Share

Bab 45

Author: UmiPutri
last update publish date: 2026-02-06 13:41:30

Anisa pulang ketika malam sudah larut. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan hampir pukul dua belas. Rumah besar itu terasa sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang kini dihuni banyak orang. Lampu-lampu sebagian sudah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram yang justru membuat langkah Anisa terasa semakin berat.

Ia menutup pintu dengan pelan, seolah takut suara sekecil apa pun akan memancing keributan baru. Sepatunya dilepas asal, tas diletakkan di kursi tanpa ia pedulikan lagi. Tubuhnya lel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 63

    Rahasia yang TerkuburMatahari belum sepenuhnya terbit ketika Naira terbangun. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Bayangan tatapan Arka di ruang kerja terus menghantuinya. Meski suaminya mengatakan percaya, Naira tahu ada sesuatu yang mengusik pikirannya.Di meja makan, Arka sudah duduk lebih dulu. Secangkir kopi di depannya mulai mendingin."Mas, semalam tidur?" tanya Naira pelan.Arka mengangguk singkat."Cuma sebentar."Naira ingin bertanya lebih jauh, tetapi mengurungkan niatnya. Wajah Arka tampak lebih dingin dari biasanya.Tiba-tiba ponsel Arka berdering."Pak Arka, rapat dengan para pemegang saham dimajukan satu jam," suara sekretarisnya terdengar dari seberang."Aku segera berangkat."Arka berdiri sambil meraih tongkatnya.Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kepada Naira."Kalau ada apa-apa, jangan keluar rumah sendirian."Naira mengernyit."Memangnya ada apa?"Arka hanya tersenyum tipis."Anggap saja firasat."Kalimat itu justru membuat hati Naira semakin tidak

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 63

    Selena lalu mengirimkan foto itu ke sebuah nomor tak dikenal dengan pesan singkat.'Sebarkan ke seluruh media sosial. Buat semua orang percaya bahwa istri Arka berselingkuh.'Beberapa detik kemudian, ponsel Arka bergetar.Saat layar dibuka, wajahnya langsung menegang.Foto Naira dan Riko memenuhi layar, disertai tulisan yang membuat darahnya mendidih."Baru sehari menikah, istri Direktur Utama sudah bermain hati dengan pria lain."Arka menatap keluar jendela.Di kejauhan, Naira masih berbicara dengan Riko tanpa mengetahui badai besar sedang mengintainya.Sementara itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang perusahaan.Seorang pria tua turun dengan wajah penuh amarah."Aku tidak akan membiarkan putriku menghancurkan nama keluarga hanya karena menikah dengan pria cacat!"Langkahnya semakin cepat menuju lobi perusahaan.Tak seorang pun menyadari bahwa dalam hitungan menit, rahasia, fitnah, dan amarah akan bertabrakan dalam satu ledakan yang mengubah kehidupan mereka untuk selamany

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 62

    Sentuhan Panas Suami CacatMalam itu hujan turun begitu deras. Di bawah temaram lampu rumah sakit, Naira memandangi sosok pria yang kini resmi menjadi suaminya. Arka bukan pria sempurna. Sebuah kecelakaan beberapa tahun lalu membuat kaki kirinya lumpuh dan ia harus berjalan dengan tongkat.Pernikahan itu bukan karena cinta. Naira menikah demi menyelamatkan usaha ayahnya yang hampir bangkrut, sementara Arka menerima perjodohan demi memenuhi permintaan terakhir ibunya yang sedang sakit."Aku tahu kamu tidak mencintaiku," ucap Arka pelan. "Aku hanya berharap kita bisa saling menghormati."Naira mengangguk tanpa berani menatap mata suaminya.Hari-hari pertama pernikahan dipenuhi keheningan. Arka dikenal dingin dan tegas di perusahaan, tetapi diam-diam ia selalu memastikan istrinya merasa nyaman. Ia menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja, memesan sopir untuk mengantar Naira ke mana pun, bahkan tak pernah memaksakan perasaan.Suatu hari, Naira tanpa sengaja melihat bekas luka panjang

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 62

    “Alice… tunggu dulu.”Langkah wanita itu terhenti di bawah rintik hujan sore. Ia memejamkan mata sebentar sebelum perlahan membalikkan badan. Di hadapannya, Rendra berdiri dengan napas sedikit memburu, jas mahalnya basah terkena hujan yang turun sejak tadi.“Kamu sengaja menghindariku?” tanya Rendra pelan, namun jelas terdengar kecewa.Alice menunduk. Jemarinya mencengkeram tali tas kain lusuh yang ia bawa. “Aku cuma… sibuk.”“Kamu bohong.”Suasana mendadak hening. Hanya suara hujan dan kendaraan yang sesekali melintas di jalan kota.Rendra melangkah mendekat. “Sudah dua minggu kamu berubah. Telepon jarang diangkat. Pesan dibalas seperlunya. Kalau aku salah, bilang.”Alice menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, cepat atau lambat percakapan ini akan terjadi.“Aku tidak marah sama kamu,” katanya lirih.“Lalu kenapa?”Alice mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca. “Karena aku sadar… dunia kita berbeda.”Rendra langsung menggeleng. “Kita sudah bahas ini

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 61

    Waktu berjalan pelan di rumah sederhana itu, namun membawa perubahan yang begitu besar. Wanita yang dulu ditemukan tergeletak di pinggir sungai, kini hidup sebagai bagian dari keluarga kecil Pak Joko dan Bu Hayati. Mereka memberinya nama—Anisa. Nama yang terdengar lembut, penuh harapan, seolah menjadi doa agar hidupnya kembali utuh meski masa lalunya hilang.“Mulai sekarang kamu Anisa ya, Nak,” ucap Bu Hayati suatu pagi, sambil menyisir rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih.Wanita itu hanya mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.Tak ada penolakan. Tak ada pertanyaan. Seolah ia menerima nama itu seperti menerima takdir barunya.Hari-hari berlalu, luka-luka di tubuh Anisa perlahan sembuh. Bekas goresan di lengannya mulai memudar, lebam di pelipisnya menghilang. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai berwarna. Bahkan, kecantikannya semakin terlihat jelas—kulitnya halus, matanya jernih, dan ada aura tenang yang terpancar dari dirinya.Namun ada satu hal yang tak berubah—Anisa m

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 60

    Si wanita itu terbaring lemah di atas dipan bambu sejak hari pertama mereka menemukannya. Pak Joko dan Bu Hayati merawatnya dengan penuh kehati-hatian, seolah merawat keluarga sendiri. Setiap beberapa jam, Bu Hayati mengganti kompres di dahi wanita itu, membersihkan lukanya dengan air hangat dan ramuan sederhana dari daun-daunan yang ia kenal sejak kecil. Bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma tanah basah dari luar rumah, menenangkan sekaligus menambah harap.Sudah hampir dua hari berlalu. Namun wanita itu belum juga siuman sepenuhnya. Sesekali tubuhnya bergerak, alisnya berkerut, bibirnya bergetar seperti ingin berkata sesuatu, lalu kembali diam. Napasnya naik turun, masih berat, tapi teratur. Itu satu-satunya tanda yang membuat Pak Joko dan Bu Hayati bertahan—tanda bahwa ia masih berjuang.“Masih belum sadar juga, Pak,” kata Bu Hayati lirih sambil mengusap tangan wanita itu. “Tapi panasnya sudah turun.”Pak Joko mengangguk pelan. “Syukurlah. Berarti Tuhan masih beri jalan.”Pa

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 38

    Di rumah kecil yang berdiri di ujung desa itu, pagi datang dengan cara yang berbeda bagi Tuan Alex. Tidak ada suara deru mobil mewah, tidak ada langkah kaki para ART yang tergesa, tidak pula dering ponsel tanpa henti. Yang terdengar hanya kokok ayam, angin menyapu dedaunan, dan sesekali suara Bayu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    bab 37

    Ruangan CEO itu dipenuhi cahaya lampu kristal yang berkilau dingin. Kursi kulit mahal, meja kerja lebar dari kayu jati pilihan, dan jendela kaca besar yang menghadap kota seakan menjadi saksi bisu atas tawa yang pecah di dalamnya. Anisa duduk santai di kursi kebesaran itu, kakinya disilangkan anggu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 36

    Teriakan itu menggema keras di ruang kerja besar yang dulu selalu menjadi tempat Tuan Alex mengambil keputusan penting. Suara pecahan kaca vas bunga jatuh ke lantai, berderak memecah keheningan rumah yang sejak lama dipenuhi ketegangan. “Apa maksud semua ini?!” teriak Tuan Alex dengan suara parau,

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 35

    Hari itu langit terlihat cerah, seolah ikut merayakan kepulangan seseorang yang baru saja melewati garis tipis antara hidup dan mati. Rumah sakit yang selama beberapa hari terakhir menjadi saksi perjuangan Amara kini terasa lebih ramah. Bau obat-obatan tak lagi menusuk hidungnya dengan rasa takut,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status