Share

Bab 14

Author: Anna Sahara
last update publish date: 2026-04-20 13:32:40

Efek kurang tidur dan rasa lelah yang menderanya, Aarick tertidur lagi di taksi yang mereka tumpangi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.

Hennah yang melihatnya hanya bisa mengusap lembut puncak kepala Aarick. "Hanya doa dan harapan yang bisa ibu panjatkan untukmu, semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih baik!"

Usapan tangan sang ibu membuat Aarick semakin nyenyak, dan mimpi sialan itu tiba-tiba datang lagi, seperti luka yang dikoyak sepanjang hidupnya.

Aarick saat itu berusia 15 tahu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 88

    Pesan itu terkirim dalam keadaan marah. Satu baris, pendek, tapi tajam seperti sayatan.[Jadi selama ini aku mencintai orang yang menjual dirinya pada banyak wanita? Hebat, Rick. Kau memang pintar menipu dan mempermainkan perasaan wanita.]Ponsel Aarick bergetar di saku jaketnya saat dia baru saja tiba di apartment. Rudolf melihat wajah Aarick yang tiba-tiba berubah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Aarick tidak menjawab. Dia masih menatap layar, membaca ulang pesan itu. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel, tapi tidak menekan apa-apa.Di Islamabad, Ara melempar ponselnya ke atas kasur. Dadanya naik turun. Dia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa pahit.“Bodoh,” bisiknya lagi. “Kenapa aku masih peduli?”Di lain sisi, Ara juga tidak bisa berhenti memutar ulang kalimat Aarick di konferensi pers:_“Seorang gadis yang membuka mata hati saya, mendorong saya untuk segera meninggalkan dunia kotor itu… dia adalah dewiku.”_Ara tahu. Dia tahu dan yakin gadis itu adalah

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 87

    87.Aarick menatapnya lama, lalu menekan tolak.“Kenapa?” tanya Rudolf.“Belum saatnya,” jawab Aarick. “Kalau aku angkat sekarang, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak mau dia dengar ini dari berita.”Rudolf mengangguk. “Kau akan cerita padanya?"Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang kembali gelap.***Islamabad.Ara duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke tempat tidur. Ponselnya masih terbuka di halaman berita.Judulnya berulang-ulang.“Mantan escort, kini menjadi bintang film.”“Rick Nocturne calon bintang akui masa lalu.”Tangannya gemetar. Bukan marah. Bukan jijik. Hanya tidak percaya pria yang dicintainya ternyata seorang gigolo elit yang memiliki banyak klien VIP.Dia menelpon untuk meminta penjelasan. Nada sambung berdering. Satu kali. Dua kali. Ditolak.Pesan masuk satu menit kemudian:[Ara. Aku lihat kamu menelepon. Aku akan cerita semuanya. Tapi tidak lewat telepon. Tunggu aku. Jangan dengar tentang aku dari orang lain.”Ara membaca pesan i

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 86

    Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 85

    Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 84

    84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 83

    83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 67

    Aarick melirik spion. Saat itu, Ara lagi senyum-senyum sendiri, mungkin sedang ingat film yang dimainkan si Zola Zain, atau masih terpesona dengan kemunculan pria yang hampir setengah abad itu, membuat Aarick semakin cemburu lagi.'Bangke.'Aarick injak gas, halus, tapi jarum speedometer_ naik dari

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 66

    "Zola Zain?" Aarick tiba-tiba mengerutkan dahinya. Dia berhenti pas di depan pintu mobil, tapi tidak membukakan pintu. Tangannya menggantung di handle dengan mata heran menatap Ara."Siapa dia?" tanya Aarick dengan suara yang pelan. "Seperti apa wajahnya sampai kamu menjadikannya sebagai artis fav

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 59

    Aarick diseret paksa menyusuri karpet tebal lorong. Di depan pintu 1708, dia akhirnya memberontak. Dengan satu sentakan kasar dia merenggut tangannya lepas dari cengkeraman Lena."Cukup!" geram Aarick, suaranya akhirnya pecah. Dia menatap Lena tajam, dadanya naik-turun. "Kamu pikir kamu siapa, main

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 57

    Kamar 1708. Lampu temaram dan AC disetel dingin seperti permintaan klien.Di atas ranjang, klien malam ini, Anita Anastasia, 34 tahun, wanita karir, cantik dan masih berstatus single sudah menanggalkan gaun satinnya. Tubuhnya matang, berpengalaman, dan malam ini dia yang membayar Aarick dengan harg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status