MasukIa mengangkat kepala dan menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam. "Kalaupun para bawahan mereka bodoh, apakah Adelina juga sebodoh itu? Jika benar dia ingin menyerang kita, apa dia akan melakukannya seterang-terangan ini? Apa dia akan mencari musuh baru ketika masih terjebak dalam perang sengit melawan Keluarga Nirvana?"Ruangan itu kembali diliputi keheningan."Ayah... berarti ini jebakan?" Bastian Wijaksana, putra kedua Bramantyo, berbicara dengan nada ragu. "Tapi... siapa yang memasang jebakan ini?"Bramantyo tidak menjawab. Ia menyalakan kembali sebatang cerutu baru, menghisapnya dalam-dalam, lalu menyandarkan tubuh ke kursinya sambil memejamkan mata. Kepulan asap perlahan keluar dari hidungnya, berputar di depan wajah hingga menutupi ekspresinya.Waktu berlalu dalam kesunyian.Tak seorang pun berani mengganggu pikirannya.Tiga menit kemudian, Bramantyo tiba-tiba membuka mata. Tak ada lagi kebingungan maupun keraguan di sana. Yang tersisa hanyalah ketegasan dingin yang nyaris
Dua jam kemudian, rombongan itu tiba di sebuah pos pemeriksaan di jalur penyelundupan yang terletak di barat laut wilayah Keluarga Wijaksana.Tujuh orang yang tersisa kembali melancarkan serangan dengan pola yang sama. Peluncur roket menghancurkan pos pemeriksaan, rentetan peluru Vektor-21 menyapu para penjaga, sementara penyembur api melalap dua truk pengangkut yang terparkir di lokasi.Namun kali ini perlawanan datang jauh lebih cepat. Bala bantuan Keluarga Wijaksana segera mengepung mereka. Baku tembak sengit berlangsung hampir dua puluh menit di sekitar pos pemeriksaan.Dua anggota tim kembali gugur, sedangkan Jack terkena tembakan di bahu kiri. Peluru menembus tubuhnya hingga darah membasahi hampir separuh seragamnya.Menjelang pukul enam sore, langit mulai diselimuti kegelapan.Jack bersama lima orang yang tersisa, semuanya dalam keadaan terluka dan kelelahan, akhirnya tiba di dekat sebuah gudang senjata kecil milik Keluarga Wijaksana yang berada tak jauh dari perbatasan.Gudang
Detik berikutnya, dua suara lirih memecah udara.Tawa mereka berhenti seketika.Lubang berdarah muncul tepat di antara kedua alis mereka sebelum tubuh keduanya roboh tanpa suara di atas menara. Penembaknya adalah sniper dari tim Jack yang menggunakan senapan jitu berperedam.Hampir pada saat yang sama, empat orang dari Kelompok Dua menerjang ke arah gubuk.BRAKK! BRAAKK!Dua orang mendobrak pintu, sementara dua lainnya menerobos lewat jendela.Delapan penjaga Keluarga Wijaksana yang sedang tertidur bahkan tidak sempat membuka mata sebelum rentetan peluru menghujani mereka. Darah memercik ke seluruh dinding kayu, berubah menjadi warna merah gelap yang mengerikan di bawah sinar matahari sore.Teriakan dan suara tembakan langsung membangunkan penjaga gudang serta para pekerja di ladang opium.Dua penjaga berlari keluar sambil mengangkat senjata, tetapi sebelum sempat membidik, sebuah roket sudah meluncur ke arah mereka.Whoossshh— DUAAAR!Roket itu menghantam pintu gudang dengan telak. G
"Kirim dua kelompok." Adelina menjawab pertanyaan itu. Tatapannya berubah semakin dingin. "Kelompok pertama tetap tim investigasi. Selidiki mereka sungguh-sungguh. Kalaupun tidak menemukan apa-apa, itu bukan masalah."Ia berhenti sejenak, lalu mengetuk beberapa titik penting di wilayah Keluarga Wijaksana pada peta. "Kelompok kedua adalah pasukan bunuh diri. Pilih orang-orang yang identitasnya tidak dikenal, benar-benar setia, benar-benar bisa dipercaya, dan sudah siap mati. Suruh mereka mengenakan seragam Keluarga Mahardika, lalu menyusup ke wilayah Keluarga Wijaksana."Nada suaranya tetap tenang, tetapi setiap katanya dipenuhi tekad yang dingin."Lakukan pembunuhan, pembakaran, dan sabotase. Semakin besar kerusakannya, semakin baik. Kalau bisa, ledakkan gudang senjata mereka, bakar ladang mereka, lalu habisi beberapa tokoh penting mereka."Ekspresi Pramudya langsung berubah drastis. "Kakak... apa kita benar-benar akan melakukan ini?"Suara Pramudya sedikit bergetar. "Itu sama saja de
Keheningan kali ini berlangsung sangat lama.Tepat ketika Adelina mengira sambungan telepon telah diputus, suara Wiranata kembali terdengar. Nada suaranya serak dan dipenuhi kelelahan."Anakku sudah mati. Siapa pun pembunuhnya, dia meninggal ketika sedang bernegosiasi denganmu. Utang ini harus dibayar."Hati Adelina terasa berat, tetapi ia tidak menyela."Aku memberimu waktu dua puluh empat jam." Wiranata melanjutkan dengan nada dingin. "Temukan pelaku sebenarnya dan serahkan pembunuhnya kepadaku. Jika dalam dua puluh empat jam aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan..."Ia tidak melanjutkan ucapannya, tetapi ancaman itu sudah cukup jelas.Sambungan telepon kemudian terputus.Nada sibuk terdengar berulang kali dari ponsel di tangan Adelina. Perlahan, ia menurunkan ponselnya dan memandang seluruh orang di ruangan itu. Wajah mereka dipenuhi kegelisahan dan kesuraman."Dua puluh empat jam." Ia mengulanginya dengan suara pelan, tetapi setiap kata terasa seperti paku yang dipaku ke la
Nada sambung terdengar terus berbunyi, sementara Adelina menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya tersambung dan sebuah suara terdengar dari seberang. Bukan suara Wiranata, melainkan suara pria yang lebih muda, dipenuhi amarah yang tertahan."Nona Adelina, ayah saya sedang tidak bisa menerima telepon.""Bramasta." Adelina langsung mengenali suara itu. Pemilik suara tersebut adalah putra sulung Wiranata Nirvana. "Biarkan aku berbicara dengan ayahmu. Aku tahu dia ada di sana."Keheningan menyelimuti sambungan telepon selama beberapa detik. Terdengar suara gesekan sebelum sebuah suara tua yang sarat amarah mengambil alih."Adelina Mahardika."Hanya dua kata, tetapi setiap suku katanya terdengar seolah diperas dari sela-sela gigi, dipenuhi kebencian yang mengental."Saudara Wiranata." Suara Adelina tetap tenang dan bahkan terdengar sangat serius. "Aku baru saja mendengar kabar tentang putramu. Aku turut berduka.""Turut berduka?" Suara Wiranata mendadak meninggi. "Anakku sudah mati! Kepalan
Lampu bedah menyala terang, menyorot luka mengerikan di punggung Arka.Vanessa mengenakan sarung tangan steril, pikirannya sepenuhnya bersih dari gangguan. Instruksinya jelas, cepat, dan presisi saat ia memimpin tim.
Di bawah komando Bayangan Azura, seluruh tim bergerak cepat dan terkoordinasi, mengangkat puing beton serta rangka baja dari titik sumber suara tanpa jeda. Debu beterbangan di udara, napas tersengal, dan setiap detik terasa memanjang seolah waktu sendiri menahan me
Di dalam ruangan itu, kontras yang menjijikkan terjadi.Riko, sosok pria bertubuh besar dengan wajah merah karena alkohol, terbaring di ranjang besar. Dua wanita muda melingkar di sekitarnya dengan tawa rendah. Ditambah aroma alkohol dan napas yang berat.Kasur berderit pelan.Ia tenggelam dalam ke
Zona Industri Arganta.Beberapa menit kemudian.Gerbang besi pabrik tua berdiri berkarat. Bangunan beton gelap menjulang seperti kerangka raksasa. Di dalamnya, dengan situasi jauh lebih mengerikan.Mireya terikat pada kursi, tangan dan kakinya diikat tali kasar. Lakban akhirnya menutup mulutnya, ke







