MasukPernikahan yang harusnya menjadi sumber kebahagiaan itu nyatanya terasa hampa. Raka, tidak menjadikan sebuah pernikahan prioritasnya. Menikahi Kirana hanya sebagai pelengkap kehidupan saja. Kerja beserta kesuksesan menjadi prioritas Raka. Kirana mencoba mengerti dengan bertahan di pernikahan yang sudah berjalan dua tahun. Namun, bukan hanya gila kerja, Raka yang selalu berpihak pada ibu dan kakaknya membuat Kirana menyerah pada akhirnya. Gio Pria itu datang saat Kirana terpuruk akan pernikahan. Awalnya hanya teman cerita, berbagi kesedihan. Namun, lambat laun sebuah rasa hadir dalam hati mereka.
Lihat lebih banyak“Bagaimana? Lebih enak aku apa suamimu?” Kedua alisnya terangkat menanti jawaban dari bibir tipis milik wanita yang baru saja ia cumbu beberapa waktu yang lalu.
Gio Baskara, pria yang telah menjamah tubuh seorang wanita yang telah bersuami itu menatap penuh cinta pada wanita yang saat ini sedang menatap dirinya dengan matanya yang sayu. “Aku tidak akan meneruskan apa yang telah kita mulai jika kamu tidak mau menjawabnya.” Kirana tidak bisa membiarkan pria itu pergi begitu saja saat ia sudah mulai menikmati permainan pria yang menjadi sahabat suaminya itu. Ia ingin lebih dari sekedar cumbuan yang baru saja ia terima. Tangannya yang putih terulur untuk meraba lengan kokoh pria yang sedari tadi berada di atas tubuhnya. Napasnya masih memburu akibat cumbuan yang diberikan oleh Gio. “Kamu yang terbaik, Gio,” pujinya seraya tangannya kini mengusap lembut tengkuk Gio memberikan sensasi aneh dalam diri pria itu. Gio menyeringai, tentu saja jawaban itulah yang ia tunggu dari Kirana. Gio sedikit menunduk untuk lebih dekat dengan bibir yang sejak tadi menggoda untuk ia lahap. Kedua bibir mereka bertemu, kali ini bukan hanya sebuah kecupan, tetapi sebuah ciuman yang lebih dalam dan lebih menuntut. Cengkraman kuat di kepala Gio tidak membuat pria itu marah, sebaliknya, Gio malah semakin menikmati permainan mereka. Detak jantung Kirana berdebar tidak karuan saat sepasang tangan milik Gio meraba paha mulus miliknya dengan begitu lembut. Lantas sebuah erangan tidak tertahankan keluar dari bibir Kirana. "Ah,” desahnya sembari menutup kedua matanya. Gio memberikan jarak di antara mereka kembali, ia menatap wanita yang berada di bawahnya, cantik, sangat cantik. Bulu mata lentik dan juga mata yang besar. Jangan lupakan dua tahi lalat yang ada di pipinya membuat Kirana semakin mempesona. “Buka matamu saat mendesah atas perbuatanku!” perintah Gio membuat Kirana mendongak dan membuka kedua matanya. Kirana dapat melihat bayangan dirinya dari bola mata Gio yang juga tengah menatapnya. Bukan hanya karena tatapan Gio yang semakin mendalam padanya, tetapi juga bagaimana tatapan itu seolah menelanjangi dirinya. Penuh pesona dan juga hasrat. “Saat aku menyentuhmu aku ingin kau membuka mata dan melihatku.” Suaranya berat menahan hasrat. Kirana menelan ludah, laju napasnya terengah. Kedua tangan yang masih berada di lengan sang pria itu kembali naik guna menyentuh kepala bagian belakang milik Gio. “Tentu.” Hasrat kedua anak manusia yang sedang membara itu seakan tidak mampu untuk dipadamkan. Gio dengan beringas kembali melumat bibir tipis milik Kirana dengan rakus. Kedua tangannya tidak diam begitu saja, dengan gerakan halus dan sempurna, Gio mulai menelusuri setiap lekuk tubuh Kirana. Kulit itu begitu lembut, bukan tidak mungkin jika tubuh Kirana akan menjadi candu untuknya. “Gio,” erangnya mendesahkan nama pria yang sedang mencumbunya. Ketika tangan Gio mulai bergerak di area bawah Kirana, membuat wanita itu menggeliat penuh gairah. “Bagus, sebut namaku, Sayang.” Kirana dan juga Gio tidak dapat menahan gairah yang saat ini begitu menggebu. Keduanya hanyut akan cumbuan dan tubuh mereka yang menyatu. Kehangatan di sana memberikan sensasi tidak biasa. Tubuh Gio bergerak secara teratur, seirama dengan hasrat yang ia miliki. Pria itu memejamkan kedua matanya saat ia akan mencapai puncaknya. “Kirana,” desahnya memanggil nama wanita yang menjadi istri dari sahabatnya. Malam ini benar-benar menjadi malam yang panjang bagi keduanya, Kirana dan Gio. Setelah pergulatan yang penuh keringat itu selesai, Kirana menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh Gio. Pria itu menyentuh rambut Kirana yang tergerai dan memberikan kecupan singkat di sana. Mereka seolah abai akan bau amis akibat pergulatan yang baru saja berakhir itu. “Kapan suamimu akan pulang?” tanya Gio masih setia dengan sentuhan lembut di surai hitam milik Kirana. Jemari Kirana yang tadinya bermain di dada Gio pun kini berhenti. Wanita itu mendongak menatap sepasang netra kelam milik Gio. “Besuk siang, dia akan ada di rumah.” Netra bermanik hitam milik Gio kini menatap Kirana dengan lekat. Hubungan mereka telah berjalan selama enam bulan lamanya dan malam ini mereka telah bertindak terlalu jauh. Jika biasanya mereka hanya sering berkirim pesan atau saling bertemu secara rahasia, kini mereka telah sampai pada batasnya. Mereka tahu jika tidak seharusnya melakukan hal ini, tetapi gairah telah pada batasnya membuat Gio dan Kirana lupa akan segalanya. *** Langit berubah menjadi gelap, sang raja malam telah bertengger di singgasananya. Ribuan bintang turut menyinari gelapnya malam ini. Siang tadi, Raka telah sampai di rumah dengan tubuh yang lelah. Pekerjaan yang begitu banyak ia selesaikan dalam waktu singkat. Bagi Raka, tentu saja pekerjaan itu terlalu mudah. Beberapa hari jauh dari istrinya, Raka harus memendam hasratnya. Malam ini juga, Raka telah bersiap meminta jatahnya pada Kirana. Kirana tidak dapat menolak, wanita itu mengiyakan apa yang diinginkan Raka. Hasrat yang sudah mencapai ubunya itu harus segera ia lampiaskan. Memojokkan sang istri hingga kakinya terbentur ranjang, Raka kini mendorong pelan bahu Kirana dan cukup membuat sang istri jatuh di atas tepat tidur. Tanpa aba-aba dan sebuah benda asing masuk ke dalam tubuhnya. Kirana hanya mampu meringis pelan dan meremas sprei yang ada. Kirana merasakan sakit yang teramat dalam di setiap gerakan Raka. "Mas, pelan-pelan," pinta Kirana dengan suara yang tersendat. Permintaan Kirana seolah hanya dianggap angin lalu. Raka terus saja berpacu dan memompa pinggulnya lebih kencang. "Eugh ...." Lenguhan dari Raka membuat Kirana dapat bernapas dengan lega. Jika sudah seperti itu maka Raka akan mencapai puncaknya. Benar saja, Raka terbaring setelah penyatuan menyakitkan itu. Ya, alasan inilah yang membuat Kirana memilih menduakan sang suami dan memilih sahabat dari suaminya itu. Raka tak pernah benar-benar membuat Kirana merasa diperlakukan layaknya seorang istri yang dicintai. Sebaliknya, ia hanya seperti 'wanita belakang', yang harus selalu siap ketika Raka meminta. Bahkan, bisa dibilang yang ada di kepala Raka hanya pekerjaan dan kehendak orang tuanya. Kirana menatap suaminya yang terbaring dengan kedua mata yang terpejam. "Kamu udah tidur, Mas?" tanya Kirana sembari memakai pakaiannya kembali. "Kirana, pekerjaanku banyak dan aku tidak punya waktu untuk omong kosong setelah beberapa hari ini sibuk di luar kota." Raka masih memejamkan kedua matanya saat ia menjawab pertanyaan dari sang istri. "Besuk aku masih harus bertemu dengan Gio. Ada kerja sama yang harus dibicarakan." Kali ini Raka mengambil selimut guna menutupi tubuhnya yang telanjang. Kegiatan Kirana memakai bajunya kembali terhenti saat sebuah nama keluar dari mulut suaminya. Gio? Nama itu mampu membuat Kirana melebarkan kedua matanya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Bukan hanya itu saja, jemarinya saling bertaut. Kirana menelan ludahnya menyembunyikan kegugupan yang menerpa. Detik berganti menit, menit berganti jam. Hari yang ditunggu telah datang. Sebuah restoran bergaya modern menjadi pilihan utama Raka bertemu dengan Gio. Kirana terpaku di salah satu kursi yang ada di restoran. Wanita itu tidak mengerti kenapa Raka mengajaknya dalam urusan bisnis. Ini adalah kali pertama Kirana diperbolehkan ikut suaminya bekerja. "Tumben ngajak aku, Mas?" tanya Kirana lebih terdengar seperti sebuah cicitan karena ramainya pengunjung restoran. "Ribet banget kamu. Kalau diajak bilang tumben, enggak diajak pengen ikut," seloroh Raka membuat Kirana hanya mampu tertunduk lesu. Kirana kembali mengangkat kepalanya ketika ia menyadari jika sang suami berdiri seraya melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Sepasang netra bermanik hitam itu benar-benar memperhatikan pria yang baru saja datang dengan setelan jas berwarna gelap. “Gi-Gio?” bisiknya yang ia yakini tidak dapat didengar oleh Raka. Melihat Raka yang berdiri, Gio menghampiri pria itu. Pria yang menjadi suami dari wanita yang ia tiduri. "Wah, tambah sukses aja yang pulang dari luar kota," ucap Gio seraya menjabat tangan Raka. "Bisa aja kamu. Aku ke sana cuma beberapa hari." Gio melirik Kirana yang duduk sembari menatap wajahnya. "Udah kangen sama istri pasti kalau cuma beberapa hari," goda Gio. Raka berdecak sebal dan berkata, " Ck, kamu itu! Aku pulang berarti pekerjaan yang di sini sedang menungguku." "Dasar gila kerja! Hati-hati nanti istrimu itu diambil orang kalau kamu kebanyakan fokus sama pekerjaan."Matahari telah menampakkan sinarnya. Sinar itu menembus melalui celah-celah kamar. Pusing yang ia dera membuat Kirana begitu berat hanya sekedar bangun dari kasur.“Kenapa, sih, aku?” gumamnya seorang diri.Namun, Kirana tidak mau jika ia terus berada di dalam kamar. Ia harus segera beraktivitas agar pusing di kepala segera sembuh. Lagi pula beberapa novel menunggu dirinya untuk dikerjakan.Tiba-tiba tubuh Kirana limbung. Pandangannya mendadak berkunang-kunang saat kakinya baru melangkah beberapa langkah dari ranjang."Aw ...."Kirana mengaduh kesakitan.Wanita itu berusaha meraih ujung meja sebagai penopang, tetapi jemarinya gagal menggapainya.Bruk!Tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai kamar.Keheningan langsung memenuhi ruangan.Sementara itu, sebuah mobil baru saja memasuki halaman rumah. Heni turun sambil membawa beberapa kantong belanja yang sengaja ia siapkan untuk menantu kesayangannya.Semalam Gio berulang kali mengingatkan agar dirinya datang pagi-pagi. Awalnya Heni mengangga
Kirana menutup ritsleting koper dengan kedua tangannya lalu menghembuskan napas pelan. Semua kebutuhan Gio untuk perjalanan dinas malam ini sudah ia siapkan. Mulai dari pakaian ganti, perlengkapan mandi, berkas yang harus dibawa, hingga obat-obatan yang biasa dikonsumsi suaminya saat mengalami sakit kepala akibat kelelahan bekerja.Ia menggeser koper itu ke dekat pintu kamar sebelum meluruskan punggungnya. "Harusnya cukup,” gumam Kirana menatap koper yang sudah rapi itu.Pandangan Kirana beralih ke jam dinding. Gio masih punya waktu dua jam berada di rumah. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengalir. Gio masih membersihkan diri setelah pulang bekerja.Kirana duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya perlahan. Entah kenapa tubuhnya terasa lebih cepat lelah akhir-akhir ini. Hanya memasukkan beberapa barang ke dalam koper saja ia merasa lelah.Pintu kamar mandi terbuka. Gio melangkah keluar sambil mengacak rambutnya yang masih basah dengan handuk. Aroma sabun yang segar l
Entah apa yang terjadi, tetapi sejak pagi tadi perasaan Gio tidak tenang. Meski tubuhnya duduk di ruang rapat, pikirannya terus kembali pada Kirana. Wajah istrinya tampak lebih pucat dari biasanya. Wanita itu juga beberapa kali terlihat mudah lelah dalam beberapa hari terakhir. Namun, setiap kali Gio mengajaknya memeriksakan diri ke rumah sakit, Kirana selalu menolak dengan alasan hanya kelelahan. Kekhawatiran itu membuat Gio sempat menceritakan kondisi Kirana kepada ibunya. "Mungkin saja Kirana sedang hamil.” Begitu jawaban Heni kala itu. Kalimat tersebut terus terngiang di kepala Gio. Bukan karena ia tidak menginginkan anak. Justru sebaliknya, ia akan sangat bahagia jika suatu hari dirinya dan Kirana dipercaya untuk menjadi orang tua. Namun, Gio tidak berani menyampaikan dugaan itu kepada istrinya. Ia terlalu mengenal Kirana. Wanita itu pernah melalui begitu banyak kekecewaan dalam hidupnya. Gio tidak ingin menambah satu lagi harapan yang berakhir menjadi luka. Bagaimana
Kirana menundukkan pandangan. Entah sejak kapan jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Hembusan napas dari keduanya dapat mereka rasakan masing-masing.Ada semburat merah yang samar terlihat, sudah lama Kirana tidak melakukan hal seperti ini. Malam ini akan menjadi yang pertama setelah mereka menjadi sepasang suami istri.Gio mengangkat dagu Kirana perlahan agar wanita itu menatapnya. Tatapan mata sayu itu benar-benar menggoda Gio. Hasrat sang pria begitu menggebu untuk ia salurkan.“Kamu yakin?” tanya Gio menanyakan kesanggupan Kirana perihal malam yang akan mereka lakukan.Kirana menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gio. "Bukan karena terpaksa?" Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya cepat.Tidak, Kirana melakukan ini bukan karena terpaksa."Lalu kenapa?” Alih-alih segera menuntaskan hasratnya, Gio memilih untuk menggoda istrinya yang cantik lebih dulu.“A-aku ….”Seringai jelas terlihat di bibir penuh milik Gio. Pria itu sangat menyukai Kirana yang tersipu malu.“Ken












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.