Mag-log inEntah dapat ilham dari mana, hari itu Tala memasak sendiri menu kesukaan Geza. Lalu, tanpa diminta, ia rela mengantarkannya ke Bhuwana. Kebetulan selepas makan siang ia memang ada agenda meeting di kawasan sekitar kantor Geza.Tapi... harusnya ia tidak se-effort ini, bukan?Pagi-pagi sekali Tala sudah mengabari Geza bahwa ia akan mampir membawa makan siang. Balasan pria itu datang singkat.Oke.Tak lama kemudian muncul pesan baru.Kesini jam berapa? Jangan terlalu siang.I need energy.Beberapa detik setelah terkirim, pesan terakhir itu dihapus kembali oleh Geza. Tala tak kuasa menahan tawa kecil.Setelahnya, Geza kembali menghilang. Mungkin sibuk dengan rapatnya. Menjelang tengah hari, barulah ponselnya kembali bergetar.Kalau udah berangkat kabarin saya.Tala baru saja menyalakan mesin mobil ketika pesan berikutnya masuk.Udah jalan?Disusul satu lagi.Hati-hati.Sekitar dua puluh menit kemudian...Sampai mana?Tala tak kuasa menahan tawa. Baru kali ini Geza terdengar setidak sabara
Geza menunjukkan layar ponselnya ke arah Tala. "Mau yang ini?"Tala hanya melirik sekilas sebelum menggeleng. "Bosen. Sansa keseringan makan itu.""Dia yang suka.""Suka bukan berarti tiap minggu harus ke situ kan Za?" Tala kembali fokus memperhatikan Sansa yang baru saja masuk ke dalam kolam."Fine. Kamu aja yang cari lah." Geza menyimpan ponselnya. Pandangannya kemudian jatuh pada baju renang Sansa yang dipenuhi ruffle kecil di bagian bahu."Ta.""Hm?""Bisa nggak sih lain kali baju renang Sansa jangan yang ribet-ribet begitu?"Tala menoleh sekilas. "Lucu, tahu.""Lucunya lima menit. Makenya dua puluh menit." Geza menunjuk pelampung di pinggir kolam. "Coachnya juga tadi nungguin kamu beresin pita itu."Les renang Sansa dijadwalkan setiap Rabu sore dan Sabtu pagi. Jika pekerjaan di Janitra sedang tidak terlalu padat, Tala akan mengantarnya sendiri di hari kerja. Sementara setiap akhir pekan, Geza hampir selalu ikut menemani.Tala terkekeh pelan."Terus kenapa sih hobi banget beliin d
"Pak... saya udah ajuin cuti buat awal bulan nanti. Di-ACC nggak, Pak?" tanya Rena hati-hati.Geza masih menunduk menelaah berkas yang baru saja disodorkan Rena. Setelah membubuhkan tanda tangan di halaman terakhir, ia membuka laptop dan mengetik beberapa hal tanpa mengangkat kepala.Rena melirik Bastian sebentar, lalu kembali mencoba."Kalau nggak bisa empat hari... satu hari juga nggak apa-apa, Pak."Tetap tidak ada jawaban.Bastian yang sedang bersandar di sofa sambil menyeruput kopi akhirnya ikut menimpali, "Emang lo ngajuin berapa hari, Ren?""Empat."Bastian langsung mendengus. "Anjir, ngimpi. Sengaja ngepasin libur nasional, kan? Biar total seminggu."Rena nyengir tanpa rasa bersalah. "Nah."Baru setelah itu Geza menutup laptopnya, menyerahkan map yang sudah selesai ditinjau, lalu mengangkat pandangan ke arah Rena."Udah saya approve. Kamu bisa cuti," ujar Geza santai.Bastian nyaris menyemburkan kopi yang baru saja diteguknya.Rena pun terpaku beberapa detik. Matanya membulat
Jam dinding telah melewati pukul satu dini hari ketika riak itu akhirnya benar-benar reda, menyisakan keheningan yang begitu damai.Mereka masih terjaga.Berbalut selimut tebal yang menyelimuti tubuh keduanya, Geza menarik Tala semakin dekat ke dalam peluknya. Dagu pria itu bertumpu ringan di atas kepala Tala, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang perempuan itu, enggan memberi ruang sekecil apa pun.Tala membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Geza. Detak jantung pria itu berdetak pelan dan teratur di bawah telinganya, menghadirkan rasa yang tak pernah ia bayangkan bisa ditemukan pada pria itu. Tenang.Di hadapan mereka, jendela besar membingkai Jakarta yang masih terjaga. Cahaya gedung-gedung tinggi berpendar di kejauhan, berkilau seperti taburan bintang yang turun ke bumi. Tirai tipis bergoyang perlahan diterpa embusan pendingin ruangan, sementara apartemen itu tenggelam dalam sunyi yang untuk pertama kalinya tidak lagi terasa hampa."Kamu selalu sewan
Pertanyaan itu Tala jawab bukan dengan kata-kata. Ia hanya berjinjit sedikit, lalu mengecup bibir Geza dengan begitu pelan.Begitu lembut.Begitu hati-hati.Persis seperti kecupan yang pernah Geza bagi di depan pintu rumah saat mereka pulang naik busway dua bulan lalu.Astaga.Sudah dua bulan ternyata. Dua bulan tanpa saling menyentuh. Tanpa cumbu. Tanpa kecupan. Tak ada interaksi fisik sama sekali, yang perlahan tumbuh justru kebiasaan-kebiasaan kecil.Hampir setiap malam setelah Sansa tidur, Tala dan Geza akan duduk sejenak di kitchen island. Tala membereskan dapur, sementara Geza menemaninya dengan segelas kopi atau air putih sambil menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Mereka saling bertukar cerita tentang hari yang baru saja berlalu.Kalau Tala membawa pekerjaan Janitra ke rumah, Geza akan ikut bergabung begitu saja. Kadang mengoreksi, kadang menawarkan sudut pandang lain, meski sebenarnya semua itu sudah berkali-kali ia ajarkan sejak Tala pertama kali duduk di jajaran komisaris J
Apartemen Geza berada di kawasan Senopati, hanya beberapa menit dari SCBD. Terletak di lantai tiga puluh dua sebuah gedung eksklusif, tempat itu menawarkan pemandangan kota Jakarta dari balik jendela kaca tinggi.Begitu masuk, Tala langsung tahu satu hal. Apartemen itu lebih mirip kantor pribadi daripada tempat tinggal. Meja kerja besar dipenuhi dokumen proyek yang tersusun rapi, laptop, dan catatan dengan label yang bahkan masih tertata sempurna. Rak di dinding berisi buku tentang konstruksi, bisnis, dan manajemen.Tempat itu luas, full furnitur. Tidak ada barang yang diletakkan tanpa alasan. Semuanya punya tempat. Elegan, mahal, tapi terasa seperti ruang kerja yang kebetulan memiliki sofa dan tempat tidur. Tala bisa membayangkan Geza yang dulu pulang hanya untuk berganti suasana sebelum kembali membuka laptop."Za, workaholic kamu tuh bener-bener gila. Sesuai reputasinya," komentar Tala sambil menjatuhkan diri ke salah satu kursi.Geza terkekeh pelan.Ia melepaskan jasnya, lalu meng
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men







