LOGIN"Saya memang tukang sate, tapi masalah memuaskan dan menghamili Tante Nadine, saya ahlinya, apalagi dalam hal tusuk-menusuk!!" Nadine, terpaksa meminta seorang pemuda untuk menikah dan menghamilinya demi untuk mendapatkan keturunan sesuai keinginan keluarga besar. Dia sebenarnya sangat cantik dan kaya raya, akan tetapi dia menyamar sebagai tante-tante umur 40-an untuk mencari sosok laki-laki yang tulus. Semua itu disebabkan trauma akan masa lalunya dulu. Semakin tulus Juki, semakin Nadine percaya dengan pria dan cinta itu mulai tumbuh, Nadine mendapatkan sebuah kejutan yang tidak pernah ia sangka. Siapakah Juki? Si tukang sate yang kini menjadi suaminya?
View More"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate.
Namun tiba-tiba... "Daripada kamu susah-susah nusuk daging setiap hari, bagaimana kalau kamu tusuk aku saja!" kata seorang wanita sambil menunjukkan secarik kertas pada Juki. Pemuda itu terkejut dan ia segera membalikkan badannya. Dilihatnya seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahun itu bersama dengan dua orang laki-laki yang berwajah sangar. "Eh budhe, kertas apa ini?" tanya Juki dengan suara gemetaran yang sepertinya sudah pernah melihat wanita itu. Ia masih bingung harus memanggil apa pada perempuan itu, pasalnya wajah perempuan itu terlihat sudah berumur tapi masih melajang alias perawan. "Tanda tangan di sini! Sesuai yang aku bilang kemarin. Setelah aku berhasil hamil, maka aku akan menceraikanmu secepatnya!" kata wanita itu lagi. Sepertinya ia bukan wanita sembarangan, meskipun wajahnya amburadul tapi wanita itu terlihat berduit. Wanita itu bernama Nadine, berwajah kotak, berkulit sawo matang, rambut pendek sebahu, memakai kacamata tebal dan penampilannya sangat jauh dari wanita normal biasanya. Style dan gayanya cenderung mirip wanita di tahun delapan puluhan. Ditambah lagi dengan bentuk giginya yang menonjol, semakin membuat penampilan wanita itu sangat unik dan estetik, pria yang melihatnya pasti mendadak katarak dan buta, karena bentuk giginya yang abnormal, Nadine jadi kerepotan untuk menutup mulutnya dan susah menyebut huruf tertentu seperti 'b' dan 'm'. Nadine pernah meminta kepada Juki yang ia kenal beberapa hari yang lalu saat dirinya membeli sate. Diketahui Juki sedang tertimpa masalah besar lantaran pemuda itu harus segera membayar tunggakan kosnya selama lima bulan. Jika tidak, maka ia akan diusir. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari yang selalu kurang dan juga biaya untuk orang tuanya di kampung. Nadine membutuhkan seorang pria untuk menikah kontrak dengannya agar dirinya bisa mengandung dan mendapatkan keturunan, dan Juki adalah pemuda yang tepat. Nadine adalah wanita yang sangat pintar dan teliti. Ia tidak akan mengambil keputusan besar ini pada setiap pria. Sedangkan Juki adalah pria pilihannya. Pasalnya ia sudah melakukan serangkaian pemeriksaan tentang kondisi kesuburan pemuda itu, dan hasilnya kualitas benih Juki sangat bagus. Juki terpaksa menyetujui permintaan Nadine yang di luar nalar. Lantaran ia sangat membutuhkan uang. Meskipun ia sedikit jijik melihat wajah Nadine, tapi demi bisa bertahan hidup, ia terpaksa menyetujuinya. Wanita itu menawarkan kepada Juki sebuah kerjasama yang tentunya sama-sama menguntungkan. Juki menerima surat perjanjian itu dan membacanya sebentar sebelum ia bubuhi tanda tangan. "Boleh saya baca dulu, budhe?" Dengan entengnya, Jaka memanggil budhe pada Nadine sambil tertawa kecil saat melihat wajah Nadine yang unik. Bagaimana tidak, gigi Nadine selalu berada di depan dan membuat wajah wanita itu terlihat lucu dan rasanya tangan Jaka ingin sekali menepuk mulutnya. "Voleh!" jawab Nadine yang susah sekali menyebut huruf 'b' karena bibirnya terhalang oleh giginya yang menonjol. Sontak Juki tertawa mendengar jawaban Nadine. "Boleh, budhe. Boleh, b pakai huruf b bukan v. Jangan terlalu fasih napa!" sahut Juki sambil mengeja memberikan arahan pada Nadine yang tidak bisa menyebut huruf 'b'. "Diafff!" teriak Nadine. Lagi-lagi Juki tertawa mendengar suara Nadine yang juga kurang jelas menyebut huruf 'm'. "Diam budhe, bukan diaf!" sahut pemuda itu lagi. Sungguh, Juki dibuat geli dengan kata-kata yang keluar dari bibir Nadine. Apalagi pemuda itu notabennya memiliki sifat konyol. Belum sampai Juki berhenti tertawa. Dua orang pria yang datang bersama Nadine langsung memberikannya pukulan di perut. Bug Bug Bug "Aduhhh, my usus hurt!" pekik Juki asal ceplos sambil memegangi perutnya yang sakit karena dipukul oleh anak buah Nadine. "Cukuf!" sahut Nadine. Kedua pria itu langsung melepaskan Juki sambil memberikan peringatan. "Aku ingatkan sama kamu! Jangan pernah menghina bos kami lagi. Awas kalau kamu sampai bicara macam-macam tentang bu Nadine!" ancam salah seorang anak buah Nadine sambil memberikan kode tangannya seperti sedang memotong leher. Juki pun takut sekali. "Ampun, saya minta maaf. Saya janji nggak bakalan bicara begitu lagi!" jawab Juki terpaksa. Rupanya Nadine bukan perempuan sembarangan, meskipun wanita itu terkesan buruk rupa dan tidak menarik, tapi ia memiliki cukup kekuasaan. Anak buah Nadine segera melepaskan Juki. Kemudian wanita itu berjalan mendekatinya sambil memberikan peringatan tegas. "Dengar! Aku tidak main-main dengan penawaran ini. Kamu sangat beruntung bertemu denganku. Aku cuma butuh benihmu saja untuk membuatku mengandung. Setelah aku hamil, kamu bisa bebas dan uang yang aku janjikan semuanya bisa kamu bawa pergi. Jangan khawatir, aku tidak akan mempermasalahkanmu lagi dalam kehidupanku dan kamu juga tidak punya hak terhadap anak itu nanti!" kata Nadine serius. Juki menelan ludahnya seperti menelan ribuan duri. Kenapa dirinya harus terjebak oleh perempuan yang lebih pantas menjadi ibunya itu. "Ba-baik, budhe. Saya bersedia!" jawab Juki pasrah. "Good, sekarang tanda tangan. Aku akan memberimu lima ratus juta plus bonus hidup menumpang gratis selama kita menjadi suami istri!" ucap Nadine menjelaskan tentang isi perjanjian itu. Juki mengangguk dan lagi-lagi ia hanya bisa pasrah. Tangannya sudah gemetaran memegang pulpen untuk membubuhkan tanda tangan di sana. Iya, pemuda itu akhirnya bersedia tanda tangan, pria malang yang miskin ditambah lagi dengan wajahnya yang ikut miskin, kulit sawo busuk dengan hiasan tahi lalat berambut di pipi kirinya. Mungkin orang akan langsung kasihan saat melihat wajahnya yang terlihat memelas dengan penuh penderitaan. "Sudah!" katanya sambil memberikan kertas perjanjian itu. Nadine menerimanya, wanita itu tersenyum dan ia akan memberikan penjelasan tentang apa-apa yang harus Juki lakukan setelah mereka menikah. "Hari ini kita akan pergi ke catatan sipil dan kita langsung menikah di sana. Setelah itu kita akan tinggal serumah dan ingat satu hal. Sebenarnya aku sangat tidak suka disentuh laki-laki macam kamu, jelek, miskin dan bau banget. Tapi, karena aku butuh benihmu jadi mau tidak mau kita harus melakukannya!" Kata-kata Nadine seketika langsung dijawab oleh Juki dengan ucapan konyolnya. "Ya sama dengan saya, budhe. Saya rela menggadaikan keperjakaan saya demi menghamili Anda. Lagipula di umur yang mau berakhir ini ngapain budhe pingin hamil? Kulit budhe udah kisut, pasti dalamnya juga ikut kisut!" celetuk Juki tanpa dosa. BERSAMBUNG"Shit! Apa jangan-jangan dia!" Juki tak lantas kehilangan akal. Ia lebih percaya pada istrinya. Pria itu pun segera melacak nomor yang baru saja menghubunginya. Sebagai seorang pria pengusaha yang sering mengalami hal seperti ini. Tak ada yang sulit baginya untuk menemukan nomor tak dikenal itu. Segera ia melacaknya. Malam itu, disaat Nadine sedang terlelap tidur. Julian sibuk mencari orang yang telah mengirimkan foto telanjang istrinya. Pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh orang itu dan pastinya pengirim itu bukanlah orang asing. Karena ia tahu jika Nadine sedang dekat dengannya, bahkan mungkin sudah tahu jika Julian adalah suaminya. "Siapa dia! Apa tujuannya mengirim foto istriku. Aku tahu ini sangat disengaja. Dia tahu aku dan Nadine sedang bersama!" gumam Julian. Pria itu meminta bantuan Jenny untuk melacaknya. Tengah malam buta, Julian menelpon Jenny yang saat itu sedang terlelap. "Ayolah, kak! Angkat teleponnya!" Julian terlihat panik karena Jenny belum juga mengangkat te
Julian menoleh dan memandang wajah istrinya."Kenapa kamu tanyakan lagi? Apa jawabanku masih kurang jelas?" tanya Julian dengan tatapan matanya yang serius dan Nadine menunduk."Entahlah, aku merasa sangat tidak pantas mendapatkan laki-laki yang baik sepertimu. Kamu berhak bahagia bersama wanita yang lebih...!" Belum sampai Nadine melanjutkan kata-katanya. Julian langsung memotong pembicaraan sang istri."Hei, ssssttt! Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi, faham! Kamu akan tetap menjadi istriku dan tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan dirimu, tidak ada!" ucap Julian."Tapi, Mas!""Hei stop! Jangan bicara lagi, atau aku cium kamu!" ancam Julian seraya mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Sepertinya pria itu memang sedang ingin mencium sang istri. Nadine spontan mendorong pipi Julian sambil memalingkan wajahnya."Ihhh, jangan, Mas! Aku belum cuci muka!" sahut Nadine sambil menggelengkan kepalanya. Tapi Julian terus memaksa untuk mencium bibir wanita itu."Nggak a
Daniel bergerak mundur saat Julian menunjuk wajah pria itu dengan tatapan matanya yang tajam. Tuan Andi masih bingung. Apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Masalah apa yang sebenarnya mereka simpan sampai-sampai Julian bersikap sedikit kasar pada kakaknya. "Daniel, Julian! Papa tahu kalian ada masalah. Tapi ada baiknya kalian selesaikan masalah ini baik-baik. Kalian adalah saudara!" seru Tuan Andi. Julian langsung menyahutinya. "Tidak ada, Pa. Kami tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja kami berdua sudah memutuskan tidak akan tinggal di rumah ini lagi. Sesuai permintaan istriku, kami akan tinggal di tempat lain karena sepertinya istriku tidak nyaman berada serumah dengan kakak iparnya. Jadi, aku mohon Papa bisa mengerti!" ucap Julian sebelum dirinya pergi bersama istrinya. "Tapi Julian! Kalau Mama kamu tidak mau bagaimana? Kau tahu mamamu sedang sakit. Bukannya maksud Papa melarangmu tinggal di rumah lain. Tapi, kau tahu sendiri bagaimana mamamu. Papa saja pusing dibuatnya," seru
Kata-kata Daniel semakin membuat Nadine marah. Air mukanya menunjukkan bahwa Nadine sangat membenci pria itu. Bisa-bisanya Daniel berkata demikian. Pria itu memang tidak pernah menghormatinya. "Tutup mulut busukmu itu, Daniel! Dasar brengsek!" umpat Nadine sambil menunjuk wajah Daniel dengan kemarahan. Daniel tertawa santai. Sepertinya pria itu memiliki sebuah rencana untuk membuat Nadine terkejut. "Seandainya saja kamu tahu, Nadine! Apa kamu masih ingat kejadian di malam pesta perpisahan sekolah? Aku yakin sekali kamu pasti masih sangat ingat. Tidak mungkin kamu lupa!" Kata-kata Daniel sontak membuat Nadine mulai mengingat sesuatu yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Malam perpisahan sekolah yang menyedihkan baginya. Lantas, bagaimana bisa Daniel bicara demikian? Apa maksud dari ucapan pria itu? Tatapan mata Nadine mulai bertanya-tanya. Apa yang Daniel ketahui tentang malam perpisahan itu. Jangan-jangan pria itu tahu apa yang dialami oleh Nadine. "Kenapa? Apa kamu masi
Melihat itu, Tuan Andi lekas menahan Juki. "Hei sudah, sudah!" katanya sambil menjauhkan Juki dari Daniel. Rupanya hal itu semakin membuat Daniel merasa di atas awan. Pria itu semakin mencaci-maki Juki. "Apa lo anjing! Main keroyok? Dasar munyuk sok jagoan! Ke sini kau, biar aku hancurkan mukamu
"Tante mau ke mana?" Juki bertanya sambil berbaring di samping Nadine. "A-aku, aku mau ke kamar mandi. Badanku lengket semua dan aku jijik!" jawab wanita itu mengarang. Padahal ia sedang ingin mencari gigi palsunya. "Nanti saja ke kamar mandinya. Sekarang Tante ikuti perintah saya!" kata Juki. Un
Nadine melihat ke arah bawah. Didekapnya langsung kedua dadanya. Bisa-bisanya Juki meminta itu darinya."Juki, kamu sudah gila? Haus kok minum ini? Jangan ngadi-ngadi kamu!" bentak Nadine."Ya emang nggak boleh, Tante? Bukankah kita sudah menjadi suami istri? Ya sah-sah saja kalau saya minta itu. T
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore