LOGIN"Jangan pernah berharap aku bisa mencintaimu, meski aku setuju dengan pernikahan ini, tapi aku sangat membencimu. karena kehadiran mu membuat ku kehilangan wanita yang paling kucintai." Tia menikah dengan Hadi karena perjodohan, tetapi disakiti berkali-kali. Hadi terang-terangan mengatakan jika mencintai wanita lain dan tak akan pernah mencintai Tia. Setelah 1 tahun menikah, Tia akhirnya menyerah pada cintanya. Namun, setelah Tia pergi dan membuka hidup baru, Hadi baru menyesali perbuatannya.
View More"Tia, waktu kakek sudah tidak banyak. Jika kakek sudah tidak ada di dunia, kamu janji harus jadi wanita yang baik dan hidup bahagia," ucap Surya.
"Kakek, jangan bicara seperti itu. Kakek pasti sembuh, Tia cuma punya kakek," ucap gadis cantik bermata coklat, air mata nya sudah menganak sungai membasahi pipi. Gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh sang kakek, kini merasa sangat rapuh karena seminggu belakangan kesehatan sang kakek semakin menurun. Penyakit hipertensi dan usia yang tak muda lagi membuat Surya semakin lemah, ia memberikan sebuah cincin permata kepada sang cucu dengan tangan gemetar. "Sebelum kakek pergi, tolong datang ke keluarga Prayogi perlihatkan cincin ini pada mereka," ucap Surya dengan suara bergetar. Tia hanya bisa menganggukan kepalanya, setelah sang kakek minum obat dan tidur, gadis cantik itu pun menjalankan amanat sang kakek. Dengan sepeda motor maticnya, ia pergi ke kediaman keluarga Prayogi yang terkenal kaya dan memiliki banyak hotel di kota tersebut. "Apa hubungan kakek dengan keluarga kaya itu?" gumam Tia dalam hati. Ia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, apapun yang terjadi di masa lalu sang kakek yang penting saat ini ia menjalankan amanat itu. Tia yakin ada hal penting yang ingin di sampaikan sang kakek hingga memintanya untuk datang dan memperlihatkan cincin tersebut pada keluarga Prayogi. ~ "Cincin ini? Kamu siapa, dimana Surya sekarang?" tanya seorang kakek tua yang berdiri dengan tongkatnya. Tia sudah berada di dalam rumah mewah, kediaman keluarga Prayogi. Awalnya ia tak diizinkan masuk oleh security. Namun, tak sengaja bertemu dengan wanita cantik dan baik pemilik rumah tersebut. Setelah memperlihatkan cincin kakeknya, akhirnya Tia pun dipersilahkan masuk, kini ia duduk si sofa ruang tamu rumah mewah itu, ditatap oleh 3 orang keluarga Prayogi. "Saya Tia. Saya cucu kakek Surya, sekarang kakek ada di rumah sakit. Dia minta saya datang kesini dan menunjukan cincin ini pada keluarga Prayogi, saya juga tidak tahu apa maksudnya," ucap Tia. "Tia? Kamu Tiana Fadhilah, anak Seruni dan Fadhil?" tanya Hanifa, wanita cantik yang mengizinkannya masuk, istri dari Hendri Prayogi. Tia menganggukan kepala, sedetik kemudian wanita cantik itu langsung memeluknya dengan erat, membuatnya sangat terkejut. "Ya Tuhan kamu sudah sebesar ini, kemana saja kamu dan kakekmu pergi. Sejak mama dan papamu meninggal, kami tak pernah lagi mendengar kabar kalian," ucap Hanifa. Tia sedikit mengangkat wajahnya, menatap wanita cantik paruh baya di depannya dalam-dalam. Akhirnya ia ingat, wanita tersebut adalah sahabat mamanya, kakek tua yang memegang tongkat adalah sahabat kakeknya. Dulu keluarga mereka sering berlibur bersama, tetapi sejak mama dan papa Tia meninggal, perusahaan bangkrut, Surya pun membawa Tia tinggal di pedesaan. Setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di kota barulah Tia membawa sang kakek tinggal di kota. "Tadi kamu bilang Surya di rumah sakit?" tanya kakek Tirta. "Iya, kakek memiliki riwayat penyakit hipertensi. Belakangan kondisi kesehatannya memburuk, sekarang di rawat di rumah sakit karena hipertensi dan komplikasi penyakit lain," jawab Tia. "Dia meminta mu datang kesini, pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan," ucap kakek Tirta. Tanpa banyak basa-basi, mereka pun akhirnya pergi menuju rumah sakit untuk melihat kondisi kakek Surya. Setelah sampai di rumah sakit, suasana haru pun sangat mendominasi ruangan. Sahabat lama yang akhirnya dipertemukan kembali, dua lelaki yang sudah tak muda lagi mengenang masa lalu, membahas hal-hal yang pernah mereka lewati bersama, hingga akhirnya terpisah karena keadaan yang tak terduga. "Tirta, aku rasa waktuku sudah tak lama lagi. Cucuku ini tak punya siapa-siapa, jika aku pergi tolong jaga dia. Apa kau masih ingat perjodohan yang pernah kita inginkan dulu? Apa itu masih berlaku?" tanya Surya. "Kakek ...." Mata Tia kembali basah mendengar ucapan sang kakek. Ia tahu setiap bernyawa pasti akan mati, tetapi menghadapi kepergian sang kakek rasanya ia tak pernah siap. Tirta menganggukan kepala menjawab ucapan sahabatnya. "Dulu kita ingin menjodohkan anak, tetapi takdir berkata lain. Anak kita sama-sama perempuan hingga tidak bisa dijodohkan, tapi mereka bersahabat," ucap Tirta. Hanifa menghela nafas, ia pernah mendengar hal itu. Persahabatan nya dengan Seruni pun terjadi karena persahabatan kedua orang tua mereka, tetapi selain itu Hanifa sangat senang bersahabat dengan Seruni karena sifatnya yang baik dan tulus. "Sekarang sepertinya kita bisa mewujudkan perjodohan itu. Cucumu perempuan dan cucuku laki-laki," ucap Tirta. "Sebelum meninggal, aku ingin melihat Tia menikah. Aku tenang meninggalkan dunia ini, jika Tia ada yang menjaga," ucap Surya. "Pernikahan itu pasti terjadi. Cucuku pasti akan jadi suami cucumu!" ucap Tirta. Hanifa menggenggam tangan dan merangkul pundak Tia, ia senang karena anak sahabatnya akan menjadi menantunya. Ia yakin Tia pasti gadis baik seperti ibunya dulu, sementara Tia hanya diam tak bisa berkata apa-apa. Ia harus memenuhi permintaan terakhir sang kakek, meskipun tidak tahu lelaki seperti apa yang akan menikah dengannya nanti. Satu Minggu kemudian. Surya di pindahkan ke ruang rawat VIP, ruang rawat itu kini di hias dengan bunga-bunga segar. Tia sudah menggunakan kebaya, make up tipis, dan hiasan kepala sederhana, pernikahan sederhana dilakukan di ruangan itu karena Surya yang akan menjadi Wali nikah cucunya sendiri. Sementara di luar ruangan. "Ini gila, bahkan aku harus menikah dengan wanita yang tak pernah aku kenal!" ucap Hadi. Lelaki tampan yang merupakan ahli waris perusahaan milik keluarga Prayogi. "Dia anak sahabat mama mu, papa sudah menyelidiki. Dia gadis baik, pintar, dan bagus jika kamu menikah dengannya," ucap Hendri. "Kalau papa pikir seperti itu, kenapa bukan papa saja yang menikahinya!" ucap Hadi sinis. "Hadi jaga ucapanmu! Dia itu gadis baik, lagipula ini permintaan kakek. Perjodohan ini bahkan sudah dibuat sebelum kamu lahir ke dunia," ucap Hanifa. "Tapi aku tidak mencintainya! Karena permintaan kakek ini aku kehilangan orang yang aku cintai," ucap Hadi tambah emosi ketika mengingat sang kekasih yang meninggalkan karena tahu ia di jodohkan dengan wanita lain. Belum sempat Hanifa dan Hendri menjawab ucapan Hadi, seorang penghulu datang dan meminta Hadi untuk memulai pernikahan. Hadi menonjok dinding rumah sakit, ia tidak bisa menolak perjodohan itu, tetap harus menikahi wanita yang tak ia cintai karena sang kakek mengancam akan bunuh diri jika Hadi menolak menikah dengan Tia. Dengan langkah berat, Hadi pun memasuki ruangan tersebut. Ternyata sang kakek sudah menunggu, duduk di samping sahabatnya yang terlihat lemah karena sakit. Ia pun menatap wanita cantik yang duduk dengan kebaya putih sederhana. Meksi wanita itu cantik, tak membuat hati Hadi bergetar, justru ia menatapnya dengan kebencian. Sementara Tia saat pertama menatap Hadi langsung mengenali lelaki itu sebagai teman masa kecilnya dulu. "Dia ... Ternyata lelaki yang akan menikahiku adalah orang yang pernah menyelamatkan ku, orang yang sudah lama aku sukai. Aku pikir tidak akan pernah bertemu lagi, tapi ternyata dia akan jadi suamiku," gumam Tia dalam hati."Lala, Sayang. Sebaiknya kita keluar dulu ya, kasih waktu Tante Tia untuk ngobrol sama temannya dulu," ucap Amara membujuk Lala."Tapi om dan Tante ini gak akan bawa pergi mama kan?" tanya Lala khawatir."Enggak, Tante Tia akan tinggal di sini bersama kita."Lala akhirnya setuju untuk keluar kamar, memberikan waktu Tia berbincang dengan sahabatnya. Sementara Hesti dan Marco masih menatap Tia dengan penuh tanda tanya karena gadis kecil itu memanggil Tia sebagai mama."Jangan menatapku seperti itu," ucap Tia sambil tersenyum kikuk."Tadi itu anak siapa, kenapa panggil kamu mama?" tanya Hesti."Lala adalah anak pak Riza, setelah lahir ke dunia dia langsung di tinggal ibunya. Saat aku kabur dari hotel, aku nabrak mobil pak Riza lalu di bawa ke rumah ini, hari itu adalah hari ulang tahun Lala. Dia mengira aku adalah mama yang jatuh dari langit seperti di dongeng, kado dari Tuhan di hari ulang tahunnya."Penjelasan Tia membuat Hesti dan Marco tertawa kecil, lalu Tia menjelaskan jika Amara m
Hadi masih terkejut dengan semua fakta tentang kejahatan Marry, ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya benar-benar di permainkan oleh wanita yang selama ini ia cintai dan ia bela mati-matian di depan keluarganya."Demi Marry aku menyakiti wanita tidak bersalah, demi Marry aku menentang keluarga, demi Marry aku melakukan segalanya. Namun ternyata Marry hanya mempermainkan ku," gumam Hadi dalam hati.Hatinya hancur, ia kembali mengingat semua ucapan orang tua serta kakeknya dulu. Mereka selalu meminta Hadi untuk menjauh dari Marry, mengatakan jika Marry bukan perempuan baik. Namun, Hadi malah marah dan mengira kakek serta kedua orang tuanya terlalu picik.Sekarang, Hadi benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan perkataan keluarganya setelah tahu sifat asli Marry.Tok TokTokSuara ketukan pintu kamar rawat Hanifa memecah keheningan suasana, beberapa detik kemudian pintu terbuka dan seorang pemuda tampan masuk."Rion, bagaimana keadaan di perusahaan?" tanya Hendri.Rion menghe
"Siapa wanita yang anda maksud? Jangan bicara sembarangan, perusahaan kami tidak pernah melakukan hal kotor untuk mendapatkan proyek, apalagi sampai menjual wanita pada klien!" ucap Hadi.Amara masih dengan ekspresi tenangnya, sementara Hendri dan Hanifa hanya bisa menghela nafas berat. Mereka tahu Hadi tidak bersalah dalam hal ini, bahkan tidak tahu apa-apa. Ia hanya lalai membiarkan Marry bertindak sesuka hati, hingga membuat nama nya dan nama perusahaan menjadi buruk."Nyonya Amara, kami tidak bisa menerima uang ini. Kami menyayangi Tia seperti anak sendiri, kami tidak pernah ada niat untuk menjualnya," ucap Hanifa."Tia?" tanya Hadi semakin terkejut.Hendri meminta Hadi duduk di sofa, lalu meminta waktu kepada Amara untuk berbicara lebih tenang. Setelah Amara menyetujui Hendri pun menjelaskan pada Hadi apa yang sudah di lakukan Marry pada Tia, awalnya Hadi tidak percaya jika sang pujaan hati bisa melakukan hal setega itu. Namun, Hendri memperlihatkan bukti-bukti yang dikirim anak
"Setelah saya pikir-pikir, saya mau terima tawaran untuk jadi baby sitter Lala," ucap Tia.Setelah semalaman Tia di beri waktu berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Tia sadar menjadi baby sitter bukan pekerjaan yang sulit, selain mendapat bayaran, keperluan harian terpenuhi, ia pun aman dari gangguan mantan suaminya tanpa harus membuat Hesti khawatir."Syukurlah kalau kamu terima tawaran saya, kamu bisa mulai kerja setelah tubuh kamu pulih," ucap Amara."Terima kasih, Bu."Amara tersenyum dan mengangguk, lalu keluar dari kamar itu membiarkan Tia beristirahat agar cepat pulih kembali. Sementara di sisi lain.Hanifa di rawat di rumah sakit, wanita paruh baya tersebut pingsan karena syok dan mengalami tekanan darah tinggi. Hendri tak bisa lagi menahan emosi pada anak satu-satunya, karena perbuatannya itu sudah keterlaluan."Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kakek kamu meninggal karena serangan jantung saat kamu bawa Marry ke pesta ulang tahun perusahaan. Se
"Sayang, bagaimana keadaan papa?" tanya Hendri saat Hanifa baru keluar dari ruang rawat Tirta."Belum bisa diajak bicara," jawab Hanifa dengan lemas. Setelah membuka baju khusus yang disediakan rumah sakit, Hanifa pun duduk di samping sang suami. Ia sangat menghawatirkan kondisi papa nya yang sudah
"Mah, Pah. Bagaimana keadaan kakek, kenapa bisa serangan jantung lagi?" tanya Tia begitu sampai rumah sakit."Masih ditangani dokter. Mama juga gak tahu kenapa, malam masih baik-baik saja. Tadi pagi salah satu pengawal memberitahu mama kalau kakek kena serangan jantung lagi," jawab Hanifa.Tak lama
"Ulang tahun perusahaan akan diadakan mewah, aku akan undang banyak orang penting, tapi ...."Ucapan Hadi menggantung membuat semua keluarganya menunggu, termasuk Tia. Meski yakin Hadi tak akan setuju untuk mengumumkan pernikahan mereka secara resmi, tetapi Tia ingin tahu bagaimana cara Hadi menyam
"Aku gak kuat lagi, Hesti," ucap Tia.Wanita itu tengah menikmati makan siang di sela waktu istirahat kerja, seperti biasa ia bercerita pada sahabatnya."Kalau gak kuat lepas, jangan maksa bertahan. Jangan sampe luka hati kamu terlalu besar, nanti susah diobati," ucap Hesti.Tia memaksakan diri men












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.