LOGINAfter nearly losing her sanity at the hands of her first love, Alexandra vowed to never fall in love again. Four years had passed since the horrible incident, and yet those memories haunted her like a vengeful ghost. Following her grandfather's death, Alexandra is forced to come back and take revenge on the people who destroyed her in the past. Her grandfather's will bound her to a man she did not love, but he loves her so much he would grant her all her unfulfilled dreams. He determined to love her and cherish her properly this time. Will Alexandra give herself a second chance to fall in love? Or will she continue to dwell in her dark past? __________________________ (The following book contains mature content and talks about mental illnesses. This book is recommended for 18+. Contains Violence, SA, rape)
View More“Aku tidak mencintaimu. Kau memahaminya sejak awal pernikahan, bukan begitu?”
Lillian menggigit bibir bawahnya, lalu mengalihkan pandangan saat mendengar suaminya mengatakan hal tersebut. Sekalipun ia sudah tahu sejak lama bahwa pria itu membencinya, tapi mendengar Jayde Foster mengatakan hal itu kembali tetap saja membuat Lillian sakit hati.
“Maaf,” gumam Lillian, sendirinya bingung karena apa ia mengatakan itu.
“Kenapa kau meminta maaf padaku, Sayang?” Jayde bertanya balik. Berbanding terbalik dengan panggilan tersebut, tatapan dan suara Jayde terdengar dingin. Pria itu mendekati Lillian dan memojokkan wanita itu ke dinding. “Karena menjebakku dalam pernikahan ini? Atau karena kau berusaha menghalangi aku untuk bertemu wanita yang kucintai?”
Lillian menggeleng. Tidak bisa berkata-kata.
Sudah dua tahun Lillian menikah dengan Jayde Foster, cinta pertamanya, sekaligus pria yang dijodohkan dengannya sejak kecil. Lillian mencintai pria itu sepenuh hati, bahkan ketika pria itu bersikap dingin padanya dan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada Lillian. Ia berpikir, setelah menikah, Jayde akan berubah.
Namun, ternyata tidak.
Pria itu justru menuduh Lillian licik, memanfaatkan posisinya untuk menikah dengan Jayde, padahal suaminya tersebut mencintai wanita lain. Bahkan hingga detik ini.
Awalnya, Lillian berpikir bahwa ia bisa membuat Jayde membalas perasaannya. Mungkin Jayde akan berubah kembali menjadi sosok yang membuat Lillian jatuh cinta.
Akan tetapi, setelah dua tahun, ternyata pernikahan ini melelahkan.
“Lillian. Sayang.” Jayde memerangkap Lillian dengan dua tangannya. Pria itu memaksa Lillian balas menatapnya dengan mencengkeram rahang sang istri.
Lalu, tiba-tiba, Jayde mencium Lillian dengan paksa, membuat wanita itu kehabisan napas tanpa membalas lumatan sang suami. Lillian justru mencoba mendorong pria itu untuk melepaskannya, tapi tenaganya tidak berarti apa-apa di hadapan Jayde.
“Kau memang istriku.” Jayde berkata saat akhirnya ia melepaskan Lillian yang sudah meluruh di lantai. “Tubuh ini milikmu. Aku tetap akan menjalankan kewajibanku, Istriku. Tapi cukup sampai di sana. Kau tidak bisa memaksaku mencintaimu.”
“Aku mengerti,” gumam Lillian lirih. Sudut mata Lillian mulai basah, tapi dengan sekuat tenaga menahannya untuk tidak meleleh, setidaknya sampai Jayde berbalik pergi. “Maaf.”
Jayde mendengus, lalu pergi dari sana.
Sepeninggal Jayde, Lillian perlahan bangkit berdiri dan melihat bayangannya di cermin. Rambutnya tampak acak-acakan dan lipstick di bibirnya sudah berantakan, seperti ia habis bercinta hebat.
Namun, Lillian tahu. Jayde pun tahu. Bukan itu yang terjadi. Bukan itu yang ia inginkan.
Dengan pemikiran itu, tangis Lillian pecah.
***
“Apa yang sedang kau pikirkan, Lilly?”
Perhatian Lillian teralihkan saat telinganya menangkap suara berat dari sisinya, membuat wanita itu menoleh dari pemandangan di luar mobil yang sejak tadi ia lihat sepanjang perjalanan pulang.
Noam Turner, sahabat sekaligus rekan kerjanya, tampak tengah menatapnya sekilas, sebelum kembali menjalankan mobil. Lillian bisa melihat sorot mata khawatir dari pria itu.
“Tidak ada,” jawab Lillian. “Aku hanya sedang lelah.”
Bohong.
Lillian sedang memikirkan kejadian siang tadi bersama dengan suaminya di ruangan kantor, begitu juga dengan semua hal yang telah mereka lalui selama berjalannya pernikahan. Mengingat itu semua menimbulkan perasaan sesak di dadanya.
Sebenarnya, Jayde dulu tidak seperti itu. Ia sendiri heran bagaimana pria yang dulu ia kenal bisa berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan, suami yang membencinya dan menyiksa Lillian di setiap kesempatan. Ingatan mengenai betapa mereka pernah dekat dan akrab lebih kuat dibandingkan perbuatan buruk Jayde.
Sehingga, sekalipun Lillian merasa ingin menyerah beberapa kali, ia tetap menguatkan diri. Ia percaya bahwa ia akan bisa meluluhkan sikap dingin Jayde.
“Apa kau mau tidur dulu?” tawar Noam kemudian. “Akan kubangunkan saat sudah sampai rumahmu.”
“Tidak.” Lillian menolak. Ia menegakkan tubuhnya. “Maaf. Kau sudah bersedia mengantarku pulang, tapi aku justru mengabaikanmu.”
Noam menghela napas. Pria melirik sekilas dari sudut matanya. “Aku tidak keberatan,” ucapnya.
Hening sejenak.
“Tadi aku lihat Jayde keluar dari ruanganmu.” Noam kembali berkata. “Semua baik-baik saja?”
Senyum tipis terukir di wajah Lillian. Kadang, ia mengagumi bagaimana sang sahabat selalu peka dan memperhatikannya. Noam juga satu-satunya orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.
“Aku sendiri baik-baik saja, Noam.” Lillian menoleh, menunjukkan senyumnya yang jelas terlihat dipaksakan, tidak sampai ke matanya. “Jangan khawatir.”
Lillian tahu bahwa Noam tidak akan memercayainya begitu saja. Terlihat dari helaan napas pria itu.
“Lilly, jangan terlalu memaksakan diri. Ada hal yang memang tidak bisa diubah,” ucap Noam kemudian. “Kau berhak bahagia. Kau tahu itu, kan?”
Berhak bahagia? Namun bagaimana jika ternyata sumber kebahagiaan Lillian masih berada pada Jayde?
“Ya, Noam,” gumam Lillian. “Tapi aku belum mau menyerah. Kau tahu aku mencintai Jayde. Dia–”
“Aku tahu,” potong Noam. Kali ini tampak gusar. “Dia cinta pertamamu. Kau sudah mengatakan itu padaku ribuan kali.”
Hening. Lillian tidak menyahuti ucapan Noam.
“Kau tahu aku akan selalu di sampingmu.” Noam kemudian menambahkan. Kali ini dengan suara lebih lembut. “Apa pun yang kau lakukan. Namun, aku tidak suka melihat pria itu menyakitimu terus-menerus.”
Mobil masuk ke dalam wilayah perumahan milik Lillian. Noam menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Lillian sebelum tubuhnya menghadap wanita itu.
“Aku serius. Pikirkan baik-baik.” ucap Noam. Tatapan matanya tajam, menusuk ke dalam fokus Lillian. “Kau berhak bahagia. Dengan atau tanpa suamimu itu.”
Kali ini, Lillian sama sekali tidak mengenali sahabatnya. Apakah memang Noam setegas ini?
Namun, ia tidak sempat memikirkannya lebih lanjut karena ia melihat mobil Jayde ada di halaman.
Jayde ada di rumah? Sedikit aneh karena biasanya jam segini pria itu pasti akan sibuk di luar dengan sejuta alasan dan baru akan pulang saat Lillian sudah terlelap.
“Terima kasih, Noam. Aku akan masuk dulu,” ucap Lillian pada akhirnya. “Terima kasih telah mengantarku.”
Setelah Noam pergi, Lillian bergegas masuk ke rumahnya.
“Jay?” sapa Lillian setelah menutup pintu.
Tidak ada sahutan. Suasana masih hening, bahkan lampu tidak ada yang dinyalakan. Sampai Lillian mendengar desahan pelan yang tertahan. Dadanya berdesir, pikirannya sontak menuduh, terlebih ketika melihat hanya lampu di kamarnya saja yang menyala redup.
Lillian mendekat ke arah kamar. Satu situasi yang seharusnya tidak terjadi di rumahnya sendiri. Desahan kembali terdengar, kali ini beriringan dengan rintihan dan racauan kasar yang membuat lutut Lillian melemas.
Dengan menahan tangannya yang mulai gemetar, Lillian memberanikan diri untuk mendorong pintu kamar yang tak menutup sempurna. Sontak, kedua matanya membelalak lebar, dengan sebelah tangan yang membekap mulutnya sendiri.
Di dalam sana, Jayde sedang bercinta dengan seorang wanita!
One could hear in the bleak eerie hallways of the asylum the clattering of chains, as a man dragged it through the metallic floor. His black-and-white striped prisoner’s clothing had bloodstains on it. His pace was slow and wobbly because of the heavy chains attached to his legs and hands and bound skin rotting off along the rusting metal.“Sir, we brought him,” the guard said and looked keenly at the captive. He ducked his head, his lips drawn into a straight line, his eyes covered with his overgrown bangs so they could only see only the white portion of his eyes through it.“Good, bring him in.”The guard pushed open the interrogation room. A person inside could not see or listen to what was outside. The captive was silent the whole time, his eyes still down, looking at the guard’s legs as he followed and another guard closely stalking behind. In the middle of the dim room, there was a light bulb just above the wooden table, the only source of light in that entire room, with two cha
Their dilemma wasn’t over just yet. They had to gain the approval of one more person before their wedding ceremony, and that was Jonathan’s mother, Josephine.Alexandra insisted on building a better relationship with her upset mother-in-law. If Jonathan could impress her fearsome and bull-headed father, then she could coax Jonathan’s mother into accepting them too.Before their wedding takes place, she wanted everyone’s blessings. Including Josaphine’s and she would not shy away from appeasing Josaphine to gain her goodwill.***The place was the classic American home. A porch, a long veranda, high rooftops, and a yard that was big as a children’s park. It seemed like Josephine liked to keep the place uncomplicated and clean.Jonathan’s mother, according to his words, was the finest cook in the world. A woman who liked to do her own chores and leave them to the housekeeper. Who dressed simply, loved handling household affairs, and went to church religiously every single Sunday and pra
The soft silk sheets rustled as Alexandra stretched her arm to cuddle her husband. Her core was still sore from the slow-burning, passionate sex they had all night long. Letting out a groan, she buried her face into his neck which was specked with dark stubble. Oh, how she loved his beard. The rough texture was so satisfying to caress, and the feel of a stubbled cheek grazing her between her thighs was simply titillating.As she draped her long leg around his waist, a sharp, needle-like pain shot in her womb.She lifted the duvet and to her panic; she saw two blots of bloodstains on the sheets, mocking her. Her breath shriveled up in her throat and a malaise emerged in her womb.Swinging her legs to the floor, she rushed to the bathroom and removed her panties, and inserted her finger inside her, coating them with warm blood.“You will never be a mother.” The devil hissed, drawing out its forked tongue. “You will never get back what you’ve lost.”Her hand flew to her mouth to prevent
Sunrays poured through the tall windows of the church’s bridal suite, giving the white room a golden touch. The ladies were all busy tending to the bride’s wedding dress.Evangeline could barely breathe withch her bosom caged in the tight corset. “I will die.” She wheezed, holding on to the vanity table.“Oh, you won’t! I will see to it.” Catherine said, determined to make the dress fit. It seemed perfect when they tried it out in the bridal boutique.“I will become the first person to die for fashion.” Evan joked.Alexandra laughed, listening to this as she flipped a glossy page of a fashion magazine. She closed it and approached Evan to see what was going on with the dress.“I think it would be better if we pinned it first,” Alexandra suggested.“Pass me the pin, dear,” Catherine said, holding the edges of the corset tight.Alexandra skimmed through the small box of safety pins and passed it to her mother. Catherine pressed the ends of the corset securely and pinned them together. “
TRIGGER WARNING: The following chapter may be upsetting to some viewers. It contains violence and gore.***Blackness leaked into Gabriel’s subconscious like thick tar, impeding him from registering his surroundings for a few minutes. He blinked off the bleary vision and discovered himself in a bleak
All the guests who had witnessed the scene gasped in dread. Some of them, including Merideth Parker and Thomas Clarke, ran for their lives, realizing it wasn't safe to be in the presence of this maniac who just shot his wife. The metal gun slipped from Gabriel’s hand, his face sagged and his eye enl
Alexandra’s fierce, amber eyes bore right into Anastasia, who was on the verge of passing out from the built-up anxiety. Her weak knees buckled and she could barely pull herself together. The bouquet fell, the roses scattered, and she stared back at her sister in horror at what was yet to come.Placi
Stretches of green land lay before Jonathan’s eyes. Far, far away from the mansion. Jonathan wondered if Alessandro had brought him here to murder him and hide away his body by digging a hole and burying him inside the golf court.Jonathan looked behind him and the mansion was barely a white dot from
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore