تسجيل الدخولApakah alkohol akan menjadi pelarian Doni, lagi? Entah. Yang jelas dia masih berusaha melanjutkan sesuatu yang sudah dia kerjakan. Sore itu, Doni kembali berdiri di depan pintu apartemen Mira. Pintu yang pernah menjadi saksi tawa mereka, mimpi mereka, dan rencana masa depan mereka. Sebuah titik juga, saat dia merasa dijebak namun akhirnya menerima dan memperjuangkan. Namun kali ini pintu itu terasa asing—dingin, kaku, seperti dinding yang menolak harapan.Tok. Tok. Tok.“Mira… ini aku,” ucap Doni lirih. “Kita harus bicara. Tolong buka pintunya.”Tak ada jawaban.Tok. Tok. Tok. Ia kembali mengetuk, sedikit lebih keras. “Mira, aku mohon… apa pun itu, jangan sembunyi dariku.”Senyap.Beberapa detik berlalu. Lalu menit. Dan seperti sebelumnya… tak ada gerakan apa pun dari dalam. Tak ada bayangan kaki di bawah pintu, tak ada suara kunci diputar, tak ada isyarat bahwa Mira bersedia membuka celah hatinya walau sedikit saja.Hanya keheningan yang menusuk.Akhirnya, setelah menunggu terlalu
Tanpa menunggu semua penumpang turun, Doni bangkit tergesa. Pramugari sampai menegur berulang karena gerakannya terlalu buru-buru.“Pak… silakan kembali ke tempat duduk. Bergantian keluar ya pak. Space pintu keluar terbatas. “Ia tidak peduli. Langkahnya cepat, hampir berlari keluar dari bandara.Ia sengaja memasukan koper ke kabin, sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama koper keluar dari antrean. Sebuah strategi kecil, karena dia pasti ingin segera keluar bandara. Ia tidak memesan taksi on-line. Ia gunakan taksi konvensional dan segera memberikan arahan untuk lewat jalur tikus agar lebih cepat. “Langsung ke alamat ini pak? Tarifnya sesuai argo ya pak. “ Ucap sopir taksi tersebut,”kalau lewat jalan tikus pasti agak jauh tetapi memang tidak macet. ““Iya Pak. Pokoknya segera sampai. “ Jawab Doni dengan kilat. “Baik Pak. Kenakan sabuk pengaman dan duduk dengan nyaman. “Perjalanan dari bandara ke rumah Mira adalah perjalanan paling panjang meski hanya puluhan menit. Doni memutar
Mundur beberapa jam dari sudut pandang Sylvi. Pesawat yang ditumpangi Doni mulai bergerak perlahan menjauhi landasan Bandara Ngurah Rai. Kebetulan di bandara internasional yang terletak di Kabupaten Badung ini, terminal keberangkatan domestik semua maskapai sama, sehingga mudah diamati. “Don… Hati-hati. Kamu harus selamat dan bisa memilih mana yang harus di pilah. “ lirih Sylvi, netranya terpana ke arah pesawat yang mulai bergerak. Meski beberapa jam sebelumya Sylvi berpura-pura tidak terlalu peduli, namun secara hati ia tidak membiarkan Doni sendiri. Tanpa Doni ketahui, Sylvi menyusul ke bandara buktinya. Tentu setelah Sylvi menyiapkan Action Plan sebagai tindak lanjut dari presentasi Doni sebelumnya. Sebagai tahap lanjutan, Sylvi mulai menyusun Letter of Intent (LoI) sebelum masuk ke MoU. Ia mengumpulkan seluruh dokumen hasil presentasi berikut Action Plan untuk diserahkan kepada tim legal. Meskipun seharusnya itu adalah tugas Doni. Dari balik kaca ruang tunggu VIP, Sylvi berdi
Pagi harinya, Sylvi membangunkan Doni. Kepalanya berat, namun anehnya ia merasa jauh lebih tenang daripada malam sebelumnya.“Doni,” ujar Sylvi pelan, “kita harus berangkat sekarang.”“Heemh.” Doni membuka kelopak matanya malas. Pengaruh alkohol masih terasa benar di otaknya. “ Kamu harus segera sadar! “Pekik Sylvi. Dia segera menyeret Doni ke kamar mandi dan mengguyur Doni dengan kran air sebanyak mungkin. Setelah keluar dari kamar mandi, segelas susu steril sudah tersaji. Lengkap dengan roti sebagai penyela cacing di perut. “Minum ini dan isi perutmu dengan ini. Semoga bisa meredakan pengaruh alkohol di tubuhmu. “ Pinta Sylvi. Doni menurut dan langsung menyantap apa yang ada dihadapannya. Sylvi berulang mengecek ponsel. Memastikan waktu masih cukup. “Ayo berangkat. “ Perintah Sylvi yang langsung diikuti Doni. Dalam perjalanan, Doni hanya diam. Pikirannya masih kelabu, namun ia memaksa fokus.“Don.. Ini kesempatan terakhir mu. Kesempatan utama kita. Please jangan kecewakan ak
Malam itu seharusnya menjadi waktu istirahat setelah presentasi yang melelahkan. Namun bagi Doni, malam itu justru menjadi awal dari kekacauan baru.Sylvi memencet pintu kamar hotel, sejak kejadian sebelumnya Doni memang sengaja mengunci pintu.Setelah membuka pintu, Doni kembali ke dalam dengan wajah tegang sambil membawa laptop.“Don, kita harus revisi materi untuk besok. Investor yang datang beda dari rundown awal. Kita perlu menyesuaikan beberapa poin.”Doni melihat ke jari Sylvi, tidak ada cincin. Lalu dia segera mengangguk lemas. “Oke, Bu Sylvi, Sini.”Mereka duduk di meja kecil dekat jendela, laptop terbuka, suara ombak Bali terdengar jauh. Membuat suasana khas yang sangat nyaman untuk berpikir dan mencari ketenangan. Baik sekadar liburan atau bekerja. Namun ketenangan alam itu tidak mampu menjinakkan badai di kepala Doni.Ketika Sylvi membuka draft materi yang Doni kerjakan sore tadi, ia langsung mengerutkan dahi.“Don… ini salah semua. Bagian data keuangan tidak jeli. ”Doni
Venue itu mewah, tempat perusahaan besar dan pemilik modal berkumpul. Bisa sekadar untuk mendengar proposal kerja sama baru, ataupun guna menggugurkan kewajiban undangan wajib dari pemerintah.Sylvi tampil rapi, rambut terikat, seragam kantor menyatu dengan aura profesionalismenya. Sementara Doni… hanya berusaha terlihat seperti orang yang tidak sedang hancur.“Don,” panggil Sylvi pelan begitu mereka masuk lift. “Kamu baik-baik aja? Sejak tadi diam banget.”“Oh, iya. Aku… cuma kurang tidur.”Sylvi menatapnya dalam, seolah mencari celah dari kebohongan kecilnya.“Kamu yakin?”Doni mengangguk cepat.Tapi bagaimanapun, ketidaktenangan itu tidak bisa ditutupi. Matanya sembab, konsentrasinya buyar, bahkan ia salah menekan tombol lift.Juga berbagai kesalahan kecil lain. Apakah itu semua pertanda akan kejadian lain hari?Ruangan besar itu dipenuhi para petinggi perusahaan. Projector menyala. Slide pertama muncul. Sylvi berdiri di samping Doni dan memberi anggukan kecil.“Tenang ya, Don. Kit
Nadia segera menyingkarkan tangan Doni dari mulutnya. Dia mendekatkan bibir ke telinga Doni, “Abis kuda-kudaan yah?”Doni menggerakan tangan ke kanan dan kiri. Berusaha menyanggah pertanyaan Nadia dengan jawaban terbaik. Dia segera menarik tangan Nadia untuk menjauh dari pintu tersebut.“Bukan mbak
“Mas Doni, sembunyi dulu disini ya,” kata Sandra yang langsung dituruti Doni. Tidak ada jalan keluar memang, kecuali hanya sembunyi sementara. Dia juga tidak akan bisa dengan mudah menjelaskan keberadaannya ke suami Sandra tersebut.Sandra segera mengenakan handuk kembali, lalu merapikan rambut dan
Tok..tok..tok“Permisi mas, saya sudah selesai. Mana Syakilanya?” Tanya Sandra. Buliran air masih menetes dari rambutnya.Doni segera menunduk. Dia tidak bisa membayangkan kalau handuk itu sampai jatuh. Lagian, untuk sampai ke atas juga harus melewati anak tangga yang lumayan banyak. Mengapa Sandra
Doni segera mengusap mata. Menekan ujung senjata torpedo di balik celana. “Mengecilah, memalukan.” Gumamnya pelan. Nadia yang menindihnya malah memeluk Doni lebih erat.“Aku takut hewan reptil mas. Phobia.” Ucap Nadia, tubuhnya sedikit bergetar.“Sudah gak ada mbak, aman.” Doni, semakin tidak kuat







