INICIAR SESIÓNBumi mengalami kerusakan dahsyat. Mutasi virus dan kemajuan tekhnologi QI (quantum intellegence) semakin tak terkendali. Penambangan anti materi kian mempercepat kerusakan alam bersama dengan maraknya peperangan besar yang terjadi di tiap negara menjadi ancaman nyata kepunahan masal. Bencana yang berakibat kelaparan serta hilangnya seperempat populasi manusia. Berawal dari mutasi tiada henti virus Covid-19 hingga menjadi Virus Mix Max (Virus T), populasi dunia menyusut drastis setiap hari. Virus ini tidak hanya menular melalui udara dan sentuhan, tetapi juga bermutasi melalui disinfektan yang terkontaminasi, melumpuhkan perekonomian secara total, dan membuat seluruh tanah di bumi gersang tanpa tumbuhan. Umat manusia terpaksa mengenakan helmINX untuk bertahan hidup dari udara beracun. Mereka yang gagal, akan berakhir tewas di tangan MinerX, robot pemangsa sensitif panas tubuh dan suara, atau berubah menjadi Clenix, monster zombie hasil gagal uji genetika. Di dunia baru ini, insting bertahan hidup telah menghapus arti sebuah keluarga. Di tengah keputusasaan global, pemerintah awalnya menaruh harapan besar pada Rajendra (26 tahun), ilmuwan genius yang sebelumnya berhasil menciptakan serum penghambat varian Covid-20 hingga virus T01. Namun, kepercayaan itu dikhianati. Didorong ambisi gila untuk menguasai dunia, Rajendra mengurung kota dalam Dom Magnetik—sebuah barikade gelombang elektromagnetik tak tertembus misil maupun nuklir. Dia memutus komunikasi luar dan menguasai seluruh sumber daya alam secara tunggal sebagai diktator baru. Sisa-sisa manusia bertahan hidup di Kota Bawah Tanah berbentuk trapesium lebah yang anti-radar. Para pejuang yang tersisa terpecah menjadi beberapa wilayah. Klan Pusat (Aseptic Klan), dipimpin oleh Malik dan Tetua Raya. Klan Barat (Bakarat Klan), dipimpin oleh Abdi dan Timothy. Klan Selatan (Klan Metafora), dipimpin oleh Yusuf dan Zhafirah. Klan Utara (Pegas Klan) dipimpin oleh Jeky dan Risma. Klan Tengah (Fetch Klan) klan yang dipimpin oleh Tondy dan Rizal ini tidak terdeteksi oleh robot MinerX. Ketika tersiar kabar bahwa Rajendra menyiapkan bahtera robotic besar untuk menginvasi Kota Bawah Tanah.
Ver másDunia berakhir dengan desis panjang udara beracun yang meloloskan diri dari katup tabung respirator yang retak, diikuti oleh keheningan panjang yang mengutuk. Pekik panjang melolong, menembus dinding kebekuan. Tangisan tak terdengar lagi. Sunyi selalu bersahabat dalam tiap titian langkah menyambung kehidupan.
Era kegelapan di mulai. Sisa-sisa peradaban manusia merangkak masuk ke dalam kerak bumi, membangun sisa-sisa harapan. Selamat datang di zaman harapan, sebuah epos panjang di mana garis cakrawala tidak lagi menyajikan binar biru fajar atau keemasan senja. Kemarau tak bertepi menggugurkan semua helai daun yang rontok terus menerus. Gas beracun, deru mesin pembunuh terdengar nyaring di seluruh pelosok.
Di atas puing-puing reruntuhan yang rata dengan tanah, langit menggantung bagaikan lembaran tembaga yang membusuk. Kuning berkarat, pekat, dan pejal akibat akumulasi polusi senyawa kimia berat serta mutasi tanpa akhir dari Virus Max, atau yang di dalam gelapnya bunker lebih sering dibisikkan sebagai Virus T.
Semua mimpi buruk ini berakar dari abad-abad lampau, ketika virus purba, Covid-19 menolak untuk punah dan terus mengecoh rantai genetika sains manusia. Manusia bereksperimen berbekal intelektual tanpa batas. Hasilnya, hanya ruang kosong yang justru membuat virus berubah semakin ganas.
Saat populasi dunia menyusut hingga ke titik nadir dan keputusasaan global berada di puncak tertinggi, pemerintah dari berbagai belahan benua mengambil langkah paling fatal dalam sejarah. Menyerahkan kendali mutlak peradaban kepada para ilmuwan dan menyetujui seluruh proyek penyemprotan disinfektan kimia massal berbasis rekayasa genetika. Roda kendali berpindah tangan dalam seketika. Ilmuwan menjadi sang penentu masa depan.
Rencana awalnya adalah memurnikan atmosfer. Namun, sains tanpa kebijaksanaan melahirkan monster. Zat kimia itu justru mengikat diri pada struktur Virus T, bermutasi menjadi partikel yang jauh lebih agresif.
Virus T yang baru tidak lagi sekadar menular lewat droplet. Virus ini menguasai udara, merasap lewat sentuhan kulit, bahkan hidup di dalam cairan disinfektan yang harusnya membunuhnya.
Dalam hitungan bulan, perekonomian dunia lumpuh total. Semakin mengerikan dengan residu kimia yang meracuni lapisan hidrosfer dan memusnahkan seluruh mikroba penyubur di dalam tanah. Bumi berubah menjadi media gersang raksasa. Tanah menolak akar, menolak biji, dan menolak kehidupan vegetasi. Tanaman mati, dan bersama matinya pasokan oksigen secara menyeluruh. Ekosistem makanan manusia terputus.
Ketika permukaan bumi berubah menjadi neraka yang tidak bisa dihuni, seorang ilmuwan muda berusia 26 tahun bernama Rajendra dianggap sebagai penyelamat di neagaranya. Pemerintah menaruh kepercayaan menyeluruh padanya.
Awalnya dianggap hanya dianggap sebagai pahlawan super, karena berhasil menciptakan serum penghambat varian virus terdahulu. Tetapi ternyata, kekuasaan yang tak terbatas merusak otaknya. Dengan tingkat keberanian yang tidak dimiliki manusia lain, Rajendra merelakan dirinya menjadi objek uji coba penangkal virus T.
Darisanalah perubahan Ranjendra semakin menjadi ke arah yang mengancam populasi umat manusia. Rajendra berkhianat pada mandat pemerintah, Rajendra mengurung pusat kota di dalam Dom Magnetik. Hasil penemuan gelombang elektromagnetik raksasa yang kebal terhadap gempuran misil taktis maupun hulu ledak nuklir. Rajendra memutus seluruh jalur komunikasi luar, memonopoli sisa mata air bersih, dan memerintah selayaknya diktator tunggal.
Bagi mereka yang menolak bertekuk lutut menjadi budak laboratorium Rajendra, jalan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah merangkak turun ke perut bumi, mengubur peradaban lama, dan membangun koloni mikro yang kini dikenal sebagai Kota Bawah Tanah.
Kegelapan di bawah kerak bumi tidak pernah benar-benar hitam. Kekuatan harapan mengubah segala hal yang semula tidak ada, menjadi layak ditinggali. Manusia yang berhasil selamat.
Secara arsitektural, struktur ini adalah mahakarya keputusasaan. Berbentuk prisma trapesium berlantai jamak yang menyerupai potongan sarang lebah raksasa, kota bawah tanah ini dibangun menggunakan dinding ganda berlapis timbal tebal seberat ribuan ton.
Lapisan timbal ini bukan untuk menahan bom, melainkan untuk menciptakan anomali pemantulan gelombang. Ketebalannya membuat kota bawah tanah secara kebal dari pemindaian radar quantum menara T dan denyut sensorik dom magnetik yang merayap di atas permukaan. Tempat ini adalah titik buta terbesar di peta dunia Rajendra. Sebuah sekoci penyelamat di jantung bumi.
Terletak tepat di bawah EHV Transmission Tower. Sebuah bungker besar yang menghujam jauh hingga ratusan kilo meter kedalamannya. Arsitekturnya berkesan jauh dari kesan modern, meski demikian tetap presisi serta layak untuk dihuni. Disana hanya ada dua pintu utama. Pintu sirkulasi udara dan pintu keluar-masuk. Sirkulasi udara disana juga sudah sangat memadai.
Seluruh ruangan terisi oleh anggota keluarga yang berhasil selamat. Diantara tempat itu, terdapat ruang persenjataan.
Penghuninya dipenuhi oleh lelaki dewasa dengan penampilan army. Namun sama sekali jauh dari kesan militer, tanpa atribut militer, sebagaimana yang pernah tergambar di masa lalu.
Tidaklah berpakaian loreng, juga tidak memakai sepatu boots. Melainkan mengenakan pelindung badan yang menutup hampir keseluruhan badannya. Baju perang yang hanya menyisakan celah pada penglihatannya saja. Keseluruhan bahan dasar dari pelindung itu di dominasi kayu. Begitu pula dengan penutup kepala yang digunakannya. Jika dari luar, keseluruhan menggunakan berbahan dasar kayu yang kuat dan kokoh. Pelindung badan yang mampu menangkal zat kimia, serta peredam laser bertekhnologi mutakhir.
Hari itu terlihat pemandangan para pasukan yang sudah berantakan, pasca peperangan besar. Para prajurit perang masih tetap dalam status siaga, mengantisipasi serangan minnerX, banyak terdengar raungan suara kesakitan. Serta nampak petugas medis yang lalu lalang membawa obat- obatan.
Diantara beberapa ruangan yang terisi. Terdapat ruangan kecil, berukuran 4x6 meter persegi, lengkap dengan anyaman dedaunan kering sebagai tempat tidur sang pemilik ruangan. Di tempat itu duduk seorang lelaki gagah dengan gadis cilik yang terlihat sedang mengamati coretan pada dinding yang terbuat dari tanah liat yang mengeras.
"Itu gambar apa, Papah? Kenapa aku tidak pernah melihat sebelumnya!"
Berkata seorang gadis mungil yang nampak usianya menginjak enam tahun.
Dari jemarinya yang lentik, dia elus tiap goresan kapur putih yang melekat di dinding baja perak berwarna karat usang dengan berpadu padan bahan serat kayu alami.
"Ini adalah lautan, nah kalau ini adalah ikan lumba-lumba, nak. Dahulu negeri ini tidaklah seperti sekarang ini. Tempat tinggal kita berdekatan dengan lautan. Itu, disana kamu bisa menemukan bintang laut, kerang mutiara, dan bermain di atas pasir halus sehalus kapas." Ucap sang Papah dengan lembut.
Belum lagi selesai menguraikan tiap perkataannya, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang teramat keras. Spontan sang gadis memeluk erat tubuh papah.
Sirine panggilan siaga itu meraung- raung dengan lantang. Berulangkali tak berhenti sedikit pun.
Lelaki setengah baya itu mengusap dahi gadis ciliknya penuh sayang.
"Tidurlah Nak.. Papah harus menjalankan tugas. Kita aman berada disini."
Diciumnya kening gadis itu penuh cinta sambil bergegas menuju ke arah sumber suara sirene yang memanggil.
"Pah!" Sang papah perlahan hilang dari pandangannya. Membawa berjuta misteri lewat tatapan terahkirnya.
Gemuruh suara langkah pejuang kota bawah tanah memenuhi seisi ruang. Semua tampak menuju ke sebuah ruang. Ruang yang harus di lewati untuk sampai ke garis terdepan pintu keluar kota. Batas antara kematian dan harapan akan hari esok.
Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil
Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu
Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu
Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.