เข้าสู่ระบบDihina, dicerai, dan diselingkuhi hanya karena koki kecil di desa, Arga tidak sengaja menemukan buah ajaib yang memberinya kekuatan. Siapapun yang memakan masakannya akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan Arga, tak hanya itu Arga dapat melihat dibalik pakaian mereka. Dan ada satu lagi kekuatan yang tidak Arga sadari, miliknya bangkit, tahan lama, dan ukurannya akan 2 kali lipat lebih besar dari sebelumnya ketika dia berpikir mesum. Sejak hari itu, kehidupan Arga berubah. Dari yang awalnya di remehkan, dihina. Arga mendadak menjadi primadona desa, diperebutkan para wanita, janda cantik, gadis kota sombong, sampai istri-istri direktur yang sering berkunjung ke klub malam
ดูเพิ่มเติม"Ahh, sakit... pelan-pelan dong, Ga. Sa-sa-sakit banget!"
Arga yang memaju mundurkan pinggulnya di atas tubuh seorang gadis cantik itu tampak begitu bersemangat. Keringat jagung keluar dari pori-pori tubuhnya. Sedangkan gadis berwajah ayu yang berada di bawahnya tak henti-henti menjerit minta ampun. Bahkan, kedua tangan gadis itu mencengkram erat punggung Arga, saking kerasnya sampai meninggalkan jejak cakaran di punggung lebar pemuda itu. Plok! Plok! Milik kedua anak manusia itu beradu, menimbulkan suara gesekan keras, bersatu dengan suara derit dipan tua tempat mereka memadu kasih. "Ahh... ampun, Ga. Aku udah gak tahan lagi, punyaku rasanya perih. Batangan kamu gede banget!" Bukannya berhenti, Arga justru semakin mempercepat gerakannya, memaju mundurkan bokongnya dan membuat batangan tegangnya keluar masuk di dalam liang kenikmatan sang kekasih. Duk, duk, duk! Suara keras gedoran pintu yang berasal dari luar, spontan menghentikan kegiatan gila Arga. "Arga, buka pintunya. Keluar kamu!" Mendengar suara keras gedoran pintu yang disertai suara teriakan di luar rumah, seketika membangunkan Arga yang ternyata sedang bermimpi. Spontan, pemuda itu melompat turun dari atas dipan tua tempatnya tidur. Ia mengusap wajahnya dengan gerakan tangan yang kasar. "Astaga... sial banget hidupku. Kirain beneran ngewong sama pujaan hati, egh ternyata cuman mimpi!" rutuk Arga dengan tubuh melemas. "Arga, buka pintunya!" Teriakan keras dari luar rumah, memaksa Arga yang lemas karena terbangun dari kenyataan mimpi basah itu, melangkah menuju pintu dan membukanya. Setelah pintu terbuka sudah ada warga yang mengerumuni di depan rumahnya, serta tunangannya, Nadira berdiri di samping pria berpenampilan rapi dengan jas mewah yang dikenakannya. "Hei, Koki Kampung! Lihat lah Nadira bersama dengan siapa." Celetuk seorang pria paruh baya, dengan tatapan sinis melihat Arga. "Nadira, pria ini siapa?" tanya Arga, mendekat ke arah samping Nadira. "Dia temanku, Reynaldi namanya." Jawab Nadira, dengan sedikit angkuh. "Perhatikan baik-baik penampilan Reynaldi, Koki kampung gagal! Pria seperti ini lah yang pantas untuk putri kades kita. Tidak seperti kau! Hanya Koki kampung yang gagal, miskin." Warga lain pun ikut menimpali. "Benar, kau tidak pantas untuk Nadira. Mau di kasih makan apa jika Nadira menikah dengan kau!" Beberapa warga lainnya pun ikut menghina Arga. "Hahaha! Yang ada Nadira hidup susah, miskin, kekurangan kalau menikah dengan Arga." "Nadira, apa kau masih ingin bersama pria kampungan miskin ini? Lebih baik kamu bersamaku, Nadira. Aku bisa jamin masa depanmu cerah, kebutuhanmu tercukupi tidak akan kekurangan." Nadira tersenyum menatap Reynaldi, kemudian dia pun beralih menatap Arga dengan tatapan angkuh. "Kau dengar itu, Arga? Reynaldi bisa menjamin hidupku sejahtera, tidak kekurangan, semua yang aku inginkan bisa Rey berikan." Wajah Arga memerah padam, terlihat Arga mulai emosi mendengar perkataan sang pujaan hati. Sementara warga-warga lainnya menertawakan Arga, hinaan dan cacian terus saja terlontar dari mulut mereka. Namun, hanya ada satu orang yang tidak ikut menertawakan Arga. Seorang wanita berjalan mendekat ke arah Arga, seolah berusaha menenangkan Arga. "Tenang jangan emosi, Arga." Ucap si wanita itu, yang diketahui bernama Bu Melati. Seolah tuli, Arga tidak mendengar perkataan Bu Melati. Dia pun hendak melayangkan pukulannya kepada Reynaldi, namun seorang pengawal dari Reynaldi sudah terlebih dahulu melayangkan pukulannya tepat di pelipis Arga. Arga memegangi pelipisnya yang memar akibat pukulan pengawal Reynaldi, dirinya masih tidak menerima dia kembali hendak melawan. Namun, satu tepuk tangan dari Reynaldi membuat ketiga pengawalnya keluar mengepung Arga dari segala sisi. Hingga kemudian Arga pun memilih untuk berlari ketika ada celah, ketiga pengawal tersebut mengejarnya. Arga terus berlari diikuti ketiga pengawal yang mengejarnya, hingga akhirnya Arga berlari hingga masuk ke dalam hutan dan langkahnya terhenti ketika dia merasa ketiga pengawal itu tak lagi mengejarnya. Kemudian Arga pun duduk bersandar di bawah sebuah pohon aneh, tak berselang lama perutnya terasa lapar. Lalu Arga mendongak ke atas, dia melihat ada buah berkilau merah di pohon tersebut. Arga pun langsung bangkit berdiri, dia mulai memanjat pohon tersebut untuk memetik buah yang berada di pohon. Kini di tangannya Arga sudah ada satu buah berkilau merah beraroma vanilla yang sangat kuat, dengan rasa lapar dan penasaran yang melanda Arga mulai memakan buah tersebut. Ketika baru satu gigitan, tubuhnya Arga gemetar hebat dan tubuhnya bercahaya. Dalam sekejap luka-luka di tubuhnya menghilang. "Buah ini luar biasa, seluruh luka-lukaku sembuh." Ucap Arga, dengan mata yang berbinar. Setelah luka-lukanya sembuh Arga pun melangkah untuk keluar dari hutan tersebut, tanpa dia sadari jika buah yang baru saja dia makan tadi adalah buah kuno yang memberinya kekuatan. **** Malamnya, di dapur kecil milik Arga. Terlihat Arga tengah sibuk memasak soto khasnya untuk acara kecil di balai desa, jari jemarinya dengan lincah mengiris-iris setiap daging ayam yang sudah matang digoreng untuk sebagai isian soto. Selesai mengiris daging ayam goreng, Arga mulai mengiris isian lainnya seperti tomat, kentang goreng yang di iris tipis, daun bawang, daun seledri, telur rebus yang dibelah dua dan masih banyak isian lainnya. Usai mengiris seluruh isian soto, Arga pun membuka tutup panci di atas kompor. Dia memasukkan air untuk kuah soto ke dalam panci tersebut, namun belum seluruh air dimasukkan tubuhnya bergetar, kemudian dia lanjut memasak. Bu Melati yang melihatnya ingin membantu karena kasihan, tapi dia mencium aroma yang sangat harum dan enak. "Aromanya harum sekali, Arga. Boleh saya mencicipinya?" tanya Bu Melati, dia terus menatap ke arah panci masakan Arga. "Tunggu sebentar ya, Bu." Jawab Arga, kemudian dia mengambil mangkok. Tangan-tangannya dengan lincah meracik semangkuk soto untuk Bu Melati. Tak sampai 5 menit, Arga sudah selesai meracik semangkuk soto untuk Bu Melati. Kemudian dia menyodorkannya kepada Bu Melati. "Silahkan dicicipi, Bu." Bu Melati kemudian mencicipi soto masakan Arga, saat sesuap soto masuk rasanya sungguh lezat. Sehingga tiba-tiba ada perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Bu Melati menggeliat ketika dia merasakan panas di sekujur tubuhnya, tiba-tiba saja hasratnya muncul. Kemudian tangannya bergerak hendak melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya. "Jangan, Bu!" Arga menghalangi Bu Melati, tanpa sadar tangannya menyentuh payudara milik Bu Melati. Bu Melati tersenyum miring ketika melihat Arga tidak kunjung melepaskan tangannya dari dadanya, seolah dia mengetahui jika Arga memang lah perkasa. Tidak seperti rumor yang beredar mengatakan Arga impoten. "Lihat lah, Arga. Dia berdiri di bawah sana, dia juga ingin." Ucap Bu Melati, dengan nada yang menggoda. Lalu kemudian tangan Arga mulai bergerak di atas dada Bu Melati, dia memijatnya lembut. Membuat Bu Melati melenguh. "Eungh! Terus, Arga. Saya buka ya?" Tangan Bu Melati bergerak hendak membuka atasan yang dikenakannya, namun tangan Arga kembali menahannya. "Biar saya yang buka, Bu." Ucap Arga, tangannya bergerilya untuk membuka atasan yang masih melekat di tubuh Bu Melati. Duk, Duk, Duk! Belum sempat Arga membukanya, terdengar lah suara ketukan pintu dari luar serta suara Pak Suroso, kepala desa memanggil-manggil nama Arga. "Abaikan saja, Arga. Lanjut ya." Ucap Bu Melati, meminta Arga untuk mengabaikan ketukan pintu di luar itu. Arga menurut, tangannya kembali bergerak untuk membuka atasan yang dikenakan Bu Melati. Tapi baru saja dia menarik sedikit, kembali terdengar suara Pak Suroso dari luar. "Arga, saya tau kamu di dalam bersama Bu Melati. Buka pintunya sekarang! Atau saya akan memanggil seluruh warga untuk datang ke sini menggeledah rumahmu!" Mendengar hal itu, sontak Arga menghentikan aksinya. Dia mendorong pelan Bu Melati agar menjauh darinya.Kemudian Arga kecil menghampiri kedua orang tuanya, dia berlari ke arah Ibunya lalu memeluknya dengan erat. "Ibu, jangan sedih nanti Arga ikutan sedih.""Ibu gak sedih, Sayang. Arga kok belum bobo? Sudah malam ini, Arga bobo ya,""Arga haus, Ibu. Jadi Arga bangun, terus pas Arga mau ke dapur, Arga liat Ibu nangis dan Ayah mau tinggalin kita ya, Ibu?""Arga, mau kan ikut sama Ibu? Kita bobo lagi ya masih malam," Wulandari menggendong tubuh mungil Arga, kemudian melangkah menuju kamar Arga. "Ibu, Ayah mau ninggalin kita? Tante itu siapa," tanya Arga, lirih. "Ayah gak ninggalin kita, Sayang. Tante itu temannya Ayah, tapi Ibu mau ajak Arga jalan-jalan mau? Kita ke rumah nenek di Desa.""Mau, Ibu. Arga sudah kangen banget sama Nenek, kangen makan masakan nenek yang enak,"Keesokan harinya, Wulandari membawa Arga yang saat itu masih kecil kembali ke desa. Keduanya menjalani kehidupan yang sederhana namun bahagia. Setiap paginya Wulandari berjualan nasi uduk keliling di Desa untuk memenu
"Iya, Bu. Ibu Melati juga sering ya belanja di sini?" tanya Arga. Rupanya wanita itu adalah Bu Melati, keduanya bertemu secara tidak sengaja di pasar. Setelah selesai belanja, Arga dan Bu Melati pun pulang bersama. "Iya, Arga. Saya tidak menyangka bisa bertemu kamu di pasar. Saya dengar dari para warga kamu pindah ya?" "Iya, Bu. Saya kemarin memang pindahan ke rumah kontrakan, dibantu juga sama Bu Yanti dan Bu Erlina," jawab Arga, mengangguk. "Sayang sekali saya tidak bisa ikut membantu kamu pindahan, pasti kalau ikut saya juga dimasakin kaya Bu Erlina dan Bu Yanti," ucap Bu Melati, terlihat jelas dari matanya seperti memberi kode lain. Arga terdiam, otaknya kembali mengingat adegan panas semalam. Betapa liarnya Bu Yanti dan Bu Erlina malam itu dibawah kungkungannya. "Kalau saya main ke rumah kontrakan kamu nanti malam boleh? Saya juga ingin mencicipi masakan kamu, atau mungkin kamu butuh sesuatu. Baru pindahan pasti masih butuh sesuatu kan." Bu Melati menatap ke arah Arga, terl
Selesai makan malam, Bu Yanti dan Bu Erlina pun hendak berpamitan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Namun, belum sempat mengucapkan kata pamitan. Entah mengapa tiba-tiba saja tubuh mereka terasa panas, rasanya seperti ada sesuatu yang bergejolak panas. Bu Erlina dan Bu Yanti terlihat seperti cacing kepanasan, keringat mulai menjalar turun membasahi. "Panas, panas banget. Arga, tolong," ucap Bu Yanti, dia melangkah mendekat ke arah Arga. Kepalanya bersandar manja di dada bidang Arga. Sementara Arga, menggelengkan kepalanya berharap sesuatu yang tidak seharusnya dilihat adalah hanya sebuah halusinasi. Berbeda halnya dengan Bu Erlina, kancing bajunya itu beberapa sudah dia lepas. Memperlihatkan sedikit belahan dadanya yang tertutup oleh dalaman. "Bu, kalian jangan seperti ini. Ada apa sama kalian?" tanya Arga, dia berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Bu Yanti di tangannya. "Tolong, Arga. Panas, saya gak kuat lagi," ucap Bu Yanti, dia mulai bergerak. Bibirnya itu mulai
Arga pun akhirnya ditemani oleh kedua Ibu-ibu menuju tempat tinggal pemilik kontrakan, satu persatu tempat mereka kunjungi. "Permisi, Pak. Ini teman saya lagi cari kontrakan, tempat Pak Supri masih ada yang kosong kan?" tanya salah satu Ibu-ibu. "Oh iya masih, Bu Yanti. Mari ikuti saya, biar saya tunjukin tempat kontrakannya," jawab Pak Supri, dia berjalan terlebih dahulu. Arga dan kedua Ibu-ibu yang mengantarkannya mengikuti langkah Pak Supri, hingga berhenti tepat di sebuah rumah kontrakan sederhana. "Ini kontrakannya, silahkan di lihat-lihat dulu," ucap Pak Supri, dia membuka pintu kontrakannya yang terkunci. "Silahkan masuk."Arga melangkah masuk, dia melihat ke sekelilingnya. Tempatnya itu bisa dikatakan sederhana, bersih dan seluruh perabotan pun lengkap. Namun, sayangnya dapurnya begitu sempit. Bagi Arga yang seorang koki, dapur yang sangat sempit, sungguh tidak leluasa untuk memasak. "Ini dapurnya emang gini ya, Pak? Dekat banget sama jarak ke pintu kamar mandi, terus ju


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.