindung dari angin Halimun yang menusuk tulang, menyisakan misteri yang belum terpecahkan di atas gunung. Blar…!!! Jauh di sisi lain gunung, di kedalaman hutan lindung yang nyaris tak pernah diinjak manusia, sebuah anomali terjadi. Kilat menyambar sebuah pohon besar, menerangi gundukan tanah merah yang masih baru. Tanah itu tampak tidak wajar di tengah hamparan dedaunan busuk. Pohon besar itu hancur terkena sambaran petir, daun dan ranting serta dahannya menjadi serpihan yang bertebaran di sekeliling tanah merah yang tersibak. Seberkas cahaya masuk kedalam tanah tak jauh dari pohon besar yang tersambar petir. Tiba-tiba, tanah merah itu bergetar. Sebuah ledakan tumpul terdengar dari bawah tanah, meredam suara hujan. Gumpalan lumpur dan batu terlempar ke udara. Dari lubang yang menganga, sepasang tangan terjulur keluar. Tangan itu pucat, berlumuran lumpur kental dan darah yang telah menghitam. Jari-jarinya mencengkeram tepi lubang dengan kekuatan yang luar biasa, mengoyak akar rumput. Sesosok tubuh perlahan merangkak naik. Napasnya tersengal, menghirup udara basah bercampur aroma ozon dan tanah. Pemuda itu berlutut di atas lumpur. Rambutnya lepek menempel di dahi, wajahnya tertutup kerak tanah. Namun, saat ia membuka mata, sepasang netra itu tidak memancarkan ketakutan orang mati. Matanya berkilat tajam, jernih dan sedingin es, menembus tirai hujan. "Di mana ini?" Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering meski hujan mengguyur tubuhnya. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya mengepal dan membuka. "Ini bukan tubuh asliku. Terlalu lemah. Garis meridiannya sempit dan otot-ototnya kaku." Pemuda itu mengusap wajahnya, membersihkan lumpur yang menutupi mata dan hidungnya. Ingatan terakhirnya adalah benturan energi spiritual yang sangat dahsyat. Formasi teleportasi yang koyak telah menghancurkan raga aslinya, namun entah bagaimana, jiwanya selamat dan ditarik masuk ke dalam wadah baru ini. Wadah seorang pemuda fana yang baru saja mati. "Sialan. Formasi itu melempar jiwaku ke tempat antah berantah. Aku harus menstabilkan sisa energi Prana di meridian ini sebelum organ dalamnya membusuk," batinnya cepat. Ia bangkit berdiri. Udara dingin membekukan kulitnya. Tinggi tubuh ini lumayan, bahunya cukup tegap, namun kondisinya sangat mengenaskan. Tanpa membuang waktu, ia memusatkan energi di kakinya. Dengan satu tolakan ringan, tubuhnya melesat ke atas, seringan kapas yang tertiup angin. Kakinya menjejak batang pohon, berayun dari satu dahan ke dahan lain, menembus lebatnya hutan Halimun di tengah badai. Suara gemuruh air memandu arahnya. Beberapa menit kemudian, ia tiba di tepi sungai yang arusnya sedang mengamuk. Air berwarna kecoklatan membawa ranting dan dahan patah. Tanpa ragu, pemuda itu melompat dari dahan pohon setinggi sepuluh meter. Byur…!! Tubuhnya menghantam air, namun ia tidak terbawa arus. Kedua kakinya menancap kuat di dasar sungai yang berbatu. Ia berdiri layaknya pilar baja di tengah derasnya air. Tangannya mulai menggosok kotoran, lumpur, dan darah yang mengering di kulitnya. Saat membersihkan diri, jari-jarinya meraba bagian dada dan perut pakaiannya. Ada beberapa lubang sobekan dengan tepi yang rapi. Ia menunduk, mengamati luka-luka itu. Luka tusuk. Dagingnya sudah mulai menyatu kembali berkat sisa energi spiritual yang ia bawa, namun rasa ngilunya masih terasa. "Pakaian ini penuh bekas tusukan mematikan. Pemilik asli tubuh ini mati dibunuh. Bukan kecelakaan," gumamnya, menarik kesimpulan dengan cepat. Ia melepaskan kemeja dan celananya yang sudah compang-camping. Dari saku celana yang basah, ia menemukan sebuah benda berbentuk kotak pipih terbuat dari kulit. Sebuah dompet. Ia membukanya, melihat beberapa kartu plastik dan lembaran kertas beraneka warna. "Benda aneh. Mungkin ini tanda pengenal di dunia ini. Akan kusimpan." Pikirannya terhubung ke ruang penyimpanan spiritual di dalam jiwanya. Ruang itu masih utuh. Dalam sekejap, dompet itu menghilang dari tangannya. Ia melempar sisa pakaian kotornya ke sungai, membiarkannya terbawa arus, lalu melompat naik ke tepian berbatu. Kondisinya masih terlalu lemah untuk terus bergerak. Ia berjalan mendekati sebuah pohon beringin raksasa dengan akar gantung yang lebat. Menggunakan sisa Prana di tubuhnya, ia menempelkan telapak tangan ke tanah. Elemen bumi merespons panggilannya. Tanah liat perlahan bergerak naik, memadat, dan melengkung membentuk sebuah gubuk kecil berbentuk setengah lingkaran yang melindunginya dari hujan dan angin. Ia melangkah masuk. Ruangan itu kering. Ia mengumpulkan beberapa ranting yang berserakan di sekitar pohon induk. Ranting-ranting basah itu ia tumpuk di tengah gubuk. Ia menjentikkan jari. Sebuah percikan api spiritual berwarna kemerahan meluncur dari ujung telunjuknya, menyentuh kayu basah. Dalam hitungan detik, kayu itu mengering dan terbakar terang, memancarkan hawa panas yang nyaman ke seluruh penjuru gubuk tanah. Pemuda itu duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menyerap energi murni dari alam untuk memulihkan tubuh barunya. Semalaman pemuda ini didik bersemedi memulihkan energinya dan memperbaiki sel-sel tubuh baru yang sudah mulai rusak tertimbun tanah selama tujuh hari. Dengan kemampuannya, sel-sel tubuh yang rusak perlahan mulai diremajakan dan kembali seperti sebelum membusuk. Pemulihan semenakjuban ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia di zaman modern seperti sekarang. Akan tetapi bagi jiwa yang memasuki tubuh rusak ini, bukanlah hal yang mustahil untuk meremajakan anggota tubuh yang rusak. Angin badai bertiup sangat kencang di hutan Halimun, petir tidak mau kalah terus menyambar-nyambar dari langit yang hitam, menerangi lebatnya hutan dan menerangi gubuk tanah dimana pemuda itu sedang duduk bersemedi memulihkan energinya. Derasnya hujan dan dinginnya udara di hutan Halimun tidak mampu menggoyahkan anak manusia yang sedang duduk bersemedi. Api terus membakar setumpuk ranting kecil didalam gubuk tanah, menghangatkan suhu udara didalamnya. Pemuda itu terlihat seperti patung dengan mata terpejam, nafasnya terdengar sangat halus dan panjang. Begitu fokusnya dalam bermeditasi , hingga melupakan angin badai yang masih berlangsung diluar gubuk tanahnya. lBab 44. FERRARI SF90 STRADALE Sang surya baru saja mengintip di ufuk timur, menerangi jagat raya dengan warna keemasan. Kicau burung bersahutan didahan pohon tinggi, mereka terlihat sangat gembira dengan cuaca cerah yang menyambut hari ini. Dewa sudah bangun dan terlihat sedang duduk di depan laptopnya, sepertinya dia kecanduan berinvestasi saham hingga melupakan kanuragannya. Tapi meskipun tidak berlatih kanuragan, kesaktian Dewa tetap tersimpan dan siap di gunakan ketika di butuhkan. “Ternyata hidup didunia fana sangat mudah menghasilkan uang, dengan uang kita besi memiliki apapun yang diinginkan. Ketika waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, Dewa segera memasukkan laptopnya kedalam tas. Hari ini dia berencana pergi ke Bank untuk membuat rekening baru yang khusus di gunakan untuk menyimpan hasil dari keuntungan saham. Meskipun sebenarnya bisa saja, dia menggunakan akun Bank lama milik pemilik tubuh ini. Akan tetapi Dewa merasa tidak nyaman
Bab 43. DADA YANG LEMBUT Apa yang dilakukan Dewa tanpa sepengetahuan keluarganya, bahkan dosen Abdul Somad juga tidak mengetahui, kalau apa yang diajarkan nya sudah dipraktekkan oleh mahasiswa pembuat onar ini. Saat ini Dewa sedang berada di kampus, seperti biasa untuk pelajaran yang tidak disukainya, dia akan tertidur. Sedangkan untuk pelajaran yang di sukai, dia sangat antusias mendengarkannya. Sebagai Pewaris dari keluarga konglomerat, Dewa tidak pernah kekurangan uang saku. Bahkan, meskipun tidak pernah meminta uang jajan, orang tuanya selalu rutin mengisi rekening Banknya satu milyar untuk uang jajan selama satu bulan. Di kelasnya, ada seorang mahasiswa putri yang mempunyai kecantikan sangat menawan. Mahasiswa ini bernama Rania Sutoro dari keluarga Sutoro yang berbisnis mobil mewah. Kecantikannya langsung terkenal di Universitas Nusantara, membuat banyak mahasiswa yang mengaguminya. Hanya saja Rania sangat cuek kepada para pria, sebenarnya hal itu s
Bab 42. BERMAIN SAHAM Dengan wajah memerah menahan rasa sakit dan amarah yang meluap, dosen Abdul Somad berniat untuk memberi hukuman kepada Dewa. Sebelum menuju Dewa, dia menanyakan nama mahasiswa yang begitu berani membuat onar dan melempar dirinya hingga menabrak pintu kelas. “Kalian coba sebutkan nama mahasiswa yang kurang ajar itu?” kata dosen Abdul Somad sambil membersihkan debu dan serpihan kayu di pakaiannya. “Dia Dewangkara Atmaja,” jawab salah satu mahasiswa yang membantu dosen Abdul Somad berdiri. “Apa? Dia Dewa yang suka membuat onar itu?” teriak dosen Abdul Somad tanpa sadar dan perasaan dingin tiba-tiba menjalar di tubuhnya. Para mahasiswa hanya bisa menganggukkan kepala sambil tersenyum masam, karena mereka juga sudah tahu apa yang akan dilakukan dosen paruh baya ini. Benar saja seperti dugaan mereka, dosen itu sepertinya tidak ingin memperpanjang masalah dan langsung menuju mejanya. Dan, seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada d
Bab 41. NASIB APES DOSEN ABDUL SOMAD Perlahan dosen Ayunina berjalan mendekat kearah kursi Dewa, sebagai dosen, dia merasa tidak dihormati oleh mahasiswa baru seperti Dewa. Padahal semua mahasiswa, baik pria maupun wanita jika bertemu dengannya pasti akan menyapa dengan ramah. Lebih-lebih para mahasiswa pria, mereka sangat antusias saat dosen Ayunina mengajar di kelas mereka. “Ehem…. ehem….” Begitu sampai di depan kursi Dewa, dosen Ayunina batuk ringan untuk membangunkan Dewa. Akan tetapi mahasiswa bandel ini, sepertinya terlalu nyenyak tidurnya, hingga tidak mendengar suara batuknya. Sementara itu mahasiswa yang lainnya tampak menahan nafas, mereka berpikir akan segera terjadi keributan. Sebenarnya Dewa, tidak benar-benar tertidur. Sebagai seorang pendekar tingkat tinggi, tentu saja kesadarannya sangatlah tinggi. Bahkan dia sudah tahu, saat dosen Ayunina masih berjalan di lorong kampus menuju kelas ini. “Dewa, kamu sebenarnya mau belajar atau mau












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan