LOGINCinta lama Yohan baru saja bercerai. Malam itu, Yohan melemparkan surat cerai yang ke-99 padaku. "Chika lagi patah hati, dia belum bisa bangkit dari kesedihan. Aku harus menjaganya." Anak laki-lakiku yang berumur tujuh tahun juga ikut menasihati. "Kamu cepat pergi saja, biar Tante Chika pindah ke sini. Rumah kita nggak butuh pembantu seperti kamu." Ayah dan anak itu yakin aku akan marah-marah, menangis, dan memohon supaya mereka tidak mengusirku. Tapi kenyataannya, aku hanya mengangguk pelan. Lalu diam-diam menandatangani surat cerai itu. Sepuluh tahun kemudian, anakku diwawancarai sebagai peraih nilai tertinggi ujian nasional. Wartawan bertanya padanya, "Nak, apa yang membuatmu tetap semangat belajar selama ini?" Dia terdiam sejenak, matanya memerah di depan semua orang. "Karena aku ingin bilang ke Ibu, aku sudah dewasa sekarang. Bisa nggak Ibu pulang? Jangan tinggalkan aku lagi."
View MorePertandingan basket sedang berlangsung. Waktu terus bergulir dan di waktu terakhir, Naya mengangkat kedua tangannya memberi kode kepada temannya. Naya menerima bola tersebut dan memantau sekelilingnya. Naya melempar bola ke ring dan berusaha membuat poin di akhir pertandingan.
“Three point!” Suara dari para penonton dan sebuah peluit berbunyi pertanda akhirnya pertandingan. Naya berlari berpelukan bersama dengan teman-temannya yang merayakan di tengah lapangan. Saat berpindah ke tepi lapangan, Naya bersalaman juga dengan kepala sekolah yang juga pembina ekstrakurikuler basket. “Selamat Naya, kamu menyelamat kita dari ketertinggalan poin, bahkan memberikan lebih dua poin. Saya hanya berharap seri aja tadi, karena kalian sudah kelelahan di lapangan tadi.” Pria itu menepuk bahu Naya dan mengucapkan selamat pada gadis yang berhasil mencetak tiga poin di ujung pertandingan. “Terima kasih, Pak Ardi. Itu juga karena Bapak yang melatih kami dengan sabar dan selalu menyemangati kami,” balas Naya dengan sopan. “Ini prestasi pertama kamu sebagai pemain inti, ya?” Ardi menatap Naya dengan wajah bangganya. Naya menganggukkan kepalanya dan tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Ini merupakan pertandingan pertamanya setelah menjadi anggota inti Tim Basket Cendikia Utama. Naya mengedarkan pandangannya ke arah penonton. Entah apa yang dia lihat, wajahnya langsung murung dan berjalan menuju tasnya berada. Naya duduk dan meneguk minumannya. Semua teman-temannya merayakan kebahagiaan mereka. Guru-guru yang hadir pun ikut merayakan kemenangan mereka dan mengucapkan selamat. Seorang gadis duduk di samping Naya dan merangkul bahunya. “Selamat, Besti! Kamu benar-benar penyelamat Cendikia Utama, Nay. Kamu mencetak tiga poin dan berhasil mengangkat kita dari kekalahan.” Gadis itu mengatakan pada Naya yang hanya dibalas dengan kekehan kecil. Naya memasukkan botol minumnya kembali ke tas dan menoleh ke arah gadis yang masih duduk di sampingnya. “Itu bukan aku yang menyelamatkan, tapi strategi Pak Ardi dan usaha semua yang membuat strategi itu berjalan dengan baik, Sar. Aku enggak nyangka bisa mencetak tiga poin di detik terakhir, tapi aku lebih enggak nyangka kamu datang dan sekarang malah duduk di sampingku, Sar.” Naya menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya itu. “Ini pertandingan pertamamu sebagai pemain inti, Nay. Aku sahabatmu, jadi aku akan melihat dan mendukung sahabatku ini. Bangga dong kamu, Sari yang sangat tidak sporty ini bisa menonton pertandinganmu dari awal sampai selesai.” Gadis itu membanggakan dirinya sendiri. Naya tertawa mendengar perkataan sahabatnya yang disampaikan dengan nada penuh kebanggaan itu. Namun, sedetik kemudian, gadis itu menganggukkan kepalanya. “Bener sih, harus banggain, Sar. Perlu aku abadikan dan masukin kamu ke museum nggak, Sar?” Naya menggoda Sari yang masih setia duduk di sampingnya. “Kamu, mah! Bangga tuh bangga aja atuh, Nay. Jangan suka menggoda gitu, ih!” Sari mengeluh atas godaan sahabatnya yang memang tidak ada salahnya. Naya hanya tertawa dan berkumpul saat Ardi memanggil semua yang ada di sana. Sari yang tadinya tidak ingin ikut berkumpul pun sedikit digeret oleh Naya. Mereka mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ardi. *** Naya turun dari ojek online yang mengantarnya pulang. Dia mengembalikan helm dan berjalan masuk ke rumana. Rumah itu terlihat sangat sepi. Naya melemparkan tasnya ke sofa dan langsung merebahkan dirinya begitu saja. Rasa lelah dari pertandingan masih sangat terasa. Dia berharap di rumah tidak sesepi ini, nyatanya harapan itu hanya tinggal harapan. Seorang wanita berumur berjalan dari belakang. “Mbak Naya, Bapak hari ini berangkat ke China, katanya ada urusan pekerjaan di sana, Mbak.” Wanita itu menyampaikan pada Naya apa yang sebelumnya tidak diketahui Naya. “Mama?” Naya mendudukkan tubuhnya dan melihat wanita berumur yang menatapnya itu. “Sibuk apa Mama?” tanya Naya lagi. “Ibu masih ada di kampus, Mbak. Bilangnya sih, masih ada bimbingan skripsi sama mahasiswa, Mbak. Mbak Naya mau makan malam sama apa? Bibi masakin, ya?” Wanita itu menatap Naya yang menyeret tasnya kembali. “Nanti aja, Bi. Bi Ida bisa istirahat dulu. Aku masih sangat capek, takutnya malah ketiduran habis Bi Ida masak. Aku ke kamar dulu, ya, Bi. Makasih sudah dikasih tahu tentang Papa dan Mama, Bi.” Naya tersenyum sebentar dan melangkahkan kakinya ke lantai dua di mana kamarnya berada. Naya masuk ke kamar itu dan merebahkan tubuhnya di kasur. Dia memandang foto keluarga yang sengaja dicetak besar dan dipasang di kamarnya. Dia tersenyum sebentar dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. “Pertandingan pertama sebagai pemain inti juga nggak dilihat sama Mama dan Papa.” *** Suasana sekolah pagi hari sudah pasti akan ramai dengan hiruk pikuk warga sekolah, bedanya kali ini topik pembahasan hangat yang sedang santer disebarkan di sekolah adalah kemenangan tim basket cewek. Nama Naya tidak lepas dari pembicaraan hangat itu, bagaimanapun mereka menyebut Naya sebagai pahlawan penyelamat poin tim basket cewek. Sepanjang perjalanan dari pintu gerbang, Naya hanya tersenyum tipis saat ada yang memanggilnya dan mengucapkan selamat padanya. Naya hanya mengangguk sopan saat banyak yang menyapanya dan terus menyebutnya pahlawan. Langkah kaki Naya masuk ke kelas dan terlihat teman-temannya mengucapkan selamat juga padanya. Naya hanya mengucap terima kasih dan berlalu ke bangkunya. Sari yang sudah duduk di bangkunya yang sebangku dengan Naya hanya tersenyum dan bertepuk tangan saat Naya meletakkan tasnya. “Kamu kenapa sih, Sar?” tanya Naya heran pada sahabatnya yang terlihat sangat bahagia bertemu dengannya kali ini. “Senang sekali aku, Nay. Bangga banget aku jadi sahabatmu, Nay.” Sari mengatakan rasa bahagianya. “Oh, iya … kenapa sih, kamu kemarin nggak ikut makan-makan, Nay? Kan kamu salah satu pemain inti loh, Nay. Rugi banget kamu nggak ikut, Pak Ardi traktir kita di restoran mewah, Nay. Iri kan sekarang kamu?” lanjut Sari. “Kemarin papaku berangkat ke Shanghai, jadi maunya aku ketemu Papa dulu, Sar. Ternyata enggak kebagian, jadi Papa sudah berangkat. Aku rugi menurutmu? Kenapa rugi? Cuma karena makan di restoran mewah, Sar?” tanya Naya yang memperhatikan sahabatnya. “Enggak juga sih. Kalau kamu ikut, Nay … kamu bakal ketemu sama istrinya Pak Ardi, sama anaknya juga sih.” Sari terlihat sangat excited menceritakan. “Artis?” tanya Naya yang tidak pernah mengenal istri kepala sekolahnya itu. Menurutnya itu tidak ada urusan dengan sekolahnya, tapi melihat semangat sahabatnya, Naya ingin menghargai cerita sahabatnya itu. “Bukan artis sih, tapi cantik banget, Nay. Dosen katanya, Nay. Anaknya satu cowok, imut banget, sumpah deh. Kamu kan suka sama anak kecil, ya, kamu pasti suka banget sama anaknya Pak Ardi, dia tuh bener-bener gambaran anak lucu, baik yang tidak membosankan, Nay.” Sari menceritakan. Saat akan menimpali cerita Sari, sebuah suara memanggil Naya. “Naya!” **Aku menunduk dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen fotokopi dari dalam tas, lalu menyerahkannya padanya."Surat cerai ini pasti sudah kamu lihat. Rumah yang dulu kamu kasih juga, aku kembalikan sekarang."Gerakan Yohan terhenti, dia menatapku dengan tidak percaya."Sania, maksud kamu apa?""Aku sudah bilang, foto itu bukan...""Bukan apa?"Aku memotong ucapannya, wajahku datar tanpa ekspresi."Bukan kamu dan Leon diam-diam foto sama Chika di belakangku?""Dan bubur seafood itu, bukan kamu yang maksa aku buat habisin?""Yohan, kamu tahu nggak, waktu itu aku hampir nggak bisa diselamatin?"Bibir Yohan bergetar, suaranya serak."Aku nggak tahu alergimu separah itu."Aku tertawa getir, tapi perih di dada terasa makin dalam."Terus setelah antar aku ke rumah sakit, kamu ke mana?""Aku..."Aku menoleh ke jendela, menatap orang-orang yang lalu-lalang di luar. Suaraku tenang tanpa emosi."Kamu pergi nemuin Chika, ninggalin aku yang baru saja selamat dari maut.""Aku nggak bawa dompet, nggak
"Tante beda, Tante bisa...""Bisa apa kamu?"Yohan turun dari lantai atas, tatapannya tajam dan dingin."Jawab. Kamu bisa apa?"Leon langsung berlari ke arah ayahnya dan bersembunyi di belakang tubuhnya.Otak Chika sempat kosong, lalu buru-buru menampilkan senyum manis di wajahnya."Yohan, aku cuma bercanda sama Leon kok. Kamu kenapa tiba-tiba muncul?"Wajah Yohan tetap dingin, matanya dipenuhi tatapan penuh selidik."Tapi, aku dengar kamu bilang ke Leon kalau kamu mau jadi ibu barunya."Ekspresi Chika menegang, lalu dia mencoba meraih lengan Yohan."Yohan, kamu kenapa sih?""Kamu tahu sendiri aku itu..."Yohan menepis tangannya dengan kasar, menahan amarah yang mulai memuncak."Selain itu kamu ngajarin Leon apa lagi? Ayo jawab!"Tubuh Chika bergetar."Nggak... nggak ada lagi..."Yohan menunduk, menatap anaknya dengan serius."Leon, kamu yang cerita."Walau masih kecil, Leon tahu suasananya sudah tidak benar.Dia mencengkeram celana ayahnya erat-erat dan berkata dengan cemas, "Tante Ch
"Dia itu cuma vampir yang bisanya nempel di Ayah buat nyedot uang."Mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Wajah Yohan menggelap saat menatap anaknya yang masih bicara tanpa henti.Siapa yang akan menyangka, anak tujuh tahun bisa mengucapkan kata-kata sekasar itu.Leon terdiam ketakutan.Yohan menarik napas panjang dan bertanya, "Siapa yang ajari kamu ngomong kayak gitu?"Dia masih ingat, dulu Leon adalah anak yang manis dan pengertian.Sekarang, bagaimana bisa berubah sejauh ini?Dia juga masih ingat, dulu Leon selalu memanggil istrinya dengan manja. Di mana pun selalu memanggil ibu dengan suara lembut.Entah sejak kapan, Leon mulai berubah jadi anak yang keras kepala.Bukan hanya sering merengek ingin punya ibu baru, juga terang-terangan menunjukkan kebenciannya ke ibunya.Dulu Yohan pikir Leon cuma bosan melihat ibunya yang sering bikin ribut seenaknya, lalu kesannya jadi buruk.Tapi, sekarang dia baru sadar. Dulu istrinya adalah orang paling lembut dan penuh kasih yang pernah dia kenal
Yohan mengernyit, lalu bertanya dengan heran, "Bukannya di SD ada makan siang, ya?"Guru itu menjelaskan dengan hati-hati, "Begini, Leon dulu kondisinya agak lemah. Banyak makanan yang nggak bisa dia makan.""Waktu pendaftaran, ibu Leon sudah berdiskusi dengan kami. Jadi, Leon bawa bekal sendiri setiap hari.""Selama ini memang begitu, tapi hari ini..."Yohan mengangguk. Dia menatap rapat yang terhenti sementara, lalu tanpa berpikir panjang berkata, "Kalau begitu, telepon saja ibu Leon. Aku sedang sibuk sekarang."Guru itu terdiam sebentar, lalu akhirnya bicara pelan, "Kami sudah menelepon, tapi ibu Leon bilang kalian sudah bercerai. Urusan Leon sekarang sepenuhnya jadi tanggung jawab Bapak."Yohan terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada tidak percaya, "Dia benar-benar bilang begitu?"Sebelum guru itu sempat menjawab, Leon sudah menangis sambil berteriak, "Ayah, ibu nggak mau sama aku lagi! Ibu beneran nggak peduli sama aku lagi!"Yohan memejamkan mata. Baru kali ini dia benar-benar


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews