MasukDesis statis dari radio itu hanya berlangsung sepersekian detik.Namun cukup untuk mengubah seluruh sikap Oliver.Senyumnya menghilang.Bukan karena marah.Karena waspada.Avery memperhatikan perubahan itu dengan saksama.Oliver tidak bergerak selama beberapa saat. Tatapannya tertuju pada perangkat radio yang tergeletak di sudut meja kerja, seolah mencoba memutuskan apakah gangguan itu penting atau tidak.Lalu radio kembali berbunyi.Kali ini lebih jelas."Vanguard. Jawab."Suara Logan.Oliver mengembuskan napas pelan."Kurasa kita tidak akan menikmati sore yang tenang."Avery menyandarkan pinggulnya ke meja kerja."Berita buruk?" muka tegang dan kepanikan terpancar dari wajahnya"Logan jarang menelepon hanya untuk menyapa."Oliver mengambil radio."Masuk."Suara statis kembali terdengar sebelum suara Logan muncul."Kami menemukan sesuatu."Avery melihat rahang Oliver mengencang."Tentang apa?""Tentang tanah milik Avery."Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Avery berdiri lebih tega
Avery mendorong pintu ruang kerja itu sedikit lebih lebar.Suara gerinda yang meraung nyaring langsung menyambutnya.Percikan api berhamburan dari meja kerja di sudut ruangan, menerangi wajah Oliver dalam kilatan cahaya oranye yang pendek dan berulang.Untuk beberapa saat, Avery hanya berdiri di ambang pintu.Mengamati.Ruang kerja itu terasa persis seperti pemiliknya.Kasarnya teratur.Berantakan dengan cara yang terencana.Ratusan perkakas tergantung rapi di dinding. Rak-rak logam dipenuhi baut, mur, pelat baja, dan potongan kayu yang telah dipotong dengan ukuran berbeda-beda.Di tengah semuanya berdiri Oliver.Fokus.Tenang.Membangun sesuatu.Avery tidak mengganggunya.Ia hanya melangkah masuk perlahan sampai suara sepatu wolnya menarik perhatian pria itu.Oliver mematikan mesin.Keheningan langsung memenuhi ruangan."Kau seharusnya beristirahat.""Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu."Oliver mengangkat satu bahu."Aku sedang istirahat."Avery mengangkat alis.Pria itu menunju
Oliver menahan tubuhnya untuk tetap diam selama beberapa detak jantung, tertanam sangat dalam, membiarkan tubuh mereka menyatu dan terbiasa satu sama lain. Dia menempelkan dahinya di dahi Avery, membiarkan embusan napas mereka yang memburu saling berbaur. "Kamu pas," bisik Oliver dengan suara yang terdengar pecah. "Kamu terasa begitu pas di tubuhku.""Bergeraklah. Tolong, Oliver. Bergerak." Kuku-kuku jemari Avery bergerak mencakar bahu Oliver hingga menorehkan luka kemerahan.Oliver menarik tubuhnya mundur hingga hanya menyisakan bagian ujungnya yang tertinggal, lalu dia kembali menghantam masuk ke dalam. Benturan fisik itu membuat meja kayu ek yang berat di bawah mereka bergetar solid.Mereka menemukan sebuah ritme yang sama sekali tidak bisa dikatakan lembut—itu adalah sebuah hantaman yang konstan. Sebuah pengklaiman yang mutlak. Suara benturan kulit mereka terdengar menggema berirama, memantul di antara deretan perkakas logam yang tergantung di dinding ruangan. Oliver terus merangse
Oliver menjulurkan kedua tangannya, mencengkeram pinggang mungil Avery dengan mantap. Dia bisa merasakan panas tubuh gadis itu yang membakar di balik kain katun yang tipis. "Aku ingin memastikan kamu tahu persis di mana kamu berada saat ini."Oliver mengangkat tubuh gadis itu. Avery tersedak napas saat Oliver mengangkat tubuhnya tanpa usaha berarti, berat badan gadis itu sama sekali bukan tandingan bagi kekuatannya. Oliver mendudukkan Avery dengan hentakan tegas di atas tepian meja kerja. Peralatan di sekitarnya berdenting keras dan sebuah wadah berisi sekrup kuningan terguling, menumpahkan isinya ke atas lantai beton dalam kekacauan yang bising, namun Oliver sama sekali tidak peduli. Dia merangsek masuk di antara kedua kaki Avery, memaksa lutut gadis itu terbuka lebar menggunakan kedua pahanya sendiri, mengunci Avery sepenuhnya di dalam teritorinya."Oliver—""Diam." Oliver condong ke depan hingga hidung mereka saling bersentuhan. Dia bisa menghirup aroma tubuh Avery sekarang, sebuah
Suara melengking dari mesin gerinda tangan merobek keheningan ruang kerjanya yang sempit, melemparkan percikan bunga api berwarna oranye terang yang menghantam lantai beton bernoda pelumas. Kebisingan itu memenuhi seluruh isi kepala Oliver, menenggelamkan suara lolongan angin yang bertiup kencang menembus deretan pohon pinus di luar sana. Suara mesin itu sekaligus membungkam insting di dalam otaknya yang terus-menerus memerintahkan untuk memeriksa perimeter, memeriksa selot kunci, dan memantau area perbukitan.Di tempat ini, di tengah aroma baja panas, seruk gergaji, dan pelumas yang memenuhi paru-parunya, Oliver hanyalah seorang pria biasa yang bekerja dengan sepasang tangannya. Bukan seorang Vanguard. Bukan seorang mantan tentara yang hancur. Hanya seorang pria yang sedang membangun sesuatu yang solid.Oliver mematikan daya listrik pada mesin gerinda. Keheningan seketika merangsek kembali, terasa berat dan berdengung di telinganya.Dia mengangkat pelat besi penyangga yang baru saja d
Perjalanan kembali naik menuju puncak perbukitan terasa jauh lebih singkat dari biasanya. Langkah kaki Oliver yang lebar dan mantap dengan mudah menerobos tumpukan salju, sementara Avery berjalan tepat di belakangnya, dilindungi oleh bayangan tubuh raksasa pria itu dari terpaan angin dingin yang masih menyapu lereng gunung.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam kehangatan rumah utama kabin, Oliver langsung melepas senapan laras panjang dari bahunya dan meletakkannya di rak senjata sudut ruangan. Pria itu berbalik, menatap Avery yang sedang melepas sepatu botnya di dekat pintu."Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Oliver, suaranya yang rendah dan dalam memenuhi ruangan yang tenang. Sepasang mata hijau lumutnya menatap Avery tanpa berkedip, menuntut kejujuran mutlak.Avery mendongak, merapikan kemeja flanel milik Oliver yang masih menenggelamkan tubuhnya. Dia berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka hilang."Aku tidak pernah seyakin ini seumur hidupku, Oliver," ucap Avery tega







