LOGINSuasana di meja makan mansion keluarga Martin yang biasanya kaku dan dingin, siang ini mendadak terasa begitu hangat—tentu saja hanya untuk Liora.Xavier dengan penuh kelembutan menarik kursi utama di sisi kanan untuk Liora, membantunya duduk dengan sangat hati-hati agar kaki yang baru saja menjalani operasi pelepasan pen itu tidak tersenggol. Di sampingnya, Dion dan Leon sibuk menata piring serta menyendokkan lauk-pauk terbaik ke atas piring adik bungsu mereka."Liora, ini ayamnya Kakak ambilkan bagian dada yang empuk ya," ucap Dion penuh perhatian."Pakai sup ini juga, adik manis. Masih hangat, bagus untuk pemulihan kamu," tambah Leon tidak mau kalah, menyodorkan mangkuk sup segar di hadapan Liora.Sementara itu, Xavier dengan tenang memotong daging stik di piringnya sendiri menjadi potongan-potongan kecil yang rapi, lalu menukarkan piring itu dengan piring Liora. "Makan yang banyak, Sayang. Tubuhmu masih terlalu kurus," bisik Xavier lembut, mengusap pelan pucuk kepala gadis itu.Ke
Melihat kehadiran Dion dan Leon di, raut wajah Liora yang semula dingin mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Gadis itu mengepuk-ngepuk pelan lengan tegap Xavier yang merangkulnya, lalu menyunggingkan senyum paling manis dan menggemaskan yang ia miliki."Kak Dion... Kak Leon..." panggil Liora dengan suara lembut yang sedikit manja.Ia meregangkan tangannya sedikit ke arah kedua kakak laki-lakinya itu, bertingkah seolah-olah ia adalah seorang adik kecil yang sangat merindukan perlindungan dari kakak-kakaknya. "Aku sudah pulang. Kalian dari mana saja? Kenapa baru pulang?"Dion yang semula tegang seketika melangkah mendekat. Matanya menatap Liora dengan binar kehangatan yang luar biasa, sementara Leon tak kuasa menahan senyum tipisnya lalu ikut berjalan mendekati sang adik.Pemandangan itu bagaikan sembilu yang menyayat dada Cynthia. Di atas lantai yang dingin, dengan mulut yang robek, darah yang masih menetes, dan pipi yang bengkak kemerahan, Cynthia menyaksikan bagaimana kedu
"Tuan Xavier... saya mohon ampun! Cynthia tidak bermaksud jahat, dia hanya cemas pada adiknya!" seru Lely dengan suara bergetar, berusaha memohon ampunan.Wanita angkuh itu bahkan sampai lupa, siapa dirinya di depan Xavir. Ia benar-benar merangkak mohon ampun.Meskipun wajah Cynthia sudah bengkak dan bersimbah darah, Lely masih saja tidak tahu malu berusaha membela putri kesayangannya itu. Seolah-olah seluruh fitnah keji yang baru saja dimuntahkan Cynthia hanyalah sebuah 'kekhilafan kecil' dari seorang kakak yang penuh kasih sayang."Liora! Ini semua gara-gara kamu!" bentak Lely mendadak, mengalihkan sorot mata benci dan menyalahkan sepenuhnya pada Liora."Kenapa aku? Apa yang aku lakukan? Apakah aku yang meminta dia untuk berbohong?" Liora menunjuk Cynthia, sedangkan matanya menatap Lely dengan tersenyum geli. "Coba kalau kamu tidak menghilang tanpa kabar selama lima hari dan membuat salah paham seperti ini, Cynthia tidak akan kebingungan dan salah mengenali orang di kafe itu! Kamu
"Maafkan aku... aku salah lihat. Ternyata... ternyata hanya orang yang mirip dengan Liora," ratap Cynthia dengan bibir yang gemetar hebat. Rasa sakit yang berdenyut-denyut dan hawa panas di kedua pipinya membuat air matanya mengalir deras tiada henti, menyatu dengan darah segar yang merembes dari sudut bibirnya. Xavier menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap Cynthia bagaikan seekor singa yang sedang memperhatikan mangsa tak berdaya. "Bukankah tadi kau sangat yakin bahwa yang kau lihat adalah calon istriku?" tanya Xavier, nadanya luar biasa tenang namun justru di situlah letak kengeriannya. "Ternyata nyalimu sangat besar, Cynthia. Kau dengan begitu beraninya menenun fitnah murahan tentang calon istriku tepat di hadapanku." "Maafkan aku, Tuan Xavier... hiks... Aku... aku hanya takut jika Liora melakukan kesalahan yang fatal," kilih Cynthia, masih mencoba menggunakan topeng keprihatinan palsunya meski wajahnya sudah babak belur. "Karena... karena sejak kecil dia hidup
"Kau melihat Liora bersama dengan laki-laki di luar sana?" tanya Xavier. Suaranya terdengar teramat rendah, datar, namun mengintimidasi, seolah ada badai yang siap meletus dari balik ketenangannya.Cynthia yang merasa pertanyaannya direspons oleh Xavier langsung merasa di atas angin. Tanpa keraguan sedikit pun, dengan wajah yang dipasang seolah-olah menanggung aib yang teramat besar, ia langsung memuntahkan fitnah keji yang luar biasa mengerikan itu dari bibir manisnya."Iya, Tuan Xavier... Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," ucap Cynthia dengan nada bicara yang teramat lembut namun mantap. "Liora sedang bersama tiga orang laki-laki asing. Penampilan mereka sangat kasar. Dan yang membuat aku paling terpukul... Liora membiarkan para pria itu bebas memegang tubuhnya, memeluknya, dan bahkan mencium wajahnya bergantian di depan umum! Dia sama sekali tidak menolak, justru tertawa kesenangan..."Cynthia menutup mulutnya dengan saputangan, berpura-pura terisak seolah hatinya hancur
Namun, begitu netranya menangkap pemandangan di mana Liora berjalan agak pincang sembari bersandar manja pada tubuh tegap nan gagah milik Xavier, kilat kebencian yang teramat pekat langsung menyambar di benak kepalanya yang busuk. Rasa iri bergejolak hebat di dadanya. Namun, dengan kemampuan akting tingkat tingginya, Cynthia buru-buru menekan emosi itu. Skenario kotor berisi fitnah keji yang sudah ia susun rapi sejak kemarin kini siap ia muntahkan demi menghancurkan Liora.Lely dan Martin duduk di hadapan Xavier dengan wajah yang luar biasa tegang."Tuan Xavier... maaf jika Anda harus mendengar hal yang memalukan ini dari keluarga kami. Namun, sebagai kepala keluarga, saya merasa harus memberi tahu Anda mengenai kebenaran ini," ucap Martin dengan suara bergetar sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya menyiratkan rasa takut, cemas, sekaligus malu yang luar biasa. Pria paruh baya itu benar-benar mengira bahwa Liora yang masih berusia sembilan belas tahun ini telah berbuat se
Suasana gazebo seketika hening. Angin sore seolah berhenti berembus.Martin membeku di tempatnya, matanya berkedip tidak percaya. "...Apa?""Liora," ulang Xavier, suaranya terdengar bariton dan tegas. "Apakah dia suka minum kopi hitam?"Martin terdiam. Beberapa detik, tidak ada satu patah kata pun
Lely masih berdiri dengan napas memburu, menyaksikan satu per satu perabot mewah berlapis emas dan beludru dimasukkan ke dalam kamar tamu utama. Tangannya mengepal begitu erat hingga kuku-kuku panjangnya yang dihiasi manik-manik mahal memutih. Saking marahnya, tubuh wanita paruh baya itu sampai be
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k
"Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,







