LOGIN“I will not let you take me alive” was the last thing she said before it all went dark. Watching both her parents murdered and their kingdom torn to ruins, it seems Leiya's life cannot get any worse, but it does. She is forcefully torn away from her sister and sent as a gift to appease Helion, ruler of the Kaltain Kingdom, the most powerful demon to ever exist, the "Prince of Hell", but Leiya is determined to keep her fathers dying wish. She will find her sister, Nayla at all cost, and not even Helion can stand in her way.
View More"BAJINGAN!"
"Laki-laki biadab!" "Dan kamu pelacar muruhan. Rasakan ini!" "Aahh ... Lepaskan! Dasar perempuan tua tidak berguna. Lepaskan tanganmu dari rambutku!" "Lepaskan tanganmu Ratih! Sudahlah terima saja nasibmu. Aku sudah bosan denganmu!" "Tidak! Aku tidak akan lepaskan. Wanita murahan ini harus merasakan rasa sakitku!" "Ahhh mas kepalaku sakit." "Kubilang lepaskan!" "TIDAK!" "Mas. Hiks ... Tolong." Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita paruh baya itu. Seketika jambakannya pada rambut wanita muda yang merupakan selingkuhan dari sang suami terlepas. Sontak perempuan itu berlari ke arah lelakinya. "Mas kepalaku sakit." Adunya dengan manja. "Maaf ya sayang." Sambil mengelus lembut kepala selingkuhannya. Melihat hal tersebut membuat sang istri menatap tak percaya dengan air mata yang sudah menganak sungai. "Kamu membelanya dan menamparku?" "Itu memang pantas untukmu!" Ucapnya tanpa rasa bersalah, Kemudian lelaki itu pergi membawa serta wanita mudanya meninggalkan sang istri. "ARRGGH LELAKI BIADAB! KURANG AJAR KAMU MAS!! HIKS... " Diara Alifa terbangun dari tidur dengan napas terengah. Sepenggal ingatan kelam itu kembali menghantuinya. Teriakan frustasi ibunya, bentakkan sang ayah serta suara manja dari wanita perebut ayahnya; terus silih berganti berdengung di telinga. Diara ingin mengenyahkan kejadian buruk itu dari ingatan. Kejadian yang telah merubah dan menghancurkan hidupnya dengan seketika. Tapi mengapa semakin ia ingin melupakan malah semakin sering ia mengingatnya. Mengingat di mana saat malam itu ayahnya pergi dan tidak pernah kembali, meninggalkan dirinya beserta sang ibu demi wanita murahan itu. Hari demi hari setelahnya ia lewati dengan sulit. Ibunya depresi karena ulah ayah. Diara harus berhenti sekolah karena tidak ada biaya. Ia yang saat itu masih berumur sembilan tahun, harus terpaksa membanting tulang demi sesuap nasi untuk dirinya dan sang ibu makan. Tidak sampai disitu penderitaan yang Diara alami. Sebab, dua bulan setelah kejadian itu, ibunya ditemukan gantung diri di kamar. Mendapati wanita yang sangat ia sayangi dalam keadaan menggantung tidak bernyawa, sontak saja membuat tubuhnya melemas seketika. Ia berteriak histeris memanggil-manggil sang ibu. Sempat terbesit dalam benaknya untuk menyusul sang ibu. Mengikuti jejaknya untuk mengakhiri hidup. Tapi hal itu urung Diara lakukan, karena secercah cahaya harapan yang datang. Iya. Kala itu Bibi Yeni; adik ibunya, saudari satu-satunya ibu--yang tinggal berbeda kota; datang. Ia merengkuh Diara dan kemudian membawanya pergi untuk tinggal bersama. Diara merasakan bahagia karena sang bibi memperlakukannya dengan sangat baik. Yeni menganggap Diara seperti anaknya sendiri, Yeni juga menyekolahkan Diara lagi. Yeni tidak pernah sama sekali membeda-bedakan Diara dengan anak kandungnya. Tapi sayangnya, kebahagian yang Diara rasakan tidak berlangsung lama. Sebab, saat usianya menginjak angka empat belas tahun, hal yang paling buruk dan mengerikan terjadi dalam hidupnya. Herman, pamannya, suami Yeni, melecehkan Diara. Ia merenggut harta paling berharga dan satu-satunya yang gadis malang itu punya. Diara merasa hancur, takut, bahkan jijik pada dirinya sendiri. Tapi Diara tidak bisa melakukan apa-apa. Herman menekan dan mengancam agar Diara tidak mengadu pada Yeni. Bisa kau bayangkan, gadis berusia empat balas tahun dilecehkan lalu diancam. Apa yang bisa Diara lakukan saat itu? Tidak ada! Ia hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan Herman. Juga harus terus melayani nafsu bejadnya. Hingga satu tahun berlalu, mereka selalu melakukan perbuatan menjijikkan itu di belakang Yeni dan Zahra (anaknya) Entah mungkin karena sudah terbiasa bercinta dengan Herman selama kurun waktu satu tahun. Sehingga Diara mulai rasakan perasaan yang berbeda pada suami dari bibinya itu. Diara tidak mengerti apa itu perasaan cinta atau sejenisnya? Yang jelas saat itu ia merasa nyaman dan juga bahagia. Herman juga tidak pernah melakukannya dengan kasar kecuali saat malam pertama ia merenggut kesuciannya. Namun lagi dan lagi nasib malang menimpa Diara. Hubungan gelapnya dengan Herman akhirnya ketahuan. Yeni marah besar pada keduanya. Yeni memaki, menampar, menjambak bahkan mencakarnya. Untung saja saat itu Herman berusaha untuk menghalanginya, walaupun sebenarnya Herman juga tak luput dari amukkan Yeni. Pil pahit harus kembali Diara telan. Yeni mengusirnya dari rumah. Diara bingung harus pergi ke mana? Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain bibinya. Sejak dulu Diara memang tidak mengenal keluarga dari ayah, yang ia tahu hanya keluarga dari ibu saja. Ibu hanya memiliki satu orang adik yaitu yeni, sedangkan kakek neneknya dari ibu, sudah lama meninggal dunia. Saat itu Diara melangkahkan kaki dengan berat, meninggalkan rumah Yeni. Tanpa arah dan tujuan, ia hanya mengikuti ke mana kakinya ingin pergi. Ia juga tidak punya uang sama sekali, yang ia bawa dari rumah Yeni hanya beberapa pasang baju. "Diara!" Tiba-tiba saja suara seseorang yang amat Diara kenal terdengar memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang, ke arah suara itu berasal. Ia tersenyum senang melihat presensi laki-laki tinggi berusia tiga puluhan yang berlari mendekatinya. 'Itu paman Herman. Dia menyusulku? Apa dia berubah pikiran dan ingin meninggalkan Bibi Yeni lalu lebih memilih hidup bersamaku?' Entah mengapa Diara merasa bahagia, lengkungan senyum manis seketika tercetak di bibirnya. Ini terdengar sangat jahat memang. Tapi ia juga menyayangi atau bahkan saat itu ia telah mencintai Herman. Ia juga ingin memilikinya. Tapi sayang dugaannya salah besar, karena nyatanya Herman mengerjar karena lelaki itu hanya ingin memberikan beberapa lembar uang untuk bekal Diara hidup di luar. Mungkin lelaki itu merasa iba pada Diara. Gadis itu sempat meminta Herman untuk memilihnya dan hidup bersamanya. Namun lelaki itu menolak mentah-mentah. Herman bilang masih sangat mencintai Yeni dan lelaki itu juga tidak bisa jauh dari anaknya. Dan satu hal lagi yang membuat hati Diara serasa seolah disayat-sayat pisau yang begitu tajam, saat Herman berkata bahwa 'kebersamaannya' selama satu tahun tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu. Lagi-lagi Diara merasakan kehancuran itu, lagi-lagi Diara merasakan kehampaan dan sendirian. Satu tahun Diara hidup terlunta-lunta di jalanan. Ia ingin pulang ke kota kelahirannya--menempati rumahnya yang dulu. Tapi uang yang diberi oleh Herman--saat terakhir pertemuan, tidak seberapa, hanya cukup untuk biaya makan beberapa hari saja. Akhirnya Diara mencoba bertahan hidup dengan cara apapun. Semua pekerjaan ia lakoni; dari mulai memulung, membawakan barang belanjaan orang di pasar, menyemir sepatu, sampai akhirnya ia bertemu dengan pemilik warung nasi sederhana bernama Rosidah. Wanita paruhbaya itu sangat baik hati. Beliau memberikan Diara pekerjaan yang lebih layak yaitu membantu di warung nasi. Beliau juga mengajarkan Diara memasak dan beliau memberinya tempat tinggal. Sampai pada saat usia Diara menginjak delapan belas tahun. Rosidah menyarankannya untuk mengikuti pelatihan menjadi asisten rumah tangga. Beliau bilang agar Diara memiliki gaji tetap dan bisa mempunyai hidup lebih baik lagi. Diara menurut, ia mengikuti pelatihan itu. Berkat skil memasak yang Rosidah pernah ajarkan padanya dan juga karena ia memang sudah biasa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak membutuhkan waktu lama, Diara mendapatkan majikan pertamanya. Sepasang pasutri muda yang baru saja mempunyai satu orang anak berusia lima tahun. Nadia dan Bima. Mereka sangat baik padanya. Diara di gaji cukup besar, sekitar dua juta lima ratus rupiah setiap bulannya. Diara senang sekali dengan hidupnya yang sekarang dan semua itu berkat Rosidah. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah melupakan kebaikannya. Bersambung....Valinor Nayla After Leiya left, it took a few more days for Xerian and I to completely settle back into our previous life as prince and princess of Valinor. To announce the returning of his only son and future king, the royal informat was sent to every corner in the entire kingdom. The night we returned, a big fire was lit in the town square. There was loud singing and vigorous dancing. By the next day, King Raslin threw a large feast for the entire kingdom. The castle gates were opened for everyone, both adults and children, to come welcome us. Xerian and I sat on the royal table in the courtroom, waving and smiling to everyone who came. And gifts. The people brought a lot of gifts. From fruits, to vegetables, to meat, to wine, our table was filled with them all. The day after that, the king threw another feast to celebrate our arrival. This time it was not open to the public, only other royals were invited. Kings, queens and their children from far and wide honored his invitati
Kaltain LeiyaHelion immediately let go of me. The fear in Calin's eyes showed he was being completely honest. Kaltain was supposed to be safe. Completely safe. “The forcefield," Helion mumbled in horror. “It's weak, I haven't done the ritual since the last time." My head instantly connected the dots together. Shortly after he performed the ritual, I got myself in trouble with Lyle. He was probably occupied with trying to find me and handle matters of the kingdom. When he finally found me, I left again shortly after.m, taking him in another hunt for me. Kaltain was under attack and it was my fault. Helion turned to me, gripping my shoulders with fear in his eyes. “Go to your chambers and wait for me.” It was more of a warning than an instruction. "No,” I shook my shoulders out of his grip. “Kaltain is also my kingdom.” I mumbled. "I would rather die by your side than hide in my chambers like a coward.”“Leiya," he growled in frustration, running his
Kaltain NaylaXerian made a shocking recovery after a few days. He was able to completely talk audibly, eat without being fed, and walk perfectly fine by himself. He no longer felt the excruciating pain in his stomach when he laughed or coughed. He was also looking more like himself. His cheeks were fuller, his skin was brighter and his eyes were lighter, devoid of pain, worry or anxiety. I could say he was almost like his former self. We were now ready to return to Valinor. He had been looking forward to it everyday since we spoke about it, even happier when I insisted I would leave with him. Which meant I had to speak to my sister about it. Helion was the only one aware I was also leaving. The night before Xerian and I were to leave, I was feeling severe anxiety talking to Leiya about it. Helion overheard my concerns and convinced me to be honest with her. Him and I had formed some sort of relationship while I was at his castle, and I couldn't believe he was the same
Kaltain LeiyaI impatiently walked through the halls in search of Helion. The overwhelming feeling to kiss him passionately grew even worse with each step I took. I was just stepping out of the dinning area when I ran into Calin. The first thing he did was to lower his head in a bow. My jaw almost dropped. “Your majesty." He muttered, before lifting his eyes to meet mine. I was shocked. Shock didn't express it enough, I couldn't believe my eyes. I could swear it was a different person who simply looked like Calin. Calin hated me. Even though he called out Helion's lies about my sister, he did it for his selfish reasons. He did it to get rude of me, and he did. He had no respect for me at all, and now, out of the deep ocean blues, he bowed and referred to me as a royal. With disbelief in my eyes and voice, I tried not to stutter as I spoke. “Have you any idea where his majesty, King Helion, May be?”He opened his mouth to speak, but shut it almost immediat
The second town Leiya The name Willis sounded strange to me, but I was too uninterested to care. “Thank you for your kind offer,” I said calmly, picking up the fifth bowl of broth. "But I do not need your gesture.” I handed it back to the friendl
The second townLeiyaAfter another exhausting two days in the forest, we made it into the second town. I was tired of eating fish or bread, and I couldn't wait to lay my tongue on something hot and spicy. Raslin's men walked on each side of my carriage as we walked into the rowdy to
ValinorLeiyaIt took another two days to journey from Hepthan to Valinor. Within those two days, I read, slept and worried tirelessly about the whereabouts of my sister. I wondered where she was, if she was safe. I feared if she married someone kind or a monster like Lyle. Most of all, I
Valinor LeiyaThe queen didn't look convinced by my response, but that was all she was going to get. I didn't have the time to explain everything I had been through and frankly, I knew she didn't want to listen. She was too worried about her son to care. “So now what?” I turned to
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews