LOGINFor three years, Rebecca was the "Shadow Wife." She stood by Silas Vane’s side, endured his family’s cruelty, and loved him in silence, all while knowing she was just a substitute for her runaway sister. On their anniversary, she expected a celebration. Instead, she got divorce papers. "Seraphina is back," Silas told her, his voice devoid of emotion. "It's time you return to the nothingness you came from." But Rebecca didn't come from nothing. She was the secret genius behind the city's most successful tech empire. Now, the divorce papers are signed, the heels are higher, and the heart is colder. Silas wants his "perfect" life back, but he’s about to realize that the woman he scorned is the only one he can’t live without.
View More"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni.
Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak ketakutan, lalu bertanya. "Kamu bukan orang sini, ya? Dari kampung, kan?" "Iya, benar, Mbak. Kok Mbak tahu?" tanya Roni. "Hanya menebak," jawab wanita itu sambil tersenyum tipis. Roni memperkenalkan diri. "Nama saya Roni, Mbak. Saya sedang mencari kos-kosan, tapi belum dapat yang sesuai. Harganya mahal sekali, sedangkan uang saya tidak banyak." Wanita itu mendengarkan dengan perhatian. "Oh, kamu mencari kos-kosan, ya? Kebetulan di sini juga kos-kosan, tapi saat ini penuh. Mungkin minggu depan ada yang kosong." "Walah, kalau begitu saya harus cari tempat lain. Hari sudah hampir malam," kata Roni, hendak pergi. "Tunggu," kata wanita itu menghentikan langkahnya. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal sementara di rumah saya. Ada kamar kosong untuk sementara waktu. Kota ini tidak aman, apalagi untuk orang baru seperti kamu." "Benarkah, Mbak? Tidak apa-apa?" tanya Roni ragu. "Tidak apa-apa. Ayo, ikut saya," ajak wanita itu. Roni mengikutinya ke dalam rumah. Wanita itu memperkenalkan dirinya. "Ini rumah pribadi saya, dan di belakang adalah kos-kosan milik saya. Kamu bisa tinggal di sini dulu. Panggil saja saya Mbak Maya." "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Tapi apa suami Mbak tidak keberatan kalau saya tinggal di sini?" tanya Roni. Maya tersenyum tipis. "Saya sudah lama menjanda, Roni. Jadi tenang saja, saya tinggal sendiri." Roni mengangguk penuh terima kasih. "Baik, Mbak Maya. Sekali lagi, terima kasih." "Kamar mandinya ada di sana, kalau kamu ingin membersihkan tubuhmu. Tidak apa-apa, pakai saja untuk sementara. Itu kamar mandi saya," kata Maya sambil menunjukkan arah kamar mandi kepada Roni. "Terima kasih banyak, Mbak Maya. Saya benar-benar merepotkan Anda," ucap Roni dengan sopan. "Ah, tidak apa-apa. Anggap saja seperti rumah sendiri. Omong-omong, tujuan kamu ke kota ini apa ya, kalau saya boleh tahu?" tanya Maya penasaran. "Saya datang ke kota untuk melanjutkan kuliah, Mbak. Kebetulan saya mendapatkan beasiswa di kampus besar di sini. Selain itu, saya juga ingin mencari pekerjaan," jelas Roni dengan senyum yang membuat Maya terpesona. "Begitu, ya? Tapi hati-hati, ya. Jakarta itu keras. Banyak hal yang mungkin tidak kamu ketahui di sini, apalagi kalau kamu tidak punya kenalan," nasihat Maya dengan nada khawatir. "Iya, Mbak. Untungnya saya bertemu dengan orang baik seperti Mbak, jadi saya merasa lebih tenang," kata Roni sambil tersenyum lagi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Tok! Tok! Tok! "Mbak, apa saya harus bersembunyi? Takutnya nanti mereka berpikiran aneh kalau melihat saya di sini," ucap Roni sedikit panik. "Tidak perlu, kamu tetap di sini saja. Mungkin itu salah satu penghuni kos. Saya akan bukakan pintunya," jawab Maya sambil berjalan ke pintu. Ketika pintu dibuka, seorang pemuda berdiri di sana. "Mbak, ada masalah di kamar saya. Atapnya bocor, air hujan masuk," kata pemuda itu, yang ternyata bernama Bayu. "Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, saya akan meminta Pak Hasim untuk memperbaikinya," jawab Maya. Roni yang mendengar percakapan itu segera menawarkan diri. "Maaf, Mbak, tadi saya dengar ada atap yang rusak. Boleh saya lihat?" tanya Roni. "Kamu bisa memperbaiki atap?" Maya terkejut. "Kebetulan, di kampung saya sering memperbaiki atap sendiri kalau rusak. Saya bisa, kok, Mbak," jawab Roni dengan yakin. "Tapi ini sedang hujan, nanti kamu sakit. Lagipula, kamu baru sampai di kota. Istirahat saja, biar nanti tukang kebun saya yang memperbaikinya," saran Maya. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya bisa mengatasinya. Ayo, Bayu, tunjukkan di mana atap yang rusak," ucap Roni penuh semangat. Bayu membawa Roni ke kamar yang bocor. Setelah mengambil tangga, Roni memeriksa kerusakannya. Dia menemukan beberapa genteng pecah dan segera menggantinya. Namun, saat berada di atas, dia mendengar suara aneh dari kamar sebelah. "Astaga, suara mereka bisa sekencang itu, ya? Mengalahkan suara hujan di atap," gumam Roni sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecil sebelum turun. "Sudah selesai, atapnya tidak akan bocor lagi," kata Roni kepada Bayu. "Terima kasih, Bang. Oh ya, saya baru pertama kali melihat Anda. Apa Anda orang baru di sini?" tanya Bayu penasaran. "Iya, kenalkan, saya Roni. Saya dari kampung. Kebetulan butuh tempat tinggal di kota, tapi karena di sini belum ada kamar kosong, Mbak Maya mengizinkan saya tinggal sementara," jelas Roni. "Oh, begitu. Katanya yang di kamar sebelah saya mau pulang kampung. Syukurlah. Jujur saja, saya sering terganggu setiap malam dengan suara-suara dari kamarnya," ucap Bayu. Roni tersenyum mendengar itu, teringat suara serupa saat memperbaiki atap tadi. "Memangnya tidak ada aturan di sini soal bawa pasangan ke kos?" tanya Roni heran. "Haha, di sini bebas, Bang. Asal tidak ribut, tidak ada yang melarang," jawab Bayu sambil tertawa. "Pantas saja. Kamu sendiri kenapa nggak ajak pacar biar nggak cuma dengar suara saja?" goda Roni. "Haha, saya ini anak polos, Bang. Belum mikir buat pacaran," jawab Bayu bercanda. Setelah mengobrol sebentar, Roni pamit untuk kembali ke rumah Maya. "Saya mau mandi dulu, Bayu. Badan saya basah kuyup. Besok kita ngobrol lagi, ya," kata Roni. "Baik, Bang. Jangan lupa main ke sini lagi, ya," jawab Bayu ramah. Ketika Roni kembali, Maya langsung memanggilnya. "Roni, ayo makan bersama. Saya sudah masak makanan," ucap Maya. "Astaga, saya merepotkan sekali, Mbak. Tidak perlu, saya bisa beli makanan di luar," jawab Roni merasa tidak enak. "Sudah, ayo sini. Jangan banyak bicara, makan saja," kata Maya sambil tersenyum. Roni melihat ke arah meja makan, namun matanya tanpa sengaja tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan pakaian santai. Lekuk tubuh Maya membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Maya yang sadar akan tatapan itu hanya tersenyum kecil. Khem! Dia berdehem, menyadarkan Roni yang sedang melamun. Setelah makan malam selesai, Maya meminta bantuan Roni membawa piring ke dapur. "Tolong bawakan piringnya ke dapur. Saya mau mencuci," pinta Maya. Roni menurut. Saat berjalan di belakang Maya, matanya lagi-lagi tertuju pada tubuh Maya yang mengenakan celana pendek. Hasratnya memuncak. Tanpa di duga, Roni memeluk Maya dari belakang. Tangan Roni menyentuh tubuh Maya dengan gemetar. Maya terdiam sejenak, namun bukannya marah, dia malah tersenyum tipis. "Roni... apa yang kamu lakukan?" bisiknya pelan. Roni yang sudah kehilangan kendali hanya bisa berbisik, "Maaf, Mbak... saya tidak bisa menahan diri, bisa gak mbak." Suasana berubah menjadi penuh ketegangan di antara mereka. "Mb... Mbak, izinkan saya melakukannya malam ini saja. Saya sungguh tidak tahan dengan keindahan tubuh Anda," ucap Roni dengan sangat berani, padahal baru saja kenal, tak lagi peduli pada rasa takut atau malu. Hasratnya meluap-luap, dan dia sangat menginginkan Maya. "Roni, kamu baru kenal saya, saya bisa saja teriak loh kalo kamu kurang ajar begini," ucap Maya sambil menatap ke arah Roni, iya walaupun di dalam hati mbak maya juga pengen di sentuh pria setampan Roni, tapi mengingat mereka baru saja kenal maka tidak mungkin dia langsung menerima sentuhan Roni. "hehe, maaf kalo gitu mbak, saya terlalu kurang ajar, maaf ya, soalnya mbak memiliki tubuh yang molek jadi saya tidak bisa menahan diri..," bisik Roni jujur, suaranya berat, matanya tidak lepas dari kemolekan tubuh mbak maya yang mengenakan daster tipis. "tak ku sangka, baru saja kenal sudah di ajak tidur segala, tapi pria ini boleh juga, parasnya tampan, tapi walau begitu dia terlalu cepat gak sih, aku jadi curiga jangan-jangan dia ini penjahat wanita lagi," gumam mbak maya dengan menyipitkan matanya, memperhatikan seluk beluk Roni dari kaki hingga ujung rambutnya. "Hemmm...baik saya maafin, tapi ingat jangan di ulangi lagi , apalagi sampai memeluk saya seperti tadi, mending sekarang pergi beristirahat, kamu pasti capek kan, oh ya terimakasih ya idah bantu benerin gentengnya..."kata mbak maya menghela nafas lalu berbalik lanjut mencuci piring. Roni kembali menatap bokong mbak maya, dalam hati ingin sekali dia menepuknya hanya saja dia tidak seberani tadi setelah mbak maya memarahinya. "huh...bisa-bisanya aku memeluknya seperti tadi, untung dia gak ngamuk kalo ngamuk bisa di penjara aku karena kasus pencabulan..."kata roni dalam hati sedikit menyesal, lalu berbalik menuju kamar yang sudah di siapkan untuknya beristirahat malam ini. Roni seperti tadi itu sebab dia memilki hasrat yang kuat, dimana dia tidak bisa menahan diri jika melihat perempuan seksi di depannya membuat ya sering lepas kendali contohnya seperti tadi, untungnya mbak maya gak terlalu marah dan melaporkannya. lagian gimana roni gak lepas kendali seperti tadi, mbak maya saja mengenakan daster yang super tipis, belahan bokongnya terlihat begitu jelas sekali, di tambah lagi roni baru saja mendengar suara-suara aneh dari penghuni kos saat dia memperbaiki genteng. melihat roni sudah pergi ke kamar mbak maya kembali tersenyum, sentuhan roni saat memeluk dan meremas dadanya tadi masih membekas dalam dirinya. "Hampir aku di buat lepas kendali..." Bersambung....The red lights flashed against the office walls. The sound of sirens began to fill the air outside. Silas was staring at his phone, his face completely pale. Everything he had worked for was burning, and my sister was standing there with a smile on her face."You did this," Silas said, his voice shaking. He looked at Seraphina as if he were seeing a monster for the first time. "You set the building on fire?""I did what I had to do, Silas," Seraphina said. She tucked a strand of hair behind her ear, looking totally calm. "If I can’t be the wife of the richest man in the city, then no one will be. Besides, once your company is gone, you’ll have nothing left but me. We can start over. Away from her."She pointed a finger at me. I stood up from my desk, my heart beating fast. I wasn't just angry anymore; I was done playing games."You really are pathetic, Seraphina," I said. I walked around the desk, ignoring the warning lights. "You think destroying his life will make him love you? You
I didn't sleep at all. I spent the whole night staring at the medical file I found in my trunk. It was a record from the city hospital, dated two years ago. The notes were clear: Patient Silas Vane. Condition: Temporary blindness due to a car accident. Primary Caregiver: Rebecca Vane.I touched the paper. Silas had always believed Seraphina was the one who held his hand during those dark weeks. He thought she was the one who read him his favorite books and fed him soup when he was too weak to hold a spoon. In reality, Seraphina was in Paris with a fashion photographer. I was the one who slept on a hard plastic chair by his bed. I was the one who made sure he didn't lose hope.When he finally got his sight back, my mother and Seraphina had pushed me out of the room. They told him Seraphina had just stepped out for a second. He believed the lie. And I, wanting him to be happy, never corrected him.Now, I looked at my watch. It was 7:55 AM.I sat behind my massive desk on the top floor o
The grip on my arm was firm, pulling me through the dark service hallway. I tried to pull away, but the person didn't let go until we reached the back alley. The cool night air hit my face, and the sounds of the panic inside the hall became a dull hum.I turned around, ready to strike, but my hand stopped in mid-air."Dad?" I gasped.My father, who was supposed to be in a hospital in another country, stood before me. He looked tired and thinner, but his eyes were sharp. He wasn't the broken man who had begged me to marry Silas to save him from debt."Rebecca, you have to leave. Now," he said. His voice was urgent. "Seraphina isn't just back for Silas. She’s working with people who want to take down Frost Towers. That note you got? It wasn't from her. It was from the person who put me in that hospital.""What are you talking about?" I asked, my mind spinning. "I thought you were recovering. I’ve been paying the bills every month!""The money was intercepted, Rebecca. I escaped two week
The rain splashed against the windows of the sleek black sedan. I sat in the back seat, staring at the divorce papers in my lap. I didn't feel like crying anymore. Instead, I felt a spark of fire in my chest that I hadn't felt in years."Ma'am, we are arriving at the Frost Towers," the driver said.I looked up. The giant glass building stood tall against the city skyline. This was my empire. For three years, I had managed this multi-billion-dollar tech firm through encrypted emails and late-night calls while Silas slept in the next room. He thought I was playing mobile games or shopping online. He had no idea I was the person making the world’s most advanced digital blueprints.I stepped out of the car. My old sneakers hit the pavement, but my head was held high. I walked into the lobby, and the security guards froze. They hadn't seen me in person since I married Silas."Welcome back, CEO Frost," they said in unison, bowing their heads.I ignored them and went straight to the private
The table was set for two. I had spent five hours in the kitchen, making sure the steak was juicy and the wine was chilled. Today was our third wedding anniversary. For three years, I had been the perfect wife to Silas Vane. I cooked, I cleaned, and I smiled when his mother called me a "useless gol
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.