INICIAR SESIÓNShe was never supposed to matter. The novel never gave her a name worth remembering. After dying in a mundane accident, twenty-three-year-old Clara Quinn opens her eyes inside the pages of the fantasy novel she despised most — reborn not as the heroine, not as the villainess, but as an unnamed background character fated to die before the story even begins. Her plan is simple: stay invisible. Attend the Imperial Academy of Asterveil, avoid every named character, and quietly survive a plot designed to destroy everyone foolish enough to interfere. That plan lasts exactly one day. During the entrance ceremony, Lady Morwen Ashvale — the infamous crimson-eyed prodigy that even crown princes fear — steps off her platform, walks past every noble heir waiting for her acknowledgment, and stops directly in front of Clara. "You belong to me," Morwen says, loud enough for every student in the hall to hear. "Do not forget it this time." This time. Clara has never met this woman in her life. Yet Morwen looks at her as though she has been searching for centuries. As shadows begin stalking Clara through the academy's cursed corridors — as the original story fractures and rewrites itself around her — Clara uncovers the truth that should be impossible: Morwen has lived this story hundreds of times. She has watched Clara die in every single one. And in every timeline where Clara falls, Morwen burns the kingdom to ash. She is not obsessed. She is grieving. She has always been grieving. And this time, she refuses to lose again.
Ver más“Oke, semoga hidupmu bahagia, bye!”
Meliana meninggalkan ruang persidangan terakhir hari ini, dia telah sah berpisah dengan Natan, mantan suaminya yang telah mengarungi biduk rumah tangga bersamanya selama tiga tahun itu. Tidak ada air mata atau guratan sedih di wajah Meliana, bahkan wajahnya tampak bersinar dan segar seolah tidak ada masalah sama sekali. “Mel, jangan gila ... Aku mohon!” Rika mengejar temannya itu, dialah yang menjadi pendamping sekaligus perwakilan keluarga inti Meliana selama persidangan ini berlangsung. Meliana menoleh, tidak lupa ia bawa senyum lebarnya, “Apa maksudmu gila?” “Kau tidak bersalaman dengan mantan mertua dan saudara iparmu apa, hah?” Rika tunjuk keluarga Natan yang masih berkumpul di depan ruang persidangan. “Untuk apa?” “Mereka juga keluargamu selama ini, Mel.” “Keluarga tidak mungkin membuang anggota keluarganya,” balas Meliana, ia putar kakinya lalu kembali berjalan. Kenyataan pahit yang harus Meliana terima hari ini, sejujurnya tidak ada wanita yang mau berpisah dengan suami mereka, itu hal yang sangat tidak mungkin, tapi bukan ingin Meliana sampai berpisahan ini terjadi. Tiga tahun lalu sebelum dia dan Natan menikah, mereka sudah saling berjanji bahwa tidak akan ada orang ketiga baik itu wanita atau pria lain yang akan masuk dalam hubungan mereka dengan alasan apapun, termasuk anak. Ya, Meliana sampai detik ini belum juga dikarunia seorang anak dari Sang Pencipta, sedang keluarga Natan menginginkan seorang cucu lahir di sana. Awalnya Natan menolak saran sang ibu yang ingin ia menikah kembali dengan seorang gadis, dalam arti Natan bisa memiliki dua istri tanpa berpisah dengan Meliana. Tapi, Meliana cukup sadar diri kalau memang dirinya memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan Andara, calon istri baru Natan itu. Natan adalah pria normal yang matanya jelas tidak rabun, lama-lama hatinya terpaut juga dan meminta Meliana mengerti akan posisinya. Perpisahan ini menjadi keputusan yang tepat menurut Meliana, itu sudah sesuai dengan janji yang mereka ucapkan dulu, lebih baik mundur daripada hidup berbagi, dia tidak akan pernah sanggup. Apa hatinya sakit? Apa dia tidak ingin menangis? Tentu, dia wanita biasa yang tidak mungkin kebal akan rasa sakit, apalagi ketika mendengar dari mulut suaminya sendiri kalau pria itu ingin memadunya, jelas sangat sakit. Dan tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang tidak ingin memiliki seorang anak bersama suami mereka, Meliana juga ingin, dia pun tidak diam saja, sudah banyak cara ia coba bersama Natan, tapi memang hasilnya belum ada. Lagipula, anak itu tidak bisa diminta atau ditolak kehadirannya, bodoh bila orang berkata dan menilai Meliana tidak ingin mempunyai anak cepat bersama Natan, itu hal yang sangat bodoh dan gila. Meliana simpan tenaganya, ia tidak mau menangisi apa yang sudah terjadi, apalagi di depan banyak orang. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Natan dan keluarga pria itu, dia harus terlihat baik-baik saja dan mereka akan menjadi orang yang menyesal karena sudah melepaskannya. “Iya, aku sudah menjadi janda sekarang, apa Ayah keberatan?” Meliana berbicara dengan ayahnya lewat sambungan video call. “Kalau itu sudah keputusanmu, Ayah hanya bisa berdoa yang terbaik saja. Tapi, apa kau akan hidup seorang diri lagi, Nak?” Heri tidak bisa meninggalkan Meliana seorang diri. Tidak ada saudara dekat yang bisa membantu gadis itu, belum lagi Meliana adalah anak tunggal dan ibunya telah tiada. Heri pun saat ini tinggal seorang diri di rumah lama mereka, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah yang akan Meliana sewa.“Ayah, tenang saja.”
“Kau tidak ingin tinggal di sini saja?” “Aku ingin menenangkan diri, Ayah ... Tapi, aku akan ke sana setiap akhir pekan, oke.” Anggap saja hari ini Meliana menjadi wanita terkuat selama proses persidangan berlangsung, bahkan bisa disebut sebagai peserta sidang yang paling santai. Meliana masuk dan ke luar ruang persidangan seperti pelanggan toko yang tengah menikmati proses belanja bulanannya, terlihat sangat ringan tanpa beban. “Apa kau sudah tidak mencintai Natan lagi?” Rika ingin menginap di rumah kontrakan baru Meliana itu, jaraknya juga tidak jauh dari rumahnya. Meliana teguk minuman dinginnya yang sudah kembali bersuhu normal, ia diamkan sedari tadi sembari memutar otak dan membuang jauh-jauh rasa penat di dalam dirinya. “Aku masih mencintainya, sangat,” aku Meliana, ia helas nafas berat. “Tapi, dia sudah tidak mencintaiku,” tambahnya, ia pun tersenyum.“Kau tahu dari mana?”
“Hem ... Cinta itu menerima semuanya, mau kurang atau lebih, bukan mencari celah untuk menutup kekurangan dengan menambah barang lain, dari pilihannya itu dia sudah menyatakan kalau dia tidak bisa menerimaku apa adanya tanpa sadar.” Bagi Meliana masih banyak cara untuk memiliki anak dalam rumah tangga mereka, memang membutuhkan biaya yang banyak, tapi semua itu bisa mereka kumpulkan kalau memang ada niat untuk selalu bersama dan saling melengkapi. Meliana tidak mau menyalahkan siapapun, entah itu mertuanya yang terlalu ikut campur atau suaminya yang mudah tergoda. Intinya, dia mempunyai banyak kekurangan dan biarlah ini menjadi bahan untuk dia lebih baik lagi. “Ini hari pertamamu menjadi Janda, aku berdoa semoga Tuhan kembali mempertemukanmu dengan orang yang benar-benar tulus bersamamu sampai maut memisahkan, aamiin.” Sari tengadahkan kedua tangannya. “Aamiin ... Tapi, kau saja yang menikah dulu sana!” Meliana jitak kepala teman baiknya itu, mereka sudah bersama sejak sekolah dasar dan sampai detik ini di mana sudah tidak ada lagi bahu untuk Meliana bersandar.*** “Ga, sudah dua bulan istrimu itu meninggal, lebih dari empat puluh hari ... Move on!” bisik Juna. Arga lirik tajam temannya itu, “Aku itu cinta sama dia, jangan jadi kompor!” Juna putuskan pergi jauh saja kalau sudah ditolak mentah-mentah diawal oleh Arga, umpannya tidak pernah ada yang berhasil setiap kali membahas masalah jodoh. Arga baru saja menikah tiga bulan dan gadis bernama Nia itu meninggal setelah syukuran tiga bulan pernikahan mereka. Kini, Arga sudah sah menjadi seorang duda dua bulan lamanya, kalau saja Nia masih sehat dan hidup, mungkin hari ini mereka bisa mengadakan syukuran lagi bersama anak-anak yatim sekitar kampung. Penyakit ginjal akut tanpa sadar telah diderita lama oleh Nia, dia gadis pilihan ibu tiri Arga, gadis itu yang biasa membantu ibu Arga berjualan. “Ga, Ga!” Juna berlari sembari berteriak. “Apa?” “Lihat ini!” “Apa?” Arga mengesah, ia tengah ingin sendiri sembari mengingat kedekatannya dengan Nia. “Coba, baca ini!” Arga ambil ponsel Juna, ia baca inti berita yang tertulis dengan huruf tebal itu.“Resmi berpisah dan siap menikah lagi.” sontak mata Arga melebar.
The Archivist had always been a mysterious presence in their lives—appearing when needed, offering guidance, then vanishing into the shadows. But as Clara and Morwen completed their work of cleansing the kingdom of the Hollow's remnants, they received word that the Archivist had left something behind. Something important.The package arrived at the estate on a quiet morning, delivered by a messenger who knew nothing of its contents. Clara opened it with trembling hands, revealing a leather-bound journal filled with the Archivist's elegant script."It's their journal," she said, her voice hushed. "They left it for us."Morwen studied the journal, her expression curious. "What does it say?"Clara opened the first page, reading aloud. "To those who come after: I have watched you struggle, suffer, and triumph. I have seen you grow into the people you were always meant to be. This journal contains everything I have learned—the history of the Hollow, the secrets of the loops, and the truth
The seed's energy had been drawn out of Clara, contained in a crystal vessel, and locked away in the estate's most secure vault. But the experience had left Clara with an unexpected gift: she could now sense the lingering traces of the Hollow's power anywhere in the kingdom."It's like a map," she explained to Morwen one morning. "I can feel where the Hollow's energy touched the land. Where there might be other remnants we missed."Morwen studied her wife's face, seeing the determination there. "You want to find them. All of them.""I need to. If there are more seeds out there, more fragments of the Hollow's power, I can't rest until they're destroyed.""Then we'll find them. Together."---The search began immediately. Clara closed her eyes, reaching out with her new sense. She could feel the faint echoes of the Hollow's power, scattered across the kingdom like fragments of a broken mirror."There's something in the north," she said. "Near the border. And something else in the east,
The destruction of the last Hollow seed should have been the end. But in the days that followed, Clara began to notice something was wrong. Small things at first—a lingering fatigue, a faint tremor in her hands, moments of dizziness that came and went without warning."Are you alright?" Morwen asked one evening, catching Clara as she stumbled. "You look pale.""I'm fine. Just tired." Clara forced a smile. "It's been a long week."Morwen studied her face, her expression troubled. "You've been tired for weeks. This isn't normal.""It's nothing. I just need to rest."But rest didn't help. The symptoms persisted, growing worse with each passing day. Clara found herself struggling to concentrate, her magic flickering and unstable.---The truth came out during a routine checkup with the estate's healer. Clara had been hiding her symptoms, not wanting to worry anyone. But the healer saw through her facade."Lady Clara," the healer said, her voice grave. "There's something I need to tell you
The peace that had settled over the kingdom was deep and lasting. Years had passed since the conspiracy's defeat, and the wounds of the past had healed into scars. But in the quiet corners of the world, remnants of the old darkness still lingered—fragments of the Hollow's power that had been overlooked, waiting for the right moment to resurface.Clara found it by accident.She was walking through the estate's oldest section, a part of the grounds that had been neglected during the rebuilding. The area was overgrown, wild, untouched by the careful cultivation that had transformed the rest of the garden. And there, hidden beneath a tangle of weeds and brambles, she saw a faint shimmer of dark energy."Morwen," she called, her voice tight. "I need you to see something."---Morwen arrived within minutes, her expression shifting to concern as she took in Clara's pale face. "What is it?""I found something. In the old garden." Clara gestured to the shimmering patch of darkness. "It feels l
She told Seren about the shadow. Not everything — not the conversation in the rain, not the number Morwen had given her, not the forty-third iteration or the way a background character had stayed in a corridor when she should have kept walking. Those were things Clara was still holding carefully, s
She found her opportunity three days later, and it was not an opportunity she engineered. It arrived the way most significant things arrived, she was beginning to notice — sideways, at an inconvenient hour, dressed as something else entirely. It was raining. The Academy's courtyards were empty at t
The entrance ceremony was on a Tuesday. By Friday of the same week, the Academy had assumed the shape of its ordinary self — classes running, students finding their orbits, the social landscape settling into the configurations it would hold, with minor adjustments, for the rest of the year. Clara a
The results of the aptitude assessment were posted the following morning on the board outside the administrative office: a long list of names, beside each a track designation and, in some cases, a notation that meant additional review was required. Clara found her name in the C-section as expected.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.