เข้าสู่ระบบAyla pikir pernikahan dengan Rayan Abraham adalah tiket keluar dari neraka rumahnya. Ternyata itu undangan ke neraka yang lebih kejam. Malam pertama, Rayan membawanya ke gubuk tua di tengah hutan. Memberinya surga sesaat, lalu meninggalkannya saat fajar bersama surat berisi: "Anggap saja ini bayaran untuk hutang keluargamu." Ditinggal. Dipermalukan. Dituduh tak suci di depan satu kota. Ayla hancur. Tapi dari puing-puing gaun pengantinnya, dia bersumpah. Rayan Abraham akan membayar semua darah yang tumpah malam itu.
ดูเพิ่มเติมAyla terbangun saat udara dingin menusuk kulitnya yang tak lagi terbalut busana dengan sempurna. Ia meraba sisi balai-balai, mencari kehangatan tubuh suaminya. Namun yang dia temukan hanya jas Rayan yang menutupi sebagian tubuhnya.
“Rayan.” Hening. Sepi. “Rayan?” panggilnya parau sedikit lebih keras. Matanya mengerjap, menatap sekeliling gubuk yang kini diterangi cahaya fajar yang redup. Tak ada jawaban dari lelakinya, hanya ada keheningan. Ayla bangkit dengan tubuh yang terasa remuk, rasa nyeri menjalar dari kaki hingga ke sela pahanya. Perlahan ia memungut gaun pengantinnya yang kini kotor tak berbentuk. Dengan kaki telanjang dan sedikit pincang, ia berlari ke luar gubuk. Tempat ini sepi, jalanan itu kosong. Mobil mewah Rayan sudah tidak ada di sana. Jejak bannya sudah tersapu air hujan semalam, menyisakan tanah becek. “Rayan! Kamu di mana?!” teriak Ayla. “Rayan!!” Kembali Ayla memanggil, suaranya bergema di antara pepohonan, namun tak ada jawaban. Perlahan sesuatu di dalam dada Ayla runtuh, dia di tinggalkan sendiri di sini. 🌹 Berapa waktu sebelum hari H pernikahan. Semua orang di dalam Aula itu terbelalak mendengar perkataan Rayan. “Apa maksudmu ingin melamar Ayla Keira? Putri kami Zia Milla, kami pikir kalian datang kemari untuk melamar Zia Milla?” Fariska berdiri, suaranya bergetar, menatap kecewa pada tamu yang mereka kira datang ingin melamar putrinya. Rayan mengalihkan pandangan ke arah Ayla, gadis cantik ini segera mengalihkan pandangan ketika iris hitam mereka bertemu. “Bukankah dia juga putrimu?” “Ta—tapi ...” Fariska tercekat. Kata-katanya hilang di tenggorokan. “Ya dia juga putri di keluarga ini.” Suara lelaki tua yang sangat dihormati di keluarga ini menyela. “Jika memang Nak Rayan memilih meminang Ayla sebagai istri maka kami mengijinkan.” “Ayla kemari.” Lelaki tua itu meminta Ayla mendekat, gadis ini menatap sekilas pada Zia- Gadis yang seharusnya di lamar Rayan saat ini- terlihat jelas kemarahan di matanya. “Kek, sepertinya ini kesalahan, Aku ...” “Bukankah beberapa kali kita pernah bertemu, Nona? Apakah kamu tak merasa jika aku tertarik padamu?” Rayan memotong ucapan Ayla. Senyumnya terukir sempurna, tapi sorot matanya datar, dingin, sulit dibaca siapa pun. kini Rayan berdiri berhadapan dengan Ayla, seorang wanita cantik menghampiri Rayan, menyodorkan kotak beludru merah. Rayan membukanya tanpa ragu, mengambil cincin berlian, lalu menyematkannya ke jari manis Ayla dengan gerakan mantap. Tak ada gemetar, tak ada ragu, tapi terasa dingin. “Tunggu!” Ayla ingin menarik tangannya, tapi genggaman tangan Rayan begitu kuat. Cincin itu sudah melingkar di jari manisnya. Ayla menatap cincin di jarinya, rasa haru, bahagia, dan tak percaya bercampur jadi satu dalam hatinya kini. “Apakah ini nyata?” pikir Ayla, Ia tak pernah menyangka pesta yang di persiapkan untuk Zia kini dia adalah pemiliknya. Inikah hasil dari kesabarannya selama ini? Hinaan, makian, perundungan yang dia alami di bayar kontan dengan di nikahi lelaki kaya raya di kota ini. Bahkan menurut rumor yang di dengar belakangan ini, lelaki ini rela mengucurkan modal yang tak sedikit untuk perusahaan keluarga yang kini di ambang kehancuran. Acara berjalan semestinya. Meriah. Penuh tawa dan ucapan selamat tapi terasa palsu di telinga Ayla. Namun dia tetap tersenyum, berbaur dan menyapa para tamu dengan senyum manis. Pesta berakhir Ayla menatap kepergian para tamu satu per satu, sebelum akhirnya menunduk menatap cincin di jari manisnya. Rasa tak percaya menyelinap di hatinya. Hingga. “Apa maksudnya kamu beberapa kali bertemu dengannya, Ayla?” Zia menjambak Ayla setelah semua tamu meninggalkan rumahnya. “Pertemuan itu tak di sengaja,” tangan Ayla memegangi tangan Zia yang mencengkeram rambutnya. Wajahnya mengernyit menahan sakit di area kepalanya. “Dasar jalang, penggoda, darah pelakor ternyata mengalir di tubuhmu,” tambah Zia emosinya meledak seketika. “Hentikan Zia.” Suara lelaki tua yang tadi sangat berkuasa menggelegar. Mendengar suara Aditama – kakeknya - Zia melepas cengkeraman di kepala Ayla. Aditama menatap Ayla dingin, “Kamu masuk ke kamar,” usir Aditama. Ayla mengangguk segera berlari masuk ke dalam kamar sebelum lelaki tua ini ikut memukul karna merebut apa yang di sukai Zia. Suara Zia terdengar menangis, “Aku malu, Kek. Seluruh temanku sudah tau aku akan menikah dengan Rayan, mau di taruh mana mukaku?” “Nanti kakek carikan lelaki lebih tampan dan lebih baik dari Rayan.” “Nggak, Kek. Aku menyukai Rayan dari pertama pertemuanku dengannya. Aku tak mau mengalah pada Ayla apapun itu!” Zia berteriak lantang. “Zia, kamu dengar apa yang kakek bilang? Sekarang kamu masuk kamar!” Aditama membentak cucu kesayangannya. “Kakek, bentak aku?” Kedua mata Zia membelalak, air matanya mengalir, dia merasa terkejut sebab selama ini Aditama tak pernah berkata kasar sedikit pun. “Sekarang masuk ke kamar kamu!” Perintah Aditama lagi, suaranya terdengar di tekan. Zia melangkah kasar menaiki anak tangga menuju kamarnya. “Ayah harus beri hukuman pada Ayla karna berani merebut apa yang diinginkan Zia.” Fariska menyulut api agar lebih besar, setelah itu dia pergi mengekor putrinya. Aditama menghela napas berat, tangannya melonggarkan dasi kupu-kupu yang terasa mencekik lehernya, dia duduk di kursi lalu menyandar lelah. Bastian yang sejak tadi diam segera memberikan segelas air minuman pada ayahnya. “Urus kedua putrimu agar tak terjadi keributan. Perjodohan ini tak boleh gagal atau bisnis kita akan berada di ambang kehancuran.” “Baik, Ayah. Tapi apakah Ayah merestui Ayla menikah dengan Rayan.” Adithama menatap putranya, “Dia tetap memiliki darah Aditama. Jangan sampai ada seorang pun yang tau dia bukan putri Fariska! Antar aku ke dalam kamar, aku lelah sekali hari ini.”Sudah satu minggu Ayla tinggal di rumah utama milik Wina. Selama tujuh hari itu pula, wanita tua itu selalu memasang wajah angkuh dan dingin setiap kali berhadapan dengan Ayla. Seolah-olah kehadiran Ayla di rumah megah itu hanyalah noda yang terpaksa dia toleransi.Namun, sikap dingin Wina tak sedikit pun melunturkan gelora kasih sayang Rayan pada istrinya.Seperti pagi ini. Di taman bunga milik Wina yang asri, Ayla tampak sedang menyiram tanaman dengan perlahan. Sinar matahari pagi membingkai wajah cantiknya yang kian merona.Tiba-tiba, sepasang lengan kokoh melingkar erat dari belakang, menyusupkan jemari hangatnya di atas perut membuncit Ayla."Aku berangkat kerja dulu ya ..." bisik suara berat nan serak milik Rayan tepat di telinga Ayla.Rayan menyandarkan dagunya di bahu Ayla, lalu mengendus lembut tengkuk istrinya yang wangi.Ayla terkekeh pelan, kepalanya terteleng geli dengan tingkah manja suaminya itu. "Iya, Rayan ...""Jangan kecapekan, kalo muka nenek masih jutek tinggal ma
Pria itu tersenyum teduh—sebuah senyuman hangat nan halus yang justru sukses membuat bulu kuduk Zia berdiri seketika. Di hadapan semua orang, pria itu tampak seperti sosok lelaki baik-baik, santun, dan sangat terpelajar. Namun Zia tahu betul, di balik senyum teduh itu tersimpan ancaman terselubung yang sangat mengerikan untuknya. "Akhirnya... aku bisa menikahi kamu, Nona Zia Mila," ujar Rendra Wiraguna dengan suara lembut yang terdengar begitu penuh penekanan di telinga Zia. Fariska yang berada di samping mereka tampak terkejut, matanya berbinar heran. "Apakah kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Fariska penuh rasa ingin tahu. Rendra menoleh pada Fariska, menyunggingkan senyum sopan yang sangat meyakinkan. "Iya, Tante ... kami sudah saling kenal. Bahkan sejak lama saya sudah menaruh hati pada putri Tante," tutur Rendra dengan nada suara yang begitu tulus. Mendengar penuturan Rendra, dada Fariska seketika dihinggapi rasa lega yang luar biasa. Beban berat di pundak
Mata-mata Aditama yang sudah mengawasi pergerakannya sejak awal tak memberi ampun. Begitu tubuh Zia terkulai pingsan, mereka langsung membopongnya kasar, menyeretnya masuk ke dalam mobil, dan melaju kencang kembali menuju rumah besar Aditama.Lewat pintu darurat Zia langsung di bawa ke dalam kamarnya tanpa di ketahui siapapun jika gadis ini habis melarikan diri. Aroma minyak kayu putih yang menyengat menusuk hidung Zia, memaksa kelopak matanya yang berat untuk terbuka perlahan. Begitu pandangannya memfokus, rasa dingin dan gemetar seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Zia tidak lagi berada di koridor apartemen Rosa. Dia sudah berada di kamar yang dulu terasa nyaman, kini kamar ini terasa bagai penjara untuknya. Zia langsung bangun dan terduduk lemah di atas pembaringan. Di hadapannya, Aditama berdiri tegap menatapnya dengan pandangan membunuh. Tongkat kayu di tangannya dia cengkeram kuat-kuat. Di sampingnya, Fariska dan Bastian menunduk kaku tanpa berani menyela. "Dasar anak tida
Begitu melangkahkan kaki memasuki rumah besar Aditama, Zia langsung berlari dan merangsek masuk ke dalam pelukan Aditama yang sedang duduk tegap di ruang keluarga. "Kakek ... maafin Zia ..." cicit Zia dengan nada suara paling manja, memeluk erat tubuh tua itu. "Kakek masih marah ya sama Zia?" Dulu, setiap kali Zia melakukan jurus manja seperti ini, wajah tegas Aditama akan seketika meleleh. Pria tua itu pasti akan tersenyum hangat, mengelus rambutnya, dan bertanya dengan lembut, "Zia mau apa dari Kakek?" Namun kali ini, suasana terasa jauh berbeda. Udara di dalam ruangan itu mendadak begitu dingin dan membekukan. Wajah tua Aditama masih dipenuhi ketegangan kaku, tak ada sedikit pun senyuman yang terukir di sana. Kedua tangannya bahkan tetap menggenggam tongkat, sama sekali tidak membalas pelukan Zia. "Apakah kamu belum menyadari kesalahanmu, Zia?" tanya Aditama dengan suara rendah yang sarat akan kekecewaan mendalam. Zia mengurai pelukannya, menatap wajah kakeknya dengan bin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น