LOGINIl était mon compagnon prédestiné… jusqu’à ce qu’il me vende pour une couronne. Adrian Hayden, le fils de l’Alpha, a préféré une princesse à moi et a brisé mon âme par son rejet. Mais sa cruauté ne s’est pas arrêtée là : il a accusé mon père de trahison et m’a liée à lui par un contrat humiliant qui fait de moi sa maîtresse en secret et sa prisonnière en vérité. J’ai juré que je ne laisserais jamais un autre homme me posséder. Puis je les ai rencontrés. Cassian et Caius Everhart : dangereux, magnétiques et totalement intouchables. Princes jumeaux. Les futurs beaux-frères de mon ennemi. Ma rébellion d’un soir s’est transformée en une addiction ardente qu’aucun de nous ne peut nier. Ils devraient me haïr. Ils devraient me détruire. Mais leur contact est à la fois ruine et salut, et bientôt, ils me désirent autant que je les désire. Maintenant, je suis coincée entre trois hommes qui pourraient me détruire : L’un qui m’a trahie. Deux qui pourraient me sauver. Et une guerre qui me fera choisir entre la vengeance et l'amour plus brûlant que le destin lui-même. La vengeance est douce… mais la passion interdite peut être mortelle.
View MoreSuara sirine ambulance meraung bersahutan, menciptakan keriuhan bercampur kepanikan. Para petugas medis berhamburan keluar, menyambut kedatangan para korban kecelakaan.
Rintihan memilukan, darah segar mengalir dengan luka menganga menampakkan daging dan tulang. Menjadi pemandangan ironi setiap retina yang menyaksikan "Sipakan ruang operasi..!" Titah salah seorang dokter yang menangani pasien cidera dikepala dan kaki. "Dalam hitungan ketiga...!" "Siapkan ICD...!" "Pasien ini butuh donor darah..!" Suara para dokter saling bersahutan, mengomandoi perawat yang sigap memberikan dan melakukan yang diinginkan. "Kau tangani pasien dibangsal tiga, aku akan melakukan operasi." Ucap Hana pada salah satu dokter lelaki. "Kau mau melakukan operasi sendiri..?" Tanya dokter pria yang bernama Riu itu.. Hana mengangguk, mengalihkan perhatian pada seorang dokter magang yang sudah selesai melakukan perawatan pada salah satu korban. "Pasien bangsal enam mengalami luka ringan dan patah tangan, kau tangani itu." kata Hana. "Baik dokter...!" Hana bersiap keruang operasi, meninggalkan keriuhan diInstalasi Gawat Darurat. Ada lebih dari lima belas orang korban terluka dan dua orang meninggal dunia, akibat kecelakaan beruntun dijalan Shibuya Tokyo. Semua diakibatkan oleh salah satu pengendara mobil yang sedang mabuk. Hampir dua jam kesibukan di Instalasi Gawat Darurat baru mereda, para pasien juga telah dipindahkan keruang rawat inap. Sementara Hana Sato masih berada didalam ruang operasi, sedang berusaha untuk mengeluarkan pecahan kaca yang bersarang dikepala, serta patahan body mobil yang menancap didada korban. "Apa operasi belum selesai..?" tanya Riu pada suster yang baru keluar dari ruang operasi. "Belum dokter, pasien mengalami pendarahan." jawabnya lalu pamit guna mengambil kantung darah lagi. Detik berganti menit, tak terasa sudah lima jam berlalu. Akhirnya operasi melelahkan itu pun selesai, dengan hasil yang memuaskan karena nyawa korban dapat diselamatkan. Hana melakukan perenggangan seraya menghela nafas berat, guna mengusir lelah dan pegal yang mendera. Melepas masker serta semua atribut yang melekat dibadan. Mencuci tangan dan wajah, kemudian meninggalkan ruangan. Riu yang sudah menunggu didepan ruang operasi bersama sebotol air mineral, sigap menghampiri wanita pujaannya itu. Hana tersenyum "terimakasih...!" "Aku antar pulang ya..?" tawar Riu. Hana menggeleng, meneguk minumannya hingga tandas. "Sayang...!" seru Riu cemas, karena melihat wajah lelah sang kekasih. "Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Lagi pula jam jagamu belum selesai." ucap Hana lembut. "Kalau tidak, biar Kaito yang mengantarmu." Usul Riu yang lagi-lagi ditolak oleh Hana. Seorang suster menghampiri mereka, memberitahu Riu jika pasien yang lelaki itu tangani mengajukan keluhan. "Hubungi aku jika sudah sampai dirumah, hati-hati." ucap Riu sebelum meninggalkan sang kekasih. Hana menuju ruangannya, membereskan barang-barangnya untuk bersiap pulang. Segelas kopi menjadi pilihan gadis cantik itu, untuk menemaninya diperjalanan. Sudah pukul sebelas malam, kala Hana meninggalkan rumah sakit. Dengan mobil kesayangannya, gadis itu membelah jalanan kota Tokyo yang masih nampak ramai. Tring Tring Tring Dering ponsel memecah keheningan didalam kabin kendaraan. Hana merogoh tas yang ia letakkan dibangku penumpang sebelahnya. "Ck, mana sih...?" ucapnya. Hana yang tak juga mendapatkan ponselnya, mengalihkan perhatian dari jalanan didepannya. Bahkan sampai handphone sudah ditangan, fokusnya tidak juga kembali perjalanan. Alhasil, wanita itu tidak melihat lampu lalu lintas sudah berubah merah. Mobilnya melaju lurus dengan kecepatan sedang, mengabaikan dua mobil dari arah kanan yang menginjak full pedal gas. Tiinnnn Hana terkejut, dan malah reflek menginjak rem. Alhasil mobilnya langsung dihantam keras oleh dua kendaraan sekaligus. Brak Brak Bum Dua kali benturan, dua kali mobil Hana jungkir balik, sebelum akhirnya berhenti menabrak beton pembatas jalan. Asap mengepul dari kap mesin, kaca remuk begitu juga badan kendaraan yang ringsek. Tubuh kurus Hana terjepit, dengan kepala bersimbah darah bertumpu pada setir. Netra lentik yang tertutup cairan pekat berbau anyir itu berkedip lemah, pandangannya samar sebelum akhirnya menjadi gelap bersamaan nyawanya yang terlepas dari raga. Suara sirine kembali meraung, polisi ramai memadati jalanan bersama team penyelamat dan dokter. Kabar kecelakaan itu langsung menyebar, dan sampai ketelinga keluarga Sato serta sang kekasih Riu dalam waktu singkat. Tangis histeris pecah dari ibu, kakak, dan para sahabat yang amat mengenal bagaimana baiknya kepribadian Hana Sato. Sang ibu dan nenek serta beberapa sahabat wanita, bahkan sampai pingsan. Sedangkan ayah, kakak lelaki dan Riu, menangis dalam diam memandangi tubuh Hana Sato yang sudah dingin terbujur kaku diruang jenazah. Setelah proses pemeriksaan selesai, jenazah langsung dibawa kerumah duka. Ratusan karangan bunga memenuhi area bangunan sampai kejalan raya. Ribuan pelayat dari berbagai macam kalangan dan profesi datang silih berganti. Riu diam membisu, duduk disisi peti sembari terus memandangi wajah pucat Hana yang tetap terlihat cantik. Matanya memanas, memancarkan luka kesedihan yang amat mendalam. Aksi saling menyalahkan diri sendiri, menggaung lirih didalam nurani. Andai Riu tetap memaksa mengantarkan, pasti kekasihnya itu masih ada bersamanya. Andai sang aysh dan kakak lelaki, tidak menuruti kemauan Hana yang tak ingin ada supir serta bodyguard. Pasti kejadian tragis ini bisa dihindari. Andai saja Hana patuh, tentu gadis itu masih hidup dan mengenakan gaun pengantin diakhir tahun nanti. Tapi semua cuma berandai-andai, nyatanya takdir tak dapat ditolak, kemalangan tak dapat dihindari. "Sayang..! kenapa kau meninggalkan aku..? kenapa kau tidak menepati janjimu..?" lirih Riu dengan segaris airmata menghiasi wajah rupawannya. Dua hari jenazah Hana Sato berada dirumah duka, sebelum akhirnya dikebumikan dipemakaman elite khusus bagi kaum bangsawan dan konglomerat negeri Sakura itu. Dari kalangan artis, pengusaha, pemerintah, sahabat dirumah sakit, para penggemar. Mengantarkan kepergian Hana Sato untuk selama-lamanya. Tangis pilu mengiris hati, menggaung ironi merobek udara. Langir kelabu hari ini, menjadi saksi tanah merah menutupi peti kayu mahoni yang berizi jasad Hana Sato, sosok yang banyak dicintai seantero negeri. "Hana kembali, jangan tinggalkan ibu. Putriku...!" Jerit nyonya Sato histeris, menyaksikan peti mati diturunkan keliang lahat. "Hana....!" Pekik wanita paruhbaya itu sebelum kehilangan kesadaran untuk yang kesekian kalinya. Riu terisak juga pada akhirnya, memeluk erat bingkai foto sang kekasih hati. Tubuh tinggi tegapnya terhuyung, kakinya lemas tak mampu berpijak kokoh. Dadanya bak diremas tangan-tangan tak kasat mata, teramat sakit dan nyeri. Ayah dan ketiga kakak lelaki serta para keponakan, berpelukan satu sama lain, guna saling menopang tubuh tanpa daya tenaga itu. Tak ada lagi Hana Sato, wanita cantik dengan segudang prestasi dan bakat didunia ini lagi. Semua tentangnya cuma tinggal cerita dan kenangan yang tak akan terlupakan diabad ini. Hanya ada raga kaku terkurung dalam dinginnya gundukan tanah merah yang ditaburi bunga aneka warna. Jiwanya sudah berpindah alam, entah itu surga, neraka, atau bahkan tidak keduanya. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan dan dewa kebajikan yang akan memberikan ganjaran baik buruknya selama hidup didunia.« Ouvre la bouche, ma chérie », dit Caius en plaquant le bout de son sexe en érection contre les lèvres d'Eva.Elle s'agenouille devant lui, nue, ses doigts enserrant son sexe, le regardant fixement et le caressant lentement… la verge épaisse s'allonge, s'épaissit et se veine, son liquide pré-éjaculatoire s'accumulant dans sa bouche tandis qu'elle l'avale.« Hmmm », gémit-il en lui agrippant les cheveux. « Maintenant, arrête de me faire languir. Sois une bonne épouse, ma chérie, et prends-moi cette foutue bite dans la bouche. »Sur ces mots, il bascule ses hanches en avant, le bout de son sexe forçant sa bouche à s'ouvrir, et son sexe glisse dans sa bouche.« Ohhhh, Eva. » Il retire sa main de ses cheveux et saisit ses tétons tendus, les pinçant, les roulant entre ses doigts et les utilisant pour faire vibrer ses seins.Eva avale son sexe centimètre par centimètre jusqu'à ce qu'il soit complètement enfoui dans sa gorge. Elle manque de s'étouffer, les yeux larmoyants, mais elle ne s'ar
Une semaine plus tard.Point de vue de l'auteurCaius arpente le couloir des appartements de la Luna, ses pieds martelant le sol tandis qu'il murmure des prières silencieuses et désespérées à la Déesse Lune.« Déesse, je vous en prie, protégez Eva et les enfants. Je ne veux plus jamais perdre personne. »Plus tôt, alors qu'il est en réunion avec les membres du conseil, une servante vient lui annoncer qu'Eva est en travail. Ils s'y emploient depuis plus de deux heures, mais elle n'a toujours pas accouché.Caius entend ses cris gutturaux et les sages-femmes qui l'encouragent à pousser plus fort. Ces cris lui transpercent le cœur. Il se retient de justesse de faire irruption dans la pièce.« Calme-toi, Alpha », dit Kane, appuyé contre le mur près de la porte. « La Luna est plus forte que tu ne le crois. Elle et les bébés s'en sortiront. »Cauis hoche la tête, croyant Kane et tentant de se calmer. « Bien sûr… ma femme est plus forte que je ne le pensais. »Le couloir se tait un instant, p
Une semaine plus tardPoint de vue de l'auteurLe vestiaire du Collège Silverstone est plongé dans un silence pesant, empreint de tristesse. L'équipe de hockey sur glace, en tenue de match, crosses et casques à la main, affiche des visages graves.Aujourd'hui, c'est leur dernier match contre le Collège RavenWolf, reporté depuis des mois suite au décès du ministre des Sports du Royaume des Loups-garous, attaqué par des Renégats. Un hommage lui est rendu afin de nommer un successeur.Caius, le cœur lourd, se tient là. Il n'est pas censé jouer, mais il se doit d'honorer la dernière volonté de son frère : continuer coûte que coûte. Plus que jamais, il est déterminé à gagner ; il joue pour lui-même et pour Cassian Everhart.Evander, le capitaine, tend la main. « À Cassian Everhart », murmure-t-il.« À Cassian Everhart », répondent les autres en chœur, posant tour à tour leurs mains sur la sienne.« On peut le faire, les gars », dit Evander d'une voix grave. « Allons à la patinoire et prouvo
Point de vue de l'auteureQuelques heures plus tard, Eva ouvre lentement les yeux. Un instant, tout lui paraît vide, silencieux, engourdi. Puis le souvenir la submerge. Cassian. Sa poitrine se serre instantanément, sa respiration se coupe. L'image de lui – couvert de sang, inanimé dans ses bras – lui revient en mémoire avec une netteté saisissante. Au fond d'elle, elle souhaite que ce ne soit qu'un cauchemar. Mais c'est pourtant bien réel. Réel.On frappe doucement à la porte qui s'ouvre en grinçant. Une des servantes entre, la tête respectueusement inclinée.« Ma Luna… il est temps. Tu dois te préparer pour les funérailles. »Eva ne dit rien. Elle fixe le vide, le regard absent. Le mot « funérailles » résonne dans sa tête comme une cruelle plaisanterie.Cassian est vraiment parti. Elle a du mal à y croire.Ses doigts se crispent légèrement sur les draps tandis que la douleur, vive et insupportable, la reprend. Mais elle la réprime. Elle le lui a promis. Ne pas s'en vouloir. Ne pas s'
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
reviews