Masuk“Di dunia yang hancur ini, kau bukan lagi manusia. Kau adalah Aset 01—rahim murni milik Sektor 7.” Aruna dididik untuk melayani lima pria elit demi mengembalikan peradaban yang telah runtuh. Dengan prosedur terlarang dan batas waktu 360 hari, rahimnya menjadi satu-satunya harapan Dewan untuk melahirkan generasi baru umat manusia. Namun di balik misi itu, lima pria berbahaya mulai terobsesi padanya. Satu rahim murni. Lima pria yang haus untuk mengklaimnya. Siapa yang akan berhasil menanam benih pertama di dalam tubuh Aruna?
Lihat lebih banyak"Direbut?" Zen memiringkan kepalanya. Jemarinya kembali mengetuk permukaan meja, seolah sedang menghitung kemungkinan yang baru saja diucapkan Aruna. "Iya." "Selama Jantung Dunia ada di tangan Dewan, mereka selalu punya kendali." Aruna berbicara tanpa ragu. Suaranya tetap tenang meski hanya terdengar melalui komunikator di tengah meja. "Kalau mesinnya pindah tangan, yang kehilangan kendali justru mereka." Zen perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis saat satu demi satu kemungkinan mulai tersusun di kepalanya. "Masuk akal." "Tapi aksesnya nggak bakal gampang." Cilian mengusap layar tabletnya. Denah fasilitas bawah tanah kembali memenuhi proyektor, dipenuhi garis-garis pengaman berwarna merah. "Fasilitas itu dibangun buat mencegah penyusup." "Bukan buat menyambut tamu." Malik mengembuskan napas pelan. Tatapannya mengikuti ja
"Semuanya udah datang?" Zen meletakkan proyektor kecil di atas meja. Cahaya redup memenuhi ruang bawah tanah mansion Dante saat layar perlahan menyala. "Kurang Aruna." Malik menutup pintu, lalu memastikan penguncinya benar-benar aktif sebelum ikut duduk. "Dia tetap ikut." Zen mengetuk komunikator di tengah meja. Lampu indikatornya berkedip beberapa kali sebelum sambungan berhasil terhubung. "Aku dengar." Suara Aruna terdengar pelan dari balik alat itu. Dengung statis sesekali memotong ucapannya. "Kondisimu?" "Masih hidup." Zen terkekeh kecil sambil menggeleng. Jawaban itu sudah cukup memberi tahu bahwa Aruna masih bisa berbicara tanpa pengawasan langsung. "Yaudah, kita mulai." "Aku nemu ini." Dante meletakkan sebuah buku tua di atas meja. Sampul kulitnya mulai retak, tetapi lambang keluarga Ashford masih terlihat jelas. "Arsip keluarga?" "Lebih tua." Dante membuka halaman pertama dengan hati-hati. Kertasnya menguning, sementara tinta hitam di beberapa bagian mulai memu
Zen memutar kursinya menghadap Cilian. Beberapa monitor di belakangnya masih dipenuhi deretan data yang terus bergerak. "Belum bisa dipastikan." Cilian menggulir halaman demi halaman dengan wajah serius. Sesekali ia berhenti cukup lama pada satu laporan sebelum kembali melanjutkan. "Jangan gantung." "Aku lagi nyusun polanya." Cilian memperbesar salah satu dokumen. Nomor arsip di pojok kanan atas membuat dahinya sedikit berkerut. "Lihat nomor ini." Zen mendekat. Nomor dokumen itu berurutan, tetapi file setelahnya langsung meloncat beberapa angka. "Ada yang hilang?" "Bukan satu." Cilian menggeser layar ke laporan lain. Pola yang sama kembali muncul. "Ada yang sengaja ngapus rantainya." "Berarti datanya masih ada." Zen kembali ke kursinya. Jemarinya mulai mengetik lebih cepat, mencoba melacak jejak file yang sudah dihapus dari server utama. "Kalau benar dimusnahkan, jejak digitalnya juga ikut hilang." "Tapi ini nggak." Cilian menunjuk sederet kode kecil di bagian bawah layar.
"Masuk ke server pusat itu sama aja bunuh diri." Zen memutar kursinya menghadap deretan monitor. Jemarinya menari di atas keyboard, sementara baris-baris kode terus memenuhi layar di depannya. "Untung aku nggak takut mati." Satu per satu firewall Dewan muncul di monitor. Zen menyusup melalui server logistik, lalu berpindah ke jaringan medis sebelum akhirnya mencapai pusat data Genesis. "Ketemu...." Sudut bibirnya terangkat tipis. Puluhan folder bermunculan di layar, tetapi hampir semuanya ditandai ikon gembok berwarna merah. "Masih dikunci?" Zen membuka salah satu arsip. Layar hanya menampilkan stempel DATA TELAH DIMUSNAHKAN. Ia berpindah ke folder lain, tetapi hasilnya tetap sama. "Seseorang sengaja nyapu bersih." Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard. Kali ini ia mencoba memaksa membuka server yang tingkat enkripsinya paling tinggi. "Biasanya kamu nggak selama ini." Suara itu keluar dari headset di telinganya. Zen tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya. "
"Suhu tubuhnya terus meningkat, Dante. Stimulan Valeska mempercepat reaksi kimia di rahimnya."Suara Cilian menggema di dalam kamar mewah milik Dante. Aruna terbaring lemah di atas ranjang sutra, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.Dante berdiri di dekat jendela, menata
"Berdiri, Aset 01! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan postur seperti binatang!"Suara Madam Valeska menggelegar, memecah kesunyian ruang latihan yang berdinding perak steril. Aruna tersentak. Seluruh tubuhnya terasa seperti terbakar dari dalam."Maaf, Madam," rintih Aruna, suaranya parau
"Berbaringlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni ketakutanmu."Suara sedingin es itu membuat Aruna langsung terduduk di ranjangnya. Suasana kamar yang semula sunyi mendadak terasa mencekam.Seorang pria dengan jubah putih kaku melangkah masuk tanpa mengetuk pintu logam kamarnya. Sarun
"Tanganmu terlalu lancang untuk ukuran seorang diplomat, Malik!"Suara berat dan serak itu memecah keheningan paviliun kaca. Langkah kaki yang kasar terdengar mendekat dari balik bayang-bayang pohon pakis raksasa.Aruna tersentak, langsung menarik dirinya menjauh dari jangkauan Malik. Jantungnya be






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan