Home / Young Adult / Romantic Purple / Hal-Hal Kecil yang Terlihat

Share

Hal-Hal Kecil yang Terlihat

Author: aquarian
last update publish date: 2026-05-22 17:15:52

Diskusi di kelas hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gurunya belum datang, melainkan karena semua orang sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri.

            Buku kenangan.

            Kursi-kursi tidak lagi menghadap rapi ke depan. Beberapa diputar setengah, sebagian ditarik mendekat. Suara bercampur: usul, potongan ide, tawa singkat yang muncul lalu tenggelam. Tidak ada yang benar-benar memimpin, tetapi arah pembicaraan terasa jelas.

            Rian duduk di bangkunya, dekat jendela. Kali ini ia tidak hanya mendengar.

            “Kalau temanya kebanyakan formal, nanti fotonya kaku,” kata seseorang.

            “Ya tapi masa cuma kaos kelas doang,” sahut yang lain.

            “Kenapa enggak dua sesi? Formal sama bebas.”

            Rian menunggu jeda yang tepat. Ia tidak menyela, hanya masuk di celah yang terbuka. “Tema besarnya pahlawan,” katanya pelan. “Tinggal kita tafsirkan makna pahlawan itu.”

            Beberapa suara berhenti bersamaan.

            Ia melanjutkan, masih dengan nada yang sama, “Habis itu langsung masuk ke proses pemotretan. Jadwalnya bisa diatur belakangan, tapi diusahakan sebelum semester satu selesai.”

            Tidak ada yang membantah. Beberapa mengangguk. Seseorang mulai mencatat.

            “Jadi mau pahlawan yang kayak gimana?” lanjutnya.

            “Pahlawan kemerdekaan aja,” jawab Hany. “Biar nggak ribet.”

            Kali ini semua setuju lebih cepat.

            Pembicaraan lalu bergeser ke hal lain—acara kebersamaan, ide piknik kecil, atau sekadar nongkrong sore sebelum hari pemotretan. Ide-ide dilempar tanpa benar-benar dipilah. Yang penting bukan hasil akhirnya, tetapi rasa ingin bersama sebelum semuanya berakhir.

            Beberapa saat kemudian, Rian berdiri. Ia mengambil kertas hasil diskusi dan berjalan menuju ruang OSIS.

            Ruangan itu tidak besar, tetapi selalu terasa penuh oleh kertas, map, dan suara yang saling bertumpuk. Ia duduk di salah satu kursi kayu, menghadap meja panjang yang dipenuhi draft. Di depannya, beberapa pengurus OSIS mencatat, bertanya, lalu menyesuaikan.

            “Jadi untuk kelas tiga IPA empat, temanya ini ya, Kak,” kata salah satu dari mereka sambil menunjuk lembar yang ia bawa.

            Rian mengangguk.

            Pembicaraan berjalan rapi dan efisien. Tidak ada perdebatan panjang. Hanya penyesuaian kecil, beberapa catatan tambahan, lalu keputusan yang ditutup tanpa emosi berlebih.

            Saat Rian berdiri dan mulai merapikan alat tulisnya, obrolan di ruangan itu berubah arah. Tanpa jeda, tanpa pengantar.

            “Eh, gue pusing deh,” kata salah satu anak OSIS, setengah bercanda.

            “Kenapa?”

            “Besok presentasi kelompok.”

“Gue sekelompok sama Lidya... diem banget orangnya. Kalau disuruh ngomong suka nge-blank.” Lanjutnya.

Rian tetap merapikan mapnya. Gerakannya tidak berubah.

            “Gak terlalu pinter juga,” tambahnya, masih dengan nada santai.

            Percakapan itu berhenti di sana, lalu berganti topik. Tawa kecil muncul lagi, ringan, seolah tidak ada yang perlu disimpan.

            Namun bagi Rian, potongan itu cukup. Ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Di lorong, suara sekolah kembali mengisi ruang—langkah kaki, pintu kelas, panggilan singkat antar siswa. Semuanya terdengar seperti biasa, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya kembali ke tempat semula.

            Saat istirahat tiba, Rian tidak langsung kembali ke kelas. Ia memilih berjalan ke arah kantin, mengambil jalur yang sedikit memutar.

            Bukan tanpa alasan.

            Kantin lebih ramai. Bau makanan, suara tawa, dan obrolan yang saling tumpang tindih menciptakan kebisingan yang justru terasa aman. Rian duduk di bangku kosong tanpa memesan apa pun. Beberapa temannya menyusul. Obrolan mereka ringan, melompat dari satu topik ke topik lain.

            “Temanya aman sih,” kata seseorang.

            “Yang penting fotonya keburu,” jawab yang lain.

            Rian ikut mengangguk. Sesekali tersenyum. Sesekali menimpali.

Tapi Rian tahu kenapa ia memilih tempat ini. Lorong perpustakaan terlalu tenang dan akhir-akhir ini, ketenangan justru membuatnya berpikir terlalu banyak.

            Bel masuk berbunyi. Ia berdiri bersama yang lain, berjalan kembali ke kelas. Langkahnya menyatu dengan arus siswa, tanpa terlihat berbeda. Jam terakhir datang tanpa guru. Kelas menjadi longgar, suara naik, beberapa siswa keluar masuk tanpa tujuan jelas.

Rian memilih duduk di lorong depan kelasnya. Punggung bersandar pada dinding, kaki diluruskan seadanya. Ia meminjam walkman dari temannya, membiarkan musik mengisi ruang yang biasanya terlalu sunyi.

            Ia berharap, dengan berhenti sejenak, pikirannya ikut melambat. Udara terasa hangat, angin bergerak pelan. Suara dari dalam kelas terdengar teredam—candaan, kursi bergeser, langkah kaki.

            Rian menurunkan pandangan, matanya menyapu lorong secara refleks lalu berhenti. Di seberang lorong, beberapa meter dari tempatnya duduk, di depan kelas lain seorang siswi duduk sendiri. Posisinya hampir sama. Kaki dilipat, sebuah buku terbuka di pangkuannya.

            Lidya.

            Ia tidak menoleh. Tidak bergerak selain membalik halaman. Rambutnya terikat sederhana, seragamnya rapi tanpa kesan berusaha.

            Rian tidak tahu sejak kapan ia ada di sana. Yang baru ia sadari justru hal lain: jarak mereka tidak sejauh yang selama ini ia kira. Masih dalam satu area.

Kesadaran itu datang pelan, tapi menetap. Ia tidak terus menatap. Pandangannya bergeser kembali ke lantai, lalu ke langit-langit. Namun keberadaan itu tidak ikut hilang. Seperti bayangan yang tetap ada, bahkan saat mata tidak lagi melihat.

            Beberapa detik kemudian, Rian berdiri. Ia masuk kelas tanpa menoleh lagi.

            Sepulang sekolah, ia langsung menuju lapangan. Beberapa temannya sudah menunggu. Bola dilempar ke arahnya begitu ia datang. Ia bermain cukup lama, membiarkan tubuhnya lelah. Saat tidak bermain, ia duduk di tepi lapangan, memperhatikan tanpa benar-benar fokus.

            Ketika akhirnya berhenti, ia berjalan ke kantin. Tempat itu masih ramai oleh siswa kelas satu. Suara keras, obrolan cepat, tidak memberi ruang bagi pikiran untuk diam terlalu lama. Rian duduk, memesan minuman, mencoba menormalkan ritme napasnya. Di meja lain sekelompok siswa berbicara cukup keras untuk terdengar. Awalnya tidak menarik sampai satu kalimat tertangkap utuh.

            “Presentasi tadi kacau banget.”

            “Dia susah ngomong. Kayak mau jelasin tapi berhenti terus.”

            Rian tidak menoleh. Tangannya tetap di gelas. Nama itu muncul setelahnya.

            Lidya.

            Tidak diulang hanya disebut, lalu dilewati. Tapi bagi Rian, itu sudah cukup. Ia meneguk minumannya, lalu berdiri lebih dulu. Dalam perjalanan pulang, satu pikiran muncul perlahan: mengenali seseorang tidak selalu dimulai dari pertemuan langsung.

            Langit mulai gelap saat ia sampai di rumah. Motor diparkir, pintu dibuka, tas diletakkan. Semua dilakukan seperti biasa dan justru itu yang terasa berat.

Di kamar, ia duduk di tepi kasur tanpa langsung berganti pakaian. Pandangannya jatuh ke lantai, lalu ke jendela yang terbuka setengah. Suara dari luar masuk pelan—kendaraan, langkah orang, kehidupan yang terus berjalan.

            Pikirannya sunyi, kesadaran itu datang perlahan, tetapi menekan: ia lelah. Bukan karena belajar ataupun sekolah, melainkan lelah menjaga jarak. Lelah memastikan dirinya tidak peduli. Lelah memilih jalan lain. Lelah berpura-pura tidak melihat, tidak mendengar, tidak menangkap apa pun.

            Selama ini Rian mengira menjauh adalah hal yang mudah. Tinggal diam lalu selesai, ternyata tidak. Menjauh menuntut kesadaran terus-menerus, ia harus selalu mengawasi dirinya sendiri dan itu menguras.

            Ia merebahkan tubuh, menatap langit-langit kamar, tidak ada debar yang ia kenal sebagai sesuatu yang romantis. Hanya satu pikiran yang terasa jujur: sejak kapan aku harus segini repot hanya untuk tidak terlibat?

Di situlah ia mulai memahami sesuatu. Menolak bukan akhir, ia bukan tembok dan menjaga jarak tidak lagi terasa ringan. Untuk pertama kalinya, ia ragu—apakah menjauh masih benar-benar pilihannya, atau hanya kebiasaan lama yang ia pertahankan karena takut melihat apa yang ada di seberangnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Romantic Purple   Janji di Atas Kota

    Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar

  • Romantic Purple   Hari yang Akan Dirindukan

    Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i

  • Romantic Purple   Ungu yang Tetap Sama

    Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen

  • Romantic Purple   Tempat Pulang

    Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb

  • Romantic Purple   Selama Kamu Mau

    “Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera

  • Romantic Purple   Yang Akhirnya Terucap

    Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?

  • Romantic Purple   Yang Tak Ingin Kulepas

    Rian duduk di atas motornya yang terparkir di depan gerbang rumah Lidya. Sejak tadi ia hanya diam, sesekali melirik ke arah pintu. Ia memilih menunggu di luar... daripada harus mengetuk rumahnya.Tak lama, pintu terbuka. Lidya keluar dengan tas di bahunya, sambil membetulkan sepatu. Begitu mengangk

  • Romantic Purple   Warna yang Tertinggal

    HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kena

  • Romantic Purple   Hari yang Ingin Diulang

    Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar.

  • Romantic Purple   Yang Masih Tinggal

    Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status