Masuk“Do you mean you are a virgin?” “Yes,” “Yes what?” “I.am.a.virgin.” I said holding a tendril of my hair shyly. “One week.” “For?” “I give you one week to come to terms with all these. After one week, I won’t be able to keep my hands off you, dear wife.” *** Trapped in a royal betrothal, Zara hates Zack. Zack loathes Zara. Thus, they won't consummate the marriage or follow any sort of tradition. To punish them, the Queen sends them on a journey to Island Formentera. However, a shipwreck leaves them stranded— stuck with each other. Will they go home and face the enemies of the royal household together? Or be swallowed by each other's pride?
Lihat lebih banyakGelap.
Itulah yang terakhir Alya rasakan. Tubuhnya dingin, napasnya berhenti, dunia lenyap begitu saja di hadapannya. Ia yakin hidupnya sudah berakhir. Namun entah mengapa, perlahan kesadaran kembali. Rasa sakit di perutnya hilang, napasnya kembali teratur. Tubuhnya terasa utuh, tak lagi berat dan lemah seperti beberapa saat sebelum ia mati. Kelopak matanya bergetar. Lalu terbuka. Yang pertama ia lihat adalah langit-langit putih dengan cat yang sedikit mengelupas di sudut. Bukan rumah sakit. Bukan pula ruangan dingin penuh noda darah seperti yang ia bayangkan neraka. Melainkan… kamar yang sangat ia kenal. Alya bangkit pelan, duduk di tepi ranjang. Pandangannya berkeliling, mencari pegangan pada realitas. Sofa kecil berwarna biru di pojok ruangan, meja rias sederhana dengan cermin bundar, lemari kayu dengan engsel berdecit—semua itu… miliknya. Barang-barang lama yang sudah ia singkirkan bertahun-tahun lalu. Tangannya gemetar meraih sebuah bingkai foto di meja. Foto dirinya bersama Raka, masih mengenakan busana pengantin, dengan senyum lebar penuh cinta. Senyum yang belakangan hanya menyisakan luka. Alya terengah, dadanya naik-turun cepat. “Tidak… ini tidak mungkin.” Ia berdiri terburu-buru, hampir kehilangan keseimbangan. Matanya menangkap kalender tergantung di dinding. Dengan langkah gontai ia mendekat, jantungnya berdetak keras. Tanggalnya jelas: 12 Juli 2019. Tepat tiga tahun setelah pernikahan mereka. “Tidak mungkin…” bisiknya, suaranya bergetar. “Tujuh tahun… harusnya sudah tujuh tahun… dan aku…” Alya menatap tangannya sendiri, halus, tanpa luka, tanpa darah. Ia menepuk-nepuk wajahnya, berharap terbangun dari mimpi buruk. Namun yang terasa hanya kulitnya sendiri, hangat dan nyata. Suara dering tiba-tiba memecah keheningan. Alya menoleh cepat. Di meja nakas, sebuah ponsel bergetar—ponsel lamanya, model lama dengan nada dering klasik yang sudah lama ia lupakan. Dengan ragu ia meraihnya. Layarnya menyala, menunjukkan panggilan masuk. Nama yang terpampang membuat darahnya berdesir. “Suamiku ❤️.” Tangannya hampir menjatuhkan ponsel itu. Nafasnya tercekat. Ini… nyata? Atau hanya tipuan pikiran sekarat? Panggilan berhenti. Sesaat kemudian, pesan masuk. > “Sayang, aku pulang agak telat. Jangan lupa kita dinner malam ini, ya. Happy anniversary ke-3 ❤️.” Alya terpaku. Rasanya kepalanya berputar. Air mata menggenang di matanya, bercampur antara rindu, marah, dan ketidakpercayaan. Anniversary ke-3. Bukan ke-7. Ia berjalan terpincang menuju kamar mandi. Tangannya memutar keran air, lalu menangkupkan air ke wajahnya. Dingin. Nyata. Dengan gemetar, ia menatap cermin. Yang kembali menatapnya bukanlah wajah seorang perempuan yang hancur, penuh luka batin, dan sekarat. Melainkan dirinya yang lebih muda: kulit lebih kencang, mata masih segar, senyum samar yang belum hilang dari bibir. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Tuhan…” suaranya lirih, bergetar. “Apa ini… kesempatan kedua untukku?” Alya menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan dingin wastafel, mencoba menahan tubuhnya agar tidak gemetar. Nafasnya pendek-pendek, seakan paru-parunya menolak percaya apa yang sedang ia alami. Air yang masih menetes dari wajahnya mengalir ke dagu, menetes di lantai. Ia merasakan setiap detailnya. Begitu nyata. Terlalu nyata untuk sekadar mimpi. “Kalau ini mimpi, kenapa aku bisa merasakan sakit dinginnya air?” pikirnya, menggertakkan gigi. Ia mencubit lengannya keras-keras, sampai kulitnya memerah. Rasa perih menyengat. “Bukan mimpi…” Ia melangkah kembali ke kamar, matanya menyapu tiap sudut ruangan. Tumpukan buku lama di rak, vas bunga plastik yang dulu sering ia cuci, bahkan boneka kecil pemberian Raka di tahun pertama menikah—semuanya ada di sana. Benda-benda yang sudah lama hilang. Detik itu, sebuah kesadaran perlahan menyusup ke dalam pikirannya. Ia benar-benar kembali. Bukan ke masa remajanya, bukan ke awal pernikahan, melainkan tepat di tahun ketiga rumah tangganya. Tujuh tahun sebelum malam pengkhianatan itu. Suara pintu depan terbuka membuat Alya tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya, menahan gemetar. “Sayang?” suara itu bergema, begitu familiar, membuat hatinya bergetar. Raka. Langkah kaki terdengar mendekat. Dan tak lama kemudian, sosok lelaki yang dulu begitu ia cintai muncul di ambang pintu kamar. Dengan kemeja rapi dan dasi yang sedikit longgar, Raka tampak seperti versi terbaik dirinya—bukan monster yang Alya lihat di malam terakhir hidupnya. “Eh, kamu sudah pulang?” Alya mencoba terdengar tenang, meski suaranya sedikit bergetar. Raka tersenyum hangat, senyum yang dulu bisa membuat dunia Alya terasa aman. “Iya. Sengaja pulang lebih cepat. Kan hari ini istimewa.” Ia mengangkat sebuah kotak kecil berbungkus rapi. “Happy anniversary, sayang.” Alya menatap kotak itu, dadanya terasa sesak. Ia teringat tujuh tahun kemudian, bagaimana senyum ini akan hilang, berganti dengan tatapan dingin penuh pengkhianatan. Air mata hampir jatuh, tapi ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan meja. “T-terima kasih…” Raka mendekat, menyentuh bahunya lembut. “Kamu baik-baik aja? Kok wajahmu pucat?” Alya menggenggam erat jemarinya sendiri agar tidak goyah. “Aku cuma… sedikit pusing. Capek kerja.” “Makanya jangan terlalu keras sama diri sendiri,” jawab Raka sambil menatap penuh perhatian. “Aku selalu ada buat kamu.” Kata-kata itu, yang dulu terasa menenangkan, kini justru menusuk Alya. “Selalu ada buatku?” Hatinya menjerit. “Tujuh tahun dari sekarang, kau akan menusukku dari belakang.” Malam itu, mereka duduk di meja makan, dengan lilin kecil dan makanan sederhana. Dari luar, semuanya tampak sempurna: pasangan muda yang merayakan tiga tahun pernikahan. Namun di dalam hatinya, Alya menyimpan badai. Ia menatap Raka yang tertawa ringan, memuji masakannya, lalu memandang cincin di jari manisnya sendiri. Tiga tahun lalu… aku percaya kebahagiaan ini abadi. Tapi sekarang aku tahu, semua ini hanya topeng. Di penghujung malam, ketika Raka sudah tertidur lelap di sampingnya, Alya terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah lelaki itu dalam remang. Air mata kembali mengalir, tapi bukan lagi tangisan putus asa. Ada sesuatu yang lain di dalam matanya—api kecil yang mulai menyala. “Tuhan…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau ini memang kesempatan kedua… aku janji tidak akan menyia-nyiakannya.” Ia mengepalkan tangan, menggenggam selimut dengan kuat. “Kali ini… aku yang akan mengubah jalan cerita.”*Eight months later*ZaraA loud cry was made in the kingdom of Spain. The people who knew what that signified took it upon themselves to mourn. Indeed, the Queen dowager had died. No one knew how she died. Rumo
Zara I was on a mission outside the walls of the palace. It was all a secret purpose to acquire a something very important to me. Maryann was to escort me. It all amounted to going out unnoticed and coming back in unnoticed. We had managed to get out with the help of Alejandro, the head guard who made us make use of a secret passageway only few people in the palace knew. He had told me that the reason why he had shown me it was because I was the Queen.Guess that came with some advantages.Maryann didn’t even know what I wanted to get. I never told her. The only thing I had said was that she should take me to a herb seller. That only he would know the exact thing I wanted to acquire.I drove both of us down there. I paid the Royal guard to keep his mouth shut if anyone asked of our whereabouts.The drive was a bit long. We both came down as I surveyed the land. We had disguised by putting on hoodie
Zara Merely by saying that, my heart flew a million folds to moon and back. It meant he would support me genuinely through every step, that he would stop ignoring me like he has done in the past few days.“It’s ok,” I replied him. He walked me back to the room, holding my hands and guiding each step I took.“I could walk you know. I’m pregnant not sick,” I let out sarcastically. He chuckled and released his grip on me. But, he still held me lightly. Zack walked me to the bed. I sat down comfortably watching him.I was still trying to fight the dizziness that swept over me but it won’t go for some reason. I felt like eating what I hated most….Fish.Which was weird.“Go to sleep, Zara. You need to rest for the baby,” he said, guiding my body to hit the pillow. He set the duvet on me as I willingly
ZaraMy head froze at a spot.What just happened?Was this a dream?How could I be pregnant?“I am?” I said, wriggling my brows in confusion. I hadn’t gone to bed with any mal—Gosh, it was Zack. My head instantly remembered. That night of our intense love making had resulted into a child nobody planned for.“Yes, your highness. This is a great news you have to share with his majesty.” She said, closing her box of equipment. I watched as she gave me doses to take.“Now, you should know this is a really delicate stage for the fetus. Therefore, you should avoid any toxic product that could cause harm to your child…” The doctor trailed out. I watched as she said everything.My body wasn’t just settled.I hadn’t planned for any of this. I made a promise to bring my child to loving parents but right now wasn’t any of those things.The doctor went saying she had a really important appointme
Zara It was by the time I had gotten out of my room, I got to hear the tragedy that had befallen the kingdom of Spain. They had just lost their king who was Zack’s dad. I felt so sorry, especially for Zack. He had just lost his dad!God, I was such a foo
Zara There were somethings you came across in life that made you feel normal. There were other things that shouldn’t just be seen. All because, they left you questioning yourself, why? My thoughts represented this the moment I saw Fernánda in my closet.
Zara We were at the heat of moment. The funny thing was that I wasn’t stopping him at all.Did I want to stop him?No.I wanted to take all that he had to give me. I wanted to comfort him. With this thought, I pressed myself more clos
Zara Zack had assured me that he wasn’t drunk and that he knew exactly what he was doing. But, I knew better than to sleep with him then regret the next day. This was why I rolled out of his grasp. At the time I did that, he passed out.I had dug myself out of the room in a bit. I hastily put






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak