LOGINIn a world where magic is a distant memory, where humans have the ability to harness a dormant power within them called Battle Force... A man from modern Earth suddenly awakens in the body of Norton Lorist, a young man of noble ancestry who has been exiled from his northern homeland by his family to Morante City, the capital of the Forde syndicate, under the guise of furthering his education. Little did he know what was in store for him when, years later, he received a summons from his family to return to the northern lands and inherit the position of head of the family... This is the story of his life before the summons... This is the story of his journey north and the allies he gathers along the way... This is the story of his rebuilding of his family's dominance and his protection against other power-hungry nobles... These are the "Tales of the Reincarnated Lord".
View More"Ayah yakin! aku harus pindah dari sini aku saja tidak yakin Ayah kalau aku pindah dari sini aku bisa beradaptasi dengan lingkungan aku yang baru!" seru Luna dengan menatap wajah Ayahnya yang berdiri di hadapannya.
"Luna! kamu harus mengikuti semua apa perkataan Ayah! ini semua Ayah lakukan hanya untuk kebahagiaan kamu," ujar Ayah Luna kepada dirinya.
"Ayah tahu kan aku susah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru! memangnya Ayah mau melihat aku sengsara dengan kehidupanku yang baru!" seru Luna kepada Ayahnya.
Luna terlihat sangat tidak ingin mengubah hidupnya dengan cara berpindah di lingkungan yang baru.
"Tidak ada pilihan lain, kamu harus tetap pindah dari sini, kamu kan tahu sendiri bagaimana usaha Ayah di sini, sangatlah menurun jadi kita satu keluarga akan pindah," ucap Ayah dari Luna sembari menatap mata anak gadisnya.
"Tapi ini tidak adil bagiku Ayah! aku tidak bisa begitu saja pindah dari
sini!" tegas Luna.Luna ingin Ayahnya itu memutar otak untuk tetap tinggal di daerahnya itu.
"Apakah kamu tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayahmu?" tanya
Bunda Merlin dengan menatap wajah Luna."Bunda bagaimanapun alasannya, aku tidak bisa di paksa seperti ini aku tidak ingin aku pindah dari tempat ini! tolong mengerti Bunda!" tegas Luna dengan nada yang sangat keras tidak ingin dibantah
Bunda Merlin pun terdiam ketika mendengarkan perkataan dari putrinya itu dia sangat menyayangi putrinya dan tidak ingin putrinya itu bersedih."Apa maksud kamu membantah apa yang dikatakan oleh orang tua kamu, aku didik untuk menurut kepada aku, tapi kenapa sekarang kamu membantah seperti ini!" tegas Ayah Luna yang kecewa kepada Luna.
"Aku bukannya membantah apa yang dikatakan oleh Ayah, tapi aku juga berhak untuk memilih sesuatu yang aku inginkan dan aku bisa menolak apa yang tidak aku inginkan, iya kan Ayah!" seru Luna kepada Ayahnya yang sedang berdiri di hadapannya.
Luna selalu saja meminta dan selalu saja memohon kepada Ayahnya untuk tidak memindahkan dirinya dari tempat tinggal aslinya.
"Tolong mengerti dan tolong kamu pikirkan dengan baik, aku ini Ayah kamu aku kepala rumah tangga di sini! kamu tidak tahu bagaimana kehidupan kita, ekonomi kita! tolong kamu mengerti keadaan Ayah kita harus pindah dari sini!" ujar Ayah Luna dengan sedikit tegas kepada anaknya itu.
Luna terdiam memandangi wajah ayahnya yang selalu saja menyuruhnya untuk bersiap untuk pindah
dari wilayahnya itu."Kenapa aku harus dipaksa seperti ini Ayah!" tegas Luna dengan menggunakan nada yang keras kepada Ayahnya itu.
"Sudahlah kamu jangan membentak Ayah begitu! semuanya Ayah lakukan hanya untuk masa depan kamu!" seru Ayah Luna dengan memandangi wajah putrinya itu.
Luna sangat sedih ketika mendengarkan perkataan Ayahnya, yang selalu saja ingin dimengerti Luna tidak tahu mengapa Ayahnya berani untuk membentak dirinya karena sebelumnya Ayahnya adalah seseorang yang lembut kepada Luna dan juga tidak pernah memarahi Luna sedikitpun.
Luna pun menangis dan berlari Pergi ke kamarnya untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.
Pada waktu yang bersamaan Bunda Merlin berbicara kepada Ayah Rian, untuk membahas Luna yang sedang menangis di dalam kamar.
"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu dan membentak Luna seperti itu!" tegas Bunda Merlin
suaminya itu."Aku bukan bermaksud untuk menyakiti hatinya tapi harusnya dia mengerti dengan keadaan kita sekarang! aku memang belum bisa menceritakan apa yang terjadi kepada usahaku dan ekonomi kita, kamu pasti tahu kan, bagaimana sekarang," ucap Ayah dari Luna untuk Bunda Merlin.
Bunda Merlin yang mengetahui semua apa yang dirasakan oleh Ayah Rian pun selalu saja menyemangati Ayah Rian untuk selalu saja bersikap lembut kepada anak gadisnya itu.
"Aku tahu perekonomian kita sedang tidak bagus, tapi alangkah baiknya kamu tidak berbicara seperti itu kepada anak kita!" seru Bunda Merlin kepada Ayah
Rian.Ayah pun terlihat sangat sedih ketika mendengarkan perkataan dari istrinya itu! dia merasa sangat bersalah kepada anaknya karena dia telah membentak dan juga kasar kepada anak gadisnya itu.
"Aku tidak tahu kenapa pikiranku sangat kacau ketika Luna selalu saja membantah apa yang aku katakan kamu tahu sendiri kan? bagaimana aku tidak bisa dibentak apalagi oleh anak aku sendiri!" tegas Ayah Rian
kepada Bunda Merlin.Ayah selalu saja memberikan pengertian kepada Bunda Merlin karena dia tidak ingin Bunda Merlin ikut berpikiran negatif kepada Ayah Rian.
"Sudahlah kamu tidak perlu membantah apa yang aku katakan sekarang kamu berusaha untuk sabar menghadapi anak gadis kamu itu! kamu tahu sendiri kan dia adalah orang yang sangat pemarah jika dia sampai dipaksa seperti itu!" tegas Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Ayah dari Luna.
Setelah Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Ayah dari Luna Ibu Merlin pun bergegas untuk pergi ke kamar untuk melihat anak gadisnya yang sedang berlinang air mata.
"Kamu ada apa sih? sudahlah jangan dipikirkan apa yang dikatakan oleh Ayahmu itu adalah untuk kebaikan kamu sendiri, mungkin Ayah dan Bunda belum bisa memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi tapi Ayah dan Bunda ingin kamu mengerti dan bisa memahami dengan keadaan ini!" tegas Bunda Merlin kepada anaknya yang sedang berlinang air mata di hadapannya.
"Tapi aku tidak bisa untuk melakukan semua ini Bunda, aku masih bisa kok bertahan di sini!" seru Luna dengan nafas yang tersendat-sendat.
Begitu banyak air mata yang dia keluarkan karena kekecewaannya kepada Ayahnya.
"Tidak ada bantahan soal ini kamu harus bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Ayah kamu itu adalah hal yang baik!" tegas Bunda yang menyela pembicaraan Putrinya itu.
Bunda Merlin memandangi wajah anak gadisnya itu Bunda pun mengusap rambut dan selalu memberikan semangat kepada Luna."Bunda aku bukan bermaksud untuk membentak Ayah tadi, tapi aku hanya kecewa dengan perlakuan Ayah kepadaku yang memaksakan aku untuk pergi dan pindah!" tegas Luna dengan memandangi wajah Bundanya itu.
"Dia selalu ingin dimengerti karena dia tidak menyukai hal yang dipaksakan oleh Ayahnya, coba kamu dengarkan apa yang dikatakan Bunda ya, kamu tidak boleh membantah apa yang dikatakan oleh Ayah kamu!" tegas Bunda yang selalu memberikan pengertian kepada anak gadisnya itu.
Semakin Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Luna semakin deras juga linangan air mata yang keluar dari mata anak gadisnya itu."Sudahlah kamu juga kan sudah Cukup dewasa kamu tidak perlu menangis seperti ini! Bunda mendidik kamu tuh untuk menjadi seorang wanita yang kuat tidak cengeng seperti ini!" tegas Bunda Merlin dengan wajah yang sangat tegas, memberikan pengertian kepada anak gadisnya itu.
"Bunda tahu tidak sih apa yang aku rasakan kenapa seperti aku di sini yang di pojokan, tapi aku tidak pernah diberikan perhatian sedikitpun harusnya ada yang membela aku tapi semuanya membela Ayah!" seru Luna yang ingin diperhatikan oleh Ayah dan juga Bundanya.
"Kamu sudah cukup besar dan kamu juga sudah cukup dewasa kamu tidak melihat kamu mempunyai adik yang masih berumur 15 tahun, dia tidak pernah seputud asa ini!" tegas Bunda Merlin yang membandingkan Luna dengan Lina adik kandung dari Luna.
"Kok semakin ke sini bunda malah membandingkan aku dengan Lina maksud Bunda apa sih! aku salah apa Bunda!" tegas Luna dengan menatap wajah Bundanya itu dan juga semakin deras buliran air mata yang dikeluarkan oleh Luna.
bersambung
I can't progress forward with this way, thought Lorist as he chose to utilize an exceptionally inconvenient strategy to escape his preparation appendage: preparing in another mid-positioned Battle Force procedure of a similar characteristic up to the Silver position for a brief time and return to the Blazing Battle Force once he acquires the remainder of the method.This technique for preparing was not extraordinary, however it truly stretched the cultivator's determination and fixation to the edge. Regardless of whether certain Battle Force strategies had similar characteristics, there were fine contrasts between the hubs used to shape the hexagram dissemination way in the body. That was particularly the situation with the minor hubs associated with the dissemination. On the off chance that any unnatural changes happen, for example, the arrangement of inadvertent associations between specific dissemination hubs, it would cause significantly more inconveniences. The cultivato
On the 6th year of his new life when his present body was 20 years of age, Lorist found something disturbing.Lorist had fared pretty well for the beyond couple of years and had proactively developed from being a low-positioned task running Bronze soldier of fortune into an Iron positioned hired fighter veteran.Lorist was additionally very notable in the Dawn Academy, considering that he applied for one more three callings in the wake of finishing his supernatural monster studies and herbalism courses, among which included antiquarianism, ruin investigation as well as language studies. Having been among the positions of the soldiers of fortune for a long while, he came to comprehend that the legends encompassing the otherworldly human advancement was not without premise and was consistent with a specific degree.In one of his journeys with his amigos a year prior to, Lorist visited an all around unearthed little ruin that was supposed to be a pinnacle that used
During the two months he lay in bed recuperating from his wounds, Lorist invested all his energy to accumulate data about Grindia's set of experiences, topography, cultural stories as well as movement diaries to acquire an unpleasant comprehension about this new world he thought of himself as in.To Lorist, this world appeared to be very like Medieval Europe from the beginning, considering that it had stuff like titles and knights. In his previous existence, he had additionally manufactured various knight protective layer reproductions and sold them at a significant expense on the web.Individuals here extraordinarily looked like white caucasian Europeans, however as indicated by his perceptions, the way of life in this world was definitely further developed than that individuals of the Middle Ages in his past world. Be that as it may, the food culture appeared to be very crude here. He was served cereal, dark bread and pureed potatoes with salt consistently and 'endur
To Lorist, that hypothesis with respect to Battle Force arousing couldn't be all the more off-base and he held the assessment that examination endeavors into Battle Force arousing was going down some unacceptable way. It was very much like one of the Confucian colloquialisms in his previous existence: all that gets going unadulterated and immaculate until it is corrupted by the impulses and plans of people with significant influence. The sycophantic[1] Grindian history specialists were to some degree like that. For acquiring favor with the aristocrats, they were ready to think of counter-intuitive speculations in regards to the connection between Battle Force arousing and respectable family bloodlines to legitimize the need for the lifted up, transcending presences of the honorable families.That thought process was disconnected also. On the off chance that the set of experiences on the starting points of Battle Force was valid, that would imply that the Sword Gods and Saints
Toward the finish of the avenue was a jam-packed square. Lorist couldn't resist the opportunity to ask why the square would be so packed during such a critical point in time. What was happening there?When Lorist showed up at the square, the sound of prattle rose perceptibly."Educa
Lorist rested sufficiently the entire night until he was awoken during early afternoon the following day by the commotions in the fundamental corridor. Apathetically lying by the bedside, he stood by some time until the corridor had calmed down before leisurely hauling himself up.A bunch
Red Grace Inn (2)Brennan Charlando gave offed no feeling that he was the proprietor of the motel. Disregarding the interminable prattle of the head serving young lady, Louise, he took a couple of monster skin materials, stooped on the floor and scavenged around the rattan box, the monster
Red Grace Inn (1)Two enormous packs were thrown on every one of Norton Lorist's shoulders, with another huge shoulder-width backpack dangling from his sack. His left arm held a yellowish-green rattan box while his right was folded over a lot of moved up monster skins which were laying on












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.