LOGINOn the day I was trying out my wedding gown, a stranger dashed into the VIP room and pushed me hard onto the ground. "I'm the real Mrs. John Curtis. Someone like you, with no money or a strong family behind you, should serve me instead." She looked down on me before kicking my pregnant belly with her sharp heels. The pain blurred my vision and made me break out in a cold sweat. Jolene Nostra crouched next to me and slapped me with the back of her hand. "You were only a jilted lover without wealth or influence, trying to wed into a rich family by getting pregnant." As blood flowed heavily from between my legs, a realization hit me. My fiancé, the person I'd been with for four years, was seeing another woman. "What's this? How dare you give me that look? I could kill you, and nothing would happen to me because I'm Mrs. John Curtis!" As she lunged towards me, I pulled out my phone with trembling hands to call my brother. "Come get me, Anthony. And tell our guys I want the Curtis family gone from South City."
View MoreSuara sirine ambulance meraung bersahutan, menciptakan keriuhan bercampur kepanikan. Para petugas medis berhamburan keluar, menyambut kedatangan para korban kecelakaan.
Rintihan memilukan, darah segar mengalir dengan luka menganga menampakkan daging dan tulang. Menjadi pemandangan ironi setiap retina yang menyaksikan "Sipakan ruang operasi..!" Titah salah seorang dokter yang menangani pasien cidera dikepala dan kaki. "Dalam hitungan ketiga...!" "Siapkan ICD...!" "Pasien ini butuh donor darah..!" Suara para dokter saling bersahutan, mengomandoi perawat yang sigap memberikan dan melakukan yang diinginkan. "Kau tangani pasien dibangsal tiga, aku akan melakukan operasi." Ucap Hana pada salah satu dokter lelaki. "Kau mau melakukan operasi sendiri..?" Tanya dokter pria yang bernama Riu itu.. Hana mengangguk, mengalihkan perhatian pada seorang dokter magang yang sudah selesai melakukan perawatan pada salah satu korban. "Pasien bangsal enam mengalami luka ringan dan patah tangan, kau tangani itu." kata Hana. "Baik dokter...!" Hana bersiap keruang operasi, meninggalkan keriuhan diInstalasi Gawat Darurat. Ada lebih dari lima belas orang korban terluka dan dua orang meninggal dunia, akibat kecelakaan beruntun dijalan Shibuya Tokyo. Semua diakibatkan oleh salah satu pengendara mobil yang sedang mabuk. Hampir dua jam kesibukan di Instalasi Gawat Darurat baru mereda, para pasien juga telah dipindahkan keruang rawat inap. Sementara Hana Sato masih berada didalam ruang operasi, sedang berusaha untuk mengeluarkan pecahan kaca yang bersarang dikepala, serta patahan body mobil yang menancap didada korban. "Apa operasi belum selesai..?" tanya Riu pada suster yang baru keluar dari ruang operasi. "Belum dokter, pasien mengalami pendarahan." jawabnya lalu pamit guna mengambil kantung darah lagi. Detik berganti menit, tak terasa sudah lima jam berlalu. Akhirnya operasi melelahkan itu pun selesai, dengan hasil yang memuaskan karena nyawa korban dapat diselamatkan. Hana melakukan perenggangan seraya menghela nafas berat, guna mengusir lelah dan pegal yang mendera. Melepas masker serta semua atribut yang melekat dibadan. Mencuci tangan dan wajah, kemudian meninggalkan ruangan. Riu yang sudah menunggu didepan ruang operasi bersama sebotol air mineral, sigap menghampiri wanita pujaannya itu. Hana tersenyum "terimakasih...!" "Aku antar pulang ya..?" tawar Riu. Hana menggeleng, meneguk minumannya hingga tandas. "Sayang...!" seru Riu cemas, karena melihat wajah lelah sang kekasih. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagi pula jam jagamu belum selesai." ucap Hana lembut. "Kalau tidak, biar Kaito yang mengantarmu." Usul Riu yang lagi-lagi ditolak oleh Hana. Seorang suster menghampiri mereka, memberitahu Riu jika pasien yang lelaki itu tangani mengajukan keluhan. "Hubungi aku jika sudah sampai dirumah, hati-hati." ucap Riu sebelum meninggalkan sang kekasih. Hana menuju ruangannya, membereskan barang-barangnya untuk bersiap pulang. Segelas kopi menjadi pilihan gadis cantik itu, untuk menemaninya diperjalanan. Sudah pukul sebelas malam, kala Hana meninggalkan rumah sakit. Dengan mobil kesayangannya, gadis itu membelah jalanan kota Tokyo yang masih nampak ramai. Tring Tring Tring Dering ponsel memecah keheningan didalam kabin kendaraan. Hana merogoh tas yang ia letakkan dibangku penumpang sebelahnya. "Ck, mana sih...?" ucapnya. Hana yang tak juga mendapatkan ponselnya, mengalihkan perhatian dari jalanan didepannya. Bahkan sampai handphone sudah ditangan, fokusnya tidak juga kembali perjalanan. Alhasil, wanita itu tidak melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah. Mobilnya melaju lurus dengan kecepatan sedang, mengabaikan dua mobil dari arah kanan yang menginjak full pedal gas. Tiinnnn Hana terkejut, dan malah reflek menginjak rem. Alhasil mobilnya langsung dihantam keras oleh dua kendaraan sekaligus. Brak Brak Bum Dua kali benturan, dua kali mobil Hana jungkir balik, sebelum akhirnya berhenti menabrak beton pembatas jalan. Asap mengepul dari kap mesin, kaca remuk begitu juga badan kendaraan yang ringsek. Tubuh kurus Hana terjepit, dengan kepala bersimbah darah bertumpu pada setir. Netra lentik yang tertutup cairan pekat berbau anyir itu berkedip lemah, pandangannya samar sebelum akhirnya menjadi gelap bersamaan nyawanya yang terlepas dari raga. Suara sirine kembali meraung, polisi ramai memadati jalanan bersama team penyelamat dan dokter. Kabar kecelakaan itu langsung menyebar, dan sampai ketelinga keluarga Sato serta sang kekasih Riu dalam waktu singkat. Tangis histeris pecah dari ibu, kakak, dan para sahabat yang amat mengenal bagaimana baiknya kepribadian Hana Sato. Sang ibu dan nenek serta beberapa sahabat wanita, bahkan sampai pingsan. Sedangkan ayah, kakak lelaki dan Riu, menangis dalam diam memandangi tubuh Hana Sato yang sudah dingin terbujur kaku diruang jenazah. Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah langsung dibawa kerumah duka. Ratusan karangan bunga memenuhi area bangunan sampai kejalan raya. Ribuan pelayat dari berbagai macam kalangan dan profesi datang silih berganti. Riu diam membisu, duduk disisi peti sembari terus memandangi wajah pucat Hana yang tetap terlihat cantik. Matanya memanas, memancarkan luka kesedihan yang amat mendalam. Aksi saling menyalahkan diri sendiri, menggaung lirih didalam nurani. Andai Riu tetap memaksa mengantarkan, pasti kekasihnya itu masih ada bersamanya. Andai sang aysh dan kakak lelaki, tidak menuruti kemauan Hana yang tak ingin ada supir serta bodyguard. Pasti kejadian tragis ini bisa dihindari. Andai saja Hana patuh, tentu gadis itu masih hidup dan mengenakan gaun pengantin diakhir tahun nanti. Tapi semua cuma berandai-andai, nyatanya takdir tak dapat ditolak, kemalangan tak dapat dihindari. "Sayang..! kenapa kau meninggalkan aku..? kenapa kau tidak menepati janjimu..?" lirih Riu dengan segaris airmata menghiasi wajah rupawannya. Dua hari jenazah Hana Sato berada dirumah duka, sebelum akhirnya dikebumikan dipemakaman elite khusus bagi kaum bangsawan dan konglomerat negeri Sakura itu. Dari kalangan artis, pengusaha, pemerintah, sahabat dirumah sakit, para penggemar. Mengantarkan kepergian Hana Sato untuk selama-lamanya. Tangis pilu mengiris hati, menggaung ironi merobek udara. Langir kelabu hari ini, menjadi saksi tanah merah menutupi peti kayu mahoni yang berizi jasad Hana Sato, sosok yang banyak dicintai seantero negeri. "Hana kembali, jangan tinggalkan ibu. Putriku...!" Jerit nyonya Sato histeris, menyaksikan peti mati diturunkan keliang lahat. "Hana....!" Pekik wanita paruhbaya itu sebelum kehilangan kesadaran untuk yang kesekian kalinya. Riu terisak juga pada akhirnya, memeluk erat bingkai foto sang kekasih hati. Tubuh tinggi tegapnya terhuyung, kakinya lemas tak mampu berpijak kokoh. Dadanya bak diremas tangan-tangan tak kasat mata, teramat sakit dan nyeri. Ayah dan ketiga kakak lelaki serta para keponakan, berpelukan satu sama lain, guna saling menopang tubuh tanpa daya tenaga itu. Tak ada lagi Hana Sato, wanita cantik dengan segudang prestasi dan bakat didunia ini lagi. Semua tentangnya cuma tinggal cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan diabad ini. Hanya ada raga kaku terkurung dalam dinginnya gundukan tanah merah yang ditaburi bunga aneka warna. Jiwanya sudah berpindah alam, entah itu surga, neraka, atau bahkan tidak keduanya. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan dan dewa kebajikan yang akan memberikan ganjaran baik buruknya selama hidup didunia.Three years later, at a grand international business dinner event, renowned personalities gathered in a luxuriously decorated hall. The doors slowly opened, and everyone turned their attention to it.I wore a black, backless gown with a flowing skirt. My hair cascaded down to my shoulders like a waterfall, while my lips shimmered in bright red. Behind me stood Anthony, surrounded by a team of bodyguards. As I moved through the crowd, they respectfully made way, showing the deep respect etched into their bones."Is that the Corleone's newly appointed head of the family, Annie?""Shh! Lower your voice! What makes you think you can call her by her name? You should call her Donna!"Whispers could be heard all around me, but I remained stoic as I walked directly toward the main seat. That was when a brazen new member of high society who had recently made it rich approached me. "How about having a drink with me, pretty lady?" He looked me up and down lecherously. "There is no beautiful w
Six months later, things had completely changed in South City. The Curtis family mansion had been leveled to the ground.It was raining the day I was at the cemetery. I was wearing black and holding a black umbrella while standing in front of a small, nameless tombstone that bore only a single line of inscription: "My beloved son."I crouched to gently caress the ice-cold tombstone as my tears gently fell down my cheeks. "Mommy is here to see you, my baby. All the bad people have been punished. Be good wherever you are, okay?"I heard footsteps approaching from behind. Anthony emerged. He had assumed control of the majority of the family business and had become a feared and respected newly appointed underboss."Annie." He put a huge coat over me. "Don't catch a cold."I stood up and watched the city covered in rain. "Anthony, I used to want a normal life because I felt that leading an ordinary life was the only way to make me feel alive. It's only now that I finally see things cle
Jolene passed out from the pain but was woken up with a splash of cold water on her. She fell limply to the ground, looking like a mess. John watched all of this happen with a scared, pale look on his face. "Don't… Don't hit me… I'm innocent…"That was when my father entered the room. Two bodyguards followed behind him with a tray. There was a dagger on the tray. "It's time to upgrade the game," my father said nonchalantly with a tone that sounded like a judge from hell. "Only one of you is allowed to live. I'll release the person who manages to kill the other." The dagger was thrown between them. The air around them grew heavy and still. John and Jolene looked at each other, and the next second, John lunged at the dagger like a madman. "I want to live! I want to live!" He grabbed the hilt of the dagger and turned to stab Jolene. "Die! You were the one who caused all of this!"Even though Jolene's leg was broken, her desire to survive gave her alarmingly great strength. She bit h
The light was dim in the basement. The only light that shone was from the lamp on the interrogation table. I was playing with a dagger in my hand while seated on a leather sofa. John and Jolene were tied to chairs. They were wet all over and stunk badly. It had been three days since they last drank any water. Their lips were dry, and they could only croak from their throats when trying to speak. "Want some water?" I shook the wine glass in my hand, and the ice water splashed against the side of the glass, making a crisp sound of sloshing from the glass. They nodded vigorously, looking like hungry wolves. "All you need to do is something simple." I pointed at them. "Expose the other person. State a crime the other did, and I'll give whoever confesses a sip of water."The moment I announced this, John immediately shouted. "I'll confess! I'll confess! Jolene is a ruthless woman who wanted to drug you! She bribed a nurse the last time you went for a prenatal checkup to get her to in
"I'm sorry I'm late, my children."John looked at me in disbelief. My father did not even glance at him as he turned to take off his gloves and flung them to a subordinate behind him to reveal the Mafia tattoo at the back of his hand that represented absolute power in the family."I want South Cit
John stopped and frowned slightly. He did not look at me but walked straight toward Jolene. "How did you get yourself so dirty?" His voice was magnetic and gentle, but he was not talking to me. He reached out to pull Jolene away from me while carefully smoothing down her dress. "Let the bodyguards d
(Third Person Perspective)Anthony Corleone was in a meeting at Innova with the family's elders. When he heard his younger sister calling out weakly to him, "Anthony, please come get me." He lost it completely."What's going on, boss?" One of his subordinates looked at him with terror. The man who
(Annie's Perspective)Jolene Nostra acted like she heard the funniest joke in the world when she heard my words. She stepped hard on my hand, which was holding my phone, with her rhinestone-covered heels.There was a crisp, loud crack. My phone screen had broken, and all I felt was intense pain fr


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.