Mag-log inNang dahil sa isang gabi ng pagkakamali, sapilitang ipinakasal si Diana Saavedra sa lalaking kanyang pinakamamahal na si Nick Gutierrez. Na siyang nagpangyari upang tuluyang mamuhi si Nick sa kanya. Pagkatapos ng kanilang kasal, iniwan siya nito at nanirahan sa ibang bansa kasama ang babaeng itinatangi nito. Nang pumanaw ang abuelo ni Nick, muli itong bumalik sa bansa upang tuparin ang huling habilin ng abuelo, ang magsama sila ni Diana sa iisang bubong at bumuo ng pamilya. Noong una, hindi magawang pakisamahan ni Diana ang kalupitan ni Nick sa kanya, lalo pa at laging nakapagitan ang babaeng tunay na iniibig ng asawa. Nagtiis siya, sa pag-aakalang sa huli, magagawa rin siyang mahalin ng asawa. Subalit dahil sa isang kasinungalingan, napilitang umalis si Diana at tuluyang ibigay ang kalayaan ni Nick sa pamamagitan ng annulment. Kasabay niyon ang kanyang pagtuklas sa tunay niyang pagkatao. Makalipas ang limang taon, sa di inaasahang pagkakataon, muli silang nagkita ni Nick. Lalong tumindi ang pagkamuhi nito sa kanya at pinipilit siya nitong makisama rito dahil hindi raw ito sumang-ayon sa annulment at ito pa rin ang legal niyang asawa. Paano muling pakikisamahan ni Diana ang galit ni Nick? Paano kung muli siyang mahulog dito sa kabila ng kalupitan nito? At higit sa lahat, paano niya hihilingin nang tuluyan ang kalayaan niya rito kung… mayroon silang anak na lihim niyang dinadala nang iwan niya ito? Isang anak na siyang susi upang makuha ni Nick ang kabuuan ng mana nito.
view more“Selamat atas pernikahanmu, Amora! Calon suamimu adalah pria idaman para wanita lho. Kamu benar-benar beruntung!”
Seulas senyuman lebar melengkung di bibir Amora Lysander ketika sahabat baiknya— Chelsea Harrison memberikan ucapan selamat kepadanya. Tidak dapat dipungkiri jika hatinya terasa berbunga-bunga saat ini karena detik-detik kebahagiaannya hanya menunggu waktu.
Satu minggu lagi Amora akan menjadi istri dari Chris Walden. Setahun yang lalu ia bertemu dengan calon suaminya itu di sebuah acara tahunan perusahaan Lysander. Ia jatuh hati dengan pria itu dan beruntungnya, perasaannya terbalas. Hubungan mereka juga direstui oleh kedua keluarga.
Saat ini Amora sedang menghadiri pesta pelepasan lajangnya yang diadakan oleh para teman kampus seangkatannya. Pesta tersebut diadakan di lounge eksklusif yang tertutup di sebuah hotel mewah bintang lima.
Suara dentuman musik dan nyanyian memeriahkan pesta kecil-kecilan di dalam ruangan tersebut. Terlihat dua orang gadis muda yang telah mabuk sedang menari-nari di atas meja ruangan dan dua orang yang lain sibuk bersorak ria dan bertepuk tangan.
Amora Lysander menggeleng kecil dan tertawa melihat kehebohan para teman sebayanya itu. Ia menoleh kepada Chelsea dan mendentingkan gelas kristal berisi anggur merah di tangannya dengan gelas milik Chelsea.
“Terima kasih, Chelsea. Semoga kamu segera menyusul. Aku doakan Andrew cepat meminangmu juga,” ujar Amora dengan tulus. Ia juga berharap sahabatnya itu juga mendapatkan kebahagiaan yang sama sepertinya.
Chelsea tersenyum kecut. Ia tidak menanggapi ucapan Amora, lalu mengajak keempat wanita yang lain untuk bersulang kepada Amora.
“Cheers!”
Suara dentingan gelas yang saling bersinggungan memenuhi indera pendengaran Amora. Minuman keras berwarna merah pekat itu terus dituang ke dalam gelas gadis itu, lalu perlahan cairan itu masuk ke dalam mulutnya dan membakar tenggorokannya.
“Kalau sudah jadi Nyonya Muda Walden. Jangan lupakan kami ya!” seru Estelle Mauverick, salah satu teman satu falkutas dengan Amora dan merupakan putri pengusaha yang cukup terkemuka.
“Benar. Apalagi calon suamimu itu adalah calon penerus keluarganya, Amora. Kamu akan bisa menikmati banyak keuntungan setelah menjadi istrinya nanti,” timpal Gloria Barclay, sahabat Amora yang lain dengan nada penuh kekaguman.
Sebagai penerus keluarga, Chris Walden tentu saja merupakan sosok calon suami dan menantu idaman. Keluarga Walden merupakan salah satu keluarga terkaya di kota New York. Keluarga Lysander tentu akan sangat senang bisa menjalin hubungan kekeluargaan dengannya.
Seulas senyuman terus terukir di bibir Amora. Tidak dapat dipungkiri jika ia juga sudah tidak sabar menjadi istri Chris. Keinginannya untuk meninggalkan kediaman Lysander akan terwujud sebentar lagi.
“Berhentilah minum, Estelle. Kamu sudah mabuk,” tegur Amora ketika melihat wajah Estelle yang telah memerah.
Namun, Estelle menggeleng. Ia memperlihatkan jemarinya kepada Amora dan berkata, “Aku tidak mabuk. Lihatlah, bukankah ini dua?”
Amora tersenyum simpul. “Itu tiga,” timpalnya.
Estelle mengerucutkan bibirnya, lalu kembali mengajak Amora untuk bersulang. Begitu juga dengan ketiga wanita yang lain. Karena tidak ingin mengecewakan para sahabatnya, Amora terpaksa meladeni mereka.
Seteguk demi seteguk anggur merah lolos melalui tenggorokannya hingga membuat kepala Amora terasa semakin berat. Amora merasa dirinya sudah semakin mabuk karena minuman keras tersebut.
Namun, ia benar-benar merasa sangat bahagia bisa berkumpul bersama para sahabatnya hingga ia menjadi lupa diri. Saat ini ia sudah meneguk hampir satu botol anggur merah yang dipesan oleh Chelsea. Gadis itu terus menuangkan minuman alkohol itu ke dalam gelasnya yang kosong.
“Sudah cukup, Chelsea. Aku sudah tidak kuat lagi,” cicit Amora dengan wajah yang telah memerah. Ia meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu pamit sejenak ke kamar kecil. Produksi asam lambung di dalam perutnya mulai meronta.
“Apa mau aku temani?” tawar Chelsea dengan khawatir saat melihat langkah Amora yang sudah tidak beraturan lagi.
Namun, Amora menggeleng dan terus melangkah keluar dari lounge VIP tersebut. Chelsea menatap kepergian Amora dengan seulas senyuman sinis di wajahnya, lalu ia kembali bersulang dengan temannya yang lain di dalam ruangan itu.
Sementara itu, Amora berjalan menyusuri koridor dengan penerangan yang remang-remang. Entah kenapa ia merasa tubuhnya terasa sangat panas. Muncul suatu perasaan aneh yang merayap di dalam dirinya, tetapi ia tidak tahu bagaimana menghentikan hal tersebut.
‘Kenapa rasanya panas sekali?’
Amora mengibas-ngibaskan wajahnya dengan tangannya. Pandangannya menjadi hilang timbul. Ia merasa seluruh ruangan seperti sedang bergerak secara tidak beraturan, lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Amora berpikir jika dirinya sudah terlalu mabuk saat ini. Ia pun mencari lokasi kamar kecil dengan pandangannya yang mulai mengabur hingga akhirnya ia memasuki sebuah ruangan yang dikiranya toilet wanita.
Namun, langkahnya terhenti tatkala melihat seorang pria terbujur kaku di atas lantai ruangan dengan penerangan yang minim dengan tubuh bersimbah darah.
Amora tertegun sejenak. Mengerjapkan netranya dan menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mencerna akan hal yang terjadi di depan matanya, lalu pandangannya beralih pada punggung seorang pria yang sedang membelakanginya.
Amora pun terhenyak ketika melihat senjata api di dalam genggaman pria itu.
‘A-Apa ini pembunuhan?’ terkanya di dalam hati.
Dalam kekalutannya, hal yang terlintas dari dalam benak Amora adalah keluar dari tempat itu sebelum pembunuh itu menyadari keberadaannya!
Akan tetapi, naasnya kaki Amora sulit diajak bekerja sama. Gara-gara alkohol yang diminumnya membuat Amora menjadi sulit berjalan.
Tak sengaja ia menekan saklar lampu di sampingnya dan membuat seluruh ruangan menjadi terang benderang. Perhatian pria yang dicap sebagai pembunuh oleh Amora itu pun langsung tertuju padanya.
‘Sial!’ gerutu Amora di dalam hati.
Meskipun pandangannya sangat buram dan sulit melihat wajah pembunuh itu, tetapi ia mendengar derap langkah pria itu semakin mendekat ke arahnya.
Kaki Amora seolah terpaku di tempat. Ia sungguh tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan situasi tersebut. Perlahan ia berpaling dengan rasa takut yang bergemuruh hebat.
“Tu-Tuan, saya … saya tidak melihat apa pun,” ucap Amora dengan suara yang bergetar pelan.
Ia berharap pria itu tidak membunuhnya saat ini. Buliran bening telah menggenang di sepasang pelupuk mata indahnya.
"Kamu pikir aku percaya?" desis pria itu.
Suara pria itu terdengar berat dan dalam, tetapi anehnya Amora menyukainya.
Tiba-tiba jemari kasar yang berlumuran darah menyeka sudut mata Amora hingga membuat tubuh gadis itu bergetar hebat. Samar-samar Amora bisa melihat lekuk wajah pembunuh itu dan seringai kecil yang terbit di sudut bibir pria itu.
Rahang tegas dengan bibir maskulin yang terkatup rapat, lalu hidung bangir yang terukir dengan indah sempat membuat Amora terpana sesaat. Akan tetapi, ia tersadar saat pandangannya beralih pada manik mata tajam yang tengah menatapnya dengan intens.
Amora dapat merasakan aura dingin yang terpancar dari sorot mata pria itu. Degup jantungnya berdebar dengan sangat cepat tatkala bertatapan langsung dengannya. Netra gelap pria itu seperti seekor elang yang sedang mengintai di langit malam. Anehnya, Amora malah merasa semakin tertarik dengannya.
Ada sensasi yang membakar tubuhnya hingga membuatnya sulit mengendalikan dirinya sendiri. Deru napasnya mulai memburu dengan irama jantung yang berdegup cepat. Satu hal yang ia rasakan adalah sesuatu yang membuncah di dalam dirinya telah bergejolak hebat.
Tangan Amora pun bergerak dengan lancang memegang wajah pria itu. Jemari lentiknya mengusap lembut wajah tegas dan dingin tersebut. Tatapannya kepada pria itu mulai diliputi dengan gairah. Amora tersadar dengan tindakannya ketika pria itu meraih tangannya, lalu menepisnya dengan kasar.
Gairah di dalam mata Amora berubah menjadi sebuah ketakutan yang mendalam. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam dan tidak berani menatap langsung wajah pria itu lagi.
‘Apa yang sudah kulakukan tadi? Kenapa aku bisa ….’
Amora menggelengkan kepalanya dengan kuat. Berusaha menepis pikiran aneh yang terus menguasai dirinya untuk menuntaskan gairah yang terus membakar jiwanya. Masih di dalam kebingungannya, tiba-tiba saja pria asing itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
“Tu-Tuan, saya—”
“Diamlah dan ikuti aku.”
Suara berat dan dalam dari pria itu menyela ucapan Amora. Entah kenapa ia malah merasa suara pria itu terdengar seksi di telinganya. Amora tersentak dengan pikirannya itu.
Ketika ia hendak membuka suaranya, pria itu menyelanya kembali dan lanjut berkata dengan dingin, “Kalau kamu masih mau hidup, ikuti ucapanku!”
FIVE YEARS LATER“Mom, Dad, my guests are here! My guests are here!” excited na balita ni Isla Rae, ang apat na taong gulang na anak ni nina Daphne at Jett.The little girl was wearing her birthday party dress which features her very own handpainted sun and roses. May munting tiara rin ang paslit sa
Pigil ang ngiti ni Daphne habang pinagmamasdan ang sarili sa harap ng full-size length mirror. She was now wearing the beautiful custom-made bridal gown that she designed herself. The gown was made from flowy fabrics, embellished with pearls and stones. Her hair was neatly gathered into a low bun ma
Tahimik ang buong libray ng mansiyon ng mga Gutierrez. Naroon sa silid ang mag-sawang Diana at Nick, maging sina Sofia at Marco. Naroon din si Jett.Matapos maipakilala ni Jett si Daphne kay Vera, nagpasya si Jett na tuluyang nang kausapin ang mga Gutirerrez. He has been waiting for years for the ri
“My parents were never in love when they got married, Daphne. What they had was an arrange marriage,” umpisa ni Jett habang nakaupo silang dalawa ni Daphne sa sala ng suite. Nakaupo ang binata sa mahabang sofa habang si Daphne naman ay nasa single-seater sofa.“They were forced to have me or so I he
Tahimik si Geri habang pinagmamasdan si Enzo na noon ay nakaupo sa sofa sa sala at hawak-hawak ang ice pack sa noo nito.Ayaw man aminin ng dalaga, totoong nakukunsensiya siya sa ginawa niya sa binata. Hindi naman niya talaga sinadya ‘yon. She thought he was someone else and she was just trying to k
Hindi pa pumuputok ang araw, naroon na si Geri sa sala ng isang ancestral house na malayo sa siyudad. Madaling-araw nang bumiyahe sila ni Enzo patungo roon. Ang sabi ng binata, doon nakatira ang judge na kakilala nito na pwedeng magkasal sa kanila.Kasalukuyang nag-uusap sina Enzo at ang judge sa l
Malakas ang pagkabog ng dibdib ni Geri habang pinagmamasdan ang kanyang repleksyon sa harap ng salamin. She was wearing a beautiful beaded bridal gown. Her hair was adorned with a tiara that has been with the Dimarcos for many generations. Her hair was done and so was her make up. Suot din niya ang
Kanina pa nagpapalakad-lakad ng paroo’t parito si Marco sa loob ng suite ni Enzo. Ganoon na ang binata mula nang malaman nito ang balita na ikinasal na pala ang pinsan at ang matalik na kaibigan.Nang itawag sa kanya ng staff na nagpapatawag ng doktor si Enzo, dali-daling pinuntahan ng lalaki ang ka







![Cover your eyes baby [Series 1]](https://yfbwww.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Mga Ratings
RebyuMore