MasukWarning!!! 18++ anak-anak di larang masuk! Bagaimana jika seorang duda tampan sekaligus CEO sebuah perusahaan besar, tiba-tiba saja jatuh cinta dengan seorang gadis yang tak lain adalah anak dari pembantunya? Akankah mereka bisa bersatu dan berakhir happy ending, atau justru sebaliknya?
Lihat lebih banyakDia Airin, gadis SMA polos yang mendadak harus beradaptasi di rumah majikan ibunya, demi menggantikan pekerjaan ibunya yang tengah sakit.
"Huhh," desis Airin lirih, merasa lega selesai berbincang dengan Nolan. Pagi ini, Sudah beberapa kali Airin menghela nafas. Bahkan, jantungnya pun ikut terus berdebar setiap kali berpapasan atau berbincang singkat dengan Nolan. "Tunggu sebentar," suara berat Nolan menghentikan Airin yang baru beberapa langkah. Gadis cantik mengenakan baju sederhana sedikit lusuh itu seketika menoleh, seakan tersentak mendengar suara Nolan. "I-iya, tuan. Ada yang bisa bantu lagi?" sahut Airin sedikit gagap., tanpa berani mengangkat wajahnya untuk melihat kearah Nolan. "Segera ganti bajumu. setelah ini, biar saya antar kamu ke sekolah!" ucap Nolan dengan suara datar yang justru terdengar begitu dingin dan mendominasi di telinga Airin. "Ta-tapi tuan, saya belum menyelesaikan semua pekerjaan saya!" sahut Airin ragu-ragu. "Apa kamu ingin telat di hari pertamamu masuk kesekolah?" sahut Nolan tak terbantahkan. "Ba-baik, tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu!" Dengan langkah tergesa-gesa Airin segera menuju kamarnya. Lagi-lagi, jantungnya berdebar-debar. Bukan tanpa alasan, Dia tahu posisinya, tapi dia tidak pernah siap menghadapi Nolan Mahendra. Nolan itu dingin, dominan, dan benci penolakan. Tapi pagi ini, CEO jutek itu justru menawarkan diri untuk mengantar Airin berangkat ke sekolah. Tiga puluh menit telah berlalu. Airin, dengan tas ransel kain berwarna pudar tersampir di bahu kirinya, baru saja melangkah keluar dari pintu dapur dengan tergesa-gesa. Aroma embun pagi yang bercampur dengan wangi tanah basah dan samar-samar aroma kopi dari dalam rumah menusuk indranya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegugupan yang sedari tadi melilit perutnya. Langkah kakinya yang ringan dan dan terburu-buru terhenti tiba-tiba ketika suara bariton yang dalam dan berwibawa memecah fokusnya. "Tunggu saya," singkat Nolan. Seketika, Airin membeku di tempatnya. Ia menunduk sekilas, tanpa sadar meremas tali ranselnya cemas. Usahanya untuk berangkat lebih awal dan menghindar dari majikan ibunya itu akhirnya gagal. Dengan langkah pasti, Nolan melangkah menghampiri Airin. Airin menelan salifanya susah payah, setelah melihat Nolan dengan aura yang begitu kuat berjalan kearahnya. 'Aduh, aku harus beralasan apa lagi?' batin Airin yang tidak enak hati jika benar-benar Nolan mengantarkannya kesekolah. "Mau berangkat sekarang?" pertanyaan itu terlontar dengan nada datar namun tidak dingin. "I-iya, Tuan!" jawab Airin cepat, masih menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya barang sedetik pun. Ia merasa tatapan pria itu seperti mampu menembus pertahanannya. "Kalau begitu, biar saya antar." "Ti-tidak perlu, tuan. Sa-saya bisa berangkat sendiri!"Airin menolak tawaran itu dengan cepat, bahkan sedikit panik. Nolan sudah begitu baik mengizinkannya untuk tetap bersekolah sambil bekerja, bahkan membiayai sekolahnya. Tidak baik rasanya jika ia terus merepotkan majikan ibunya itu. "Saya tidak suka mendengar penolakan!" nada suara Nolan tiba-tiba berubah menjadi tegas, seolah tak terbantahkan. "Ba-baiklah, Tuan. Kalau begitu... saya benar-benar minta maaf karena telah merepotkan Tuan!" ucap Airin sedikit ragu, bahkan ia tidak berani mengangkat wajahnya walau sedetik saja. "Jangan takut," sahut Nolan melihat ekspresi wajah Airin yang was-was seakan takut kepadanya. "saya hanya tidak ingin kamu tersesat di hari pertamamu sekolah." lanjut Nolan, seraya melangkahkan kakinya menuju mobil mewah miliknya yang sudah terparkir di halaman rumah mewah itu. *** Pintu mobil tertutup dengan bunyi yang halus namun kedap. Airin duduk di kursi penumpang, merasa canggung dan tidak nyaman dengan keheningan diantara mereka. Ia terus menunduk, memperhatikan jemarinya yang saling bertautan di pangkuan. "Apa kamu sangat suka menunduk?" pertanyaan Nolan memecah keheningan. Suaranya terdengar lebih santai dari sebelumnya. Ia melirik gadis di sebelahnya, memperhatikan bagaimana rambut hitam legam itu menyembunyikan sebagian wajahnya. "Apa lehermu tidak sakit sedari tadi menunduk?" "Anu, tuan. Sa-saya..." Airin kembali gugup, apalagi mendapat perhatian langsung dari majikan yang duduk di sampingnya. Aroma maskulin bercampur dengan aroma kopi yang samar menguar dari tubuh Nolan, membuatnya semakin salah tingkah. Tanpa aba-aba, dengan gerakan lembut namun mengejutkan, Nolan mengulurkan tangannya dan menyentuh dagu Airin. Ia mengangkat dagu gadis itu perlahan, memaksanya untuk menatap ke arahnya. DEG. Dengan kening berkerut, Airin menatap Nolan dengan penuh tanda tanya. Lagi-lagi, Jantungnya kembali berdebar. Bahkan, telapak tangannya tiba-tiba menjadi dingin dan berkeringat, seolah seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir setelah merasakan sentuhan mengejutkan dari majikan ibunya ini. "Jangan terlalu sering menunduk di depan saya!" ucap Nolan memecah keheningan yang kembali tercipta. Matanya meneliti setiap inci wajah Airin. "Apa saya begitu menakutkan, hmmm?!" ada nada menggoda yang samar dalam suaranya. Tatapan mata yang beradu dalam jarak sedekat ini membuat otak Airin tidak mampu lagi berpikir jernih. Semua logika dan akal sehatnya seolah menguap. Ia hanya bisa terpaku menatap mata elang itu, merasakan sensasi aneh yang belum pernah ia alami sebelumnya. "Airin?" panggil Nolan lembut, seraya melambaikan tangannya perlahan di depan wajah Airin yang terlihat linglung. Alisnya berkerut halus melihat gadis itu terdiam seperti patung, menatapnya tanpa berkedip. "I-iya, tuan," sahut Airin tersentak, setelah mendengar panggilan Nolan. Meskipun begitu, tidak ada satu pun kalimat Nolan yang benar-benar masuk ke dalam otaknya. Ia masih terpaku pada tatapan mata pria itu. Nolan menghela napas pelan. Ia melepaskan dagu Airin dan mengarahkan pandangannya ke depan. "Pasang sabuk pengamannya, kita berangkat sekarang!" ucap Nolan sambil melirik sekilas ke arah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah semakin siang. Nolan menoleh kembali, melihat Airin yang tampak kesulitan memasangkan sabuk pengaman. Tangannya terlihat gemetar dan canggung. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Nolan berinisiatif untuk membantu gadis itu. Ia mengikis jarak di antara mereka, tubuhnya condong lebih dekat ke arah Airin. Aroma mint yang segar dari napas Nolan bercampur dengan aroma maskulin tubuhnya semakin kuat menusuk indra Airin. Dalam posisi yang terlalu dekat itu, Airin yang terkejut tanpa disengaja mengangkat wajahnya, berniat menjauhkan diri dari Nolan. Namun, sialnya bibir mereka justru tidak sengaja bersentuhan. CUP. Sentuhan singkat namun mengejutkan itu membuat Nolan dan Airin sama-sama terbelalak. Mereka membeku dalam keterkejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Mata Airin membulat sempurna, dan ia bisa merasakan jantung Nolan berdetak cepat di dekatnya. "A-apa yang tuan lakukan?" tanya Airin akhirnya, suaranya bergetar hebat setelah tersadar dari keterkejutannya. Dengan wajah yang memerah padam, ia mendorong pelan dada Nolan, menciptakan jarak di antara mereka. Ketakutan dan kebingungan terpancar jelas dari raut wajah gadis itu. Namun, semua ini sungguh bukan rencananya, batin Nolan. CEO muda itu berusaha terlihat tenang di tengah kepanikan yang juga menyelimutinya. Ditengah kepanikan yang menyelimuti keduanya. Tiba-tiba Nolan tersadar akan sesuatu, ia merasa ada yang aneh dengan reaksi tubuhnya. Ia menatap sekilas ke bawah, 'i-ini?!' Entah ini sebuah musibah atau keberuntungan untuknya. Nolan yang telah di vonis dokter mengidap impoten setelah kecelakaan yang ia alami 7 tahun lalu, Kini, kepemilikannya kembali berfungsi setelah sebuah ciuman yang tidak di sengaja antara dirinya dengan gadis kecil, putri ART-nya. Membuat pria itu tidak bisa berkata-kata. Dalam situasi yang begitu canggung dan membingungkan ini, tanpa berpikir panjang, Airin meraih gagang pintu mobil dan membukanya. Air matanya sudah berada di pelupuk mata, siap untuk tumpah. "Maafkan saya, ini tidak seperti yang kamu kira," ucap Nolan cepat, sedikit panik melihat kondisi Airin saat ini. Ia segera meraih pergelangan tangan gadis itu dengan lembut, mencegahnya untuk keluar dari mobil. "Melihat kamu seperti kesulitan mengenakan sabuk pengaman tadi, saya berniat untuk membantu kamu. Tapi... kejadian tadi benar-benar tidak disengaja, saya minta maaf sama kamu!" jelas Nolan dengan nada sungguh-sungguh, berusaha meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Airin menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya, raut wajahnya menunjukkan kesedihan dan keterkejutan yang mendalam, membuat Nolan semakin merasa bersalah atas kejadian yang tidak disengaja itu. Namun, ada beberapa pertanyaan aneh yang tiba-tiba muncul di benaknya, dipicu oleh reaksi berlebihan gadis itu. "Apa tadi... ciuman pertamamu?" tanya Nolan dengan nada hati-hati, menatap mata Airin lekat-lekat. Pertanyaan macam apa ini? batin Airin tidak nyaman. Meskipun itu benar ciuman pertamanya, membahas hal itu dengan majikan ibunya terasa sangat tidak pantas dan memalukan. "Tu-tuan, i-ini sudah siang. Lebih baik saya-" ucap Airin beralasan, berusaha menarik tangannya dari genggaman Nolan dan bersiap untuk turun dari mobil. Ia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan pribadi pria itu. Namun, lagi-lagi usaha Airin gagal. Nolan kembali meraih tangannya, bahkan kali ini ia menarik tubuh Airin hingga gadis itu kembali duduk dan berada sangat dekat dengannya. Jarak mereka nyaris tidak ada. Refleks, Airin memejamkan matanya erat-erat. Aroma mint yang tiba-tiba menyeruak dari hembusan napas Nolan, bercampur dengan aroma tubuhnya yang maskulin, semakin kuat menusuk indranya, membuat Airin merasa seperti terhipnotis dan kehilangan kendali atas dirinya. CUP. Sekali lagi, tanpa peringatan, Nolan mengambil ciuman dari Airin. Kali ini hanya sekilas, sentuhan lembut bibir ke bibir yang meninggalkan rasa hangat dan kebingungan yang mendalam. "Buka mata kamu, Airin!" ucap Nolan dengan suara berat, sedikit serak, tepat di depan wajah Airin. Perlahan, dengan jantung berdebar kencang, Airin membuka matanya. Ia kembali bertatapan dengan mata elang Nolan yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Ada intensitas dan emosi yang sulit ia artikan. Ada apa dengan tuan?! batinnya bertanya-tanya dengan rasa takut yang semakin besar. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutan dan kebingungannya. "Jawab pertanyaan saya, Airin," ucap Nolan lembut, namun terdengar jelas nada tertahan di setiap kalimatnya. Tatapannya tidak lepas dari wajah polos gadis itu. Ragu-ragu, dengan bibir bergetar, akhirnya Airin mengangguk kecil. "A-apa yang ingin tuan tanyakan?" tanyanya dengan suara lirih nyaris tak terdengar. Tatapan mata Nolan semakin intens, seolah tengah memindai setiap inci paras cantik gadis yang saat ini berada begitu dekat dengannya. Ada sesuatu yang polos dan memikat dalam diri Airin yang entah mengapa menarik perhatiannya. "Apa kamu tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya?!" pertanyaan itu terlontar dengan nada serius. Kening Airin seketika berkerut, mendengar pertanyaan yang begitu pribadi dari majikan ibunya. Untuk apa Tuan Nolan menanyakan tentang hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ibunya? Melihat wajah Nolan yang masih menatapnya dengan serius, menunggu jawaban, akhirnya Airin menggeleng pelan. "Ti-tidak pernah, tuan." Sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tidak terlihat, menghiasi bibir Nolan. Namun, ada kepuasan yang jelas terpancar dari matanya. "Kalau begitu, apakah ciuman tadi... yang pertama untukmu?!" Airin kembali menunduk, menggigit bibir bawahnya erat-erat. Rasa malu yang luar biasa menyeruak dalam dirinya. Samar-samar ia mengangguk kecil, dan menjawab pertanyaan itu dengan suara lirih yang hampir hilang tertelan keheningan, "I-iya, tuan." Nolan menghela napas dalam-dalam, menatap Airin dengan intensitas yang membuat gadis itu semakin salah tingkah. Kemudian, dengan nada penuh penekanan dan keseriusan yang belum pernah Airin dengar sebelumnya, Nolan mengucapkan sebuah kalimat yang akan mengubah hidupnya, "Kalau begitu, saya benar-benar minta maaf. Dan untuk hal tadi... saya akan bertanggung jawab kepadamu, Airin!" * * * BERSAMBUNG~ Terimakasih sudah membaca . Tetap stay tune ya!!! Nantikan keseruan Airin dan Nolan di episode selanjutnya!!!Hampir seminggu telah berlalu sejak malam yang menjungkirbalikkan hidupnya. Namun, entah mengapa di dalam sudut hati Airin, gadis itu masih saja mengharapkan secercah kabar dari pria yang telah merenggut kesuciannya. Sebuah rahasia besar yang sengaja ia kunci rapat, hanya dirinya dan Nolan yang tau. "Lo sakit?" Suara berat Galang yang tiba-tiba terdengar tepat di sebelah telinganya membuat Airin tersentak. Galang berdiri di sampingnya, mengamati wajah Airin yang tampak sedikit pucat. Entah sejak kapan cowok itu nekat masuk ke dalam barisan murid perempuan di tengah lapangan basket, membuat Airin seketika panik. "Ngapain kamu di sini?" tanya Airin lirih dengan kening berkerut. Ia celingukan, takut ikut terseret masalah akibat ulah semena-mena cowok di sampingnya ini. "Ditanya malah balik nanya," sahut Galang dengan wajah songong andalannya. "Galang! Ngapain kamu di barisan situ?" Teguran keras itu datang dari Pak Gunawan, guru olahraga bertubuh sedikit buncit yang baru saja m
"Kejadian semalam gimana? Lo nggak apa-apa, kan?" tanya Galang, memecah keheningan. Sorot matanya tetap terfokus ke arah jalanan di depan mereka. Airin seketika terdiam mendengar pertanyaan itu. Kalimat Galang seolah menarik paksa ingatannya kembali pada kejadian menegangkan semalam, kejadian traumatis di mana ia hampir saja kehilangan segalanya jika Galang tidak datang tepat waktu. Tanpa Airin sadari, jemarinya bergerak mencengkeram kuat ujung seragam Galang dari belakang, menyalurkan rasa takut yang mendadak kembali merayap. Galang yang merasakan tarikan pelan di bajunya langsung menoleh sekilas. Menggunakan ekor matanya, ia melirik wajah pucat Airin yang duduk tegang di belakangnya. "Sorry, sorry. Nggak usah dijawab kalau bikin lo gak nyaman," ucap Galang, menyadari perubahan drastis pada suasana hati gadis itu. "Makasih, ya... Semalam udah nolongin aku," lirih Airin pelan, hampir tenggelam oleh deru angin jalanan. "Lain kali hati-hati," balas Galang dengan nada suara yang per
Jessi sengaja memarkirkan Mobilnya tak jauh dari gerbang sekolah elit, dimana Airin berada. Matanya memerah. Pikirannya melayang, berputar-putar pada memori masa lalu saat pertama kali ia bertemu Nolan. Ingatan tentang bagaimana ia selalu setia mendampingi pria itu, menjadi salah satu tangan kanannya yang paling andal, hingga titik menyakitkan di mana Nolan mencapakannya tanpa belas kasihan pagi ini. "Ahhhh, sial!" teriak Jessi frustrasi, memukul setir mobilnya dengan brutal untuk meluapkan kekesalannya. Setelah cukup lama menunggu dengan napas memburu, akhirnya netranya menangkap sosok yang dicarinya. Airin melangkah keluar dari gerbang sekolah seorang diri. "Akhirnya datang juga," lirih Jessi dengan senyum miring yang tampak mengerikan. Tanpa berpikir panjang tentang masa depan atau konsekuensi hukum yang akan dihadapinya, Jessi langsung menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil itu menderu keras, melaju dengan kecepatan penuh kearah Airin. 'Kalau gue gak bisa dapetin
"Nanti sore sepertinya saya tidak bisa menjemputmu," ucap Nolan setelah mobilnya berhenti tepat di pelataran SMA elit tersebut. Mengingat waktu yang sudah mepet, Nolan memutuskan untuk langsung mengantar Airin ke sekolah daripada harus singgah dulu ke kediaman Mahendra. Airin mengangguk pelan. Gadis yang kini sudah rapi dengan seragam sekolah itu memberikan senyum sekilas yang terasa hambar. "Iya, tidak apa-apa, Tuan. Lagipula jaraknya juga tidak terlalu jauh, saya bisa jalan kaki," jawabnya santai, berusaha terlihat seperti biasa meskipun hatinya masih terasa sesak. "No, baby! Nanti biar sopir yang menjemputmu," sahut Nolan tegas. Ia menatap sekilas pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Airin. "Ya sudah, kamu segera masuk. Sepertinya kelas akan segera dimulai." Airin mengangguk lagi. Hari ini, entah mengapa suasana hatinya benar-benar buruk. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal 'menjauh dari Nolan sejauh mungkin' Ia benar-benar enggan membuang energi untuk memperpanj
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.