LOGINMencapai puncak kejayaan, Abimanyu akhirnya meninggal di usia 89 tahun tanpa Istri dan anaknya. Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya. Namun, setelah meninggal, Abimanyu justru kembali ke masa lalu, ketika dia masih berusia 28 tahun dan ketika istri dan anaknya masih hidup. Di kehidupan ini, berbekal dari ingatan masa depan, Abimanyu menciptakan kerajaan bisnisnya dan meraih puncak kekuasaan bersama istri dan anaknya.
View More"Apakah kamu memiliki penyesalan?"
Di tengah napas yang semakin tersengal dan detak jantung yang meronta di ambang akhir, Abimanyu samar-samar mendengar sebuah bisikan. Ia tidak lagi peduli dari mana asal suara itu. Bagaimanapun, kematian sudah berdiri di ujung ranjangnya. Mungkin itu hanya halusinasi dari otak yang sedang sekarat. Namun, pertanyaan itu telanjur menggema dan mengoyak kesadarannya. Penyesalan? Dalam pandangannya yang mulai mengabur, siluet seorang wanita dan senyum lugu seorang gadis kecil tiba-tiba melintas perlahan. Hati Abimanyu, yang selama puluhan tahun telah membeku oleh kerasnya ambisi, mendadak berdenyut teramat nyeri. Di detik-detik napas terakhirnya, ia hanya bisa memaksakan sebuah senyum getir yang menyayat. Ya. Ia sangat menyesal. Penyesalan itu begitu pekat hingga rasanya mencekik. Seandainya waktu sudi berputar mundur, ia rela menukar setiap rupiah dari kekayaannya, bahkan seluruh nyawanya, hanya untuk bisa kembali memeluk mereka di masa itu. Namun, sayang seribu sayang, kenyataan tidak pernah berbaik hati pada kata “seandainya”. Malam itu, di balik dinginnya tembok sebuah mansion mewah di jantung Kota Batavia, Abimanyu, seorang konglomerat besar dengan aset bernilai empat ratus triliun rupiah, mengembuskan napas terakhirnya pada usia delapan puluh sembilan tahun. … “Uh?” Di sebuah kontrakan petak sederhana yang hanya memiliki dua kamar tidur sempit dan satu ruang tamu, Abimanyu perlahan membuka matanya. Di mana aku? Abimanyu berseru dalam hati dengan penuh kebingungan. Tanpa sadar, ia mengamati sekelilingnya. Ruang tamu itu luasnya tidak sampai lima belas meter persegi. Botol-botol minuman keras murahan dan puntung rokok berserakan di mana-mana. Aroma tidak sedap dari sisa mi instan bercampur dengan bau menyengat rokok dan alkohol. Kondisinya sangat berantakan dan penuh barang, bahkan lebih buruk daripada kandang anjing. “Bukankah ini kontrakan yang saya tempati enam puluh tahun lalu?” gumamnya lirih. Segala hal yang familier di ruangan itu membangkitkan kenangan menyakitkan yang telah dipikul Abimanyu selama enam puluh tahun terakhir. Secara naluriah, ia teringat pada isak tangis di samping tempat tidurnya tepat sebelum kematiannya. Ia mengira jiwanya sedang ditarik kembali untuk menyaksikan adegan dari kehidupannya enam puluh tahun silam. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh... Brak! Pintu kontrakan itu didorong terbuka dari luar. “Ayah!” Sebuah suara jernih dan kekanak-kanakan terdengar nyaring. Seorang gadis kecil berusia empat atau lima tahun berlari dengan gembira dari ambang pintu. Ia sepenuhnya mengabaikan kotoran dan bau busuk yang menguar di dalam ruangan tersebut. Ia juga tidak peduli dengan penampilan ayahnya yang berantakan dan tidak terawat. Gadis kecil itu bergegas menghampirinya, lalu memeluk kakinya erat-erat. “Ayah! Lala sangat merindukan Ayah! Ayah, tolong jangan bertengkar lagi dengan Ibu, ya? Lalu, jangan biarkan Ibu membawa Lala ke rumah Nenek lagi, ya?” isaknya dengan manja. Deg! Dalam sekejap, Abimanyu merasa seperti disambar petir. Ia merasakan kehangatan putrinya yang memeluk erat pahanya. Ia merasakan air mata anak itu membasahi celananya. Pikiran Abimanyu mendadak kosong. Apakah ini bukan sekadar ilusi kembalinya jiwa? Ataukah ia benar-benar terlahir kembali ke enam puluh tahun yang lalu? “Lala, kemari!” Sebuah teguran keras menginterupsi lamunan Abimanyu. Seorang wanita yang mengenakan gaun sederhana, berparas cantik dan memancarkan aura intelektual, tetapi tampak lesu serta lusuh, muncul di hadapan Abimanyu. Nisa! Wanita itulah yang telah menghantui mimpinya berkali-kali selama enam puluh tahun terakhir. Sosok itu membuatnya selalu terbangun sambil menangis. Di kehidupannya yang sebelumnya, ia hidup hingga usia delapan puluh sembilan tahun, tetapi menghabiskan enam puluh tahun dari masa itu dalam kubangan rasa bersalah. Seandainya saja bukan karena perilakunya yang berengsek. Seandainya saja ia tidak berulah, istri dan putrinya tidak akan berakhir tragis. Ya, ia sendirilah penyebabnya. Pria itu tidak hanya menghancurkan keluarganya sendiri, tetapi juga menyebabkan Nisa dan Lala meninggal dengan membawa dendam. Yang lebih menjijikkan lagi, bahkan setelah kematian istrinya, ia sempat membenci wanita itu dan menyimpan dendam karena mengira Nisa telah berkhianat serta membawa putri mereka ikut mati bersamanya. Barulah enam bulan kemudian, setelah ia mengetahui seluruh kebenaran, segalanya menjadi jelas. Hari itu adalah kali pertama ia mengunjungi makam istrinya untuk memberikan penghormatan terakhir. Di sana, ia menangis selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Ia tidak menelan sebutir nasi pun, apalagi meminum setetes air. Seandainya bukan karena penjaga makam yang kebetulan menemukannya, ia mungkin sudah menyusul istri dan putrinya ke alam baka pada tahun itu juga. Namun, kejadian tak terduga benar-benar terjadi. Tuhan rupanya memberikan kesempatan yang luar biasa baginya. Ia terlahir kembali dan ditarik mundur ke enam puluh tahun yang lalu. “Nisa...” panggilnya lirih dengan tenggorokan tercekat. Menatap Nisa, sosok yang telah ia impikan berkali-kali selama enam puluh tahun terakhir, sosok yang suara, penampilan, dan senyumannya terus menemaninya melintasi waktu, suara Abimanyu mendadak berubah serak.Namun, mengapa tidak ada yang mempercayainya?Mengapa semua orang memperlakukannya seperti orang gila?Mengapa semua orang berkata ia sudah kehilangan akal?Apakah hanya karena perusahaan luar negeri belum mampu mengembangkannya?Keputusasaan menyelimuti orang yang dahulu gemilang dan eksentrik itu.Dari utara, timur, hingga selatan Indonesia, ia telah melakukan perjalanan panjang.Ia sudah mengunjungi hampir semua kantor pusat merek papan atas, papan kedua, bahkan papan ketiga di Indonesia.Namun, ia bukan hanya gagal menemukan perusahaan yang bersedia mempercayainya atau berinvestasi kepadanya. Ia bahkan gagal menemukan perusahaan yang mau menerimanya bekerja.Sekarang, ia bahkan tidak bisa masuk ke beberapa merek kelas tiga.Panji Junaedi tahu bahwa seluruh industri sudah memasukkannya ke daftar hitam.Karena ide-idenya yang dianggap gila, perusahaan-perusahaan itu tidak mau lagi membuang waktu berurusan dengannya.Ia semakin menyadari bahwa dirinya telah menjadi bahan tertawaan di
“Saya diam-diam menyuruh orang memeriksa ulang semua proyek yang pernah dikerjakan PT Konstruksi Sentosa. Hasilnya, seluruh dua puluh tiga proyek memiliki masalah kualitas serius. Termasuk tujuh proyek pemerintah dan fasilitas umum yang diambil dari pemerintah kota,” kata Bagas Kusuma dengan keringat dingin mengalir deras dan wajah pucat.“Semuanya proyek bermasalah?” Tangan Kusuma Wijaya gemetar.“Nilainya bahkan kurang dari setengah standar normal,” jawab Bagas Kusuma dengan suara gemetar.“Sial, ini bisa membunuh orang!” seru Gilang yang berdiri di dekatnya.Ia semula mengira bahwa meskipun Kuncoro ingin menjebak Bagas Kusuma, setidaknya orang itu masih tahu batas.Namun, kualitasnya bahkan kurang dari setengah standar normal.Ini jelas upaya menyeret Bagas Kusuma dan seluruh Keluarga Kusuma ke neraka.Mudah dibayangkan, jika masalah kualitas ini muncul dan sampai merenggut nyawa orang, Bagas Kusuma beserta keluarganya akan menghadapi kehancuran total.“Saya tidak pernah menyangka
Kawasan pusat bisnis Batavia.Di sebuah gedung yang tidak terlalu jauh dari kantor pusat Grup Garuda Properti.Kantor pusat sebuah merek kosmetik ternama dalam negeri.Di ruang resepsi.Seorang pria berusia akhir tiga puluhan, mengenakan setelan jas, tetapi wajahnya tampak lelah dan dihiasi janggut tipis, menatap pria paruh baya di hadapannya dengan ekspresi bimbang.“Pak Harlan, apakah Anda benar-benar tidak ingin mempertimbangkan krim penghilang bekas luka yang saya sebutkan? Percayalah, berikan saya laboratorium dan pendanaan, maka saya pasti bisa menciptakan produk yang populer di seluruh dunia untuk Anda.”Pria paruh baya di hadapannya justru menggeleng sambil mengejek.Ia menghela napas.“Panji, Panji, kamu sudah gila atau bagaimana? Kalau tidak salah, ini sudah perusahaan ketujuh belas yang kamu datangi, bukan? Dari wilayah utara, timur, sampai sekarang ke selatan Indonesia. Tahukah kamu bahwa kamu sudah menjadi momok di industri ini? Apakah kamu tidak tahu mengapa kamu dipecat
“Hari itu, di perusahaanmu, saya bertemu Lukman, direktur utama Pabrik Minuman Lestari. Saya melihat kariernya tampak suram, dan wajahnya menunjukkan tanda akan berurusan dengan penjara. Dengan sedikit penalaran, saya menyimpulkan bahwa penyebab ia dipenjara kemungkinan berkaitan dengan pekerjaannya. Selain itu, ia tidak tampak seperti orang yang melakukan kejahatan demi keuntungan pribadi. Jadi, menurut saya, ia tidak akan dipenjara karena penggelapan uang.”Abimanyu melanjutkan dengan tenang, “Karena masalahnya berakar dari pekerjaannya dan menyebabkan ia terancam penjara, setelah mengesampingkan kemungkinan ia dipenjara karena keserakahan pribadi, kemungkinan besar masalahnya berkaitan dengan posisinya sebagai perwakilan hukum dan direktur utama. Setelah disimpulkan lebih jauh, masalah itu sangat mungkin terletak pada perusahaan tempat ia bekerja, yaitu Pabrik Minuman Lestari. Dalam keadaan seperti itu, menurutmu apakah kerja sama dengan mereka akan berakhir baik?”Tiba-tiba, Abima
Dengan beberapa gerakan cepat, ia memasukkan beberapa pakaian dan kebutuhan sehari-hari miliknya serta milik Lala ke dalam koper, lalu menyeretnya keluar. “Lala, ikut Ibu!” Bagi Nisa, menghadapi Abimanyu sedetik lebih lama pun terasa menyiksa. “Ibu, bolehkah kita tidak pergi? Bolehkah kita tingg
Pramuniaga itu terdiam.Staf keuangan juga terdiam.Manajer Tono pun ikut terdiam.Apa ini?Apakah membeli rumah semudah membeli sayuran di pasar?Meskipun harga rumah di Griya Kenanga tergolong murah, harganya tetap jauh dari harga sayur.Namun, hal yang lebih membuat mereka tercengang belum terja
Setelah kedua belah pihak duduk dan siap, Abimanyu tiba-tiba berkata, “Untuk saat ini, saya tidak akan membayar uang muka penuh. Saya hanya membayar tanda jadi. Selain itu, perjanjian pemesanan atas tanda jadi ini harus bisa dialihkan kepada orang lain. Kemudian, terlepas dari apakah harga rumah na
Di dalam mobil, suasana hening sesaat.Beberapa saat kemudian, Gilang yang tidak lagi mendesak untuk mendapatkan jawaban kembali berbicara.“Pak Abimanyu, apakah Anda tidak penasaran jebakan macam apa itu?”“Saya tidak suka mencampuri urusan yang tidak ada hubungannya dengan saya.”Setelah jeda, Ab












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore