LOGIN13 Iron Rules That Must Never Be Broken… Even If No One Knows Why. When Kawin and eleven others receive a mysterious black invitation, they are brought to a place called “The Forbidden Aquarium”—a facility that appears on no map. The doors are sealed. The rules are announced. And every violation… is paid with death. But the more they obey, the more they begin to lose themselves. And when the final rule declares: “Do not challenge the rules,” some begin to wonder— If we never defy them… how will we ever survive?
View More“Ma... Ma... Bangun, Ma...”
Kurasakan guncangan kecil di pundak kiriku. Aku membuka mata. Sepertinya tadi aku sempat tertidur selama perjalanan. Dengan pandangan mata yang masih mengabur, kupastikan kalau ketiga anakku masih ada di sampingku. Aku merasa lega saat kulihat Nurul, Andra dan Melina baik-baik saja. Mereka tidak ada yang rewel ataupun mabuk kendaraan meski kami sekarang sedang menempuh perjalanan jauh.“Kenapa Rul?”“Apa kita udah sampai Ma?”Aku celingak-celinguk, berusaha melihat keadaan di luar dari dalam mobil. Tapi kanan kiri terlihat gelap. Kulihat ke arah depan, sepertinya mobil yang membawa kami memasuki halaman sebuah rumah. Tak bisa kupastikan keadaan rumahnya secara detail, karena hanya terlihat satu lampu penerangan di bagian teras rumah itu.“Ini di mana Bang? Apa kita udah sampai?” tanyaku memberanikan diri pada sopir mobil travel yang membawa kami.Tidak ada jawaban. Lelaki itu terlihat sibuk memutar-mutar setir mobil, seperti memantapkan tempat parkirnya. Aku pikir ia tak mendengar.Mesin mobil dimatikan. Dan sopirnya turun, membuka pintu dari sebelah tempatku duduk.“Keluar!!”Aneh, kenapa nadanya kasar sekali? Berbeda saat tadi dia datang menjemput kami. Apa dia capek karena perjalanan jauh sehingga menjadi sensitif?Aku membangunkan Melina dan menggendongnya. Ia masih tertidur. Sementara Andra sudah dibangunkan Nurul dan mereka sudah keluar dari pintu sebelah.“Masuk!!”Lagi-lagi nada perintah yang kasar keluar dari mulutnya. Aku terlongong bengong. Rumah ini bukanlah tempat tujuanku. Bahkan aku sama sekali tak tahu ini ada di daerah mana.Lelaki itu berdecak kesal. Tanpa kuduga dia sudah meraih lengan Andra dan menariknya dengan kasar menuju depan rumah.Aku dan Nurul yang tadi tak sempat mengantisipasi gerakannya hanya bisa berteriak sambil mengejar mereka yang kini sudah masuk ke dalam rumah.Rumah ini cukup besar. Terlihat terbengkalai tapi sepertinya ada orang yang menempati. Bisa kulihat puntung rokok dan bungkusan snack yang berserakan di ruang tamu dan ruang tengah saat tadi kulewati.“Apa-apaan kamu? Kenapa memaksa kami untuk masuk ke rumah ini? Jangan sampai aku teriak ya!!” kataku dengan nada mengancam. Berharap dia melepaskan pegangannya dari tangan Andra. Anakku itu terlihat kesakitan.Tadi aku sempat meraih tangan kiri Andra. Tapi dia makin kuat mencengkeram dan membuat Andra menjerit kesakitan. Aku jadi tak tega dan memilih melepaskan tanganku.“Silakan teriak! Nggak akan ada yang bisa dengar teriakan kalian,” katanya tersenyum jahat. Sungguh terlihat sangat mengerikan.Ya Allah, aku jadi benar-benar menyesal karena telah kabur dari rumah malam ini. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku dan anak-anakku, aku akan menyalahkan diriku seumur hidup.Ia kembali menyeret Andra. Tubuh kecil anak lelakiku yang baru berumur 8 tahun itu tak bisa menahan hentakan kasar tangan pria dewasa yang menariknya. Lelaki berambut agak panjang itu tak peduli meski aku dan Nurul sejak tadi memukulnya dengan pukulan tangan kosong. Entah tenaga kami sebagai perempuan yang lemah atau memang dia yang kuat. Sepertinya pukulan kami tak berarti apa-apa baginya.Dia membuka pintu kamar di bagian paling ujung rumah. Dengan kasar melepaskan tangan Andra dan mendorongnya sehingga anakku itu terjatuh dengan punggung menghantam dinding.Aku dan Nurul menjerit. Nurul membantu adiknya berdiri. Sementara aku hanya bisa melihat, karena sedang menggendong Melina yang kini sudah terbangun karena keributan tadi.Kami semua sudah berada dalam ruangan yang kosong melompong. Tidak ada apa pun di dalam sini. Tidak ada tempat tidur ataupun lemari.Ia menutup pintu dan memandang kami dengan tatapan menakutkan.“Apa mau kamu? Tolong lepaskan kami!” pintaku memohon.“Aku cuma mau menyelesaikan pekerjaanku. Jangan terlalu ribut. Tugasku untuk malam ini sudah selesai, jadi aku mau istirahat. Dan maaf, aku nggak bisa melepaskan kalian sebelum aku mendapatkan bayaran.” Katanya dengan seringai menakutkan.“Biarkan kami pergi! Aku akan membayarmu asal kau lepaskan kami,” pintaku.“Kau nggak akan bisa membayarku. Lebih baik sekarang kalian tidur.”“Bagaimana kami bisa tidur dalam keadaan seperti ini? Kami tak punya salah padamu. Tolong lepaskan kami!”“Nanti kulepaskan, kalau udah jadi mayat! Ha..ha..ha..”Aku semakin bertambah takut mendengar kalimatnya. Nurul dan Andra bahkan sudah menangis.Laki-laki itu berbalik hendak keluar. Cepat kuserahkan Melina pada Nurul. Kutarik bajunya dan berteriak pada Nurul,” Rul, cepat bawa adik-adikmu keluar dari sini!”Sekuat tenaga aku berusaha menahan tubuh sopir sewaan yang tak kukenal ini. Tapi tenaganya jelas jauh lebih kuat. Aku tak sanggup menahannya terlalu lama. Ia lepas dari cengkeraman tanganku.Belum sempat Nurul meraih gagang pintu, ia sudah lebih dulu menarik rambut Nurul. Nurul menjerit. Aku memukul kepalanya dengan tas selempang yang kubawa. Tapi lagi-lagi tak ada pengaruhnya sama sekali.PLAKK!!Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiriku. Pedih dan panas sekali rasanya. Aku sampai jatuh terduduk saking kerasnya tamparan itu.“Mama!!!”Nurul mengejar memburuku. Tangisnya dan Andra semakin kuat. Kali ini Melina pun ikut menangis.“Jangan coba melawanku. Kalian nggak akan sanggup. Kalian bukan lawanku!”“Tolong lepaskan kami, aku akan memberikan uang yang aku punya asalkan kau biarkan kami pergi,” tangisku mengiba.Tapi lelaki itu seolah tak peduli dengan kami semua yang kini menangis. Dengan angkuhnya dia berjalan menuju pintu. Saat akan menutup pintu, tiba-tiba ia urung menutupnya. Ia kembali masuk ke kamar. Berjalan ke arah kami, dan dengan sedikit berjongkok ia mengambil HP milikku yang tadi terjatuh.Aku baru hendak berdiri merebutnya. Tapi dengan cepat tangan lelaki itu sudah mendorong tubuhku dengan kasar. Membuat aku kembali terjatuh.“Ini aku sita,” katanya, “ biar kalian betah lama-lama di sini,” lanjutnya dengan nada mengejek.Oh tidak!!! Bagaimana aku bisa mencari pertolongan kalau HP pun dia ambil?***“Maafkan Mama ya Nak...”Aku terisak. Benar-benar takut tidak bisa keluar dari sini. Kalau aku sendiri tidak apa. Tapi aku mengkhawatirkan anak-anakku. Terutama Melina. Dia masih terlalu kecil.“Udahlah Ma, jangan nangis lagi. Jangan sedih. Kami nggak nyalahin Mama. Bukan Mama yang jahat, tapi Om itu.” Nurul berusaha menghiburku.“Tapi Mama yang membuat ini semua terjadi. Mama yang mengajak kalian untuk lari dari rumah tanpa bertanya atau berpikir panjang. Mama yang salah, maafkan Mama.”Tangisku semakin menjadi. Aku menyesali keputusanku untuk kabur dari rumah. Semua ini karena pertengkaran antara aku dan suamiku, yang terjadi seminggu yang lalu. Mas Edar ketahuan selingkuh setelah seseorang tak dikenal mengirimkan foto mesra suamiku itu dengan wanita lain.Aku tak tahu siapa pengirimnya, yang jelas foto-foto itu sukses membuatku marah besar. Pertengkaran kami berakhir dengan Mas Edar yang pergi dari rumah selama beberapa hari. Aku yang tak bisa menguasai diri akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah dengan membawa ketiga anakku. Tujuanku adalah kota tempat di mana orang tuaku tinggal.Seorang teman membantuku untuk mencari mobil travel yang bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Perjalanan jauh yang memakan waktu hingga belasan jam membuat aku memutuskan untuk pergi di malam hari. Tujuanku agar sampai di sana saat hari sudah siang. Selain itu, berangkat di malam hari kulakukan untuk menghindari pertanyaan dari para tetangga. Aku tak mau ada siapa pun yang tahu aku lari dari rumah.Namun kini, aku dan anak-anakku disekap dan dikurung sejak semalam. Sopir yang membawa kami ternyata adalah orang yang punya niat jahat.The Triton Aquarium was completely destroyed. From a legend, it became a pile of ruins. They spent almost a month recovering physically and mentally before they decided to meet again and reveal what had happened, along with all the evidence they had, to the public.And so, the secret of the human experiments was revealed to the public through the documents and the notebook that Gawin had brought out. People all over the world were shocked by the horrors that had happened, and the aquarium became a legend of darkness and danger.Dr. Winai was hunted down and finally arrested as he was trying to escape the country through an illegal route. He confessed to all the charges, having been caught with evidence. He was prosecuted according to the law.After everything was over, Gawin, Ploy, Miki, Ton, and Mhok met again because they were all still troubled by what happened. They met at a restaurant decorated in a natural style, filled with trees, waterfalls, fountains, and ponds. It was a nice
Part 49: The SurvivorsThe explosion of the power core echoed throughout the Triton Aquarium. The sound of cracking walls and surging water violently brought everything down. All the horrifying experimental creatures shrieked in pain before dissolving into thin air. It's sacrifice to stop this madness was still a profound shock. The remaining dim light shone on the faces of the remaining group, revealing eyes filled with exhaustion, fear, and the will to survive.As the aquarium was collapsing, the sound of cracking walls and surging water violently shook the ground. The remaining survivors—Gawin, Ploy, Miki, Ton, and Mhok—ran for their lives. The bright light from the power core's explosion led them to the exit door that was opened after the power core was destroyed.They supported and helped each other, crawling through the debris and the narrow, dark corridors. The roaring sound of the collapsing aquarium was not far behind. Every step was a fight for life. The light at the end of
It lunged into the glowing power core without hesitation. His body, filled with a hidden power from his knowledge of the aquarium and his determination to stop this madness, quickly entered the password he had received. But the result was not what he hoped for. Everything remained normal, with no changes.Meanwhile, he noticed a light shooting out from his palm, which shocked him. He didn't know what possessed him to reach out and gently touch the power core in front of him.Suddenly, a bright, pure white light emanated from It's body. The light illuminated the entire lab. A massive energy shot violently into the power core. The power core began to shake violently. The creature controlling the power core roared in madness."No!!!!" Dr. Winai, who had just run in, shrieked in shock. He tried to stop It, but it was too late.The power core exploded violently.The explosion echoed throughout the Triton Aquarium. The force of the blast shattered the walls and fish tanks. Water surged out
The hallucinations warping their minds—It's haunting failures and Gawin's painful truth about his mother—couldn't stop them from heading toward the power core. The dim light from the old experimental equipment in the lab shone on their faces, revealing eyes filled with the determination to destroy everything for their freedom.Ploy stared at the creature controlling the power core with extreme terror. "It's so scary..." Ploy mumbled, her voice trembling. "How can we fight it?" The seal-like mark on her palm began to turn red and glow again."Let's make this our final battle," It said with a firm voice. "We have to destroy that power core."They faced the new giant experimental creature. Its glowing tentacles were terrifying. As soon as they moved forward toward the power core, the giant monster started to release its power again.It and Gawin had to fight the hallucinations again. Fortunately, they were lucid enough not to fall for them. They slowly took a step forward, heading straig
The fact that everyone was deceived into believing they had escaped the aquarium, when in reality it was just a hallucination created to make them let their guard down, was a huge blow to their feelings and hope. They were wrong to have trusted the situation in front of them, not thinking that the
The fear and despair continued to intensely consume the remaining survivors after Fah began to show physical changes similar to James. She was fighting the power that was slowly consuming her, but the clearer whispers telling her to go back to the water made the fight even more difficult."Will Fah
The fact that Gawin's mother was involved in the human experiments at the Triton Aquarium filled the remaining group with a deeper sense of fear and confusion. It was a horrifying truth that Gawin himself couldn't even accept."Gawin's mother really created that power core?" Ploy mumbled, her voice
That night, the rain fell in a ceaseless torrent. The sky, a starless abyss, was blotted out by a thick curtain of clouds that seemed to cradle some dark, unspeakable secret. In the heart of the city, where light and life once pulsed, there was now only the anemic glow of old neon signs from a monst
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.