MasukTara terbangun di ranjang pria yang tak seharusnya, dengan ingatan yang kabur dan kenyataan yang mengerikan: ia dituduh hamil oleh keluarga sendiri. Dipojokkan, dihina, bahkan ditampar oleh ayahnya, Tara tahu—ada rahasia besar yang disembunyikan, dan ia dijadikan kambing hitamnya. Ketika cinta, pengkhianatan, dan kehormatan bertabrakan, Tara harus memilih: tunduk pada tekanan... atau melawan segalanya demi kebenaran.
Lihat lebih banyak"Tara, semalam ayah dengar ada suara gelas pecah. Apa itu kamu?”Tara tersentak. Pertanyaan ayahnya membuatnya sedikit gugup. Ia mencoba menyembunyikan kegelisahan di balik senyum yang dipaksakan.“Ah iya, Ayah… Tara nggak sengaja nyenggol. Mungkin karena terlalu capek,” ujarnya sambil terkekeh kecil, suara tawanya terdengar seperti dibentuk, bukan lahir dari hati.Danu melirik Tara dan ikut tersenyum, meski samar. Ada keganjilan yang dirasakannya, namun ia tak ingin memaksa. Sementara itu, Tara buru-buru mengalihkan pandangan ke arah Rina. Ia tak ingin raut wajahnya mengkhianati perasaannya, tak ingin sang ayah menangkap gurat sedih yang tersisa.“Tara… Ayah perhatikan kamu agak berisi sekarang,” ujar Danu, setengah bercanda, namun matanya tetap serius.“Mungkin karena aku terlalu senang,” jawab Tara cepat, lagi-lagi dengan senyum yang mencoba menutupi guncangan di dalam hatinya.“Sewaktu kamu menghilang kemarin, Ayah dan Mamahmu benar-benar takut. Takut kalau kamu nggak akan pernah
"Ben... Beni..." suara Dewa memecah malam, menggema dari depan pintu rumah temannya.Pintu terbuka perlahan. Beni berdiri terpaku, kaget melihat sosok Dewa yang mendadak muncul di hadapannya. Tubuh Dewa tampak limbung, nyaris ambruk. Tanpa pikir panjang, Beni segera memapahnya masuk ke dalam rumah."Mas, kenapa sama dia?" tanya seorang wanita berdaster dari balik ruang tengah, istri Beni.Dewa dijatuhkan pelan ke atas sofa. Wajahnya merah padam, dan bau alkohol yang menyengat langsung memenuhi ruangan.Refleks, istri Beni menutup hidung. Tanpa basa-basi, bantal sofa melayang dan tepat menghantam wajah Dewa, membuat Beni terlonjak kaget."Dia jelas habis mabuk! Rumah jadi bau begini. kenapa kamu punya teman pemabuk seperti dia?" omel istri Beni sambil berkacak pinggang."Udah, jangan banyak tanya. Ambilin minyak angin sama air minum," tegas Beni, tak ingin berdebat.Meskipun kesal, sang istri tetap beranjak, menggerutu pelan. Tak lama, minyak angin dan segelas air disodorkan ke tangan
Malam itu, Dewa melangkah masuk ke tempat hiburan malam. Sorot lampu yang temaram berpadu dengan dentuman musik yang menghantam dada. Ia menenggak beberapa gelas minuman keras, tapi tak juga memadamkan amarah dan kecewa yang membara di dadanya. Dewa benar-benar frustrasi. Ia masih sulit mempercayai Tara."Mau aku temani?"Suara itu datang dari seorang wanita bergaun merah ketat. Ia berdiri di dekat Dewa, tubuhnya mencolok, lekuknya terbingkai sempurna oleh kain yang menempel erat di kulit. Belahan dadanya tampak jelas, sengaja diperlihatkan.Tapi Dewa tetap diam. Matanya tak bergerak ke arahnya, tak ada niat bahkan untuk sekilas menoleh. Namun wanita itu tak menyerah, senyumannya menggoda, gerak tubuhnya penuh maksud."Namaku Carlina. Kamu bisa panggil aku Carl. Kalau kamu siapa?" suaranya lembut namun terdengar percaya diri."Dewa," jawab Dewa singkat, hambar.Carlina mengangguk pelan sambil mengangkat gelasnya, senyum masih mengambang di bibirnya. "Nama yang menarik. Aku memperhati
"Lebih baik kita ke dokter kandungan sekarang, untuk lebih memastikan."Dewa melangkah lebih dulu. Tara terdiam, menatap punggung Dewa yang semakin menjauh. Biasanya, tangan itu selalu menggenggam tangannya setiap kali mereka berjalan bersama. Kini tidak lagi. Hati Tara tercekat, apakah ini berarti Dewa mempercayai omongan Oma Widya? pikirnya, getir.Dengan langkah pelan, Tara masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Dewa langsung menyalakan mesin tanpa sekalipun menoleh ke arahnya. Wajahnya dingin, datar, tanpa ekspresi."Apa Kak Dewa percaya sama ucapan Oma?" tanya Tara pelan, nyaris seperti bisikan.Dewa tetap diam. Tatapannya lurus, fokus ke depan. "Kita bicarakan di rumah sakit saja," jawabnya singkat.Tara menoleh ke arah jendela, menahan napas. Setitik air mata jatuh tanpa bisa dicegah. Dengan cepat ia menyekanya. Namun rasa perih itu tak bisa ia hapus begitu saja. Dadanya sesak, terlebih melihat perubahan sikap Dewa yang kini terasa begitu asing, begitu dingin.
"Owek… Owek…”Tangis bayi memecah keheningan malam, menggema di lorong-lorong sepi Panti Asuhan Kasih Bunda. Pemilik panti yang tengah bersiap untuk tidur sontak terbangun dan berlari, panik mencari sumber suara yang memilukan itu.Begitu membuka pintu depan, langkahnya terhenti. Matanya membelalak
"Tuan… Nyonya…"Teriakan Surti menggema, memecah keheningan pagi dan mengejutkan Dewa serta Oma Widya yang tengah menikmati sarapan. Dengan napas tersengal dan wajah panik, Surti berlari menuruni anak tangga. Air mata sudah membanjiri pipinya, mencerminkan kegundahan yang dalam."Ada apa, Surti? Ke
Satu bulan kemudian..."Sandrina... bayi mbul, kita ke rumah nenek sekarang ya? Kita jengukin nenek."Tara berbicara lembut pada Sandrina yang kini sudah genap berusia satu bulan. Tangannya sigap mengemasi perlengkapan. Popok, baju ganti, minyak telon, selimut kesayangan. Semua ia tata dengan rapi
"Dewa, Tara, bayi siapa yang kalian bawa itu?"Oma Widya menatap mereka dengan mata membelalak. Suaranya meninggi, mencampur antara keterkejutan dan kecurigaan saat melihat Tara dan Dewa pulang membawa seorang bayi perempuan.Tara dan Dewa saling berpandangan. Sekilas saja, cukup untuk saling mengu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan