Share

Bab 341

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-06-19 21:41:52

Di posisi terdepan berdiri Arka dengan senjata Vektor-21 di tangannya yang masih mengeluarkan asap tipis dari laras. Jelas dialah yang melempar granat tadi setelah mengambilnya dari salah satu anggota Klan Bulan Hitam yang tewas. Wajahnya terlihat lelah akibat perjalanan panjang dan pertempuran tanpa henti, tetapi sorot matanya tetap setajam bilah pisau yang baru diasah.

Di sebelah kiri Arka, Taring Baja sudah berlutut dengan senapan mesin ringan mengarah ke seluruh area halaman. Di sebelah kan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 398

    Ia mengangkat kepala dan menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam. "Kalaupun para bawahan mereka bodoh, apakah Adelina juga sebodoh itu? Jika benar dia ingin menyerang kita, apa dia akan melakukannya seterang-terangan ini? Apa dia akan mencari musuh baru ketika masih terjebak dalam perang sengit melawan Keluarga Nirvana?"Ruangan itu kembali diliputi keheningan."Ayah... berarti ini jebakan?" Bastian Wijaksana, putra kedua Bramantyo, berbicara dengan nada ragu. "Tapi... siapa yang memasang jebakan ini?"Bramantyo tidak menjawab. Ia menyalakan kembali sebatang cerutu baru, menghisapnya dalam-dalam, lalu menyandarkan tubuh ke kursinya sambil memejamkan mata. Kepulan asap perlahan keluar dari hidungnya, berputar di depan wajah hingga menutupi ekspresinya.Waktu berlalu dalam kesunyian.Tak seorang pun berani mengganggu pikirannya.Tiga menit kemudian, Bramantyo tiba-tiba membuka mata. Tak ada lagi kebingungan maupun keraguan di sana. Yang tersisa hanyalah ketegasan dingin yang nyaris

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 397

    Dua jam kemudian, rombongan itu tiba di sebuah pos pemeriksaan di jalur penyelundupan yang terletak di barat laut wilayah Keluarga Wijaksana.Tujuh orang yang tersisa kembali melancarkan serangan dengan pola yang sama. Peluncur roket menghancurkan pos pemeriksaan, rentetan peluru Vektor-21 menyapu para penjaga, sementara penyembur api melalap dua truk pengangkut yang terparkir di lokasi.Namun kali ini perlawanan datang jauh lebih cepat. Bala bantuan Keluarga Wijaksana segera mengepung mereka. Baku tembak sengit berlangsung hampir dua puluh menit di sekitar pos pemeriksaan.Dua anggota tim kembali gugur, sedangkan Jack terkena tembakan di bahu kiri. Peluru menembus tubuhnya hingga darah membasahi hampir separuh seragamnya.Menjelang pukul enam sore, langit mulai diselimuti kegelapan.Jack bersama lima orang yang tersisa, semuanya dalam keadaan terluka dan kelelahan, akhirnya tiba di dekat sebuah gudang senjata kecil milik Keluarga Wijaksana yang berada tak jauh dari perbatasan.Gudang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 396

    Detik berikutnya, dua suara lirih memecah udara.Tawa mereka berhenti seketika.Lubang berdarah muncul tepat di antara kedua alis mereka sebelum tubuh keduanya roboh tanpa suara di atas menara. Penembaknya adalah sniper dari tim Jack yang menggunakan senapan jitu berperedam.Hampir pada saat yang sama, empat orang dari Kelompok Dua menerjang ke arah gubuk.BRAKK! BRAAKK!Dua orang mendobrak pintu, sementara dua lainnya menerobos lewat jendela.Delapan penjaga Keluarga Wijaksana yang sedang tertidur bahkan tidak sempat membuka mata sebelum rentetan peluru menghujani mereka. Darah memercik ke seluruh dinding kayu, berubah menjadi warna merah gelap yang mengerikan di bawah sinar matahari sore.Teriakan dan suara tembakan langsung membangunkan penjaga gudang serta para pekerja di ladang opium.Dua penjaga berlari keluar sambil mengangkat senjata, tetapi sebelum sempat membidik, sebuah roket sudah meluncur ke arah mereka.Whoossshh— DUAAAR!Roket itu menghantam pintu gudang dengan telak. G

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 395

    "Kirim dua kelompok." Adelina menjawab pertanyaan itu. Tatapannya berubah semakin dingin. "Kelompok pertama tetap tim investigasi. Selidiki mereka sungguh-sungguh. Kalaupun tidak menemukan apa-apa, itu bukan masalah."Ia berhenti sejenak, lalu mengetuk beberapa titik penting di wilayah Keluarga Wijaksana pada peta. "Kelompok kedua adalah pasukan bunuh diri. Pilih orang-orang yang identitasnya tidak dikenal, benar-benar setia, benar-benar bisa dipercaya, dan sudah siap mati. Suruh mereka mengenakan seragam Keluarga Mahardika, lalu menyusup ke wilayah Keluarga Wijaksana."Nada suaranya tetap tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi tekad yang dingin."Lakukan pembunuhan, pembakaran, dan sabotase. Semakin besar kerusakannya, semakin baik. Kalau bisa, ledakkan gudang senjata mereka, bakar ladang mereka, lalu habisi beberapa tokoh penting mereka."Ekspresi Pramudya langsung berubah drastis. "Kakak... apa kita benar-benar akan melakukan ini?"Suara Pramudya sedikit bergetar. "Itu sama saja de

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 394

    Keheningan kali ini berlangsung sangat lama.Tepat ketika Adelina mengira sambungan telepon telah diputus, suara Wiranata kembali terdengar. Nada suaranya serak dan dipenuhi kelelahan."Anakku sudah mati. Siapa pun pembunuhnya, dia meninggal ketika sedang bernegosiasi denganmu. Utang ini harus dibayar."Hati Adelina terasa berat, tetapi ia tidak menyela."Aku memberimu waktu dua puluh empat jam." Wiranata melanjutkan dengan nada dingin. "Temukan pelaku sebenarnya dan serahkan pembunuhnya kepadaku. Jika dalam dua puluh empat jam aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan..."Ia tidak melanjutkan ucapannya, tetapi ancaman itu sudah cukup jelas.Sambungan telepon kemudian terputus.Nada sibuk terdengar berulang kali dari ponsel di tangan Adelina. Perlahan, ia menurunkan ponselnya dan memandang seluruh orang di ruangan itu. Wajah mereka dipenuhi kegelisahan dan kesuraman."Dua puluh empat jam." Ia mengulanginya dengan suara pelan, tetapi setiap kata terasa seperti paku yang dipaku ke la

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 393

    Nada sambung terdengar terus berbunyi, sementara Adelina menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya tersambung dan sebuah suara terdengar dari seberang. Bukan suara Wiranata, melainkan suara pria yang lebih muda, dipenuhi amarah yang tertahan."Nona Adelina, ayah saya sedang tidak bisa menerima telepon.""Bramasta." Adelina langsung mengenali suara itu. Pemilik suara tersebut adalah putra sulung Wiranata Nirvana. "Biarkan aku berbicara dengan ayahmu. Aku tahu dia ada di sana."Keheningan menyelimuti sambungan telepon selama beberapa detik. Terdengar suara gesekan sebelum sebuah suara tua yang sarat amarah mengambil alih."Adelina Mahardika."Hanya dua kata, tetapi setiap suku katanya terdengar seolah diperas dari sela-sela gigi, dipenuhi kebencian yang mengental."Saudara Wiranata." Suara Adelina tetap tenang dan bahkan terdengar sangat serius. "Aku baru saja mendengar kabar tentang putramu. Aku turut berduka.""Turut berduka?" Suara Wiranata mendadak meninggi. "Anakku sudah mati! Kepalan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 31

    Mireya merasakan hawa dingin menjalar di tulang belakangnya. Ia tahu Kelvin sudah gila, pria ini benar-benar bisa melakukan apa saja. Namun ia tetap menatap Kelvin dengan dingin.“Dia akan datang.”Kelvin menyeringai. “Oh ya?”Mireya tersenyum tipis. “Karena dia tahu, apa yang akan terjadi pada ora

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 28

    “Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 27

    Melihat itu, Bima meraung. “Habisi mereka!”Puluhan preman langsung menyerbu. Parang berkilat terjadi di bawah lampu arena. Tongkat besi terangkat tinggi.Namun detik berikutnya, Arka dan Garuda Hitam sudah bergerak.BUGH!Seorang preman yang paling depan bahkan belum sempat mengayunkan parang keti

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 25

    Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status