Share

Bab 44 Utusan Istana

last update publish date: 2025-01-28 17:42:49

“Meski begitu kau tetap harus menepati janji mu,” todong Ran Yi dengan wajah yang datar.

Ye Xuanqing pun hanya memutar bola matanya malas, setelahnya dia berbalik badan dan memanggil para penjaga di kantor Departemen Kehakiman untuk mengurus mayat Lui Yang. Sang Adipati juga membawa Ran Yi untuk dipindahkan ke Biro Penangkap Siluman untuk diadili sesuai dengan kejahatannya.

Tepat tengah malam barulah Ye Xuanqing tiba kediaman Keluarga Ye. Saat pria berhanfu hitam itu masuk, hanya para penjaga s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 118 JIKA KAU PERGI, AKU IKUT PERGI

    “Jangan tertidur!” Suara Jung Jinsi bergetar panik.Ia menahan tubuh Ye Xuanqing di pangkuannya, mencoba menyalurkan energi perak ke dalam tubuh pria itu.Namun setiap kali energi itu masuk ia langsung terpecah. Seolah tubuh Xuanqing sudah terlalu rusak untuk menampungnya.“Tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi...”Jari-jarinya semakin gemetar. Ia kembali mencoba menyalurkan energi yang lebih lembut, lebih perlahan.Tetap sama. Energi itu hancur bahkan sebelum mencapai inti spiritual Ye Xuanqing.“Kenapa?” Suara Jung Jinsi nyaris pecah. “Kenapa tubuhmu menolak energiku?”Tak jauh dari sana, Putri Daiyan menggigit bibir. Wajahnya ikut memucat melihat kondisi sang adipati.“Energi inti spiritual Ye Xuanqing... sudah retak.” gumamnya lirih. “Kalau terus dipaksa... bahkan tubuhnya sendiri bisa ikut hancur.”Fen Rou mengepalkan tangan. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Jung Jinsi, ia melihat siluman rubah itu benar-benar kehilangan arah.Perempuan yang selalu tersenyum percaya diri

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 117 CAHAYA YANG RETAK

    Ledakan energi biru meletup dari tubuh Ye Xuanqing. Energi dari pedang huoguang miliknya menjalar disekipanjang urat nadi tangan kanannya. Tanah paviliun retak lebih dalam, udara berderak dengan ketegangan yang tak terpecahkan. Semua bayangan yang menguasai tubuh manusia yang menjadi inang Hei Lian Hua seakan tertarik ke arahnya. Hei Lian Hua terdiam sesaat, tidak percaya pada apa yang dia saksikan sendiri. "Teknik ini... kau mempertaruhkan jiwamu sendiri demi mereka?" tanyanya, suaranya me najdi lebih dingin sekaligus heran. Jung Jinsi langsung membeku ditempatnya, sembilan ekor rubah miliknya bergerak-gerak gelisah dibelakang tubuhnya. "Xunqing, hentikan! itu teknik pemanggil inti jiwa, kau bisa mati!" serunya, yang berusaha keras menghentikan aksi nekad sang adipati. Namun pria itu tidak menoleh, dia seolah tuli akan peringatan Jung Jinsi. "Setidaknya harus ada yang keluar dari paviliun ini dengan hidup-hidup." Ye Xuanqing menoleh pada Jung Jinsi, kemudian beralih pada rekan

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 116 Jebakan Seribu Jiwa

    Darah hijau itu belum juga berhenti mengalir. Namun yang membuat semua orang terdiam adalah tawa kecil yang kembali terdengar. “Haha… kau benar-benar berpikir ini sudah berakhir, Ye Xuanqing?” Pertanyaan itu muncul entah dari mana, suaranya jelas bukan milik Putra Mahkota. Suara itu lebih berat, lebih tegas dan memiliki dendam pekat disetiap nadanya. Tubuh Putra Mahkota tiba-tiba bergetar hebat di dalam pelukan Putri Daiyan. Urat-urat hitam yang tadi sempat menghilang, kini muncul kembali dan kali ini lebih pekat, lebih liar. Mata Jung Jinsi membelalak melihatnya. Siluman rubah ekor sembilan itu menggeleng tidak percaya. “Tidak… ini tidak mungkin. Aku sudah mengikat inti rohnya!” Dari dada Putra Mahkota yang tertusuk, perlahan keluar kabut hitam pekat, menggumpal di udara… membentuk sosok samar dengan mata hijau menyala. Hei Lian Hua. Namun kali ini, bentuknya tidak stabil ia retak, berasap, seperti akan hancur… tapi justru memancarkan tekanan yang lebih mengerikan

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 115 Inang Siluman

    Aura pekat itu akhirnya lenyap, menyisakan udara dingin yang berembus lembut di sekitar paviliun Selatan. Para pelayan dan penjaga yang sebelumnya terseok-seok karena tekanan aura, perlahan bisa bernapas lega kembali. Ye Xuanqing maju selangkah, menatap Jung Jinsi dengan sorot mata penuh kekhawatiran. “Jinsi… kau baik-baik saja?” Perempuan rubah berekor sembilan itu hanya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Xuanqing. Aura itu terlalu lemah dibandingkan cahaya milikku. Tapi…” ia melirik ke arah paviliun Selatan yang kini sunyi dan pekat.“Hei Lian Hua tidak akan memasang jebakan ini tanpa tujuan. Dia pasti menunggu kita masuk.” Putri Daiyan yang sejak tadi masih berusaha menenangkan napasnya, menatap keduanya dengan wajah pucat. “Kalau begitu… berarti di dalam paviliun ini, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya?” Fen Rou menggertakkan giginya, matanya tajam penuh kewaspadaan. “Bisa jadi. Hei Lian Hua tak pernah bergerak tanpa rencana. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk mengg

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 114 Bahaya Paviliun Selatan

    “Tidak mungkin Jinsi, kita harus selesaikan masalah dengan Lu Sangyun juga. Kita tak bisa pergi ke istana sekarang.” Jing Qian jelas menolak. “Tapi kak—” “Dengar Jinsi, istana memang tengah dikepung bahaya. Tapi kau juga jangan lupa bahwa Hei Lian Hua dan Lu Sangyun ada di luar istana. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya ketimbang ibu suri yang diasingkan di istana itu,” jelas Jing Qian lagi. Perempuan siluman rubah ekor tujuh itu mendekat pada Jung Jinsi, mengusap pelan pundaknya dan menatap tenang wajah adiknya. “Begini saja, kau pergilah ke istana sekarang. Lalu aku akan pergi ke biro penangkap siluman untuk menemui Lu Sangyun.” Jing Qian akhirnya mengalah dan memberi jalan tengah terbaik. Untuk saat ini hal ini lah yang paling efektif. “Apa kakak yakin?” tanya Jung Jinsi yang jelas sangat khawatir. Jing Qian malah tertawa kecil mendengarnya, dia malah mencubit pelan ujung hidung Jung Jinsi dengan gemas. “Kau ini, apa kau lupa kalau aku siluman rubah ekor tujuh? aku cu

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 113 Menyelamatkan Darah Kaisar

    Ye Xuanqing berjalan merapatkan diri ke sisi tembok ruang bawah tanah begitu mendengar suara kaki mendekat ke arahnya. Sementara Fen Rou bersembunyi dibelakang tumpukan kayu bakar di ruangan itu sambil berjongkok dan mata yang awas.Melalui pandangan saja keduanya saling berkomunikasi, menunggu siapa yang muncul di ruang bawah tanah selain mereka.“Penjaga tidak mungkin turun ke mari sebelum aku keluar, aku sudah memerintahkan mereka untuk tetap berjaga di pintu masuk.” Ye Xuanqing membatin, menerka siapa yang sekiranya akan muncul dihadapannya.Obor di sisi kanan dan kiri pintu masuk ruang bawah tanah bergoyang pelan tertiup angin yang masuk. Fen Rou menyipitkan matanya, tangannya sudah menggengam erat Tombak Qiankun disisi tubuhnya. “Kalian juga mencari petunjuk segel darah disini rupanya.”Suara perempuan terdengar begitu jelas dari pintu masuk, kening Ye Xuanqing berkerut dalam. Sosok yang baru saja masuk masih belum terlihat wujudnya dan sang adipati masih menerka-nerka siapa so

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 31 Godaan Besar

    Ye xuanqing masih saja bersikap tenang, dia tidak mungkin mengungkapkan identitasnya sebagai pemburu siluman, dan jung jinsi tidak boleh mengetahui itu hingga akhir. Dia memasang formasi pelindung di kamar sang ayah, juga formasi penangkap siluman yang sudah dia pasang lebih dulu.“Jangan sampai ju

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 23 Rahasia Jung Jinsi

    Jung Jinsi tidak tahan, semakin lama tubuhnya terasa sangat panas seperti terbakar. Nafasnya juga sudah naik-turun, dengan keringat keringat sebesar biji jagung terus keluar dari tubuhnya. Karena merasa semakin tidak nyaman berada di paviliun, Jung Jinsi memilih untuk masuk ke kamarnya.“Nyonya mud

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 12 Dendam Hewan Dewa Legendaris

    Hujan deras dan angin kencang terjadi selama semalam suntuk. Ye Xuanqing yang memang menunggu kedatangan mayat pun sudah memiliki firasat yang buruk. "Adipati, mayat tadi sudah dipindahkan ke ruang pemeriksaan. Beberapa koroner juga sudah siap membantu anda melakukan penyelidikan." Salah satu an

  • Redemption: Karma & Rasa Sang Pemburu Siluman    Bab 11 Kasus Pembunuhan Kota Shinjing

    "Lancang sekali bicara mu Fen Rou!" tegas Ming Tian yang sudah benar-benar tidak tahan. Dia juga sudah menarik pedang dari sarungnya, bersiap untuk menyerang rekannya sendiri malam ini. Fen Rou yang melihat itu pun tersentak, sejak dulu Ming Tian tidak pernah mengarahkan pedang ke arahnya. "Ming

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status