THE VILLAINESS REMEMBERED ME:In Every Timeline, She Chose De

THE VILLAINESS REMEMBERED ME:In Every Timeline, She Chose De

last updateÚltima actualización : 2026-07-22
Por:  ClareEn curso
Idioma: English
goodnovel16goodnovel
No hay suficientes calificaciones
263Capítulos
679vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

She was never supposed to matter. The novel never gave her a name worth remembering. After dying in a mundane accident, twenty-three-year-old Clara Quinn opens her eyes inside the pages of the fantasy novel she despised most — reborn not as the heroine, not as the villainess, but as an unnamed background character fated to die before the story even begins. Her plan is simple: stay invisible. Attend the Imperial Academy of Asterveil, avoid every named character, and quietly survive a plot designed to destroy everyone foolish enough to interfere. That plan lasts exactly one day. During the entrance ceremony, Lady Morwen Ashvale — the infamous crimson-eyed prodigy that even crown princes fear — steps off her platform, walks past every noble heir waiting for her acknowledgment, and stops directly in front of Clara. "You belong to me," Morwen says, loud enough for every student in the hall to hear. "Do not forget it this time." This time. Clara has never met this woman in her life. Yet Morwen looks at her as though she has been searching for centuries. As shadows begin stalking Clara through the academy's cursed corridors — as the original story fractures and rewrites itself around her — Clara uncovers the truth that should be impossible: Morwen has lived this story hundreds of times. She has watched Clara die in every single one. And in every timeline where Clara falls, Morwen burns the kingdom to ash. She is not obsessed. She is grieving. She has always been grieving. And this time, she refuses to lose again.

Ver más

Capítulo 1

CHAPTER 1 The Last Chapter

 “Oke, semoga hidupmu bahagia, bye!”

 Meliana meninggalkan ruang persidangan terakhir hari ini, dia telah sah berpisah dengan Natan, mantan suaminya yang telah mengarungi biduk rumah tangga bersamanya selama tiga tahun itu.

 Tidak ada air mata atau guratan sedih di wajah Meliana, bahkan wajahnya tampak bersinar dan segar seolah tidak ada masalah sama sekali.

 “Mel, jangan gila ... Aku mohon!” Rika mengejar temannya itu, dialah yang menjadi pendamping sekaligus perwakilan keluarga inti Meliana selama persidangan ini berlangsung.

 Meliana menoleh, tidak lupa ia bawa senyum lebarnya, “Apa maksudmu gila?”

 “Kau tidak bersalaman dengan mantan mertua dan saudara iparmu apa, hah?” Rika tunjuk keluarga Natan yang masih berkumpul di depan ruang persidangan.

 “Untuk apa?”

 “Mereka juga keluargamu selama ini, Mel.”

 “Keluarga tidak mungkin membuang anggota keluarganya,” balas Meliana, ia putar kakinya lalu kembali berjalan.

 Kenyataan pahit yang harus Meliana terima hari ini, sejujurnya tidak ada wanita yang mau berpisah dengan suami mereka, itu hal yang sangat tidak mungkin, tapi bukan ingin Meliana sampai berpisahan ini terjadi.

 Tiga tahun lalu sebelum dia dan Natan menikah, mereka sudah saling berjanji bahwa tidak akan ada orang ketiga baik itu wanita atau pria lain yang akan masuk dalam hubungan mereka dengan alasan apapun, termasuk anak.

 Ya, Meliana sampai detik ini belum juga dikarunia seorang anak dari Sang Pencipta, sedang keluarga Natan menginginkan seorang cucu lahir di sana.

 Awalnya Natan menolak saran sang ibu yang ingin ia menikah kembali dengan seorang gadis, dalam arti Natan bisa memiliki dua istri tanpa berpisah dengan Meliana.

 Tapi, Meliana cukup sadar diri kalau memang dirinya memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan Andara, calon istri baru Natan itu. Natan adalah pria normal yang matanya jelas tidak rabun, lama-lama hatinya terpaut juga dan meminta Meliana mengerti akan posisinya.

 Perpisahan ini menjadi keputusan yang tepat menurut Meliana, itu sudah sesuai dengan janji yang mereka ucapkan dulu, lebih baik mundur daripada hidup berbagi, dia tidak akan pernah sanggup.

 Apa hatinya sakit?

 Apa dia tidak ingin menangis?

 Tentu, dia wanita biasa yang tidak mungkin kebal akan rasa sakit, apalagi ketika mendengar dari mulut suaminya sendiri kalau pria itu ingin memadunya, jelas sangat sakit.

 Dan tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang tidak ingin memiliki seorang anak bersama suami mereka, Meliana juga ingin, dia pun tidak diam saja, sudah banyak cara ia coba bersama Natan, tapi memang hasilnya belum ada.

 Lagipula, anak itu tidak bisa diminta atau ditolak kehadirannya, bodoh bila orang berkata dan menilai Meliana tidak ingin mempunyai anak cepat bersama Natan, itu hal yang sangat bodoh dan gila.

 Meliana simpan tenaganya, ia tidak mau menangisi apa yang sudah terjadi, apalagi di depan banyak orang.

 Dia tidak mau terlihat lemah di depan Natan dan keluarga pria itu, dia harus terlihat baik-baik saja dan mereka akan menjadi orang yang menyesal karena sudah melepaskannya.

 “Iya, aku sudah menjadi janda sekarang, apa Ayah keberatan?” Meliana berbicara dengan ayahnya lewat sambungan video call.

 “Kalau itu sudah keputusanmu, Ayah hanya bisa berdoa yang terbaik saja. Tapi, apa kau akan hidup seorang diri lagi, Nak?” Heri tidak bisa meninggalkan Meliana seorang diri.

 Tidak ada saudara dekat yang bisa membantu gadis itu, belum lagi Meliana adalah anak tunggal dan ibunya telah tiada.

 Heri pun saat ini tinggal seorang diri di rumah lama mereka, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah yang akan Meliana sewa.

 

 “Ayah, tenang saja.”

 “Kau tidak ingin tinggal di sini saja?”

 “Aku ingin menenangkan diri, Ayah ... Tapi, aku akan ke sana setiap akhir pekan, oke.”

 Anggap saja hari ini Meliana menjadi wanita terkuat selama proses persidangan berlangsung, bahkan bisa disebut sebagai peserta sidang yang paling santai.

 Meliana masuk dan ke luar ruang persidangan seperti pelanggan toko yang tengah menikmati proses belanja bulanannya, terlihat sangat ringan tanpa beban.

 “Apa kau sudah tidak mencintai Natan lagi?” Rika ingin menginap di rumah kontrakan baru Meliana itu, jaraknya juga tidak jauh dari rumahnya.

 Meliana teguk minuman dinginnya yang sudah kembali bersuhu normal, ia diamkan sedari tadi sembari memutar otak dan membuang jauh-jauh rasa penat di dalam dirinya.

 “Aku masih mencintainya, sangat,” aku Meliana, ia helas nafas berat. “Tapi, dia sudah tidak mencintaiku,” tambahnya, ia pun tersenyum.

 “Kau tahu dari mana?”

 “Hem ... Cinta itu menerima semuanya, mau kurang atau lebih, bukan mencari celah untuk menutup kekurangan dengan menambah barang lain, dari pilihannya itu dia sudah menyatakan kalau dia tidak bisa menerimaku apa adanya tanpa sadar.”

 Bagi Meliana masih banyak cara untuk memiliki anak dalam rumah tangga mereka, memang membutuhkan biaya yang banyak, tapi semua itu bisa mereka kumpulkan kalau memang ada niat untuk selalu bersama dan saling melengkapi.

 Meliana tidak mau menyalahkan siapapun, entah itu mertuanya yang terlalu ikut campur atau suaminya yang mudah tergoda. Intinya, dia mempunyai banyak kekurangan dan biarlah ini menjadi bahan untuk dia lebih baik lagi.

 “Ini hari pertamamu menjadi Janda, aku berdoa semoga Tuhan kembali mempertemukanmu dengan orang yang benar-benar tulus bersamamu sampai maut memisahkan, aamiin.” Sari tengadahkan kedua tangannya.

 “Aamiin ... Tapi, kau saja yang menikah dulu sana!” Meliana jitak kepala teman baiknya itu, mereka sudah bersama sejak sekolah dasar dan sampai detik ini di mana sudah tidak ada lagi bahu untuk Meliana bersandar.

***

 “Ga, sudah dua bulan istrimu itu meninggal, lebih dari empat puluh hari ... Move on!” bisik Juna.

 Arga lirik tajam temannya itu, “Aku itu cinta sama dia, jangan jadi kompor!”

 Juna putuskan pergi jauh saja kalau sudah ditolak mentah-mentah diawal oleh Arga, umpannya tidak pernah ada yang berhasil setiap kali membahas masalah jodoh.

 Arga baru saja menikah tiga bulan dan gadis bernama Nia itu meninggal setelah syukuran tiga bulan pernikahan mereka.

 Kini, Arga sudah sah menjadi seorang duda dua bulan lamanya, kalau saja Nia masih sehat dan hidup, mungkin hari ini mereka bisa mengadakan syukuran lagi bersama anak-anak yatim sekitar kampung.

 Penyakit ginjal akut tanpa sadar telah diderita lama oleh Nia, dia gadis pilihan ibu tiri Arga, gadis itu yang biasa membantu ibu Arga berjualan.

 “Ga, Ga!” Juna berlari sembari berteriak.

 “Apa?”

 “Lihat ini!”

 “Apa?” Arga mengesah, ia tengah ingin sendiri sembari mengingat kedekatannya dengan Nia.

 “Coba, baca ini!”

 Arga ambil ponsel Juna, ia baca inti berita yang tertulis dengan huruf tebal itu.

 

 “Resmi berpisah dan siap menikah lagi.” sontak mata Arga melebar.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Sin comentarios
263 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status